Sebuah puisi - untuk tanah Sumatera
Siapa yang melukai tanah Sumatera?
Jika kita peka dan merasa,
alam sudah lama bersuara:
hujan turun seperti rakyat yang protes,
seolah bencana lahir dari kehampaan.
Apakah ada campur tangan manusia di dalamnya?
Tuhan berkata, “Pastinya.”
menantang alam dengan gagah,
lalu berpura-pura tak bersalah,
mata dan telinga ditutup rapat,
kesalahan dibuang seperti tak pernah melekat.
Paru-paru ditebang sendiri,
Air meluap seperti amarah
yang terlalu lama dipendam,
tanah runtuh seperti tubuh
tak kuat lagi memendam luka.
yang tak pernah didengar.
Namun di balik air yang keruh
yang menolak padam di tengah gelap.
Semoga langkah-langkah yang goyah
seperti perahu diterpa arus,
semoga dapat bernafas kembali,
Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat