Pagi hari datang dengan diiringi salju yang menerpa kota Zurich. Hari ini adalah hari dimana tahun baru di mulai dan ini jari ke 8 dia kabur dari Indonesia. Seorang gadis masih tertidur dengan asyiknya memperbaiki letak selimutnya, ia merasa sangat malas melakukan apapun hari ini. Tubuh semampainya masih engganΒ beranjak dari tempat tidur queen sizenya. Kamar yang biasanya rapi terlihat sedikit berantakan dengan koper dan tas kecil yang tergeletak begitu saja. Seorang laki-laki berparas tampan masuk ke dalam kamar itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya melihat gadis tertidur dengan pulasnya.
βwake up lilly, hurry upβ. Laki-laki tampan itu menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu, bukannya terbangun gadis itu malah mempererat selimutnya. Laki-laki menatap gemas gadis yang tidur dihadapannya, karena tidak biasanya gadis itu susah dibangunkan.
βNAIRA WAKE UPβ teriak laki-laki tersebut namun gadis itu tak juga memberi respon yang baik. Karena kesal akhirnya lelaki itu menarik selimut gadis yang bernama Naira itu dengan kasar.
βbang Rabka, Ara mau tidurβ balas Naira kepada laki-laki yang aslinya bernama Akbar namun Naira memanggilnya Rabka tersebut dan kembali menarik selimut. Akbar adalah asisten Naira yang sudah seperti kakak sendiri bagi Naira.
βLILLY KITA AKAN KE INDONESIA JAM 10 DAN INI SUDAH JAM 9 LEWAT 15 MENIT, LILLY AKAN DIBUNUH GRADDY JIKA TIDAK SAMPAI TEPAT WAKTUβ. Akbar kembali meneriaki Naira, dan kali ini sukses membuat Naira terduduk dan sadar sepenuhnya.
βKENAPA GK BANGUNIN ARA DARI TADI ABAAAAAAAAANGβ teriak Naira menggelegar sambil berlari ke kamar mandinya. Akbar hanya melongo sambil menutupi telinganya yang panas akibat teriakan Naira tepat ditelinganya.
βABANG TUNGGU DIRUANG MAKAN LILLYβ teriak Akbar sambil melenggang keluar dari kamar Naira. Sudah menjadi kebiasaan bagi Akbar untuk membangunkan Naira, melayaninya atau apapun untuk Naira. Itu sudah dia lakukan semenjak dia mengenal Naira dan dia sudah menganggap Naira adiknya sendiri. Akbar tidak mungkin bisa menjadi seorang yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang layak kalau saja dia tidak bertemu dengan keluarga Naira. Untuk itu apapun akan dia lakukan untuk Naira termasuk mengorbankan dirinya untuk melindungi Naira dan keluarganya.Β
Naira mandi dengan terburu-buru karena selain dingin dia juga tidak mau terlambat menaiki pesawat. Walaupun dia menaiki pesawat pribadi tetap saja dia tidak mengudara seenak jidatnya. Keluar dari kamar mandi Naira langsung memakai pakaiannya, untung saja semalam dia sudah menyiapkan keperluan untuk dipake saat berangkat. Tak sampai 20 menit Naira telah siap dan bergegas turun. Dia tak mendapati koper dan barang-barang yang akan dia bawa, ini menandakan Akbar telah membawa turun semuanya. Naira tersenyum senang karena memiliki seorang Asisten yang begitu pengertian. Namun dia tak melupakan begitu saja kesalahan Akbar yang tidak membangunkannya lebih cepat sehingga dia tidak terburu-buru seperti saat ini.Β
Naira berjalan ke ruang makan dan mendapati Akbar sudah selesai menikmati sarapannya. Naira melirik arlojinya yang jarum pendeknya tepat berada di angka sembilan sedangkan jarum panjangnya berada diangka 7. Mereka tak punya banyak waktu lagi jika Naira sarapan, mereka hanya punya waktu 20 menit untuk sampai di bandara. Akhirnya Naira memilih tidak sarapan dan langsung berbalik menuju ke depan rumah sebelum Akbar menyuruhnya sarapan. Akbar melihat Naira tidak jadi memasuki ruang makan. Dia sudah bisa menebak jalan pikiran Naira, jadi dia sudah menyuruh maid menyiapkan sarapan untuk Naira. Akbar mengambil sarapan untuk Naira dan menyusul Naira yang sudah berada di dalam mobil.
