dia akan datang di saat yang tepat
Di usia dewasa awal ini aku banyak mendengar sharing dari teman-temanku mengenai kehidupan percintaan mereka. Ada yang masih sendiri dan mengeceng sambil baper-baper ria, ada yang sudah punya pacar sambil galau-galau ria, ada yang sudah punya pacar tapi masih ngeceng-ngeceng ria, dan sebagainya.
Dibalik cerita-cerita mereka, ada kekhawatiran mengenai komitmen di kehidupan kedepannya atau yang biasa kita kenal dengan kehidupan pernikahan. Bagaimanapun kisah mereka, mereka tetap memikirkan dan merencankan bahkan meng-galau-kan kehidupan pernikahan mereka.
Bahasan-bahasan seperti ini sedang banyak saya jumpai khususnya pada teman-teman perempuan saya, termasuk saya sendiri.
Orientasi masa depan perempuan memang akan lebih menjurus pada kehidupan berkeluarga dan komitmen, sedangkan laki-laki lebih memikirkan kehidupan karirnya hingga mapan terlebih dahulu barulah memikirkan kehidupan pernikahan.
Kebanyakan dari teman-teman perempuan saya, merasa khawatir akan kehidupan pernikahan mereka. Mereka takut jika mereka mendapatkan jodoh yang rupanya tidak berdasarkan cinta, takut orang yang dicintainya pergi meninggalkan, atau orang yang di cintai ternyata memilih orang lain, bahkan ada yang masih teringat dengan mantannya dan khawatir mantannya telah melupakannya.
Kehidupan pernikahan memang bukan sesuatu yang tidak rumit, setiap orang pastilah ingin mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Setiap orang pasti ingin mendapatkan pasangan idealnya.
Yap, itu juga yang sedang ku rasakan saat ini. Entah mengapa di usia seperti ini rasanya tidak ingin sekedar mencari pacar, lebih ingin mencari calon pasangan hidup yang sudah pasti akan bersama-sama ke jenjang pernikahan.
Padahal usiaku baru 22 tahun, bagiku masih cukup muda dan aku masih merasa belum siap apabila harus menjalani bahtera rumah tangga di usia ini.
Pada akhirnya aku mulai lebih fokus ke pendidikan lanjut dan karir terlebih dahulu walaupun hal-hal tentang komitmen itu cukup mengganggu pemikiran.
Aku meyakini diri bahwa meskipun sekarang aku menyukai seseorang, atau meskipun aku berpacaran sudah sangat lama, belum tentu pada akhirnya kehidupanku diakhiri bersamanya. Semuanya bisa berubah, ya, berubah. Tergantung suratan takdir dari Allah, jodoh memang sudah ada yang mengatur, tinggal usaha kita saja untuk menggapainya yaitu dengan memantaskan diri dan usaha-usaha lainnya.
Lantas, kalau jodohnya sudah ditentukan, gak perlukah kita ngeceng-ngeceng?
Tidak se sempit itu, ngeceng tetap perlu, kita semua berhak memilih siapa yang kita inginkan untuk menjadi calon. Tinggal tambahkan usaha dan doa sebanyak-banyaknya sama Allah agar bisa dijodohkan dengan orang tersebut. Dan apabila ternyata kita menikahi orang lain yang bukan kecengan kita, mungkin saja memang orang itulah yang sudah ditentukan untuk kita. Usaha itu perlu, sekali lagi.
Sahabatku pernah berkata “tenang aja, pria yang kamu tunggu pasti dateng kok. Berdoa aja segera dipertemukan. Meski sekarang kamu nyaman sama siapa, belum tentu dia yang jadi jodoh kamu, tapi bisa jadi juga dia. Jadi, kalo lagi nyaman sama seseorang, yaudah biarkan saja mengalir sama orang yang itu. Tapi tetep kamu juga harus siap seandainya ternyata bukan dia yang berlanjut ke jenjang keberanian itu.”
Hmmm, iya kita semua sudah tahu soal itu, hanya terkadang kurang sadar jadinya ya masih suka khawatir seperti itu.
Intinya aku menarik kesimpulan bahwa jangan terlalu banyak kekhawatiran. Masa depan dan siapapun yang akan terlibat memang sangat perlu direncanakan, tapi bukan berarti kehidupan kita yang sekarang jadi terganggu dengan pemikiran-pemikiran khawatir kita. Let it flow, lagi pacaran sama siapa yaudah jalani dulu kalau memang berharapnya melanjutkan dengan pacar itu. Kalau lagi ngeceng yasudah nikmati saja ngecengnya, siapa tahu memang dia jodohmu :p
Meski terkadang saat kita ngeceng itu mungkin doi belum sadar, siapa yang tahu kalau suatu saat dialah orang yang tepat yang datang disaat yang tepat? Hmm :)