Betari sempena hati akhirnya menyerah padaku,
panasnya mengering di pulupuk mata.
· · ·
Suara familiar menggema ke seluruh saraf, menyuruhku bangkit, tapi seluruhku menolak mentah. Sesuatu mengekang tubuhku terasa dingin di beberapa sisi, semakin mengeratkan pelukan betah.
Begitu membuka mata, aku disuguhi pemandangan langit-langit kayu berwarna coklat gelap. Di sana, kilauan-kilauan itu begerak membentuk berbagai bentuk masih tersisa, hanya sedikit tersisa, terasa, dan sesekali teraba melayang di ruang hampa.
Aku mengejap pelan, sampai gelap beberapa kali menyambut di antara terang yang terus memaksa masuk. Aku memeriksa kukuku satu persatu—ternyata masih ada. Aku pun menyentuh tubuhku setengah hangat setengah dingin, jemariku bergerak setengah angkat setengah pingin, dan… sudut mataku menangkap dadaku bergerak naik turun seangin—tubuhku kembali.
Ah… ternyata aku masih bisa menghirup udara menuntun napas.
Bau besi merangsek masuk ke indra penciumanku—oh benar…
Semalam, kedua sayapku patah, jatuh mengenai ubin kayu, dan hancur pecah berkeping-keping—kepingannya tersebar, berbentuk mirip serpihan kaca tajam yang tersisa di setiap sudut rangka jendela tua sebentar roboh. Pun kakiku terluka olehku sendiri, dorongan kuat menolak kenyataan membuatku dengan nekatnya memungut helaian flagela tajam berserakan luru. Dengan keyakinan sama kuatnya, aku merobek kain pakaian suci—katanya—membalut rapuh mengelilingi jemari kaki yang membiru bisu. Dalam keheningan dingin tanganku gemetar bergerak menekan ke tenggorokan yang merindu sentuh. Sakit—
Ah… ternyata aku masih bisa merasakan sakit.
Tepat pada gelap genap menyapa di antara terang, kilauan-kilauan itu terkoyak bersamaan jatuhnya sinar matahari dari celah tirai tipis terhempas angin, udara dingin menyapu wajahku yang masih bengkak.
Detik berikutnya—panas… sudut wajahku terasa panas. Panas meleleh melewati pelipis sampai masuk ke sela-sela rambutku. Lelehannya mengalir setempo dengan jarum panjang yang berputar searah terbitnya matahari. Semakin sering sensasi panas cuap-cuap merembes, lalu menghilang di dalam hutan gelap berakar lemah sedikit rumput hijau.
Ah… ternyata aku masih bisa menangis di pagi hari.
Aku kembali menatap ke langit-langit. Mengejap panas, membara lava anakan gunung tertidur di bawah lapisan bumi. Sepercik gering menyentuh ulu hatiku, merembes membelah sumsum tulang menembus ranjang peyot bergerak nyaring. Benar, seperti ini rasanya—rasa kekalahanku, rasa kebingunganku, rasa akan kehilanganku…
Ah… ternyata aku masih bisa merasakan kepingan milik tubuh asliku.
Kibaran tirai tipis di ujung ruang bergerak semakin acak, samaran melodi penghiburan runtuh. Ruangan kecil ini biasanya berbau acuh, penuh, dan sedikit ricuh. Namun, kini hanya ada suara kicauan dua—tidak hanya satu burung merpati hinggap di ujung dahan pohon besar di balik jendela, celingukan mencari teman. Burung itu sesekali mengepakkan sayap, memamerkan kebebasan fana dibalik tujuan lain. Aku sekali lagi menekan tenggorokanku, kali ini lebih pelan, lebih berperasaan, lebih nyaman—mataku membesar setelah sadar… tanda itu hilang…
Ah… ternyata aku sudah ditinggalkan.
Panasnya menjalar lincah, berakhir masuki hutan gelap berakar lemah sedikit rumput hijau. Sudut bibirku tertarik garis tipis membentuk kurva melekung ke atas, begitu tipis sampai hanya dapat disadari dari jarak kurang dari satu sentimeter.
Cicitan burung merpati tidak lagi mengusikku, padahal tubuhnya masih berada di dahan itu. Terang sinat matahari itu tidak lagi membantu penglihatanku, menemukan bayangan di ubin kayu itu. Lagi, panasnya meleleh membawa tubuh pucat pasi menelan janji, jemari berwarna ungu basi menggenggam belati, bibir kering kaku mengucap sangsi, dan kantung mata menggelap terbeban fantasi, bertemu gelap meredam panas yang entah sejak kapan sudah bersahabat denganku. Pun mendadak aku merasa seluruhku gemetaran—
Ah… ternyata betari sempena hati akhirnya menyerah padaku…









