Akhwat MTT di #Aksisuperdamai212
Senyum sumringah yang tiada henti di atas kopaja 19 mengiringi perjalanan kami pulang ke TSO selepas bertemu dengan para mujahid #aksisuperdamai212. Entah mengapa pada hari itu hati-hati kami seperti kompak seirama, semacam ada yang mengomandokan. Perasaan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya, perasaan bahagia yang sekaligus menyejukkan, damai yang amat sangat menentramkan, aah indah begitu indah sekali.
Semangat para akhwat MTT yang tidak mau kalah dengan para ikhwannya, yang ingin bergabung bersama lautan manusia memuji Rabb serta membela kalam-Nya, berjuang menegakkan keadilan untuk menangkap si penista Al-qur'an. Perjalanan #aksisuperdamai212 akhwat MTT dimulai pada pukul 06.00 WIB berkumpul di Mesjid Tarqiyah Taqwa. Persiapannya pun seadanya karena waktu yang begitu singkat. Awalnya memang tiada rencana bahwa akhwat akan bergabung, namun karena semangat yang begitu membara dari teman-teman akhwat untuk berkontribusi pada #aksisuperdamai212, akhirnya berangkatlah 18 orang. Masing-masing mempersiapkan amunisinya. Ada yang bertugas membawa makanan dan obat-obatan untuk dibagi-bagikan, kurma, ponco murah meriah untuk persiapan hujan yang juga dibagi-bagikan, masker, bendera, spanduk, dan lain sebagainya. Dana yang terkumpul dari Group Muslimah Telkomsel tak henti-hentinya mengalir ke Tcash, Rekening bank, maupun cash ke saya dan Mba Siska sebagai bendahara.
Setelah beres memotong pita merah putih untuk diikat di kepala, membungkus kurma di plastik-plastik kecil, membereskan semua barang yang akan dibawa, kami pun berangkat pada jam 07.30 WIB diiringi dengan doa dan photo bersama.
Berbeda dengan ikhwan yang melakukan long march dari depan kantor ke monas, kami memilih naik kendaraan hingga ke Bundaran Hotel Indonesia.
Sepanjang jalan kami melihat beberapa rombongan orang berjalan berpakaian putih-putih, memakai kopiah putih-putih, membawa bendera, spanduk-spanduk sambil mengumandangkan takbir.
Cuaca pagi itu cukup berawan dan matahari pun seperti enggan menampakkan dirinya. Mungkin sayap-sayap malaikatnya Allah sedang menaungi langit jakarta pagi itu.
Sesampainya di Bundaran Hotel Indonesia, kami disambut dengan beberapa orang Pak polisi yang berjaga berbaris-baris dan beberapa wartawan yang sibuk memotret sana sini. Rombongan-rombongan yang berteriak mengagungkan nama Allah tak henti-hentinya berjalan ke arah monas, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, nenek-nenek, remaja, mahasiswa, sampai anak kecil tak mau ketinggalan. Maha suci Allah yang menyatukan hati-hati mereka dengan ukhuwah. Sebab tak mungkin jutaan manusia berkumpul jika tanpa campur tangan-Nya. Yang hadir disana pun hampir mustahil tak menitikkan air mata. Sinar mentari yang bersembunyi diantara awan-awan jadi saksi, rintik hujan menemani, gema takbir tiada henti bersahut-sahutan.
Di segala sudut, hidangan berantai-rantai tiada putus, makanan begitu banyak bertebaran. Komunitas-komunitas baik dari Majelis Ta'lim ibu-ibu, perkantoran dan organisasi berlomba-lomba tak ingin kehilangan kesempatan dari lapar dan dahaga para mujahid lillah.
Begitupun kami, bermodalkan urunan sedekah dari yang sudah terkumpul, obat-obatan dan makanan siap didistribusikan kepada sesiapa yang berjalan.