βYour breakfast lillyβ. Kata Akbar sambil menyerahkan kotak makan pada Naira. Naira menerimanya dengan mulut mengerucut yang membuat Akbar tersenyum geli.
βJalan pak.β Kata Akbar kepada supirnya. βYou look like duck lillyβ goda Akbar yang membuat Naira semakin kesal. Karena kedekatan mereka yang sangat diluar kebiasaan orang lain pasti akan menganggap Naira dan Akbar bersaudara. Namun pada kenyataannya mereka hanya partner kerja dan sahabat yang sudah sangat dekat seperti saudara sendiri.
βARA AKAN BUNUH ABANG KALAU SAMPAI KITA TERLAMBAT DAN ARA BAKAL MECAT ABANGβ Ancam Naira yang sukses membuat Akbar terbahak, karena selalu ancaman ini yang dilontarkan Naira padanya.
βsudahlah, makan sarapan adik dengan cepatβ kata Akbar disela tawanya.
βIni serius abang, Ara akan membunuh abang kalau sampai Graddy memarahi Araβ dumel Naira sembari mulai menyantap sarapannya.
βsalah siapa tertidur seperti sleeping ugly, lilly sudah dibangunkan 5 kali sejak pukul 6 pagi tapi gk bangun juga yaudah deh dibiarinβ jawab Akbar dengan santai. Naira hanya membalas dengan dengusan kesal seraya menghabiskan sarapannya.
Di sudut sebuah ruangan terdapat 3 orang wanita cantik dan 4 orang laki-laki tampan yang tengah asyik berbincang. Mereka menyadari sejak 7 menit yang lalu ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dengan tersenyum miring. Sepasang mata itu terus memperhatikan mereka satu persatu sambil bergumam βtidak ada yang berubahβ. Setelah merasa puas memperhatikan orang tersebut beranjak sambil bersiul riang meninggalkanΒ layar yang sedari tadi dia perhatikan.
βDi mana Mbak Sisil, Mas Gatra, Bang Ian dan lainnya?β tanya Putri yang baru sampai di dalam ruangan yang telah menjadi tempat mereka berkumpul selama ini.
βnyari gue manis?β tanya Gatra tepat di belakang Putri.
βberhenti ngagetin gue Mas Gatra. Gue heran kenapa Mas Gatra Harry Wijaya muka lempeng bisa jadi setan jahil beginiβ pekik Putri sambil berdiri dan melemparkan bantal tepat ke arah Gatra yang sudah menghindar sedari tadi. Semua yang berada di dalam ruangan tersebut tertawa melihat tingkah laku Putri dan Gatra yang tidak pernah berubah ketika mereka bertemu.
βsudahlah kalian jangan seperti anak kecil, cepat dudukβ pinta Anton dengan nada datar.
βBagaimana bisa sih lo ngeganggu kebahagiaan kita, dasar muka papanβ gerutu Aqila dengan sebal.
βTra, Pu duduk deh daripada ini pasangan satu perang disiniβ ucap Reyzha sambil terkekeh, akhirnya Gatra dan Putri duduk di kursi kekuasaannya masing-masing.
βgue heran kenapa lo berdua bisa bertunangan padahal kalian udah kayak kucing dan tikus setiap harinyaβ ujar Salsa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran menatap Anton dan Aqila.
βmana gue tahuβ Anton dan Aqila menjawab dengan serempak yang sukses membuat semuanya kembali tergelak.
βsepertinya ini yang membuat kalian berjodoh, ngejawab aja barenganβ gumam Yuda di sela tawanya.
βkebetulanβ jawab Anton dan Aqila kembali serempak.
βtuh kan benerβ tambah Yuda lagi, dan mereka semua kembali tergelak.
βsudah-sudah, ngomong-ngomong dimana queeny gue, Ian sama yang lain?β Tanya Gatra mencoba mengembalikan suasana sebelum Aqila dan Anton pergi meninggalkan ruangan karena kesal digoda.
