Air Susu Dibalas Dengan Air Mani
Aku terbaring lemas diranjang tidur ini. Pikiranku melayang-layang. Disampingku terdengar suara dengkur ibuku yang sedang tertidur. Tertidur pulas dengan daster putih tipis yang terbuka bagian atasnya. Menampakan buah dadanya yang berlapis air liur. Buah dada yang baru saja habis aku cumbui.
************ Namaku Basun. Umurku 23 tahun. Tubuhku gemuk dan agak pendek. Aku tinggal disebuah desa kecil yang jauh dari perkotaan. Sehari-hari aku bekerja diladang keluargaku atau kerja serabutan lainnya. Aku tinggal hanya bersama ibuku disebuah rumah kecil didekat ladang kami. Bapakku pergi merantau ke luar pulau dan sampai kini tak jelas kabarnya. Sedang kakak lelakiku tinggal dikota bersama istrinya dan adik perempuanku yang menumpang disana agar bisa melanjutkan kuliah.
Ibuku sudah berumur 42 tahun. Tubuhnya agak kurus dan berkulit kuning langsat. Perutnya agak sedikit membuncit dengan payudara yang sudah agak kendor. Ibuku biasanya juga berkerja diladang atau kadang menjual hasil ladang kami kepasar.
Sejak dulu hubungin aku dan ibuku mungkin agak berbeda dengan yang anak ibu yang lainnya. Jika anak lainnya sudah berhenti menyusu dengan ibunya saat berumur 1 atau 2 tahun, aku hingga saat ini masih saja menyusu dari ibuku. Saat aku masih kecil dan ada ayah dulu, sebenarnya beliau sudah melarangnya, tapi aku jadi sering menangis hingga demam. Akhirnya ibu meneruskan untuk menyusuiku. Kakak dan adikku juga sering meledekiku “bayi raksasa” karena masih saja menyusu dari ibu. Tapi kini hanya kami berdua dirumah. AKu tidak perlu khawatir lagi dengan ledekan mereka. Ibuku juga tidak keberatan menyusuiku.
Dalam sehari, aku bisa beberapa kali menyusu pada ibuku. Aku yang sekarang tidur seranjang dengan ibuku karena kasur lamaku sudah rusak biasanya minta menyusu pada ibu saat bangun tidur. Aku suka bau ibu saat baru bangun, agak masam tapi entah kenapa aku jadi sanga menyukainya. Setelah puas biasanya kami lanjut untuk siap-siap ke ladang. Jika ibu ikut pergi ke ladang, aku juga suka minta menyusu saat makan siang. Ladang kami agak jauh dari pemukiman sehingga tidak perlu khawatir ada yang melihat. Kadang aku sudah merasa kenyang hanya dengan menyedot susu dari payudara ibuku tanpa makan nasi atau yang lainnya. Tubuh ibu yang berkeringat membuat nafsuku menyusu sangat besar, bisa sampai 30 menit aku menyusu.
Saat malam sebelum tidur, aku kembali menyusu. Ibuku selalu menurunkan dasternya sedada dan membiarkan aku menghisap payudaranya sampai aku tertidur pulas. Seringkali aku tertidur dengan pentil ibu yang masih ada dimulutku. Jika malam-malam terbangun, aku juga akan selalu menyusu pada ibuku untuk menghilangkan haus.
Entah kenapa, payudara ibu selalu mengeluarkan susu. Mungkin karena setiap hari tak pernah berhenti aku hisap. Ibu pernah beberapa kali minta aku untuk berhenti. Malu katanya masak aku sudah besar segini masih disusui. Ibu juga bilang payudaranya jadi kendor karena jarang pakai BH. Aku memang tidak suka ibu memakai BH, karena jadi susu jika ingin netek.. Tapi ibu selalu tak sampai hati jika melihat aku ngambek, jadi beliau akhirnya selalu membolehkannya. Akupun rasanya tidak pernah puas menyusu dari ibuku. Tetek ibuku tidak besar, mungkin hanya 32B dan sudah kendor pula. Putingnya agak panjang (mungkin karena selalu aku sedot) dan warnanya coklat kehitaman. Rasa air susu ibuku agak tawar-tawar manis. Pernah beberapa kali terasa agak sepat. Tapi aku selalu menyukainya. Mungkin karena masih menyusu pada ibu, walau kami tergolong keluarga miskin, tubuhku bisa gemuk dan perutku buncit. Sayangnya tidak bertambah tinggi, hehehe.
*******************************************
“Ah..”, jerit ibuku. “Kenapa mak?” “Pelan-pelan dong sun neteknya, jangan digigit pentil emak. Sakit.” “Hehehe.. Iya mak. Abis Basun lagi haus banget” “Tadi sore kan udah netek, masa masih haus sun.”
Aku sedang diranjang dan menetek pada ibuku. Sudah jam 10 malam. Dan karena rumah kami memang tidak ada listrik, hanya ada penerangan dari lampu petromaks dikamar ini. Ibuku mengenakan daster batik tanpa lengan dan bagian atasnya sudah kupelorotkan kebawah. Ibuku tidur menyamping menghadap kearahku, membiarkan buah dadanya yang kanan kiri bergantin aku hisapi. Aku tidur hanya pakai celana kolor saja, karena memang kamar ini agak sumpek dan pengap.Sambil menghisap tetek ibu yang sebelah kiri, aku iseng meremas-remas tetek ibu yang sebelah kanan sambil memainkan putingnya dengan jariku.
“Sun, tetek emak jangan digituin ah. Emak ngilu.” “Hmmm..Hmm” Aku tidak menjawab karena mulutku masih sibuk melumat pentil susu ibu. Tapi aku tak menghentikan remasan tanganku.
Terdengar dengkur suara ibu, sepertinya dia sudah tertidur. Akupun juga sudah kenyang menyusu. Kejauhkan mulutku dari buah dada ibu. Putingnya terlihat basah berlumuran air liurku. Mataku sebenarnya sudah mengantuk,tapi aku tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini entah rasanya batang zakarku selalu mengeras jika sedang netek pada ibu. Sebenarnya dari aku kecil dlu, ini pernah terjadi. Tapi saat ini rasanya sudah berbeda. Akhirnya aku pergi kekamar mandi dibelakang, aku mau onani saja biar nafsuku ini hilang.
