GURU;Β cita-cita semasa SD
βNanti setelah besar kamu mau jadi apa?β kalimat itu seolah menjadi pertanyaan wajib sewaktu mengawali jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), serempak suara anak-anak yang baru memakai seragam merah putih βrata-rata kebesaran- mengaum memenuhi sesudut ruangan, diantaranya yang tidak sabar malah mengacungkan tangan sambil berteriak-teriak lantang bak orang-orang berorasi, ada yang berteriak astronot, pilot, dokter, guru, polisi, tentara dan banyak lainnya. Aih.. menyenangkan membanyangkan hal yang demikian *rindu sekolah*.
Yaaβ¦ itu adalah sepenggal kenangan yang masih saya ingat, barangkali kamu yang lahir ditahun β89 atau β90an juga merasakan hal yang sama dengan saya. Diawal sekolah dulu saya βbersama dua kembaran saya- termasuk anak yang pendiam (padahal engga-butuh penyesuaian lingkungan barangkali), kami tak seperti teman-teman yang lain yang sibuk bersorak sorai menyuarakan cita-citanya. Ketika ibu guru seolah-olah mengubah pertanyaan menjadi pilihan ganda barulah kami bereaksi, saya termasuk yang ngacung paling tinggi (berasa ketiak mau tanggal) ketika ibu guru menyebutkan profesi Guru, untuk saya guru adalah profesi yang sangat menyenangkan, kamu tau? saya belum berpandangan bahwa susahnya menjadi guru honorer dipelosok-pelosok, digaji seadanya bahkan pembeli sepatu saja tak bisa, atau senangnya jika sudah diangkat jadi pegawai, digaji tiap bulan, masuk pagi pulangnya siang, itupun bisa belanja kepasar jika jam istirahat sekolah (setidaknya itu yang saya dapat dari pengalaman di masa SD), beluummm.. sama sekali belum terpikir sampai kehal se ruwet itu, bagi saya pilihan Guru sebagai cita-cita tanpa pertimbangan, saya hanya ingin jadi guru, cukup itu saja.
Angan-angan itu diperkuat ketika menginjak kelas tiga Sekolah Dasar, disaat seluruh siswa sudah mahir tulis baca, tugas pertama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah mengarang bebas dengan tema βCita-Citakuβ (saya bahkan masih ingat, menceritakan kegiatan selama libur Panjang adalah tema tugas mengarang yang kedua). Tanpa pikir panjang saya mendeskripsikan bagaimana kuatnya keinginan saya untuk menjadi guru, dan masih tanpa alasan.
Sebermula keinginan itu terikrar (meski didalam hati), sampai saya di sekolah menengah Atas tak berganti sedikitpun, saya ingin menjadi guru, dan bimbingan konseling menjadi pilihan menarik ketika itu, dan kali ini bukan tanpa alasan, alasan yang paling masuk akal bagi saya adalah saya tak punya kepercayaan diri untuk memilih mata pelajaran lain yang dengan mahir saya ajar, mathematika terlalu sulit untuk saya, apalagi fisika, kimia ataupun biologi, dan saya tak punya ketertarikan untuk mendalami ilmu-ilmu Sosial, sejarah, geografi dan sosiologi (walaupun pada akhirnya saya pernah bergelut lama dibidang itu). Apalagi dari mulai kelas satu SMA saya dinobatkan secara sepihak oleh guru Konseling sebagai duta Konseling Sekolah *ceilaaahh dinobatkan! keren yaahhh bahasanya* padahal kejanya tukang catat anak-anak nakal, yang sering cabut, ataupun yang hobi usil dikelas (anggap itu jobdesk hihihihi), keinginan itu semakin kuat dan menajam, saya ingin jadi guru Bimbingan Konseling, kelak!
Sampailah sekarang saya diprofesi βbukanβ guru, saya sengaja memberi tanda kutip pada pilihan kata bukan kali ini, nanti kamu akan paham kenapa saya bedakan.
