Kalau kita masih mengkhawatirkan apa yang tidak menjadi otoritas kita, berarti urusan iman kita kepada takdir belum selesai.

❣ Chile in a Photography ❣

titsay

Love Begins
No title available
Show & Tell

if i look back, i am lost
sheepfilms
taylor price
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
★
No title available
Cosmic Funnies
YOU ARE THE REASON
occasionally subtle

Kiana Khansmith

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Not today Justin
macklin celebrini has autism
seen from Iraq

seen from France
seen from Philippines

seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@puan-poetry
Kalau kita masih mengkhawatirkan apa yang tidak menjadi otoritas kita, berarti urusan iman kita kepada takdir belum selesai.
Perihal Emosi
Mari kita buka dengan premis
Ternyata apa yang kita anggap sebagai “meregulasi emosi” atau “mencari ketenangan”, dalam kacamata psikologi sangat mungkin teridentifikasi sebagai bentuk emotional avoidance (penghindaran emosi) atau emotional phobia (ketakutan terhadap emosi).
Setelah berdiskusi dengan psikolog, ada pola yang berbeda dalam hal memproses emosi yang muncul dari kedua hal tersebut
Regulasi Emosi (Healthy Emotion Regulation) Dalam prosesnya, kita mengakui dan merasakan emosi terlebih dahulu, kemudian memahami alasannya, lalu memilih cara yang sehat untuk meresponsnya tanpa terbawa arus emosi tersebut secara destruktif. Memahami dan menerima keberadaan emosi yang tidak nyaman sebagai hal yang manusiawi dan sementara.
Sedangkan,
Menghindari/Menekan Emosi (Emotional Avoidance / Fear of Emotion) Adalah sebuah proses ketika emosi “negatif” atau tidak nyaman muncul, kita segera berusaha menghilangkan, mengalihkan, atau menumpasnya secepat mungkin demi mencapai rasa “tenang”. Tujuannya sederhana, untuk melindungi diri agar tidak sempat merasakan rasa sakit atau ketidaknyamanan dari emosi tersebut.
Setelah diskusi panjang dengan segalanya harus ku logikakan, beberapa hal akhirnya terpatahkan. Salah satunya konsep ini. Kalau target utama kita adalah selalu merasa tenang, secara tidak sadar kita menetapkan aturan bahwa emosi selain “tenang” adalah hal yang buruk atau tidak boleh ada.
Seperti timbangan tanpa beban di titik 0. Tenang berarti tidak berat ke sisi manapun. Padahal secara alami, emosi manusia tidak diciptakan untuk selalu berada dalam kondisi “tenang”.
Menyadari dinamika bahwa ketenangan bukan berasal dari ketiadaan emosi tidak nyaman, melainkan dari keberanian untuk tetap baik-baik saja meskipun emosi tidak nyaman itu sedang datang.
Padahal, aku merasa sudah cukup banyak belajar soal kendali emosi (menurut hematku), sehingga tidak banyak hal yang mentrigger emosiku tapi ya tetep aja kegocek. Ternyata aku phobia terhadap emosi-emosiku sendiri. Hal yang menurutku khatam ternyata sampai di usia ini masih terus-terusan inhal dan remedial.
Manusia di usia akhir dua puluh yang perkara regulasi emosi saja masih banyak remedialnya.
Energi yang tersisa ini kalau tidak dialokasikan secara bijaksana akhirnya akan berujung lelah tidak berkesudahan.
Jangan mengeluh ya, tempat sampahmu juga sedang penuh.
Membaca pagi lekat-lekat dengan sudut retina sesekali menangkap gerak-gerik pramusaji yang tangan duanya seperti lima
Pagi selalu jadi teman kopi paling berani
Karena jika dihidu dengan cermat, aroma pagi lebih pekat dari biji gayo yang diseduh oleh barista hebat
Iya, pada pagi. Ada aroma yang khas dan pekat sekali: bau masa depan…
“I will breathe. I will think of solutions. I will not let my worry control me. I will not let my stress level break me. I will simply breathe. I will be OK because I don’t quit.”
— Shayne McClendon
Bahwa ada banyak hari-hari berat yang kubiarkan usai dengan berserah
Begitu banyak lelah tanpa ungkapan yang kutelan di pagi hari sebagai santapan sarapan
Demi Allah, aku tidak menyerah. Tapi sungguh, akupun ingin tau bagaimana rasanya sampai
I never push my self to be someone that valuated by position, profession, and other things that haunted me in the middle of the night. I wanna define by the naturally me as human, with all the weaknesses and strengths that I have…
When someone come and all things their needs a validity but mine is stability and qawwam personality. Everything seems like terribly nonsense…
They say I’m too logic to growth as woman.
I say “sepakat”
Meratapi jadwal 2 minggu ke depan yg isinya “orang lain semua dan aku-nya mana”…
Ini tau banget perasaan begini akan muncul di sela2 jadwal PMS. Kaya “apaa sii nia, perasaan udah sering berhadapan sama yg begini. Masa tetep aja sok jadi si paling”….
