Telapak tangan yang berwarna-warni, jemari yang bergerak kasar, postur tubuh yang kaku, pikiran yang begitu banyak bekerja. Begitulah aku membatik dan membuat kain pertamaku. Aku begitu menikmati setiap waktunya. Ternyata rasanya mencanting itu seperti meditasi, tenang dan santai. Awalnya aja emang serba bingung dan kaku, mau diapakan ya kain-kain ini. “Duh, lilinnya netes ke kain”, “Aw, aw, panas panas”. Kira-kira itulah kalimat yang terselip di antara percakapan sambil membatik.
Singkat cerita, pagi sampai tengah malam, melakukan rutinitas ini setiap akhir pekan selama kurang lebih 2 bulan, kami berhasil menyelesaikan 20 kain.
Biru, kuning, hijau, dan magenta. Warna-warna dari pewarna alami yang diharapkan. Senang sekali rasanya warna-warna itu begitu baik jadinya. Tau kan ya perasaannya mengerjakan sesuatu berjam-jam lalu ketika hampir jadi bagus sekali jadinya? Senaaaang sekali. Setelah puluhan kali mencelup kain akhirnya warna pekat bisa juga didapatkan! Bermain dengan pewarna alami memang ga gampang. Karena prosesnya lamaaaa sekali dan resiko gagalnya juga banyaaaak sekali.
Tinggal satu langkah lagi yang harus dikerjakan supaya kain-kain kami siap untuk digunakan. Yaitu, merebus! Alias melorod istilahnya jika dalam bahasa membatik. Dengan ekspektasi tinggi kali ini akan berhasil setelah puluhan kali gagal, dengan percaya diri kami mulai melorod. SIAL. Warnanya turun! Ini sih jadi kain putih lagi. Ahhhh, kecewa. Gagal lagi.
“Ngga bisa tau gini terus, Po.”
“Ya udahlah, Mit. Workshop aja yuk!”
Kampung Batik Giriloyo, Yogyakarta. 11-13 Juni 2019.
Banyak tanya ini itu kepada Ibu Siti, --pembimbing workshop batik-- kami sampai pada kesimpulan “YAAAA. Pantes aja gagal terus.” Iya, sambil ketawa-ketawa. Selama ini kami cuma baca dari skripsi anak-anak tekstil tentang pewarna alami, bagaimana caranya mewarnai kain dan membatik sampai selesai. Ternyata emang ga sesederhana itu, teman-teman! Jadi pewarna alami itu beberapa ada yang pekat dan ada yang mudah luntur. Seperti kunyit misalnya, yang warnanya sangat pekat, tapi mudah sekali hilang saat dilorod. Atau secang, yang harus dicampur dengan pewarna alam lainnya karena dia mudah luntur. Atau, indigo, yang perlu tata cara tertentu, YANG TERNYATA RIBET BANGET, supaya warnanya cerah di kain.
Baik, lanjut ya. Jadi, Kampung Giriloyo ini adalah kampung batik, yang ibu rumah tangganya semua bisa membatik! Keren yaaa. Mereka akan membatik setiap hari, tanpa tau kapan batiknya terjual. Ada yang menggunakan pewarna alami, ada juga yang sintetis. Kalo mau workshop di sini, kalian bisa milih mau pewarna apa. Harganya beda jauh, HEHE. Kalo sintetis paket paling murah bisa 250rb 4-5 orang, kalo alami 600rb/org/hari dengan minimal workshop 3 hari. Karena aku sudah memulai semuanya dengan pewarna alami dan emang aku penasaran banget KENAPA GAGAL TERUS, iya aku ambil workshop pake pewarna alami.
Awalnya, kami diminta untuk menggambar pola nih di kain. Kain untuk membatik yang biasa digunakan itu namanya Mori Primissima, kain mori dengan kualitas paling baik. Tapi, sebelum digambar harusnya direbus dulu supaya nanti pewarnanya bisa meresap dengan baik. Nah, setelah digambar, mulai deh dicanting. Mencanting kain 1.5x2 meter ini lama bangeeet, sampai “kalian lembur ya beresin di rumah, besok udah mencelup” iya lembur sampai jam 10 malam dengan gambar yang sederhana. Besoknya, kami mulai mencelup.
YAY! Pencelupan pertama menggunakan jolawe terus difiksasi pake tawas. Lalu dicanting lagi, buat nge-keep warna kuning jolawe.
Ini hasilnya... -huhu aku keling banget yaaa
Lalu dicelup lagi hari selanjutnya dengan pewarna alam mahoni, untuk warna yang berbeda lagi masih dengan fiksasi yang sama menggunakan tawas.
Setelah menunggu kering, dicanting lagi!! Kali ini diblok, soalnya aku pengen beda warna kanan dan kiri. Ngebloknya pake kuas bisa ko! Jadi nanti yang aku blok itu warnanya akan pink, seperti yang kiri. Nah yang kiri bakal lebih tua karena mau dicelup lagi.
Setelah dicelup lagi dengan mahoni dan difiksasi pake tunjung supaya warnanya lebih tua, kain lalu dilorod dengan air mendidih ya terus langsung dibilas. Proses lorod ini emang susah banget harus berkali-kali, lebih sulit katanya kalo pake pewarna alami. Kalo udah beres dilorod, dibilas deh dan diangin-anginkan sampai kering. Kira-kira, beginilah jadinya! YAYYY. Warna setelah dilorod emang pasti turun, jadi jangan berekspektasi tinggi dulu ya di awal, HAHA.