Saat mencari sabun dikamar mandi untuk pelicin saat onani nanti, aku tanpa sengaja menemukan celana dalam ibu ditumpukan baju yang belum dicuci. Saat kupegang, ada bagian yang agak lembab, lalu iseng saja aku cium baunya. Dan ternyata, ah… Baunya sangat aneh, agak masam dan apek, tapi aku malah jadi sangat bernafsu ingin onani. Karena sabunnya tidak ketemu, akhirnya aku beronani dengan membasahiku penisku dengan air liurku. Aku duduk dilantai kamar mandi, mengocok penisku dengan tangan kananku sambil menghirup aroma celana dalam ibuku yang kepegangi kewajahku. Rasanya begitu nikmat, apa mungkin ini yang namanya bau wanita. Rasanya ingin cepat-cepat kukeluarkan maniku. Kepercepat kocokan dipenisku. Mataku terpejam menahan kenikmatan.
“Sun…Sun..” Hah? Kudengar suara ibu memanggilku. Kubuka mataku dan benar saja ibu sedang berdiri didepanku. Sialnya aku sudah hampir orgasme dan tak tertahankan. Penisku berkedut-kedut dan memuncratkan air mani yang begitu putih dan kental dihadapan ibu. Aku hanya bisa menatap kosong melihat cairan pejuku jatuh didekat kaki ibu, ada juga yang mengenai kakinya. Rasanya begitu malu dan menyesel. Terlihat sedang telanjang bulat sambil onani dihadapan ibu sendiri. Sial benar, memang kamar mandi kami tidak ada tutupnya hanya, hanya ada triplek yang menutupi pintu masuk.
“Udahan kan? Balik kekamar sana. Emak mau pipis.”
Lalu aku berdiri dan mengambil celana kolorku tapi tak langsung kupakai lalu menuju keluar kamar mandi.
“Sun.. dibilas dulu itu peju kamu. Nanti lengket dicelana.”
Duh aku sangat malu. Akhirnya aku berbalik kembali ke kamar mandi dan mengambil segayung air lalu membilas penisku. Setelah itu aku kembali kekamar…
Aku berjalan kembali ke ranjang. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Aku kepergok sedang onani dan mengeluarkan mani didepan ibuku sendiri. Ditambah lagi sambil menciumi celana dalamnya. Rasanya aku tak berani menatap wajah ibuku. Lebih baik aku berpura-pura tidur saja. Kudengar suara langkah ibuku kembali dari kamar mandi. Aku pura-pura tidur sambil menghadapkan wajahku ke tembok. Ibu kembali berbaring diranjang. Beberapa saat terasa sangat hening.
“Sun..Basun..”, suara ibuku memanggil sambil menyentuh bahuku. “Eh.. Iya mak.” Jawabku sambil membalikan badanku ke arah ibu “Kamu tadi abis coli ya?” “Enggg.. Iya mak. Maap ma, basun udah gak tahan.” Wajahku memanas. Rasanya begitu malu menjawab pertanyaan ibuku. “Gapapa sun. Gak usah malu. Kamu kan emang udah gede. Wajar begituan.” Jawab ibukku. “I..Iya mak.” “Tapi kok tadi emak liat kamu cium-ciumin kancut emak. Buat apaan sun? Udah sering begitu?” “Eh enggak mak,, itu..itu.. iseng aja tadi. Baru pertama kok mak.” “Ih kamu sun. Kan jorok itu. Bau” “Tapi baunya enak kok mak. Basun seneng baunya.” Aku keceplosan.
“Ih kamu sun, aneh masa bau kancut emak dibilang enak. Ya udah gapapa. Kamu gak usah malu sama emak. Emak ngerti kok. Nah kalau kamu emang demen cium-ciumin kancut emak ya udah gapapa. Nanti emak pisahin di ember. Tapi inget jangan sampe kena peju kamu sun. Ntar kotor.” “I..iya mak. Makasih ya mak.” Perasaanku jadi sedikit lega. “Mak.. Basun boleh netek lagi gak mak? Haus nih.” Sambung diriku. “Kamu sun.. gak ada puasnya netek sama emak. Ya udah nih.” Jawab ibuku sambil menurunkan dasternya sampai keperut.
Kupandangi puting susu ibuku yang panjang dan keliatannya tegang. Kujilat-jilat beberapa kali dan selanjutnya kesedot sampai mengeluarkan susu. Tanganku meremas payudara ibu yang satunya. Ibuku sudah tidak keberetan. Kulihat ibu memejamkan mata, mungkin masih mengantuk. Akhirnya aku menyusu sampai tertidur. ************************************************** *************** Pagi hari saat bangun tidur, ibu sudah tidak ada disebelahku. Mungkin sudah mandi. Yang ada hanya sebuah celana dalam warna krem yang sudah agak tipis. Kuambil celana dalam tersebut dan kucium baunya. Ini sama seperti celana dalam ibu yang kucium semalam. Berarti ini punya ibu. Lalu ibu masuk kekamar hanya mengenakan handuk yang menutupi badannya.
“Udah bangun sun?” “Eh iya mak.” Jawabku kaget karena aku masih memegang celana dalam ibuku. “Itu kancut yang abis emak pakai semalem. Terserah kalau kamu mau cium-ciumin. Emak gak ke kebun ya. Mau bantu-bantu Bu RT lagi ada mau hajatan.” “Iya mak. Ma..Makasih ma.” “Ya udah mandi buruan sana, udah siang ntar panas dikebun.”
Lalu aku segera bangkit ke kamar mandi. Kucium-ciumi celana dalam ibuku ini. Wanginya langsung membuat birahiku naik dan penisku mengeras. Celana dalam ini baru saja menempel dikemaluan ibuku. Baunya masih sangat fresh. Bahkan aku liat agak sedikit basah dibagian depannya. Apa ibuku pipis sedikit dicelana dalam ini? Ah aku sudah tidak tahan. Langsung saja kambil sabun, kubasahi dengan air lalu kukocok penisku dengan cepat. Kucium terus celana dalam ibuku. Aku ingin menghirup semua baunya sampai habis.
Dan tanpa sadar aku sudah menjilati celana dalam tersebut sampai basah dengan air liurku. Kubayangkan kalau yang sedang kujilat ini adalah vagina ibuku. Rasanya aku sudah hampir orgasme, lalu kupakai celana dalam itu untuk mengocok penisku. Sampai akhirnya… Ahh.. Ah… Kekeluarkan semua airmaniku dicelana dalam ibuku. Celana dalam itu sudah sangat basah oleh air liur dan maniku. Ah ibu pasti marah karena semalam dia bilang jangan sampai kena air maniku. Tapi sudahlah, emak pasti mengerti. Kutaruh celana dalam tersebut ke ember cucian lalu aku lanjut mandi dan segera berangkat ke kebun.
************************************************** ******************************** Sudah semingguan ini ibuku selalu memberikan celana dalam yang dia habis pakai kepadaku tiap pagi dan sore. Ibuku biasanya meletakan celana dalamnya yang baru dipakai disamping kasur. Pernah malah sekali saat dikamar, ibuku melepaskan celana dalamnya dan langsung memberikannya kepadaku. Tapi aku tidak bisa melihat kemaluan ibuku karena dia memakai daster yang panjang saat itu. Dan karena itu aku jadi beronani hingga beberapa kali dalam sehari. Aku sangat terangsang dengan aroma yang tertinggal dicelana dalam ibuku. Apalagi jika ada cairan-cairan yang tertinggal. Awalnya ibukku sempat marah karena air maniku selalu membasahi celana dalam dia yang kupakai untuk mengocok penisku. Tapi lama-lama ibuku sudah tidak masalah.
Dan dua hari kemarin, ibuku pulang dari pasar dan membelikan aku minyak bulus. Kata ibuku ukuran penisku agak kecil, jadi aku disuruh ibu jika onani menggunakan minyak itu saja sambil diurut-urut kebatang zakarku. Mungkin ibuku melihat penisku saat aku kepergok sedang onani dulu. Ukuran penisku memang agak kecil, apalagi ditambah dengan perutku yang gendut. Duh aku jadi malu. Tapi sekaligus bahagia karena ibu sangat memperhatikanku.
Malam ini seperti biasanya aku dan ibuku sudah diranjang. Tapi aku sudah kembung karena tadi sore sepulang dari ladang aku sudah netek sampai hampir 1 jam jadi kami hanya mengobrolkan hal-hal yang kami alami hari itu.
“Sun.. Emak liat kamu dalam sehari bisa 2 sampe 3 kali coli. Emang gak lemes badan kamu?” “Eh enggak ma.. Abis kalo ditahan-tahan malah jadi sakit mak. Nyeri gitu mak burung basun.”
“Ah dasar kamu. Ya udah besok emak beliin telur ayam kampung sama madu deh dipasar. Biar badan kamu tetep seger.” “Iya boleh mak. Makasih mak.”
“Oh iya gimana minyak bulusnya, udah ada hasilnya?”, tanya ibuku “Eng.. belum keliatan mak. Cuma emang burung basun jadi lebih keras kalo lagi berdiri.”
“Kamu ngurutnya gak bener kali sun.” “Basun biasanya sih urut-urut biasa aja sih ma.”
“Ya udah sini coba emak liat burung kamu. Sekalian emak contohin ngurutnya. Dulu burung bapak kamu juga kecil. Tapi emak urutin pake itu minyak jadi gede.” “Ngg.. Nggak usah ma.”, Aku sangat kaget. Ibuku mau liat dan memijat penisku?
“Kenapa emang sun? Kamu malu sama emak? Enggak usah malu sun. Emak kan ngurusin kamu dari kecil. Masa malu. Lagian emak juga udah pernah liat punya kamu kan.” Aku melihat wajah ibuku. Matanya memandang kearahku dengan tajam. “Ya udah deh ma.”
Aku perlahan mulai menurunkan celana kolorku dalam keadaan berbaring. Sebenernya aku agak canggung karena sedari tadi sebenarnya burungku sudah berdiri. Begitu diturunkan, penisku langsung mengacung tegak keluar dari celana kolorku. Memang tidak panjang, hanya sekitar 13 cm. Tapi penisku cukup tebal diameternya dan kali ini ereksi sangat kuat. Ada sedikit cairan pre-cum yang sudah keluar diujung penisku. Aku liat wajah ibuku. Dia sempat seperti menelan ludah dan memandang penisku dengan serius.
“Udah nih mak.” Suaraku memecah kesunyian diantara kami. “Eh ya udah. Minyaknya mana sun?” “Itu mak diatas meja.”
Emakku langsung mengambil minyak dan kembali ke rancang. Aku mengambil posisi duduk agar lebih nyaman. Ibuku mengambil posisi duduk disampingku.
“Kok ini burung kamu udah berdiri aja sih sun? Mikiran apa hayoo.” Canda ibuku sambil menuangkan minyak bulus itu ke tangannya. “Enggak tauh nih mak. Tiba-tiba bediri gini.”
“Ya udah emak urutin ya.” Ucap ibuku sambil menuangkan minyak itu ke kepala penisku.”
Kemudian…. Ah…. Ibuku tiba-tiba saja langsung menggenggam penisku dengan kedua tangannya. Tangan kirinya kemudian meremas-remas ujung atas sampai kepala penisku sedangkan tangan kanannya meremas dasar penisku. Pijatannya agak keras. Kedua tangannya berganti-gantian turun naik disepanjang batang zakarku. Saat memegang kepala penisku, ujung jempol tangan ibuku memijat lubang kencingku dan urut sensitive yang ada dibawahnya.
“Hemm… Hemm.. ah…” Hanya itu yang keluar dari mulutku sambil diiringi nafasku yang berat. “Gimana sun? Enak kan. Gini cara mijet yang bener biar burung kamu jadi tambah gede.” “Iya mak. Enak ma.” Mataku sampai merem melek saking nikmatnya.
Ibuku terus mengulangi gerakan pijatannya. Lalu kemudian tangan kanan emak turun dan meremas buah zakarku. Seketika itu juga rasanya air maniku ingin segera keluar. Pijatan ibu di biji zakarku langsung membuatku orgasme.
“Mak.. udah maak..” Ucapku dengan suara yang bergetar mencoba menahan agar maniku tidak keluar. “Keluarin aja sun. Gapapa kalo gak tahan.” Sepertinya ibuku tahu kalau aku akan orgasme.
“Aaaah…” Badanku menggelinjang. Bergetar-getar kuat. Penisku berkedut-kedut dan memuncratkan air maniku yang cukup banyak. Muncratan pertamaku malah sampai mengenai daster ibuku dibagian dada. Sisanya lumer membasahi kedua tangan ibuku. Penisku masih berkedut-kedut merasakan kenikmatan orgasme barusan. Dan tangan ibuku juga masih meremas dan memijat penisku yang sudah mulai layu. Kali ini minyak bulus sudah bercampur dengan air maniku sehingga membuat tangan ibuku jadi terasa makin licin.
“Peju kamu banyak bener sun ini. Tuh sampe kena daster emak, berceceran juga ini di seprei kasur” Ucap ibuku sambil melepaskan pijatannya dari batang zakarku.
