Perihal Badai dan Laut
Di tempat ini waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Senja hampir jatuh. Sebentar lagi, gumammu, pikiranmu belum teduh. Kamu berharap pada laut. *** Seseorang pernah berkata bahwa perasaan manusia adalah samudera yang pelayarannya memakan waktu sepanjang usia -kita tak pernah benar-benar tahu di mana ujungnya, atau bahkan ternyata tak berujung? *** Kamu adalah manusia paling logis, segalanya kamu kalkulasikan. Target jangka pendek, menengah dan panjang. Tak cukup hanya itu, kamu pun membuat rencana cadangan dari rencana utamamu. Namun hari ini anomali, hatimu badai. Kecamuk yang tak pernah kamu antisipasi. Kehilangan. *** Kamu mengeja lagi kata itu 'Kehilangan: (verba) menderita sesuatu karena hilang'. Kamu menakar perasaanmu sendiri, apakah benar dia hilang? Atau dia pergi? Sebab katamu, yang hilang tak selalu ingin pergi. *** Badai masih kencang, kepalamu kemudian mulai mencoba mensimulasikan berbagai pengandaian agar kecamuk di hatimu itu reda. Namun segalanya hanya perihal masa lalu. Kamu bisa banyak hal, selalu cemerlang di setiap bidang yang kamu tekuni, hanya saja waktu, waktu adalah satu-satunya yang tak bisa kamu kuasai. *** Matamu menjelma anak sungai yang tak tahu caranya berhenti. Skenario berganti dengan berbagai pertanyaan dan penghakiman terhadap keadaan. Kamu tak butuh jawabannya, sebab beberapa pertanyaan hanya butuh untuk disuarakan. *** Badai itu mulai reda. Kamu mengerti bahwa ikatan yang terlalu erat hanya menjelma jadi pasungan. Kecamuk itu berganti dengan penerimaan. Kamu tahu bahwa segalanya yang mengalir akan bermuara ke laut, termasuk air matamu. *** Laut tak pernah gagal meredamkan kecamuk yang ada di dalam kepalamu. Sepenat apapun hidupmu, sesulit apapun kamu merunut kepalamu, laut adalah gelombang frekuensi yang mereset ke titik awal. *** Malam mulai beranjak bangkit, segalanya melebur menjadi satu: panas dan sejuk; terang dan gelap; air dan pasir; kenangan dan harapan. *** Kehidupan memang mengajarkan kita banyak hal, salah satunya adalah perihal berdamai dengan kehilangan. Dan waktu tak akan mengajarkanmu untuk mengobati luka, namun ia akan membuatmu fasih untuk menerima.
J.
28.08.2021








