Mengingat segala sesuatu itu Tuhan, aku tidak mampu mengeluh

★
Sade Olutola

ellievsbear

@theartofmadeline
Peter Solarz

shark vs the universe
cherry valley forever

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
h
Mike Driver

PR's Tumblrdome
RMH

Kiana Khansmith
Claire Keane
Today's Document
Misplaced Lens Cap
EXPECTATIONS
sheepfilms

seen from Nigeria

seen from United States

seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Nigeria

seen from United States
seen from Trinidad & Tobago
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Egypt

seen from Brazil

seen from Malaysia

seen from Egypt
@sacheira
Mengingat segala sesuatu itu Tuhan, aku tidak mampu mengeluh
Kala itu riuh bersilih ganti.
Lalu hening sedetik.
Kembali riuh, menabur duka.
Ribuan harap dan doa, tapi tidak terucap sampai jumpa.
Kemudian kembali hampa.
Sebatas rumah kosong, tidak singgah, tidak bersuara.
Katanya, "Pemilik rumah sudah tiada"
Aku mengunjungi tempat-tempat itu lagi.
Tempat dimana senyummu begitu melekat pada ingatan.
Aku ingat, waktu kau berdiri di bawah teduh pohon kelapa.
Aku berlari menghampiri, merangkul nyaman.
Suasana apa kala itu?
Berbanding terbalik dengan hari ini.
Maaf, aku cuma bisa mencari di sekitar sini.
Kadang pengen skip satu moment dan langsung lari ke step selanjutnya.
Padahal, moment itu poin paling penting buat dihadepin.
Aku merindukanmu.
Seperti puisi yang belum selesai.
Menjadi candu dan terus ditunggu.
Aku sedikit membenci dunia.
Mereka berpaling muka
Tapi merasa paling tau segalanya.
Bukan salahmu mati muda.
Tapi, bagaimana aku yang sendirian?
Ku buka gerbang,
Untuk rindumu yang mengudara.
Sayang, rinduku sudah banyak terpendam.
Diantara genting yang retak dan berlumut.
Yang dingin ditetesi hujan dan disambut embun pagi.
Rinduku terpendam bersama decit pintu yang menghilang.
Terpendam dengan bambu yang rimbun.
Dibawahnya, kau berdiam dalam tenangmu, menungguku, menjemput balas dari rindu yang tak kenal jemu.
Sepertimu, aku rada aku tenggelam juga.
Bedanya, harusnya aku bisa melawan dan berenang.
Tapi, aku terombang ambing ditengah arus bawah laut yang tidak kuasa aku lawan.
Aku jatuh juga.
Tidak menghantam karang.
Tapi berdiri mencoba merangkak naik.
Saat ikan-ikan mengerumunimu, mengucap salam, mereka justru menjauhiku.
Menganggapmu ancaman.
Bagaimana tempat kita di Semesta?
Disaat seperti ini, apa kita masih punya Tuhan yang sama?
Yang sama-sama melihat dan mendengarkan kita?
Yang merasakan isak tangis, pedih, luka?
Niatku banyak berubah sejak dulu.
Sebelum mengenalmu atau sesudahnya, aku sama-sama ruang kosong.
Aku tersesat, Elang.
Aku terjebak entah dengan apa.
Yang aku rasa, setiap waktuku memasuki ruang ini selalu tidak baik-baik saja.
Apa aku diam saja disini?
Menjadi hilang, sama denganmu hingga ribuan tahun tanpa diketahui?
Apa aku perlu pergi, berbaring diatas pasir pantai yang hangat.
Aku sia-sia.
Rasanya, apa yang aku lakukan hasilnya akan sama saja.
Gantungkan disini.
Segala lelah penat.
Tidak ada gunanya kamu berjuang untuk tersesat.
Membenci adalah meneguk racun sendiri.
Menyumpahinya mati, tapi apa gunanya?
Dari awal dia tidak berarti apa-apa.
Ada atau hilang tidak ada pengaruhnya.
Ketika tidak sanggup menampar karena wajahnya terlalu banyak,
Sang pungguk memilih pergi tanpa menanggapi.
Tidak semua halang rintang perlu diinjak, Tuan.
Setidaknya, belukar kali ini biarkan saja.
Dia senang merasa lebat sendiri.
Padahal, dia cuma dianggap rumput mati.
Angan anganku banyak sekali Tuan.
Terbang bersama kelopak bunga yang gagal mekar.
Kita selalu punya masalah kita sendiri.
Yang dipendam sendiri.
Sedikit, banyak.
Seperti bungkammya waktu itu. Menutup masalahmu sendiri. Tidak kau sampaikan bahkan dalam bisik.
Seperti waktu itu juga, dia menangis sendiri. Tidak mampu mengungkap bahkan lewat pesan singkat.
Kali ini pun aku.
Diamku.
Aku yg mau sendiri.
Tidak mau diungkap pada siapapun.
Karena menerima dalam hatipun aku tidak mampu.
Berhentilah berasumsi, Kamu tidak sepintar itu :)
Tidakkah kau peduli pada dirimu sendiri?
Kau taru dibaris paling akhir hal yang perlu diperhatikan.
Hingga kamu cari perhatian?
Mengutuk semua orang?
Menukar perkataan dengan majas hiperbola, terlalu dilebih-lebihkan?
Kelak, cepat atau lambat kita akan tau.
Mengejar untuk mendapat bagian dari kebahagiaan tidak menjadi kebahagiaan dalam diri sendiri.
Rintik hujan di rumah orang lain, tidak lantas membawa sejuk di rumah kita.
Bisa jadi, Tuhan menjaga segalanya, agar tidak sakit kamu, tidak bocor atapmu, tidak mati tanaman cantik yang kamu tanam dengan suka hati.
Kita mengharap beda.
Meskipun tujuannya, satu juga bahagia.
Tidak mudah menerima kadang ketika yang lain begitu mudah mencapai sesuatu.
Percayalah, itu sekedar kata yang dirangkai menjadi indah.
Isi kebahagiaan kita pun sama saja bentuknya.
Sudah lama kantong sampah tidak diisi potongan kertas yang disobek untuk mengulang tulisanmu.
Bahagiakah kamu?
Atau selesai sudah kerja kerasmu?
Larikah kita dari tanggung jawab?
Mestinya, kita tidak berpisah dan percaya, takdir dan harapan itu sekuat bingkai pada kaca.
Selama melihat kebahagiaan orang lain, selama itu juga mungkin kamu tidak sadar, air yang kamu tuang tidak masuk ke dalam gelasmu dengan benar.
Airmu tumpah kemana-mana, tidak terarah.
Seberapa banyak?
Tidak ada yang tau.
Mengalir menjadi kesal. Menjadi duka. Kadang menjadi dingin dan menuntut kerja keras jauh lebih banyak lagi.
Liat berapa banyak dia terisi.
Menoleh boleh.
Menatap terus menerus membuatmu banyak menyakiti diri sendiri.
Bukan ngerasa terganggu, cuma ku suka panik kalo tiba2 ada yg telfon, ada yg dateng, ada yg ngajak gathering.
Kek dikejar anjing rasanya..
Apalagi semuanya itu tiba2...