Refleksi ato Gosip yang Dipoles Rapi? Ato Ada ato yang Lain Lagi?
Tiba-tiba, beranda Threads-ku penuh akun-akun yang suka sekali berbagi cerita dengan pengalaman pihak ketiga. Maksudku, cerita tentang kehidupan orang lain mereka kemas ulang, sering kali mereka pakaikan nama samaran, lalu dibagikan ke publik. Hah. Algoritme macam apa ini. Sejak itu, akun itu tak kuakses lagi.
Sekilas, praktik ini tampaknya wajar aja. Banyak orang menganggapnya sebagai cara berbagi pelajaran hidup, memperingatkan orang lain, atau sekadar hiburan yang relatable.
Tapi, kok di kepalaku ini, aktivitas itu malah seperti berbagi cerita dan menyebarkan gosip yang semakin kabur batasnya, ya?
Cerita-cerita mereka hadirkan dengan narasi yang meyakinkan, seolah-olah kita sedang mengintip kehidupan orang lain dari jarak dekat. Tapi kalau diamati, narasinya berat sebelah. Membela kubu A, terus kita kemana kalau mau ngonfirmasi cerita versi kubu B? Kalau begini, ini benar-benar bentuk refleksi, atau hanya gosip yang diberi bungkus?
Iya, paham, aktivitas ini bisa berkembang karena sifat dasar manusia yang tertarik pada cerita. Kisah nyata, terutama yang penuh konflik. Perselingkuhan, kegagalan rumah tangga, atau jatuh bangun ekonomi, dll akan lebih mudah menarik perhatian dibandingkan nasihat abstrak. Algoritme media sosial mungkin memperkuat pola ini. Cenderung mengangkat konten yang emosional, dramatis, dan memancing reaksi. Akibatnya, cerita-cerita pribadi orang lain menjadi komoditas yang dikonsumsi massal.
Meskipun identitas disamarkan, detail yang disajikan sering kali cukup spesifik untuk dikenali oleh lingkaran tertentu. Ini bikin privasi menjadi rentan. Lebih dari itu, kaya yang kubilang di paragraf sebelumnya, narasi yang dibagikan hampir selalu berasal dari satu sudut pandang. Tokoh yang diceritakan juga sering kali nggak memiliki ruang untuk menjelaskan atau membela diri. Publik pun bisa dengan mudah terjebak dalam penilaian sepihak. Ngeri!
Yang perlu dicermati juga, adalah cara cerita-cerita itu disampaikan. Nggak jarang, narasi dibumbui dengan opini, sindiran, atau bahkan penghakiman. Kalimat-kalimat yang seharusnya netral berubah jadi alat untuk membentuk persepsi pembaca. Kalau gitu, tujuan berbagi pelajaran hidup pun potensial bergeser menjadi konsumsi drama, di mana kehidupan orang lain dijadikan bahan tontonan. Ngeri!
Dan seperti biasa, aku cuma mau nulis aja. Meski aku bisa bikin kesimpulan dari tujuanku menulis ini, aku malas aja.
Memang nggak semua cerita pihak ketiga harus dianggap salah. Dalam konteks tertentu misalnya untuk nyari saran atau refleksi pribadi dan berbagi pengalaman bisa menjadi hal yang bermanfaat.
Kamu mau jadi pelaku yang berbagi cerita lewat pengalaman pihak ketiga, silakan. Cuma pesanku, pastikan ceritamu benar-benar berfokus pada pelajaran, menjaga anonimitas secara ketat. Hindari penghakiman karena itu cenderung lebih etis dibandingkan narasi yang mengekspos konfliknya secara rinci.
Sama aku mau ingetin satu hal lagi. Hanya karena hal berbagi kaya gitu itu kelihatan biasa dilakukan oleh orang-orang di media sosial, nggak berarti semua itu layak untuk terus dinormalisasi. Ingat ada tanggung jawab moral dalam setiap cerita yang kita bagikan, terutama kalau cerita itu melibatkan kehidupan orang lain.
Satu hal lagi. Dari tadi satu lagi satu lagi terus. Satu lagi aja ini, mah. Kalau sewaktu-waktu kamu benar-benar berada dalam situasi sangat-sangat ingin melakukannya juga, sebelum tekan tombol unggah, coba ajukan satu pertanyaan sederhana ke dirimu. Kalau kamu berada di posisi orang yang diceritakan, apakah kamu akan merasa dihargai, atau justru dikhianati?
Putuskan tindakanmu setelah yakin dengan jawabannya.