“Maskernya Pak, maskernya Bu”; “rotinya dek”; “Gorengannya bu silahkan”; “obat-obatan bu, barangkali pusing silahkan diambil gratis”; "kurmanya halal dan thoyib bu, pak"; “Air miniralnya silahkan”.
Teriakan demi teriakan membuat kami tak sadar ternyata hampir semua persediaan telah habis kami bagikan.
Rasa saling peduli yang begitu kental terekam di mata-mata kami. Ketika Mba Ami menawarkan makanan dan minuman ke beberapa rombongan, rombongan tersebut tidak mengambilnya. “Terima kasih, kami sudah membawa bekal, silahkan diberikan buat saudara-saura yang lain saja yang datang dari luar kota” Balas mereka sambi tersenyum.
Sesuai nama surahnya “Al Maidah” yang berarti hidangan, maka inilah cara Allah SWT menghidangkan makanan untuk para pembela Al-quran. Tiada henti-hentinya support makanan dan minuman datang silih berganti dari para dermawan (semoga Allah merahmati mereka). Padahal rencana awal, kami dari akhwat MTT hanya akan membagikan makanan, minuman dan obat-obatan yang sudah kami persiapkan, namun rupanya Allah berkehendak lain, kami di percayai oleh sekelompok orang untuk turut membagi-bagikan makanan yang mereka siapkan.
“Mbak, saya boleh nitip uang untuk dibelanjakan dan dibagikan? Tapi saya sudah punya wudhu, ini tolong diambil ya”. Demikian singkat sang bapak separuh baya itu menyerahkan beberapa lembar pecahan 100 Rupiah yang dengan hati-hati iya berikan agar wudhunya tetap terjaga.
“Dek, kalo saya nitip kurma ini boleh ya? Tolong dibagi-bagikan ya Dek, makasih.” Dan seketika tas kresek putih diletakkan di dekat kami dan bapak itu pergi tanpa kami tahu jelas wajahnya.
Kemudian ada lagi dengan langkah pelan dan agak malu-malu dua orang wanita yaitu seorang ibu yang usianya sudah tidak muda bersama anaknya mendekat ke kami. “Mbak, saya boleh nitip gorengan ini untuk dibagikan? Hanya gorengan sih, boleh ya.. Nanti gunakan tissue ini saja untuk membagikannya. Terima kasih ya.” Tanpa jeda dan pikir panjang, kami pun serempak menjawab “Baik bu, akan kami bagikan. Makasih ya Bu”. Setelah kami kenalan, ternyata ibu dan anak tersebut sengaja datang dari penjuru bumi Allah nun jauh di sana, Kalimantan. Mereka sengaja datang jauh-jauh untuk turut serta berjuang bersama mujahidah lainnya.
Tak lama kemudian makanan-makanan itu pun ludes dengan cepatnya. Sampai-sampai tiga orang dari kami ditugaskan untuk berbelanja makanan dan snack ke Thamrin City untuk stock selanjutnya. Sambil menunggu teman yang berbelanja, Mba Siska melihat seorang Bapak penjual onde-onde. Mba siska langsung teriak, “Pak onde-ondenya kita borong semua ya”. MasyaAllah #aksisuperdamai212 juga membawa berkah kepada Bapak si tukang jualan onde-onde.
Beberapa waktu kemudiam lewat lagi Bapak-Bapak si penjual Tahu sumedang, “Pak Tahunya kita borong semua ya” MasyaAllah lagi-lagi #aksisuperdamai212 membawa berkah kepada Bapak si tukang tahu. Onde-onde dan tahu pun ludes tak berjejak. Belum lagi Bapak si penjual es cincau. Es cincau segerobak beserta Bapaknya juga diborong semua hehe. “Es cincau gratis, es cincau gratis”; “Es cincaunya Pak Bu, silahkan”; “Halal-halal es cincaunya” teriak kami berlomba-lomba.
