Kalau lagi patah SEMANGAT, biar semangat lagi gimana ya?
Kuncinya ada di diri kita sendiri. Berdamai lah dengan diri sendiri. Peace artinya damai, kedamaian, ketenangan, kalem, adem, ayem, syahdu. Maknanya dalam banget ini si Damai (Peace). Untuk hidup dengan damai dan tenang, itu mahal sekali. Banyak orang yang hampir setiap malam nggak bisa tidur, susah tidur, terganggu, gara-gara hatinya, pikirannya, dirinya, nggak bisa diajak damai. Ribuuutttt terus rasanya sama pikiran sendiri. Hahahaha
Betapa banyak orang di dunia ini yang mendambakan kedamaian, ketenangan, dalam hidupnya? Buanyakk bangets gaesss. Hidup tanpa ada yang harus dikhawatirin, dicemasin, dipikirin, ditangisin. Wkwkwkwkwkwk
Buat ku setiap hari adalah pelajaran. Tiap hari is hari belajar for me. Pasti selalu ada hal-hal baru yang gue pelajari tiap hari. Jujur aja, aku Cuma manusia biasa yang punya masalah pribadi dengan hati juga. Dikira hati gue mati kali ya sama temen-temen, dikiranya bahagia mulu. Emang covernya aja bahagia wkwkw dalamnya juga pernah ambyar wkwkw. Namanya juga manusia biasa yang tak sempurna gaess. Dan, konflik ini sudah berlangsung bulanan lamanya. Layaknya orang-orang, tentu ada masanya aku ngedown, dong. Tapi, tetep, gue tidak melupakan siapa gue, asyikk…, jadi kalua mau jatuh dikit, langsung inget, “Bangun, Cuy. Elu kan Annisa Dyah Probondari aka Bonbon. Ayo ih maju terus. Kudu Bakoh lah. Masa Lemah gini si.” Wkwkwkwk
Akibat dari terjadinya perang hati itu, ngalirlah ke pikiran, perasaan, sehingga memengaruhi ruang gerak ku. Aku merasa anyep, hambar, ambyar, nggak semangat. Ini hal manusiawi si gengs sebenarnya. Wkwkwkw. Separah itu? Bisa Jadi cuy. Bener-bener nggak bisa focus. Bahkan aku kabur ke luar kota atau refresing sejenak.
Tapi, gue memilih untuk tetap bertahan dengan pendirian dan keyakinan ku sendiri. Bahwa, jika gue sakit, obatnya ya diri ku sendiri yang bisa menyembuhkan. Atau dengan kata lain, kalau gue lagi patah semangat, biar bisa semangat lagi gimana? Ya, harus dari gue nya sendiri yang bangkit, dong. Tentu aja, atas izin-Nya.
Sebegitu semrawutnya, sebegitu kacaunya, hingga hal yang sebenarnya kecil itu selalu datang dan mengganggu gue. Gue diem, dia ada. Gue mau tidur, dia ada. Gue lagi makan pun, dia ada. Asem memang. I was at the peak, udah di ujung tanduk. Udah nggak tahan lagi.
Diposisi seperti ini, menyemangati diri dengan kata-kata, mungkin saja ada efeknya. Tapi percayalah itu hanya sesaaat gengsss…. Orang yang lagi ambyar kayak gitu, butuh dosis yang lebih tinggi lagi. Diriku mikir keras, harus apa? harus kemana? Harus ngapain? Di luar ibadah tentunya. Karena secara mental tetap nggak bohong. Gue mencoba untuk mengisi kegiatan sepadat mungkin. Bertemu dengan orang-orang sebanyak mungkin. HASILNYA? Ya! Gue berhasil melupakan itu. Tapi, ternyata itu berlaku hanya ketika gue lagi sibuk aja. Once gue udah kembali ke rumah, menutup pintu kamar, lalu di sana hanya ada aku sendiri, jeng jeng jeng….disitulah pertikaian hati dan pikiran berkecambuk.