Saya lulusan Sarjana Sosial yang dibelakangnya detambah embel-embel Islam, S. Sos. I demikian gelar akademik yang melekat dibelakang nama saya, Β perguruan tinggi yang saya pilih sebagai tempat menimba ilmu ini tak terlepas dari ambisi menjadi Guru Bimbingan Konseling, saya sebut ini kecelakaan sejarah (hehehe.. biar agak ekstrim lah yaa). Berhubung nasib berkata lain, pada saat pengumuman hasil uji kelayakan memilih perguruan tinggi, saya termasuk ribuan peserta yang merasa kecewa berat karena tak satupun nama dan nomor pendaftaran saya tertera dilembar pengumuman kelulusan dikoran. Kamu tau bagaimana guncangnya dunia ketika itu?? Seketika saya galau berat memikirkan saya gagal menjadi calon Guru Bimbingan Konseling.
Tapi usaha saya tak sampai disitu, berbagai informasi saya kumpulkan, list perguruan tinggi Negeri di kota Padang saya kantongi, waktu itu hanya ada tiga PTN yang berdiri di kota Padang, kenapa harus berstatus Negeri dan di kota padang?, karena orang tua saya memberikan syarat serupa itu, hanya boleh kuliah di sekolah Negeri dan paling jauh ya Padang, asumsinya merantau terlalu menakutkan bagi orang tua saya yang sangat mencemaskan anak gadisnya.
Jatuhlah pilihan pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, selain saya sudah merasa gagal masuk UNP dan tak mungkin mendaftar lagi, alasan kedua adalah Unand tidak menyediakan jurusan Bimbingan Konseling, artinya IAIN adalah pilihan tunggal jika masih ingin kuliah dan melanjutkan cita-cita menjadi Guru Bimbingan Konseling.
Kamu tau? Kenapa saya sebut kecelakaan sejarah? Ini bagian yang membuat saya menjadi βbukanβ guru yang saya maksud di awal, ketika mengikuti test di IAIN imam Bonjol Padang, tanpa pikir panjang, dan tentunya tanpa tanya sana-sini dengan yakin saya memilih jurusan yang tertera di brosur pengenalan kampus βJurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas dakwah dan Ilmu Sosialβ, dan sama sekali tak memahami bahwa yang dimaksud disana adalah jurusan non keguruan. Belakangan baru saya tau bahwa jurusan Bimbingan Konseling keguruan itu dibawah naungan fakultas Tarbiyah dan ilmu pendidikan *ceroboh sekali saya ini -_-*
Menikmati pendidikan dibangku kuliah, lengkap dengan pelajaran sosial yang selama ini tak tersentuh (karena sejak penentuan jurusan di sekolah menengah atas saya selalu bersentuhan dengan ilmu-ilmu eksak), tak menurunkan minat saya untuk menjadi guru, sempat terfikir untuk transfer fakultas (namun sengaja saya urungkan), satu-satunya pilihan simpel ketika itu adalah menambah ijazah Akta IV sebagai legalitas untuk mendapatkan gelar sebagai pendidik. Seiring berjalannya waktu dan kuliah konseling yang menyenangkan, mencoba mendengarkan keluhan orang lain, memahami kondisi psikologis manusia yang unik, membuat saya Β betah untuk melanjutkan bidang ini, bahkan saya siap untuk Β menjadi βbukanβ guru *out of comfort zone*.
Disisa-sia tahun akhir kuliah, saya sempat bergabung dengan LSM lokal, yang concern pada dampingan terhadap anak-anak trauma bencana dan korban kekerasan perempuan, disini saya banyak belajar lagi tentang keunikan manusia secara psikologis, dan saya merasa menjadi βbukanβ guru βcita-cita saya diawal-, bukan guru yang berdiri dikelas, menerangkan pelajaran, memberi hukuman bagi siswa nakal, bukaaan.. sama sekali bukan itu, βguruβ yang saya maksud adalah pendamping dan sandaran paling kuat bagi mereka (khususnya anak-anak) yang mengalami trauma berat. Gempa hebat 30 september 2009 menjadi moment berharga bagi saya, bergabung dalam team trauma Healing Pondok Kemanusiaan kota Padang dan hidup bersama mereka yang menjadi korban bencana menjadikan saya menjelma sebagai sosok βguruβ. Kami bermain-main di bekas reruntuhan rumah, mengembalikan semangat anak-anak yang dipenuhi takut dan cemas, membuat lingkaran dengan tangan bergandengan lalu bernyanyi riang.. kamu bayangkan? Menyenangkan bukan Β menjadi βguruβ untuk mereka?