Satu lagi yang tak kalah luar biasanya, tiba-tiba sebuah mobil pick up dari GNPF MUI datang menghampiri dan parkir tepat dekat sekali dengan kami berdiri. Mobil pick up tersebut ternyata membawa ribuan nasi bungkus. Salah seorang ketua dari mereka menghampiri dan mengajak kami untuk membantu membagi-bagikan ribuan nasi bungkus tersebut. Ada nasi padang, ada nasi kebuli, ada nasi soto, nasi bakar dan ada nasi apa lagi ya, pokoknya banyaaaaak sekali.
Dikala sebagian berinisiatif membagi makanan, ada juga tim muslimah yang tak lupa berinsiatif mengumpulkan sampah.
Rintik hujan yang mulai menghampiri tak mampu mengalahkan semangat kami, tetes-tetes air yang jatuh dari langit menjadi penyejuk dan penyegar pipi-pipi kami. Yell-yell dan kumandang takbir juga tahlil semakin menyemangati.
Menjelang Jum'atan #aksisuperdamai212 diiringi dengan hujan yang insyaAllah membawa rahmat bagi kita semua dan bangsa Indonesia, dari Sang Khalik pemilik alam semesta.
Diantara jutaan tamu Allah yang hadir, tiada tampak sedikitpun guratan kelelahan, suasana dipenuhi wajah yang berseri penuh dengan senyum ,sapa dan salam meski datang dari berbagai kalangan, daerah dan suku bangsa. Namun ketika ukhuwah Islamiah semua nya melebur jadi satu dengan satu tujuan membela qalamuallah. Suasana tanah haraam sangat kental terasa di bumi indonesia ketika itu.
Maha Besar Allah, tidakkah yang demikian itu menunjukkan pada kita adanya Al Lathiful Rahiim, Yang Maha Lembut Lagi Maha Penyayang? Luar biasa indahnya, inilah wajah umat Islam yang sesungguhnya. Wajah-wajah umat Rasulullah SAW yang insyaAllah beliau rindukan.
Ingatkah duhai saudariku, dulu Rasulullah SAW pernah amat sangat merindukan umatnya? Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakr ra. di dalam sebuah majelis bersama para sahabat. “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu?” Balas Abu Bakr ra.
Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah.
Sahabat semakin penasaran dan kembali bertanya lagi kepada Rasulullah. “Siapakah mereka wahai kekasih Allah?”
Dengan suara rendah sambil tersenyum. Kemudian Baginda SAW bersabda, “Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (HR. Muslim)
Assalaamu ‘alaika yaa rasuulallaah warahmatullaah wabarakaatuh. Assalaamu ‘alaika yaa nabiyyallaah. Assalaamu ‘alaika yaa shafwatallaah. Assalaamu ‘alaika yaa habiiballaah. Semoga Allah perkenankan kita menjadi umat-umat yang beliau amat sangat rindukan.
Betapa bahagianya, bahagia ini belum pernah kami temukan sebelumnya. Bergabung bersama gelombang raksasa yang bergerak seirama, suaranya bersatu padu meneriakkan dan mengagungkan Rabb seluruh alam. Betapa bahagianya, menyaksikan jutaan sambung-sinambung orang-orang yang tak henti-hentinya berdatangan berbaris-baris rapi membentuk shaf-shaf. Betapa bahagianya, Allah perkenankan kami terlibat pada peristiwa menyejarah ini, aksi super damai yang mempersatukan seluruh hati umat Islam yang tersakiti. Betapa bahagianya, sungguh tak mampu dilukiskan yang membuat hati-hati kami bergetar merinding. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita baik yang hadir maupun yang belum bisa hadir. Sungguh Allah mengetahui setiap niat dan isi hati kita. Semoga apapun peran dan sumbangsih kita untuk #aksibelaquran dapat mengantarkan jiwa-jiwa kita menuju ridha Rabbnya dan Jannah yang didamba. Amin ya Allah Amin ya Rabbal Alamin :)