Judul Buku : Agama Jawa. Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa (Religion of Java)
Penulis : Clifford Geertz
Penerbit : Komunitas Bambu
Tahun Terbit : 2014 (1960)
Jumlah Halaman : xxxiv+606
Saya pertama mengetahui nama Clifford Geertz dari sebuah buku berjudul ‘Benturan Budaya Islam : Puritan dan Sinkretis’ karya Sutiyono. Buku yang diambil dari hasil penelitian beliau mengenai konflik pada masyarakat grassroot di daerah Klaten ini menjadikan buku Religion of Java ini sebagai salah satu referensi dasar (bahkan utama) dalam menentukan klasifikasi masyarakat pedesaan.
Kemudian dalam buku ‘Seven Theories of Religion’ karya Daniel L. Pals, Clifford Geertz disebut sebagai salah satu dari tujuh tokoh yang sangat berpengaruh dalam bidang Science of Religion dan disandingkan dengan ilmuan-ilmuan terkenal lain di bidang ini seperti Karl Marx, Emile Durkheim, Sigmund Freud, E.B. Tylor, J.G. Frazer, Mircea Eliade, dan E.E. Evans-Pritchard.
Clifford Geertz lahir pada tanggal 23 Agustus 1926 di San Fransisco dan meninggal pada tanggal 30 Oktober 2006 Beliau kuliah di Antioch Collage (setelah bergabung dengan Angkatan Laut Amerika Serikat), jurusan bahasa Inggris tetapi kemudian beralih ke filsafat dan lulus pada tahun 1950. Beliau melanjutkan studinya di Universitas Harvard dan memperoleh gelar Ph.D dalam bidang Antropologi di tahun 1956.
Geertz setidaknya telah menulis 13 buku diantaranya Agricultural Involution, The Process of Ecological Change In Indonesia (1963), Peddlers and Princes (1963), Islam Observed : Religious Development in Morocco and Indonesia (1968), Negara : The Theatre State in Nineteenth Century Bali (1980), Kinship in Bali (1975), The Interpretation of Culture : Selected Essays (1973), Local Knowledge : Further Essays in Interpretative Anthropology (1983), Available Reflections on Philosophical Topics (2000).
Dikarenakan banyaknya penelitian beliau mengenai Indonesia terutama dalam bidang Antropologi, Tim Narasi pun memasukkan beliau sebagai salah satu dari ‘100 orang paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia’ sejajar dengan tokoh-tokoh Indonesia lainnya (Tidak seperti Michael Heart yang mengurutkan tokoh menurut pengaruhnya, tim narasi hanya mengurutkan sesuai abjad nama tokoh sehingga tidak bisa dijadikan perbandingan mana yang paling berpengaruh). Geertz juga menciptakan sebuah aliran baru dalam bidang Antropologi yaitu Antropologi Spekulatif(dalam buku Seven Theories of Religion disebutkan ia menemukan aliran Antropologi Interpretatif sedangkan dalam buku 100 tokoh paling berpengaruh di Indonesia disebutkan bahwa ia penemu aliran Antropologi Simbol).
Memegang buku Agama Jawa terbitan Komunitas Bambu seperti memegang sebuah buku premium. Hal ini terasa dari kertas yang tebal dan bagus serta cover yang menarik serta berbahan bagus. Sepadan dengan harga 200 ribu yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan buku tersebut.
Buku Agama Jawa (Religion of Java-awalnya berjudul Religion in Java) merupakan sebuah buku klasik yang ditulis oleh Clifford Geertz berdasarkan hasil disertasi beliau untuk mendapatkan gelar Ph.D di Universitas Harvard. Penelitian ini dilakukan di sebuah desa bernama Mojokuto (nama aslinya desa tersebut diperkirakan adalah Pare, Kediri) antara tahun 1952-1954 (penelitian lapangan dilakukan pada Mei 1953). Buku ini bahkan dinobatkan sebagai ‘Most Influential Books of Southeast Asian Studies’ oleh Journal of Social Issues in Southeast Asia.
