Pagi tadi, saya melihat ratusan orang berhimpun mendoakan hal yang sama: kemerdekaan Palestina. Jauh-jauh mereka berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika untuk menuntut itu. Mereka menyuarakan boikot. Sementara berita-berita sehari sebelumnya ramai calon presiden menyatakan: aku suka Burger King.
Tak ada yang salah dari pernyataan itu kecuali ketidak-pekaan manusia ini kepada kondisi manusia lain di belahan dunia lain. Orang ini kemungkinan besar akan jadi pemimpin baru kami, yang tentu saya tidak suka. Tapi dunia tak selalu berjalan seperti yang kita suka kan?
Saya selalu percaya bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa, semua individu. Kecuali kemerdekaan itu dilepas atas kehendaknya sendiri, atau nilai-nilainya. Tapi berilah setiap manusia kesempatan, pilihan. Di Gaza, Palestina, tak ada pilihan: mati atau tinggalkan wilayah. Maka tak akan ada lagi Gaza kalau begitu. Bahkan tak akan ada lagi Palestina jika semua ini tak dihentikan.
Sejarah memang menunjukkan peperangan mengikuti peristiwa wabah. Seperti awal 1900. Tak saya sangka peristiwa itu berulang. Setidaknya di beberapa belahan dunia. Sementara sebagian orang Indonesia masih sibuk berperang dengan orang-orang sekitarnya, membela calon pemimpin yang didukungnya. Demikian lah dinamika dunia. Denyut dunia.
Saya, pun tak lepas dengan peperangan saya sendiri. Peperangan dengan ego. Peperangan soal idealisme. Tapi tak semua harus berujung perang, bukan? We deserve peace, at least in ourself.