Dimana Allah Melihatku
Tentu Saja semua berasal dari kekesalan dan putus asa, karna itu yang kusadari selalu melekat dalam diriku.
Aku bertanya apakah Allah melihatku ? , bukan kah aku sudah berusaha dengan sebaik mungkin. Apakah Allah melihatku ketika aku berjalan begitu jauhnya menjemput rizkinya dengan kedua kakiku, tak seperti orang-orang yang nyaman dengan kendaraanya. Apakah Allah melihatku ketika aku berdoanya dan menangis di rumahnya yang berbentuk perahu, berdoa agar aku diberi jalan menjemput rizkinya. Apakah Allah melihatku menangis ketika berbicara dengan kedua orang tuaku karna aku tak kunjung juga dapat kerjaan.
Apakah Allah melihatku ketika badanku terjepit dikereta berdesak-desakan pergi ke Jakarta berharap mendapatkan kerja. Pada Akhirnya Aku tak pernah di titik dimana aku benar-benar percaya ataupun mendustakanya. aku ingin percaya tapi keadaan yang waktu itu memaksaku untuk tak percaya. tapi bagaimana jika aku bertanya lagi kepada diriku sendiri. Dimana Allah bisa melihat dan menemukanku. Apakah aku ada di barisan orang bertahajud ?, Apakah aku ada di barisan Orang yang berpuasa, Shalat duha, barisan orang mengaji, barisan orang yang selalu mengangkat tanganya berdoa kepadanya ?. Apakah Aku ada di barisan orang yang bersedekah, berbuat baik kepada sesama, barisan orang berkerja keras, barisan orang yang bekerja cerdas.
Tidak kah Aku sadari pada Akhirnya Aku hanyalah orang yang setengah hati dan tak pernah benar-benar penih terhadap sesuatu. ada banyak orang yang lebih dari pada apa yang kulakukan. tentu Allah maha melihat tapi tentu saja derajat mereka lebih tinggi dihapan Allah.