“Iya mak. Abis pijetan emak enak bener.” Jawabku malu-malu. “Ya udah. Emak mau cuci tangan dulu. Itu biarin aja dulu burung kamu biar minyaknya meresep. Jangan pake celana dulu.” Lalu ibuku pergi kekamar mandi.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku baru saja dibantu onani oleh ibuku sendiri. Rasanya aku masih bisa merasakan kehangatan pijatan kedua tangannya dibatang zakarku. Penisku sudah menciut. Dan campuran minyak dengan mani membuatnya sangat lengket. Tapi entah kenapa, rasanya gairahku belum tuntas.
Emak kemudian kembali dari kamar mandi. Tangannya sudah dicuci, tapi sepertinya dia lupa dengan cipratan maniku yang mengenai dasternya. Aku masih bisa melihat tetesan maniku dibagian daster dadanya. Emak kemudian berbaring disampingku.
“Lelaki itu harus bisa muasin bininya nanti sun. Jadi kamu harus rutin ngurut burung kamu biar cepet gede” “I..Iya mak. Tapi mak, kayaknya basun gak bisa mijet sendiri kayak gitu. Emak mau kan mijitin basun lagi nanti.”
“Ya udah sun. Tapi besok-besok kalo mau keluar kamu tahan dulu ya. Biar gak muncrat-muncrat kayak tadi. Nanti emak bawain kain lap buat nampung peju kamu” “Iya mak. Oya mak.. Basun mau netek lagi mak. Jadi aus abis ngeluarin tadi.” “Ya udah sini.” Emak langsung menurunkan daster bagian lehernya dan menggelontorkan payudaranya yang sebelah kiri.
“Isepnya yang pelan-pelan aja ya sun. Emak udah ngantuk, mau tidur.”
Aku langsung saja menyambut putingnya yang tegak dengan bibirku. Kujilat-jilat dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ibuku seperti berdehem dan memejamkan kedua matanya. Lalu kuhisap putingnya kuat-kuat sampai susunya memuncrat membasahi kerongkonganku. Rasanya begitu nikmat. Gurih dan segar. Badanku yang lemas sehabis orgasme tadi jadi segar kembali. Bahkan penisku jadi kembali ereksi.
Payudara kirinya terus kuhisapi sambil tanganku meremas payudaranya yang kanan yang masih berlapis daster. Sepertinya hisapanku terlalu kuat hingga ibuku jadi terbangun dari tidurnya.
“Eeeeh… pelan-pelan sun…” Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku sangat bergairah mencumbui payudara ibuku. Rasanya ingin kusedot hingga susu dipayudara ibuku habis. Dan tanpa sengaja, penisku yang sudah ereksi menyenggol tangan ibuku. Ibuku langsung reflex melihat kearah penisku yang tepat berada ditelapak tangannya.
“Kok bangun lagi ini sun. Belum keluar semua emang?” “Iya nih mak.. Boleh lagi gak mak? Basun kepengen keluar lagi.”
Tanpa menjawab apa-apa, ibuku langsung mengenggam batang zakarku dengan satu tangannya dan mulai mengocoknya naik turun. Untung masih ada sisa-sisa minyak dan air mani tadi sehingga masih terasa licin. Emak menaik turunkan genggaman tangannya sambil jempolnya memijat-mijat lembut ujung penisku. Sesekali dengan gerakan memutar.
Aku yang semakin bernafsu makin buas menyantap payudara ibuku. Kutarik belahan dasternya hingga terdengar sedikit suara sobekan kain. Lalu ketarik keluar payudara kanannya. Kumainkan putingnya dengan telunjuk dan jempolku. Kuputar-putar sambil sesekali kucubit pelan. Lalu aku dorong putingnya kearah dalam. Air susu ibuku mulai menetes dari putingnya yang kumainkan. Mulutku juga terus menyedot susu ibuku sambil sesekali menggigit putingnya.
Ibuku makin mempercepat kocokannya. Terdengar ibuku seperti merintih, Mungkin karena payudaranya kumainkan. Tapi karena keasyikan bermain dengan payudaranya, aku jadi lengah dengan pertahanan maniku. Kantong zakarku sudah berkedut-kedut ingin mengeluarkan air mani lagi. Dengan reflex, kemajukan pinggungku sampai ujung penisku menekan paha ibuku lalu kumuncratkan semua air maniku.
“Crut..crut..cruut..” Kali ini air maniku tidak sebanyak yang barusan. Keluarnya juga tidak memuncrat karena kutekan ke paha ibuku. Ibuku lalu melepaskan tangannya dari penisku lalu menyentuh pahanya yang terkena air maniku. Mengusap air maniku yang lengket ditangannya.
“Ih basun.. jorok ah kamu. Kan jadi kotor nih” Ucap ibuku. “Maaf mak. Basun refleks.” Ucapku malu. Aku tidak berani menata wajah ibuku. “Ya udah kan udah puas. Emak mau tidur ya. Kamu juga langsung tidur nanti kesiangan.”
Ibuku langsung membalikan badannya sehingga memunggungiku. Dia tida membersihkan air maniku di pahanya. Mungkin dia sudah sangat mengantuk. Aku pun terbaring lemas. Dua kali aku keluar ditangan ibuku. Ditambah kenyang sekali sambil menyusu tadi. Zakarku mulai menciut. Akupun sudah mengantuk. Aku tertidur tanpa memakai apapun. Sejuk sekali rasanya penisku. Kupejamkan kedua mataku. Rasanya ada perasaan sangat lega. Aku tak sabar menunggu esok hari. Menunggu pijatan ibuku di batang zakarku. Atau…. Mungkin lebih dari itu…
Rutinitasku dengan ibuku terus berlanjut. Kini tiap malam kami selalu tidur bersama sambil saling memuaskan diri kami masing-masing. Ibuku dengan telatennya selalu mengurut batang zakarku yang kini ukurannya sudah lumayan bertambah besar. Dan aku selalu tak pernah bosan menyusu sambil memasukkan jari-jariku ke liang senggama ibuku untuk menghirup aroma dan cairan kewanitaanya.
Ibuku kini pun tak malu-malu lagi bertelanjang badan dihadapanku. Meski dia lebih sering bersikeras untuk tetap mengenakan celana dalamnya saat kemaluannya aku jamahi, tetapi saat sudah asik, ibuku suka lupa dan aku dengan bebasnya menurunkan celana dalamnya. Kini tiap malam ranjang kami selalu panas dengan hasrat untuk saling memuasi antara aku dan ibuku.