Menamatkan kuliah 4 tahun (alhamdulillah sesuai jadwal, setelah lama berleha-leha), saya memutuskan untuk pulang kampung ke tanah kelahiran, jarak Baso-Padang itu tak jauh, tapi orang tua saya tak mengizinkan saya beraktifitas di Padang (walaupun waktu itu saya sudah ditawari pekerjaan di salah Satu LSM di kota padang), untuk beliau βorang tua saya- anak gadis itu patutnya dirumah saja, guru honor di sekolah sebelah rumah sudah cukup sembari menunggu kalau-kalau salah satu pegawai kecantol dan mengajak anak gadisnya menikah, itu sudah kesyukuran yang luar biasa.
Lama menganggur dirumah, saya mencoba merancang program bimbingan konseling untuk salah satu sekolah swasta yang baru akan uji Akreditasi (kelayakan operasional sekolah), dan program yang saya ajukan diterima dengan bonus saya dipersunting langsung untuk menjadi Guru Bimbingan Konseling di sekolah tersebut, alhamduliilllaah.. thanks god this is my destiny *guru bimbingan konseling*(menganggap ini pertaubatan karena menyimpang dari cita-cita SD), kamu tau kan bagaimana mengejutkannya tawaran ini untul saya ketika itu, cita-cita dari sd saya temukan sekarang. Yaa.. ini cita-cita..
Sampai akhirnya Saya disentakkan dengan pola kerja yang begitu rigit, harus mempersiapkan materi ajar, program semester, program tahunan, belum lagi Rancangan pembelajaran ntah apalah namanya, biasa disingkat RPP, silabus yang harus dipersiapkan setiap akan memasuki kelas, tak tanggung-tanggung enam kelas dibebankan kepada saya, dengan beban jam ajar 2 jam setiap kelas, huuufftt beraatt. Satu lagi yang membuat ini menjadi berat, saya harus berdandan layaknya ibu-ibu, memakai hight heels (karena memang dasarnya saya pendek), bedak yang agak menor, lipstik yang memerah. Bukan apa- apa.. kamu tau andai saya berdandan ala mahasiswa tanpa berdandan, dijamin saya akan digoda dan disuit-suitin oleh Β murid Aliyah (setara sekolah menengah atas), lagi-lagi karena badan saya yang mungil, mereka menganggap saya guru magang yang menjadi sasaran empuk tindakan usil. Maka jadilah itu tindakan keharusan, berdandan dan menjelma menjadi ibu-ibu.
Hanya dua bulan, tak lebih.. saya memutuskan mengundurkan diri dan menerima tawaran dari salah satu rumah sakit dikota Padang, tetap pada backgroud awal bidang bimbingan konseling, tapi βbukanβ guru, mirip-mirip serupa guru tapi tidak memakai RPP, materi yang rigid, tiak pula harus berdandan menor ala ibu-ibu, saya memilih profesi pendamping konseling rohani pasien untuk rumah sakit, materi-materi ringan saja, serupa tatalaksana ibadah ketika sakit, penguatan psikososial dan psikospiritual bagi pasien yang cenderung putus asa, dan hal-hal menyenangkan lainnya, bahkan hanya sekadar bertukar senyum bersama mereka yang sakit untuk saya itu adalah pekerjaan. Sekarang kamu paham bukan kenapa saya beri tanda kutip (β) pada profesi βbukanβ guru?? Yaaβ¦ sama rasanya ketika saya mendampingi anak-anak yang trauma bencana, menyenangkan.. I called it passion..
Tulisan ini saya buat persis di tanggal 25 November, hanya saja baru sempat diposting sekarang, di sela-sela kesibukanβ¦ selamat hari guru bapak ibu tersayang, ternyata berat menjadi seorang guru..Β Β
Β "Pekerjaan paling mulia di sepanjang sejarah peradaban manusia adalah seorang Guru..β (Ibnu Khaldun)
Salam taβzim dari muridmu-Rahma Syukriah Sy
Bukittinggi, Novemba 26th 2015