Energi buat marah yg meledak tuh ada. Tapi napping tiap abis kerja pasien cukup membantu untuk meredam semuanya.
Rasain ajaa semuanya dirasain.
Bahwa kita akan selalu diuji dengan apa-apa yang pernah kita tulis dan ucapkan…
Seseorang bisa menunjukkan sisi paling rebel-nya cuma ke orang yg ia yakini dekat secara emosional. Berkali-kali nulis begini. Berkali-kali juga menyampaikan ke orang lain untuk meredam amarahnya.
Sampai titik akhirnya aku dihadapkan dengan seseorang yg menunjukkan true colour-nya hanya ke aku
Ternyat akuuu yang belum siap.
Kesal. Mau marah. Tapi tidak meledak, ujungnya ya nangis sendiri. Kecapean.
The Ultimate Stress Strength
Beberapa hari yang lalu, sempat baca sebuah tulisan tentang “Life Stage Compatibility”. Di dalamnya, ada sebuah catatan yang ku garis bawahi “kekecewaan terbesar dari sebuah hubungan sering datang ketika kita mengharapkan “hasil akhir” (arrived energy) dari seseorang yang sebenarnya masih dalam “proses bertumbuh” (still becoming)"
Membaca tulisan tadi berasa dapat jawaban yang langsung bisa masuk di logikaku. Ternyata perkara life stage ini seberpengaruh itu. Fase tumbuh setiap orang hampir tidak pernah presisi. Ada yang secara finansial lebih duluan stabil. Beberapa, justru dari segi mental bahkan spiritual. Konflik hubungan ternyata sering muncul dari perbedaan tujuan kebutuhan hidup. “Life Stage Compatibility” yang juga harus disesuaikan dengan kebutuhan diri.
Kalimat singkat yg selalu diucapkan paling sekedar "bukan orgnya" atau "belum jodohnya". Tapi berkali-kali terpapar dengan kata-kata ini jadi bikin mikir. Kira-kira apa yg membuat orang dewasa, di umur sekarang, ketika bertemu orang baru, dengan segala hal fundamental perihal kriteria sudah terceklist tapi tetap tidak menemukan titik temu?
Maka, perlu sekali ternyata memahami kurva pendewasaan seseorang dan musim kehidupan apa yang sedang ia jalani. Karena, dari sini kita bisa membaca “Life Stage Compatibility” seseorang kira-kira sesuai tidak dengan kebutuhan diri.
Karena, ketika kurva pendewasaan kita sudah di titik “Ultimate Stress Strength”, ternyata seseorang masih berada pada “proporsional limit”. Pada momentum perempuan tidak lagi mengejar apapun (re: popularitas, validitas, jabatan dan segala sesuatu yg diukur menggunakan tolak ukur opini manusia) kecuali ketenangan hidup. Maka, stabilitas adalah hal manusiawi yang saat ini ia cari.
"Alhamdulillaah 'ala kulli hal, segala puji bagi Allaah atas segala keadaan. Betapa lembutnya diri-Mu atas diriku, kebaikan apa kiranya yang Engkau simpan untukku? Aku yakin atas setiap ketetapan-Mu adalah kebaikan untukku Yaa Rabbi.
Jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang sabar dengan kesabaran yang baik. Dan jadikan aku bagian dari hamba-Mu yang aslama wajhahu. Yang menyerahkan wajahnya, eksistensinya, hidup, dan matinya adalah untuk beribadah kepada Engkau. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata."
~ tulisan seseorang, semoga Allaah menjaganya
Ada banget bangganya padahal cuma satu hal sederhana yang sebenarnya semua orang bisa.
Dari awal sampe, anak-anak ini selalu bilang "dok, kami malu masih terlalu kecil", "dok, kalo kami salah kasih alat gimana?", "dok, mereka sudah kuliah tahun ke-3", "dok, BEM kita belum ada pengalaman baksos sama sekali"
Cuma kujawab, "first time Always be the hardest part. Liat aja, ikutin, nanti bisa kok" (sangat tidak membantu)
Makasii banyak sudah bersedia jadi angkatan pertama yang apa-apanya tidak punya contoh, semuanya dibangun sendiri, tidak ada kaka yang bisa ditanya ini dan itunya. Semoga selalu siap menerima banyak hal baru yaa adik-adik....
Glad to know how fast all of you growing up guys, mungkin belum berbunga, tapi mari saling mengokohkan akar ✨🌱🌸
Wahai kau yang baik, sudah kusiapkan ruang ikhlas seluas kapasitas hatiku. Pada tempat-tempat terbaik yang menjadi tujumu, semoga langit buminya kerap memelukmu erat dengan kebaikan.
Karena ikhlas terkadang bukan sekedar menerima bahwa takdir kita tidak bersama. Tapi juga ketika pada akhirnya bersama, namun ada banyak hal yang harus berubah
Jalannya buram
Entah kacamata ku yang berembun sebab tangisan, atau rabun yang kian dipaksakan
Menyisir pelan-pelan seraya meraba apa yang layak dijadikan tempat berpijak…
Beruntungnya aku tidak sendirian
Kali ini ditemani, seseorang tegak berdiri di depan
Banyak hal yg ia genggam. Kiri ragu, kanan beradu.
Langkahnya memelan, sebab pedal rem diinjak perlahan.
Menepi, kita tunggu disini…