“Sun, jembut kamu kok jadi lebat gini sih, keriting-keriting lagi.” Ucap ibuku saat sedang mengurut penisku. “Iya nih ma.. Jadi tebel, kayaknya gara-gara kena minyak bulusnya deh.”
“Emak cukurin ya. Biar resik, gak lengket-lengket. Itu burung biar keliatan lebih gede juga.” “Ah emak.. Punya emak juga lebat gitu. Basun cukurin juga ya mak. Biar gak susah nyari lubangnya, hehehe.” Candaku.
“Hush.. Kamu ini ya, nakal banget. Ya udah, kamu ada cukuran jenggot kan?” “Ada tuh ma, didalem laci meja kaca.”
Ibuku menghentikan urutannya dan berlalu ke arah meja kaca. Dia kembali sambil membawa gunting, cukuran jenggotku dan sabun didalam gayung.
“Kok bawa sabun, buat apa mak?” “Biar licin ntar nyukurnya. Ya udah sini emak cukur.”
Aku pun bangkit dari kasur dan berdiri dihadapan emak yang sudah mengambil posisi berjongkok. Saat aku melihat kebawah, aku sempat tercengang dengan pemandangan yang kulihat. Wajah ibuku yang sedang berjongkok tepat berada didepan penisku dan hanya berjarak beberapa centi saja. Ditambah lagi dengan payudara ibuku yang terlihat menggantung-gantung saat dia bergerak.
“Kress.. Kress…” Ibuku mulai mengguntingi bulu kemaluanku yang panjang. Helai-helainnya mulai berjatuhan ke lantai kamar kami. Ternyata banyak juga yang tercukur, kini hanya tersisa bulu-bulu pendek saja yang terpotong gunting dikemaluanku.
“Emak botakin aja ya burungnya. “ Ucap Ibuku sambil mengusapkan sabun dan air ke kemaluanku. “Pelan-pelan ya mak nyukurnya. Entar kepotong lagi, hehehe”
“Hahaha kamu sun. Baru juga mau digedein burungnya, masa emak potong” “Ah emak bisa aja.”
Ibuku perlahan mulai mencukur sisa-sisa bulu yang ada.Dimulai dari pangkal paha lalu lanjut ke pangkal batang penisku sampai ke bagian dasar batang penisku yang ditumbuhi bulu. Kemudian ibuku mengelus-elus kantong zakarku.
“Yang disini emak cukur juga ya sun.”
Lalu ibuku mulai mencukuri bulu dibagian kantong zakarku sampai ke bagian dalam pahaku.
“Nah bersih kan sun. Jadi keliatan lebih gede punya kamu” “Hehehe iya mak. Cuma jadi mirip ayam potong yang dijual dipasar. Plontos.”
Kupandangi penisku. Ya memang setelah dicukur jadi terlihat lebih menjulang. Apalagi saat dicukur tadi, ibuku memegang penisku hingga kini keadaannya setengah ereksi. Ibuku masih berjongkok disana, merapihkan sisa-sisa bulu kemaluanku yang berjatuhan dilantai.
“Mak…” Ucapku agak berat. “Ya sun..” Jawab ibuku seadanya tanpa menoleh kearahku. “Hmmm… Basun mau diisepin dong mak.” “Heh..” Ibuku langsung menengok ke arahku.
“Eng… Basun mau ini diisepin dong mak..” Jawabku sambil memegang batang penisku.
Ibuku terdiam sambil menatap mataku dari posisinya jongkoknya.
“Makk…” Rengekku sambil meremas-remas penisku. “Emak belum pernah sun.. Punya bapakmu aja gak pernah emak gituin.”
“Ya makanya punya basun mak.. Emak sayang kan sama Basun?”
Ibuku sempat beberapa saat terdiam lalu perlahan menggerakan tangan kanannya menyentuh penisku dan mulai mengenggamnya dibagian pangkalnya.
“Kamu beneran mau sun?” “Basun pengen banget mak..” “Emak coba yaa..” Ucap ibuku sambil perlahan mendekatkan wajahnya ke penisku.
Ibuku mulai membuka mulutnya lalu perlahan memasukan kepala penisku ke rongga mulutnya. Gigi bawahnya sempat mengenai lubang kencingku, jadi agak terasa sedikit ngilu. Tapi semuanya tergantikan ketika kepala penisku mengenai lidah ibuku. Terasa hangat, basah dan berlendir. Lalu ibuku merapatkan kedua bibirnya dan mulai memainkan ujung penisku yang sudah masuk dengan lidahnya. Ujung lidah ibuku terasa menyapu lubang kencingku sampai ke urat dibawah kepala penis.
“Hmm..Hmmm..” Hanya itu suara yang keluar dari mulut ibuku.
Setelah beberapa saat, ibuku mengeluarkan penisku dari mulutnya. Terlihat ada ludahnya yang menyambung dari mulutnya ke kepala penisku. Ludah itu terus tertarik hingga akhirnya terputus dan jatuh ke payudara ibuku.
“Gimana sun? Enak?” “Enak banget maak.. Lagi dong mak.. Tapi jangan ujungnya aja, isepin ampe semua mak.” “Kamu sun.. Gak sabaran amat sih.” Canda ibuku.
Ibuku kemudian kembali menggenggam batang penisku dan mengarahkannya ke mulutnya. Kali ini ibuku membuka mulutnya lebih lebar. Mulai dari kepala hingga kini seluruh batang penisku sudah tenggelam dimulutnya. Nikmat sekali rasanya penisku dimainkan oleh lidah ibu. Sesekali ibu mengempotkan kedua pipinya hingga penisku terasa disedot-sedot.
Perlahan-lahan aku pun mulai memaju mundurkan penisku dimulutnya. Kedua tanganku memegangi kepala ibuku dan menggerakannya untuk maju mundur juga. Walaupun masih sesekali terkena giginya, tapi pengalaman baruku ini sungguh terasa nikmat. Aku berusaha memasukan penisku sedalam-dalam mungkin hingga hampir mengenai ujung tenggorokan ibuku dan mulai mempecepat tempo gerakan maju mundur penisku.
“Orgghh.. Orgghh…” Suara itu terdengar dari mulut ibuku.
Seketika ibuku mendorong pinggulku menjauh dengan kedua tangannya. “Pluup…” Penisku keluar dari mulutnya. Penisku yang sudah begitu tegang terlihat mengkilap terlapisi air liurnya.