Kenapa aku nyeritain ini? Karena gue mau nunjukin juga ke kalian, I’m just like you. Gue ya sama kok, kayak kalian semua. Ada kalanya ambyar, ya ambyar. Tapi, tentu saja aku nggak akan menceritakan sebuah masalah, tanpa ngomongin solusinya.
Instead of telling my mind to shut up and never think about it again, duh…. Apa ini artinya gua kagak ngerti wwkwkwkwk. Oh oke, daripada aku ngomong dan maksa pikiran gue untuk berhenti mikirin itu lagi. (karena rata-rata ketika kita terlalu maksa, jatohnya malah maksain. Walhasil malah makin kepikiran, wkwkw. Kok bisa gitu sih, ya?
Aku membiarkan hati, perasaan, pikiranku untuk menentukan pilihannya sendiri. Di akhir, gue akan membuat kesepakatan, dan bernegosiasi.
Diriku bilang, “Eh hati, eh otak, eh perasaaan, kalau emang kalian masih belum siap buat ngelupain, belum siap buat udahan, yaudah nggak apa-apa. nih gue kasih waktu, kalian boleh kok nginget-nginget. Tapi, catet yee jangan lame-lame.”
Asli dah gue bilang kek gitu…
Untuk bisa sembuh dari luka emang makan waktu, kok, apalagi urusan hati. Jadi gue memutuskan membiarkan mereka, tapi dengan catatan JANGAN SAMPAI TERBAWA oleh mereka. Nah, beda tuh.
Kalau judulnya terbawa, ya jadi gagal move on. Ikut ngalir, ikut nge-blend, ikut nyatu, dengan kegalauan, kesedihan. Ya, payah itu namanya. Diriku membiarkan mereka, tapi gue tetep jadi komandonya. Tetep gue yang megang setirnya lah. Tetep gue yang ngarahin kapan jalannya, berhentinya, kapan harus begini dan begitu. Satu dua minggu, baying-bayang itu masih suka datang dipikiran, dan di segala aktivitas yang gue lakukan.
Respon gue? ENJOY aja. Boleh inget tapi sat set sat set, selesai. Senyum lagi. Sampeeee akhirnya mereka udah capek kali, ya, ya berhenti sendiri tuh wkwkwkw. Malah sekarang gue BAHAGIA banget. Rasanya PLONG banget. Jadinya gue nggak sakit. Karena gue membiarkan waktu mengalir. Kalau emang belum waktunya bisa lupa, yaudah santui aja, wkwkw. Awal-awal pasti ada babak belurnya, kejedot sana sininya.
Aku pun jadi belajar hal baru, yaitu bahwa salah satu kunci dan resep sukses adalah ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Menerima diri kita apa adanya. Memaafkan perbuatan orang lain, termasuk memaafkan diri sendiri juga. Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan kenangan-kenangan, berdamai dengan yang udah-udah.
Saat ada sesuatu menyakiti perasaan, gue berusaha untuk ambil sikap berlapang dada. Punya hati yang isinya dendam itu nggak enak. Punya hati yang isinya nanggung beban, nanggung kepahitan, juga nggak enak. Mereka yang nyakitin mah ketawa ketiwi, kita yang disakitin nangis-nangis. Kan nggak adil hehe. Pokoknya, be the santuy-ers. Wkwkwkw
Doain aja yang terbaik buat seseorang yang buat kamu terpuruk dan udah jahat sama kamu. Allah nggak tidur kok, Dia tau yang terbaik untuk hambanya. Pasti ada hikmahnya dari kejadian yang sudah-sudah. Dan Allah akan memberikan balasan yang paling terbaik untuk seseorang yang telah menjahati mu. Stay Santuyyy Gaes
Wkwkwk maaf nih ye kalau tulisan gue kadang ada aku dan gue. Wkwkwk
Emang kadang begini orangnye.