Begitulah kira-kira proses workshop selama 3 hari. Mungkin kalo bisa minimal seminggu gitu seru kali yaaa bisa lebih banyak eksplor gambar dan warna. Tapi aku sangat menikmati 3 hari di umur 24 tahun terakhirku. Senang rasanya bisa produktif, senang bisa mendapatkan pengalaman lebih banyak lagi. Jujur aku suka sekali kain-kain nusantara. Sesuka itu, kalo aku kemana-mana nemu kain bagus pasti aku beli. Jadi kenapa ngga untuk belajar membuatnya sendiri, kan?
Ya. Jadi. Membuat kain-kain ini susah gengs. Iya, susah, jadi wajar banget kalo ada yang jualan kain pewarna alam dan menjualnya dengan harga yang mahaaaaal banget. Belum lagi ide gambar untuk di kainnya. Wajar juga kalo harga batik tulis itu jutaan :’) Buatnya bisa sampe 2 bulan untuk 1 kain, mana dicanting satu-satu kan.
Tiga hari di kampung betulan ga kerasa. Ini homestaynya! Rumah yang paling bagus, kalo kata warga kampung. Terimakasih Ibu Erni dan Mbak Yuli yang mau menemani lembur mencanting dan selalu menyediakan makanan yang enak-enak dan super banyak di rumah.
Terimakasih untuk Ibu Siti dan ibu-ibu lain dari Batik Berkah Lestari yang mau jawab berbagai pertanyaan-pertanyaan kami.
Jadi, yuk hargai warisan nusantara! Kalo ada kesempatan belajar ga ada salahnya juga loh mencoba. Yuk, ajakin aku kalo ada yang mau. Menenun kek, batik lagi, atau apapun yang berkaitan dengan kain. AKU IKUUUUT!
Foto terakhir deh. Aku dan Mita yang selalu gagal sebelumnya dan terlalu senang kali ini hasilnya baguuuus!
Halo! Sudah cukup lama sejak aku menulis di tumblr terakhir kali. Setiap aku nulis pasti ada hal yang aku pikirin banget.
Jadi aku baru saja mengikuti talkshow tentang kebudayaan dan arsitektur Indonesia yang diadakan oleh Arsitektur Hijau Unpar. Narasumbernya adalah Yori Antar /arsitek/ dan Sutiknyo /travel blogger/. Keduanya paham banget tentang kebudayaan Indonesia. Mas Yori dengan pengetahuannya yang luas tentang arsitektur nusantara dan mas Sutiknyo yang sering sekali menghabiskan waktunya berkeliling Indonesia, bahkan dengan sepeda motornya sampai berbulan-bulan. Awalnya ga banyak yang ingin aku dengar. Namun keduanya memberikan lebih dari itu. Terlalu lebih, sampai membuat aku malu sendiri.
Apa sih yang kamu tau tentang Indonesia? Aku pribadi bisa jawab dengan sangat yakin setelah mereka bercerita yang melibatkan emosiku naik turun. Aku gatau apa-apa. Berkali-kali Mas Yori bilang, kalo arsitektur hanyalah sebuah pintu masuk untuk mengenal suatu daerah. Selebihnya saat kita sudah tinggal dengan mereka, mereka yang akan memberikan banyak hal. Itulah budaya yang sesungguhnya, ketika kita mendapatkan lebih dari yang kita harapkan.
Mass tourism di Bali adalah contoh. Banyak orang berpikir, jadilah seperti Bali yang sangat dikenal banyak orang, menjadi pusat tourism di Indonesia. Yes, I had the same thought with these people, but then I came to this event and realized. Bali adalah salah satu contoh kegagalan tourism di Indonesia. Segalanya dijadikan modern, kebudayaan menjadi lebih modern. Pasar dikuasai oleh orang-orang luar. Bahkan, eco-building yang dikenal masyarakat muncul melalui seorang American, John Hardy.
Yang membuat aku sangat sedih ketika Mas Yori bercerita tentang masyarakat Papua pedalaman, yang ga tau sama sekali apa tujuannya transpapua. Mereka tidak merasa terbantu dengan adanya hal itu. Yang menakutkan adalah, ketika adanya transpapua hanya membuat masyarakat yang kurang bermoral untuk datang dan merusak tanah dan budaya mereka.
Berapa banyak sih kalian tau suku di Indonesia dan budayanya? Semuanya benar-benar beragam. Mereka di pedalaman masih sangat menganut paham animisme. Untuk masyarakat modern seperti kita, mungkin percaya ga percaya. Tapi, mereka, di dalam setiap tradisi dan budanya, tidak pernah lepas dari yang namanya bantuan leluhur. Sebagai masyarakat modern, kita ga perlu untuk mempercayai hal seperti itu. Memahami sudah cukup bagi mereka.
Experience is priceless.
Kata-kata ini yang ingin aku rasakan secara langsung untuk saat ini.
The more I listen to these two inspiring person, the more I know nothing about my country. Feel bad to admit, but it is truly the truth.
Negative energy likes to attack you when you're falling down, stop thinking about what they're thinking about you. Let your mind think about good things.
So true, thanks. You are a good friend that will never be a stranger.
Dear God, dear El, dear Allah,
In Your majesty, You create differences
In my arrogance, I question Your wisdom
In Your mystery, You create temptation
In my inferiority, You make me more than I am
So here I am,
Surrender me in the agony of Your love
Surrender me in the irony of Your law
Lead me to the joy of love redivined
Teach me how to love You more