“Kenapa mak.. Kok dikeluarin?” “Emak gak bisa napas sun.. Pelan pelan dong ngocoknya.” “Hehehe.. maap mak. Basun keenakan. Lagi ya mak.” Ucapku sambil mengarahkan penisku kemulutnya.
Ibuku sempat berusaha menghindar sehingga penisku mengenai pipinya. Aku terus berusaha menekan-nekan dan mengarahkan penisku ke arah mulutnya. Akhirnya ibuku menyerah dan mulai menjilat-jilati batang zakarku.
“Hmmm… Hmmm..” Suara ibuku, sepertinya dia sangat menikmati menjilati penisku. Jilatan ibuku mulai menurun hingga kini mulai menjilati kantong zakarku. Ah.. rasanya ngilu tapi enak. Terlebih ibuku juga menyedot dan mengulum biji zakarku dalam-dalam dimulutnya. Setelah semua terjilati, akhirnya ibu memasukan penisku dimulutnya. Mengulumnya. Menyedotnya.
“Ahh.. Ah…Ah..” Aku mulai merintih keenakan karena sensasi tersebut. Aku sudah hampi puncak. Kutekan penisku kuat-kuat dan kurapatkan wajah ibuku dengan perutku. Rasanya kepala penisku sudah mencapaki tenggorokannya.
“Cruut.. Cruut..Cruut…”
Aku ejakulasi didalam mulut ibuku. Rasanya banyak sekali air mani yang aku keluarkan. Kelepaskan perlahan peganganku dikepala ibu. Penisku masih terasa berkedut-kedut dan ibu masih memainkannnya dengan lidahnya sambil perlahan mengeluarkannya dari mulutnya. Penisku sudah agak layu saat keluar. Spermaku pun berceceran dari mulut ibu dan berlelehan mengenai buah dadanya.
“Enak gak mak?” “Asin sun..” Ucap ibuku sambil berusaha meludahkan sisa-sisa air maniku dari mulutnya.
Ibuku kemudian pergi kekamar mandi, dan aku mengikutinya dari belakang. Dia berkumur-kumur sambil membersihkan sisa-sisa spermaku dibadannya. Akupun membasuh penisku yang rasanya sudah sangat lengket.
“Eh tunggu mak.. Biar basun sekalian cukurin dulu jembut emak. “Nggak usah sun.. besok besok aja.”
“Ah curang.. Masa punya basun udah botak, punya emak kagak.” Jawabku sambil berjalan kekamar untuk mengambil gunting dan alat cukur. Saat aku kembali, ibuku hanya berdiri saja didepan cermin kamar mandi.
“Sini mak.. Duduk selonjoran di ubin aja biar gampang nyukurnya.”
Dengan agak ragu, ibuku menurunkan celana dalamnnya. Kulihat vaginanya sudah agak basah. Kemudian dia duduk bersimpuh dilantai kamar mandi.
“Cukurnya dikit aja ya sun. Emak geli klo dicukur abis.” “Sekali-kali mak.. Ntar juga numbuh lagi. Duduknya jangan gitu mak. Gimana basun nyukurnya kalo gitu.”
Ibuku kemudian mengambil posisi mengangkangi ku. Ah.. untung saja aku sudah orgasme tadi. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menahan diriku untuk menyetubuhi ibuku.
“Lebaran dikit mak ngangkangnya”
Ibuku melebarkan jarak kedua kakinya hingga kini aku bisa mengambil posisi diantara kedua pahanya. Aku pun mulai mengguntingi bulu kemaluan ibuku dengan gunting.
Kres.. Kress…
Sekarang vagina ibuku sudah hampir botak, tinggal sisa bulu-bulu pendek yang tidak bis dipotong dengan gunting. Bibir vagina ibuku jadi terlihat jelas. Bibirnya sudah agak keluar dan berwarna coklat gelap. Diantaranya aku bisa melihat sedikit klitoris ibuku yang agak menyembul keluar. Dan sepertinya ada cairan-cairan yang mulai membasahi vaginanya.
“Basun kerok ya mak..” Ucapku sambil mengambil alat cukur jenggotku. Kubasahi vaginanya dengan air dan sabun dan mulai kucukur habis sisa-sisa bulu itu. Aku mengeroknya sampai kebagian paling bawah karena kulihat masih ada bulu-bulu halus yang tumbuh disana.
“Mak.. angkat dikit pahanya.” Ibuku akhirnya membaringkan badannya dilantai dan mengangkat pinggulnya. Aku kini bisa melihat lubang anus ibuku. Ternyata bagian ini juga ditumbuhi bulu-bulu halus. Lubang anus ibuku terlihat sangat kecil dan rapat. Akupun mengeroknya.
“Kok disini ada bulunya juga ya mak..” “Gak tau emak sun..”
Saat mencukur area tersebut. Aku iseng menyetuh lubang anus ibuku dengan ujung jari telunjukku” “Sun!” Ucap Ibuku keras. “Jangan pegang itu sun. Jorok ah.” Lanjut ibuku. “Iya mak.. Basun iseng doang. Nah sekarang udah bersih deh.”
Ibuku kembali mengambil posisi untuk duduk tapi kedua pahanya tetap terkangkang. “Mak… mau gantian gak?” “Gantian apa?” “Ya Basun gantian jilatin punya emak, hehehe.” “Kamu mau sun?” “Ya mau banget mak.”
Tanpa menunnggu jawaban darinya, aku langsung merapatkan wajahku ke vagina ibuku. Keendus aromanya lalu kurapatkan hidungku percis di liang senggamanya, Akupun mulai menjulurkan lidahku untuk menyapu vaginanya. Kurasa ada lendir lendir yang mulai membasahi wajahku. Sekarang giliran lidahku yang bermain-main divagina ibu. Dengan kedua tanganku, kucoba untuk membuka lebih lebar lubang vaginanya. Kulihat bagian dalamnya berwarna pink gelap dengan klitoris yang sudah menegang. Kumasukan lidahku dalam-dalam kesana sambil sesekali memainkan klitoris ibuku dengan jari-jariku. Lalu kucoba menggigit pelan ujung klitoris ibuku itu.
“Aaaah.. suuun… Aaaaaah….”
Ibuku menaruh tangannya dikepalaku sambil mengacak-acak rambutku. Matanya terpejam. Badannya meliuk-liuk dilantai, persis seperti cacing yang sedang dikasih garam.
