MELANGITKAN KEYAKINAN DI ATAS KETIDAKTAHUAN
Dulu, setelah lulus SD, kita dibingungkan dengan pertanyaan, "Mau lanjut SMP di mana?" Begitu lulus SMP, kita dibingungkan kembali dengan pertanyaan, "mau SMA di mana?" . Lulus SMA, kembali dibingungkan dengan pertanyaan, "mau kuliah di mana? jurusan apa?" Namun, kali ini dengan tingkat kegalauan yang agak lebih tinggi, karena kita ketidaktahuan kita apakah di fase berikutnya kita akan menjadi lebih baik. Ditambah lagi, fase ini merupakan fase yang sedikit lebih krusial. . Lulus kuliah, lebih bingung lagi. Mau kerja, lanjut S2, memulai bisnis, menikah, dan berbagai pilihan lainnya. Yang seringkali, banyak yang terjebak dengan keresehan tersebut sehingga akhirnya tidak melakukan hal yang begitu berarti. Ya, kita memang makhluk yang penuh kelemahan. Salah satu kelemahan terbesar kita adalah ketidaktahuan kita akan masa depan. Kita hanya bisa berikhtiar, mencoba, atau paling maksimal kita hanya bisa membuat prediksi. Dan Allah juga melarang kita untuk mendatangi dukun/paranormal untuk meramalkan masa depan kita. Tapi, di sinilah uniknya. Di sinilah seninya. Atau bahkan di sinilah nikmatnya. Allah mendidik kita untuk terus berusaha. Sekali gagal, bangkit lagi. Jatuh, lalu bangkit lagi. Dan seterusnya. Hingga kelak Allah memberikan kita kemudahan atas apa yang kita ikhtiarkan. Di sinilah unik dan seninya perjuangan, Allah mendidik hamba-Nya menjadi pejuang, bukan pecundang. Allah mendidik kita untuk hanya bergantung pada-Nya, bukan kepada apa/siapa pun selain-Nya. Di sinilah nikmatnya, saat kita bisa merasakan ketenangan yang luar biasa saat hanya menggantungkan diri pada-Nya. Di saat seperti inilah keyakinan sekaligus ikhtiar kita diuji. Namun, keyakinan semacam inilah yang akhirnya mampu membuat Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Bahkan di saat generasi-generasi sebelumnya gagal, namun ia masih yakin akan takdir dari-Nya. Pun dengan keyakinan semacam ini Shalahuddin Al Ayyubi merebut kembali Yerussalem. Ia berikhtiar dan yakin bahwa Allah akan memberikan ketetapan terbaik padanya. Lantas, bagaimana dengan kita? Bukankah tugas kita hanya berikhtiar, menjemput takdir terbaik dari-Nya. Bukankah Allah sudah menjelaskan bahwa Ia tidak akan mengubah nasib manusia kecuali ia mengubah nasibnya sendiri. Dan bukankah Allah sudah menjelaskan bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ya, kita tidak perlu risau dengan masa depan. Kita cukup percaya pada-Nya bahwa Ia akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita. Sebagimana Ia berjanji bahwa Ia akan terus bersama orang-orang yang sabar. Sembari kita terus berusaha untuk menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Bisa jadi hari ini kita sedang merasa bahwa hari ini adalah hari terburuk kita. Tapi, bukankah kita juga sering merasakan hal serupa di masa lampau saat kita melalui ujian yang berat? Bukankah kita ada di hari ini juga setelah kita melalui ujian-ujian yang berat di masa lalu? Ya, kita hanya perlu optimis, yakin pada-Nya. Serta terus berikhtiar. Kita titipkan segala rencana dan harapan kita pada-Nya, dan biarkan Ia menentukan mana yang terbaik untuk kita. Wallahu a'lam.









