Aku pernah singgah di sebuah tempat.
Tempat yang selalu menawarkan kenyamanan.
Tempat yang mempersilakan aku menjadi diriku sendiri, apa adanya tanpa di tutup-tutupi. Tempat yang mengizinkan aku untuk menampakkan perasaan-perasaan tak karuan. Tempat yang menyuguhkan banyak hal untuk mengembalikan ketidak baik-baik sajaan saya. Tempat dimana saya tak perlu menutup diri dari banyak manusia, dan bebas mengekspresikan apa yang saya rasa di depannya. Tempat paling nyaman, tempat singgah paling melegakan. Tempat pulang paling di rindukan. Tempat yang di suguhkan sesosok manusia yang terlewat baik hatinya. Manusia tang sering kali berkata "aku memang tak peka". Padahal kepekaan nya selalu membuat saya luluh tanpa dia sadar.
Sampai saat ini, saya masih merasa memiliki tempat itu. Tapi seperti sedang di beri jeda oleh keputusan, agar tak mengunjungi nya dahulu. Membuat saya harus berada dia dunia saya sendiri lagi,tempat yang membuat saya harus bersembunyi dari banyak manusia.
Tapi, entah apakah tempat itu masih tersedia untuk saya singgah atau tidak.
Tapi sepertinya pula, sesosok yang pernah menawarkan tempatnya, sedikit menutup pintunya. Barangkali sudah terlalu lelah menghadapi sikap saya yang kerap tak bisa dia terima. Barangkali sudah ingin menyerah dengan segala bentuk perjuangan yang mmungin dia kira aku tak menghargai nya. Barangkali dia sudah enggan mempersilakan saya menjadi satu-satunya yang singgah di tempatnya karna saking tak tahan dengan ketidak sadaran saya. Barangkali dia sudah tidak mau, barangkali dia sudah tak mau di repotkan dengan aku yang bukannya meringankan bebannya, tapi malah memperberat dan mempersulit hidupnya.
Barangkali aku, yang malah menjadi beban hidupnya, bukan yang menyuguhkan banyak solusi dari beban-bebannya.
Apakah dia sudah selelah itu??
Aku memang manusia yang takk tau diri. Tak memikirkan dia dan hanya egois dengan perasaan ku sendiri. Manusia dengan hati yang terlalu lemah, sampai harus selalu merasa sakit padahal dia sudah sebegitu menjaga. Manusia paling tidak bisa memahami orang lain, tapi kerap kali memaksa untuk di pahami. Manusia menyebalkan, manusia mengesalkan, manusia yang tak berperasaan.
Apa dia hendak menghilang sampai aku tak bisa lagi menemukan??
Jika iya, pasti salahku sudah tak bisa di maafkan. Terlalu banyak, terlalu.
Jika iya, tak apa. Mungkin aku memang tak pantas, dia terlalu baik hatinya.
Jika iya, tak apa. Barangkali dengan dia menghilang hidupnya jauh lebih tenang dibanding berada di sekitar saya.
Jika iya, tak apa. Tapi jika masih berkenan pulang menuju rumahku, rumahku tak pernah tertutup, maka kembalilah. Jika masih berkenan.
Andai dia tauu. Apa dia kira aku sedang marah padanya??.
Andai dia tau, aku hanya sedang marah dengan diri ku sendiri. Aku, yang sering sekali cemburu pada kawan-kawan nya, bukan bermaksud tak suka dengan dia.
Andai dia tau, aku yang kerap kali berpikir "Andai dahulu tak ku sambut perasaanmu, mungkin aku masih bisa bercengkrama dengan mu seperti orang lain tanpa harus memberi jarak sekarang".
Setiap kali melihat dia bisa bertukar cakap dengan kawannya tanpa jarak, ahh, aku iri sekali dengan mereka. Bukan, bukan cemburu padanya, tapi pada kawan-kawan nya.
Andai dia tau se menyulitkan apa berjarak dengan dia bagi saya.
Andai dia tau, sebab apa yang membuat saya sedikit tak mau melihatnya beberapa hari terakhir.
Ketika saya mengetahui dia terluka, ketika saya melihat darah pada mata di wajahnya, ketika saya melihatnya terbaring dia atas dipan, tanpa saya tau apa dia tak sadarkan diri, atau bagaimana.