Sambil terus menjilati klitoris ibuku, aku perlahan memasukan jari tengah dan telunjukku ke vaginanya. Perlahan kukocok jariku maju mundur. Ibuku mulai bergerak tak karuan. Tangannya terasa menjambak-jambak rambutku.
“Aaaaah… Aaaaah…. Suuun…”
Sepertinya ibuku sudah hampir orgasme. Tanpa pikir panjang, aku coba menekan lubang anus ibuku dengan jariku yang lain. Rasanya begitu rapat dan sulit ditembus. Kubasahai dulu jariku itu dengan cairan yang keluar dari vagina ibuku lalu kucoba untuk memasukannya lagi.
“Suun.. Jangan disitu suun..”
Perkataan ibu tak kuhiraukan. Kutekan jariku makin keras hingga kini lubang anusnya mulai terbuka. Kudorong terus hingga setengaj jari telunjukku sudah ada didalam anus ibu. Tubuh ibu makin meliuk-liuk. Kupercepat jilatanku dan kocokan jari-jariku di vagina dan lubang anusnya sekaligus. Kulihat ibuku membuka sedikit matanya tapi hanya bagian putihnya saja yang keliatan. Seperti dia sudah hampir puncak.
Setelah beberapa saat, akhirnya… Currr.. currr… Kurasa ada semprotan kecil dari dalam vaginanya yang mengenai jariku. Tubuh ibu kejang-kejang. Tanggannya merapatkan wajaku dengan vaginanya. Sehingga cairan tersebut sedikit mengenai mulutku.
“eh..eh..eh..” Suara ibuku sambil bernapas pendek-pendek. Ah sepertinya dia sudah orgasme.
Ibu melepaskan tangannya dari kepalaku. Kuangkat kepalaku dari vaginanya. Ibuku tertidur dilantai kamar mandi sambil badannya masih sesekali mengejang. Kuperhatikan vaginanya yang basah itu, lalu ibuku pipis, mengeluarkan air kencing perlahan yang akhirnya berceceran dilantai.
“Emak lemes banget sun…” “Tapi enak kan mak?” Candaku. “Kamu emang anak nakal. Emak kamu dibikin lemes begini. Emak jadi ngompol tuh.”
Kuambil gayung lalu kusiramkan air ke vagina ibuku Perlahan kuceboki sambil berusaha menggelitiki lagi vaginanya dengan jariku. “Uh sun.. emak udah lemes banget ini.” “Hehehe.. Ya udah mak. Basun gendong ya kekasur.”
Lalu kuangkat badan ibuku dalam gendonganku. Ibu melingkarkan tangannnya dileherku. Hup! Kuangkat lalu kugendong kekamar. Perlahan kuturunkan tubuh ibuku diranjang. Lalu aku elap-elap tubunya yang basah dengan kain daster ibuku. Setelah itu kubaringkan tubuhku disampingnya.
“Makasih ya sun..” ucap ibuku pelan. “Iya mak.. Basun juga..” sambil kumiringkan badanku kearahnya dan memeluk badannya dengan satu tanganku.
Ibuku terlihat sangat lelah. Akupun jadi tidak tega mau menyusu lagi padanya. Penisku sempat kembali tegang melihat badan ibuku yang tak tertutup sehelai benang pun, tapi mataku rasanya sudah begitu berat. Hanya kurapatkan penisku dipaha ibu. Untung akhirnya turun juga ereksinya. Akhirnya malam itu kami tertidur saling berpelukan dalam keadaan telanjang hingga pagi menjelang. Sudah tiga hari ini “ritual” aku menyusu dengan ibuku terganggu. Itu karena abangku datang dan menginap dirumah. Namanya Badar. Hubunganku dengan abangku ini memang tidak terlalu akrab. Dari dulu dia selalu kasar padaku. Ditambah lagi dengan badannya yang tinggi besar, aku pasti selalu kalah jika berkelahi dengannya. Setelah menikah, badannya jadi semakin gemuk dengan perut yang juga buncit sepertiku. Dia jadi makin mirip algojo saja dimataku.
Dia bilang sedang bertengkar dengan istrinya dan malas untuk kembali kerumah. Karena ada abangku ini, ibu melarangku untuk tidur bersamanya. Dan aku harus tidur bersama dengan abangku beralaskan kasur tipis di kamarku dulu. Tapi ya yang namanya sudah kebiasaan, aku tetap memaksakan untuk curi-curi waktu agar bisa menyusu. Kadang aku menyusu saat abangku keluar rumah, saat abangku sedang mandi atau saat ibu mengantar bekal makan siang ke ladang. Karena diburu waktu, biasanya ibuku jadi mengocok atau mengoral penisku dengan cepat agar aku segera keluar. Jadi terasa kurang nikmat.
“Mak… Ah.. Pelan pelan mak ngocokkinnya…”. Ucapku sambil menahan ngilu dipenisku karena Ibuku mengocok dengan tangannya terlalu keras. “Buruan kamu keluarinnya sun.. Abangmu ntar keburu selesai mandinya.”
“Cruuut…Cruttt…” Akhirnya air maniku berceceran dilantai kamar.
“Udah sun.. Kamu buruan ke ladang sana. Nanti keburu siang, panas.” Ucap ibuku sambil mengelap ceceran air maniku dengan kain pel. “Ah.. mak.. Basun masih pengen nih.. Nanggung.” “Hussh.. Nanti ketahuan abangmu kita.”
“Ah abang Badar emang bikin susah aja. Kapan sih mak abang pulang kerumahnya?” “Gak tau sun. Kayaknya dia masih berantem sama bininya.”
“Udah mak, suruh bang Badar baikan aja sama istrinya. Biar cepet pulang. Biar kita bisa kayak dulu lagi mak.” Ucapku sambil meremas-remas payudara ibuku yang terbungkus daster. “Iya sun.. Ntar mak bilangin.” “Ya udah mak. Basun ke ladang dulu ya.” Ucapku sambil memakai baju dan celana dan lanjut pergi ke ladang.
Karena cuaca sedang sangat panas, baru bekerja sebentar saja, aku langsung beristirahat di gubuk tempat biasa aku berteduh. Kulepaskan semua baju dan celanaku yang penuh keringat. Tiba-tiba nafsuku naik lagi, teringat biasanya aku dan ibuku suka saling memuaskan nafsu disini. Ya karena ladang kami ini agak jauh dari pemukiman, jadi kami sering memacu birahi disini. Biasanya hanya sebatas aku menyusu atau ibu yang menguruti batang penisku saja lalu kami akan melanjutkannya dirumah. Tapi sudah beberapa hari ini kami tidak melakukannya hingga membuat nafsuku menjadi semakin menjadi-jadi.
