Teruntuk ibuku di rumah.
Wahai ibu, tahukah engkau betapa aku menahan diri untuk tidak makan hari ini. Aku menahan diri untuk tidak menangis hari ini. Aku menahan diri untuk tetap tertawa hari ini. Namun, kenapa malam ini kau katakan lagi bahwa aku adalah anak-anak yang tak pernah dewasa. Nyatanya aku hanya tak ingin membuatmu terluka dengan rengekanku, dengan keluhku, dengan semua lukaku. Tidakkah kau mengerti, ibu? Benarkah yang pepatah katakan bahwa seorang ibu bisa merasakan apa yang anaknya rasakan? Namun mengapa aku tidak merasa demikian. Mengapa ibu? Apakah benar kau tak bisa merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan? Sungguh, aku sangat ingin dimengerti olehmu ibu. Saat kau tanyakan apa kabarku, aku ingin sekali mengatakan hal sebenarnya, namun lidahku kelu, mulutku kaku. Tak sepatah kata pun aku katakan padamu tentang keputus asaanku, tentang amarahku, tentang sedihku. Aku tak sanggup. Aku takut kau hanya akan kembali menyebut itu sebagai “alasan” yang aku bualkan untuk menghindari kewajibanku. Seperti waktu itu. Kau hanya menyalahkanku, bukan membesarkan hatiku. Padahal saat itu aku sungguh sangat ketakutan, aku hanya menangis di hadapanmu, namun yang kau ucapkan hanya “tulah kamu tuh...” kau memojokkanku. Aku takut, ibu. Bantu aku.
09082022.20.15