Ketika saya di penuhi pikiran-pikiran menakutkan lainnya.
Ketika saya terpaksa bertanya pada orang-orang tentang dia karna terlalu khawatir, padahal saya tak mau sekali terlihat orang lain, kalau saya sedang mengkhawatirkan dia. Tapi tak ada yang bisa memberi jawaban yang melegakan hati saya.
Ketika saya berusaha sekali untuk tak bertanya langsung pada nya. Tapi akhirnya saya tak bisa kendalikan kekhawatiran saya.
Ketika pula dia menjawab kekhawatiran saya, bersamaan dengan berkata "jangan kau rusak"..
Aahh, andai dia tau sekhawatir apa saya, se tidak tenang apa hati saya. Se tidak karuan apa perasaan saya, se riuh apa otak saya memikirkan.
Tak bisakah dia melegakan hati saya barang sebentar sebelum mengatakan kalimat ituu..
Saat saya sedang tak menentu hatinya, tapi malah di buat berpikir, "apa kekhawatiran ku merusak tanaman mu??, apa pertanyaan²ku merusak tanaman mu??, apa seharusnya aku tak bertanya agar tak merusak tanaman mu??". Andai dia tau, khawatir ku belum usaii. Tak bisakah dia menunggu sampai saya tenang dahulu, baru dia katakan kalimat itu.
Tiba-tiba saya menyalahkan diri saya sendiri setelah membaca tulisannya "jangan kau rusak", seketika saya takut sekali, seketika memaki dari saya sendiri, (kenapa harus khawatir berlebihan, dia tak suka. Kenapa harus bertanya, dia tak suka. Kenapa tak bisa kendalikan perasaan, dia tak suka tanaman nya saya rusak).
Aku ingin sekali meminta maaf karena sudah merusak, tapi sepertinya kesalahan saya sudah teramat banyak, bagaimana dia bisa masih sabar dengan permintaan maaf saya yang kesalahan nya masih terus saja saya ulang.
Sempat berpikir (apa aku seharusnya menghilang sampai tak terlihat olehnya, agar tak kurusak tanaman nya). Ahh, diaa. Berjarak dengannya saja sudah sulit sekali, bagaimana aku bisa tak melihat dia sama sekali??..
Sampai akhirnya aku memilih tak mau lagi memperdulikan rasa apapun yang sedang riuh dalam hati. Berusaha mebaik-baikkan keadaan. Berusaha tak terlihat sedang bagaiman perasaan saya bekerja, biar baik saja yang dia lihat, biar bahagia saja yang dia lihat. Tapi apa ini juga masih salah??
Karna saya tau ketidak baik-baik sajaan ku bisa mengusik ketenangan nya. Andai dia tau seberapa rindu saya. Saya berusaha sekali agar tak nampak, takut jika rindu ku merusak tanaman nya..
Andai dia tauu, aku bahkan masih tak tahu, tanaman apa yang sedang dia jaga.
Dan, andai dia mempermasalahkan cemburu saya. Dia bisa cemburu karena saya dekat dengan ustadz saya, bagaimana dengan saya yang harus menerima kenyataan kehidupan dia, yang tak bisa lepas dari banyaaaaak sekali perempuan. Andai dia tau, seberapa saya menahan setiap kali riuh. Mencoba menerima meski kadang di matanya aku sama sekali tak mau memahami keadaan nya. Aku sudah mencoba, hanya kadang ada beberapa orang yang jika sudah bersangkutan dengan dia hatiku sulit sekali dikendalikan.
Dan andai dia tau, setiap kata yang sempat dia baca dari kecemburuan saya, saya selalu merasa bersalah membuat dia harus membaca apa yang sebenarnya masih bisa dikendalikan setelahnya, yang ternyata masih tak berbanding dengan banyak kebaikan yang saya rasa dari dia. Sampai saya menyalahkan diri saya berkali-kali sabil berkata pada diri saya, "kenapa tak tunggu dulu samapi reda emosinya?? Kenapaa??".
Maaf, maaf karena terus-menerus meminta maaf tapi masih melakukan kesalahan yang sama.