Ribuan manusia bergelar ilmuwan berlomba-lomba menelusuri logaritma semesta, berupaya melahirkan linimasa baru yang bernama New-Renaissance yang akan bermetamorfosa menjadi zaman Pasca-Modern, atau “zaman penemuan Tuhan”.
Atom per atom dipecah, dilebur, dan ditabrakkan untuk menemukan siapa penulis semesta.
Otak kanan mereka terlalu abu-abu untuk mencitra warna-warni karya seni dan esensi spiritual ajaran moyang manusia. Lalu makin banyak anak-anak hijau yang mencoba melihat dari kacamata mereka, mengaku mengerti padahal buta aksara.
"Kamu dimana tuhan? Tunjukkan dirimu atau aku tak percaya kamu ada!"
Tentu hanya orang bodoh yang akan menjawab panggilan kepada dirinya sendiri, dan tentu saja, mereka anggap mereka tidak bodoh.
Para anak pintar tersebut memproyeksikan Tuhan sebagai manifestasi makhluk berfisik besar, berlumuran cahaya dari tiap pori kulitnya, sangat bijaksana, sekaligus begitu kacau, karena mau memaafkan milyaran manusia yang tak percaya padanya.
Mereka begitu naif, sehingga menelan mentah-mentah segala cerita yang berlalu-lalang dalam kitab suci. Kitab suci itu tak masuk akal, karena tidak ada 1+1=2. Terlalu banyak balok es yang mereka telan sampai tak sadar lagi bentuk air adalah cair. Mereka terlalu beku, menanggap seakan-akan ilmu alam ialah makhluk bersel tunggal yang tidak bisa berdimensi dengan yang lain.
“Hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a.”(HR.Muslim)
Air yang dingin membeku memang nikmat, namun apakah kalian pernah coba membaca kalimat diatas dalam sudut pandang yang cair? Kalimat yang sebagian orang anggap adalah dongeng dan omong kosong, tapi sebagian lagi rela mati demi mereka yang ‘berdongeng’ disana.
Sujud, adalah kegiatan dimana aliran darah atau ruh manusia berkumpul di satu titik, disitu manusia paling dekat dengan penciptanya, Dalam sadar dan bawah sadarnya, dalam organ dasar manusia, otaknya.
Agama bersikeras bahwa tuhan itu Maha segalanya. Tentu saja Dia juga maha Ada. Dia tidak selalu berwujud raksasa. Dia ada di setiap benang semesta.
Dia bisa hidup dimana saja. Dia bisa berwujud persepsi atau semua indra manusia yang bermetamorfosis didalam otak manusia. Tuhan maha segalanya, Dia bisa menjadia apa saja, yang bahkan diluar imajinasi manusia.
Saat sujud, ruh manusia sedang kembali ke peraduan paling dasarnya. Saat berdoa, ia tidak sedang berbicara kepada siapa-siapa, selain manifestasi ‘pencipta’ yang hidup dalam umatnya. Saat berdoa, ruh manusia dibanjiri karetonoid dan hormon-hormon optimisme oleh otaknya.
Pernah dengar penelitian tentang state-of-mind optimisme dapat membuat harapan menjadi kenyataan apabila kita benar-benar yakin untuk terjadi? Ya, ‘Dia’ sudah bekerja. Tuhan maha dekat, Dia ada dalam otak dan pikiran kita. Dia mungkin ada di atas sana, tapi Dia Maha Ada, Dia bisa hidup dan kita rasakan dimana saja.
Penulis hanya manusia biasa, seorang beragama yang sedang membuktikan bahwa ia tidak bodoh jika memilih untuk percaya bahwa tuhan itu ada, dengan sudut pandang yang mungkin ‘kalian’ terima. Hanya sekedar bekal untuk melanjutkan studi di tanah para New-Renaissance dengan ideologi monokromatik mereka di sebrang laut sana.
Tentu kata-kata “Tulisan ini sangat indah sekaligus rumit, seperti bukan manusia yg menulisnya.” yang dikatakan kaum kafir kepada Qur’an ada maksudnya, kan? Bahkan setelah ribuan tahun ada, banyak pembaca yang tak sadar bahwa ada banyak rahasia semesta yang tertulis didalamnya, dan juga turun lewat utusan Penciptanya, yang berwujud manusia, yang ke-25. :)