Penelitian Geertz bermula dari sebuah ungkapan sederhana yang berbunyi ‘lebih dari 90% orang Jawa adalah Muslim’. Berdasarkan ungkapan tersebut Geertz kemudian menggolongkan masyarakat Jawa ke dalam 3 kelompok besar yang ia beri nama abangan, santri, dan priyayi.
Abangan merupakan sebuah kelompok masyarakat yang masih memegang animisme walaupun mereka juga mengakui diri sebagai muslim. Golongan abangan biasanya didominasi oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani di pedesaan. Pesta-pesta ritual kaum abangan berkaitan dengan usaha untuk menghalau berbagai makhluk halus jahat yang dianggap sebagai penyebab dari ketidakteraturan dan kesengsaraan dalam masyarakat. Ritual tersebut bertujuan untuk mencapai ekuilibrium dalam masyarakat.
Santri merupakan sebuah kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan agama Islam dengan benar dan taat. Golongan santri menekankan pada tindakan keagamaan dan upacara-upacara sebagaimana digariskan dalam Islam. Golongan santri biasanya didominasi oleh masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang di pasar.
Priyayi merupakan sebuah kelompok masyarakat yang menjalankan agama mistisisme Islam bernama kejawen. Golongan priyayi berusaha menemukan ‘tuhan’ melalui berbagai pertapaan secara berkelompok dan menekankan pentingnya hakikat alus sebagai lawan dari kasar (yang diidentikkan dengan kaum abangan). Perwujudannya tampak dalam berbagai simbol yang berkaitan dengan etiket, tari-tarian dan berbagai bentuk kesenian, bahasa, serta pakaian. Golongan priyayi ini biasanya didominasi oleh masyarakat yang menjadi pegawai pemerintahan.
Sebenarnya kritik dan pembahasan mengenai disertasi Geertz telah banyak diulas oleh berbagai ahli termasuk salah satunya oleh Harsja W. Bachtiar yang terdapat dalam bagian terakhir buku ini. Karena itu saya tidak akan membahas hal itu karena saya juga bukan termasuk ahli di bidang ini. Saya hanya ingin membahas sedikit hal yang belum dibahas oleh Bachtiar (1973).
Salah satu kelebihan buku ini adalah dapat menggambarkan berbagai kesenian, pakaian, bahasa, dan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa (termasuk slametan dan tingkatan bahasa) dari hal mendasar. Geertz dapat menjelaskan tujuan dan esensi dari berbagai hal yang menjadi ‘kebudayaan Jawa’. Hal ini sudah mulai hilang dari banyak masyarakat Jawa sendiri terutama anak muda. Jangankan mengerti esensi dan tujuan dari berbagai bentuk kebudayaan, tingkatan bahasa (terutama krama alus) yang seharusnya digunakan dalam percakapan resmi pun sudah mulai pudar. Mungkin saja kelebihan penelitian ini adalah dilakukan pada sekitar tahun 1953 sehingga masih banyak masyarakat Jawa yang mengerti dengan esensi dan tujuan berbagai ritual-ritual Jawa.
Hal lain yang menjadi perhatian saya ketika membaca buku ini adalah mengenai sebuah kelompok bernama ‘Nahdatul Ulama (NU)’. Menurut penelitian Geertz, pada tahun ketika penelitian ini berlangsung kelompok NU berusaha menegakkan Negara Islam (Indonesia dinilai bukanlah sebuah negara Islam). Pandangan golongan abangan menilai bahwa NU merupakan penganut dari ‘agama arab’. Namun, setelah 60 tahun berlalu, NU ternyata tidak lagi berfokus kepada penegakan negara Islam dan lebih mengkampanyekan Islam Nusantara yang menolak ‘agama arab’. Adakah yang mempunyai referensi bagaimana perubahan ini terjadi?
Melihat penggolongan yang digolongkan oleh Geertz dewasa ini, maka akan ditemukan sebuah ketidakcocokan. Ritual-ritual slametan sekarang tidak hanya dilakukan oleh golongan abangan tapi oleh semua golongan, Kesenian-kesenian priyayi pun tidak hanya dinikmati oleh golongan priyayi saja, dan kalangan santri tidak hanya menjadi pedagang tapi juga petani (seperti penelitian Sutiyono yang telah disinggung di awal) dan pejabat/priyayi.