βpertanyaan gue kali itu Mas dan apa-apaan itu lo gk tau tunangan lo dimana?β cibir Putri yang membuat Gatra terkekeh.
βyah kan gue memperjelas, gue bukan gk tau tapi tadi gue meeting manisβ tanggap Gatra sambil mengacak rambut Putri dengan gemas.
βMAS GATRAAAAβ teriak Putri sambil memebenarkan rambutnya dan menatap tajam Gatra.
βlo berdua udahan apa sih elah, itu yang lain sedang dalam perjalanan kesini, si Ian meeting dan nganter Mas Rudy sama Mas Yoga beserta pasangan ke Bandara jadi bakal telat melebihi yang lain dan Sisil baru aja ngehubungin gue katanya dia telat dikit karena ada yang lupa janji buat jemput dia.β Jawab Angel menjelaskan dan semunya mengangguk mengiyakan.
βLagi? Ouh, Abang sepupu ganteng gk niat ngecek handphone? Jujur aja Salsa belum siap Abang di sate sama Mbak iparβ kata Salsa. Mendengar jawaban Angel dan perkataan Salsa, mengingatkan Gatra akan handphonenya dan dia langsung terkesiap.
βshiiit, gue lupaaβ Gatra menjerit frustasi dan menatap horor handphonenya.
βmampus lo Mas, makanya jangan jahilin gue muluβ ledek Putri sedangkan yang lain hanya memandang Gatra Iba dan sebagian lagi tertawa. Mereka semua tahu, Gatra dan Sisil adalah pasangan yang sangat harmonis dan membuat iri siapapun yang melihatnya. Mereka sudah ditunangkan sejak berumur 10 tahun dan mereka jarang bertengkar. Namun, beda cerita ketika salah satu dari mereka lupa dan tidak on time seperti ini pasti akan ada badai besar setelah ini. Hampir semua penghuni kelas khusus dahulu telah tiba, dan mereka asyik berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan sisanya.
βaelah rame amat dah, mau murid baru kek murid lama kek. Kan gk harus juga pada menuhin koridor kayak ngantri sembako. Apa banget dah?β gerutu Tama diikuti Ambar di belakangnya.
βudahan apa sih, dari tadi ngedumel mulu kayak cewekβ seru Ambar menenangkan kekasihnya yang kesal sejak mereka memasuki koridor sekolah.
βkenapa dek?β tanya Lidya mewakili yang lain.
βini kak Tama ngoceh mulu, gara-gara koridor tu rame sampai susah lewatnya dan tadi gue hampir jatuh kesenggolβ jelas Ambar.
βpantesan laki lo sewot Am, tapi kok bisa? Ada apaan emang?β tanya Angel mulai penasaran.
βgk tau tuh, gue tadi sempet denger kemungkinan ada murid baru.β Jawab Tama sekenanya karena dia masih kesal.
βlah hubungannya murid baru sama koridor rame apaan?β tanya Aqila bingung.
βAelah, gue juga bingung. Tapi, yang gue tangkap itu adalah gue gk tau itu murid baru atau apalah itu seluar biasa apa sampai-sampai hampir seluruh siswa keluar kelas hanya untuk ngeliatin itu.β Jelas Tama masih dengan nada kesal. Mereka semua kembali berbincang-bincang terutama mengenai penyebab koridor begitu penuh sambil menunggu kedatangan Sisil dan Ian.
βseriusan deh tapi, gue juga heran tau gk sih. Masa hampir satu yayasan yang ruangannya di gedung utama itu koridornya penuhβ jelas Ambar dengan nada yang masih terheran-heran.
βgue jadi penasaran deh...β kalimat yang diucapkan Arya menggantung. βVio..β suara Arya tertahan.
βlillyβ itu suara Lidya.
βsunshineβ itu suara Gatra.
βNairaβ itu suara Sisil yang entah sejak kapan telah berdiri bersama dengan Ian disampingnya. Panggilam nama-nama itu diucapkan secara bersamaan dan semua mata yang ada di ruangan tersebut tertuju pada seseorang yang telah berdiri di depan pintu.