Tanpa sadar aku sudah menurunkan celana kolorku dan mengocok batang penisku sendiri. Kubayangkan saat saat ibuku mengulum penisku dengan mulutnya. Dan akhirnya setelah beberapa menit, kupercepat kocokan tanganku dan meledaklah lahar panasku. Tapi entah kenapa rasanya meski sudah ejakulasi, terasa masih ada yang kurang. Nafsuku masih saja tinggi. Karena badan ku sudah lemas, kuputuskan saja untuk langsung pulang kerumah. Toh cuaca juga sedang sangat panas untuk berladang, ibu pasti maklum.
Saat sampai didepan ruma, kulihat pintunya ditutup. Ah mungkin ibu dan abangku sedang pergi keluar rumah. Baguslah aku memang ingin segera tidur jadi tidak ada yang mengganggu. Aku mengambil kunci serap yang biasa ibu tinggalkan dibawah pot bunga. Tapi saat aku coba untuk membukanya, ternyata pintu tidak dikunci. Kudorong perlahan pintu tersebut dan masuk ke dalam rumah.
Yang terasa janggal. Kudengar ada suara berisik-berisik dari kamar ibuku. Aku langsung menggengam erat parang yang aku bawa, takut-takut kalau ternyata ada pencuri yang masuk. Aku berjalan perlahan-lahan mendekati arah kamar ibuku. Tapi semakin dekat, sepertinya suara itu sangat familiar. Aku berdiri dibalik kamar ibuku. Rumah kami dindingnya terbuat dari anyaman bilik bambu. Kebetulan ada celah yang cukup untuk mengintip kedalam kamar ibuku. Saat aku melihat melalui celah bilik bambu tersebut, aku hampir saja ingin berteriak. Pemandangan yang kulihat membuat mataku terbelalak.
Disana aku lihat Ibu dan abangku sedang bersama diatas ranjang. Ibuku hanya memakai kain yang dia lilitkan diperut sampai sebatas pahanya. Mempertontonkan buah dadanya yang sudah kendor dan menggantung-gantung itu. Posisi ibuku sedang duduk bersimpuh diperut abangku yang sedang berbaring dan tidak memakai pakaian sama sekali. Tubuh abangku yang memang tinggi besar itu seperti tidak keberatan menahan berat badan ibuku diperutnya. Tubuh abangku yang kulitnya agak hitam dan dadanya yang penuh bulu terlihat sangat berkeringat. Terlebih batang zakarnya yang ukurannya terbilang besar sudah ereksi sangat tegak diantara kedua pahanya yang posisinya dipunggungi oleh ibuku.
Ibuku menurunkan badannya hingga payudaranya tepat berada diatas wajah abangku yang dengan cepat langsung melahapnya dengan puas. Abang badar terlihat sangat bernafsu menyedot-nyedot susu yang keluar dari dada ibuku itu.
“Bangsat Bang Badar.. Dia sering mengejek aku bayi besar karena masih netek sama emak. Ternyata dia juga.” Gumamku dalam hati. Sebenernya aku ingin masuk lalu melabrak mereka berdua. Aku sangat marah ternyata ibu juga menyusui abangku. Tapi aku tidak berani bergerak dari tempatku. Selain karena takut berkelahi dengan abangku, toh akupun juga menyusu pada ibuku, bahkan sekarang sudah lebih dari itu. Akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan melihat perbuatan mereka dari tempat mengintipku sekarang.
Bang badar terus melahap payudara ibu dengan nikmatnya. Ibuku terlihat juga sangat menikmatinya, itu kulihat dari matanya yang sesekali terpejam dan suaranya yang merintih.
“Ah.. Dar.. Pelan-pelan neteknya..” “Haaah… Iya mak.” Ucap bang Badar lalu langsung melanjutkan menyedot puting payudara ibu yang coklat kehitaman itu.
Bang Badar lalu memeluk tubuh ibu dan menggulingkannya hingga posisi mereka kini berbaring saling menyamping. Suara derit besi penyangga ranjang terdengar sangat keras saat badan ibu dijatuhkan ke kasur.
“Mak.. mau dikocokin pake tetek emak dong.” Ucap bang badar. “Ya udah sini.
Bang badar lalu mengambil posisi duduk diatas tubuh ibu. Penisnya yang besar dan panjang itu dia arahkan ke celah diantara kedua payudara ibu. Penis yang warnanya kehitaman tersebut terlihat sangat tegang sampai aku dari jauhpun bisa melihat urat-uratnya yang menonjol. Ibuku lalu menjepit penis itu dengan kedua payudaranya lalu melakukan gerakan mengocoki penis itu. Abangku lalu meludahi penisnya yang sedang dijepit dada ibuku beberapa kali hingga dada ibuku terlihat licin dan basah.
“Clot..cloot.. Cloot..” Terdengar suara penis abangku yang dikocok oleh dada ibuku. “Enak dar?” “Ughhh.. Enak banget mak.. Bini badar gak pernah mau kalo badar suruh begini.” “Ya udah.. kan kamu bisa dapet dari emak sekarang.”
Aku hanya bisa terbengong-bengong melihatnya. Antara marah tetapi juga birahiku naik. Aku belum pernah melakukan hal yang seperti itu dengan ibuku.
Tiba-tiba badan bang badar bergetar-getar. “Croot..croot..”
Sambil mendesah, dia mengeluarkan air maninya dijepitan dada ibuku. Dia lalu mengangkat penisnya dan menumpahkan sisa air maninya diwajah ibuku. Ibuku memejamkan matanya lalu mengelap air mani yang jatuh diwajahnya.
“Uh kamu dar.. Nakal deh.. Pejunya dikeluarin di muka emak.” “Hehehe.. Tapi suka kan mak. Jilatin dong mak, kan sayang Badar udah keluarin.”
Ibuku lalu menjilat air mani yang ada dijari-jarinya lalu menelannya. Ya Tuhan.. Aku mual melihatnya, tapi juga iri karena biasanya ibu tak pernah menelan spermaku seperti itu.
Bang badar lalu menjatuhkan badannya disamping ibu. Sepertinya dia sudah lemas. Tetapi tangan ibuku tetap mengocok-ngocok penis bang badar yang sudah mulai mengecil itu.
“Kayaknya burung kami perlu emak urutin lagi deh dar. Biar makin gede.” Ucap ibuku. “Iya nih mak. Udah lama gak diurutin sama emak. Eh Basun udah pernah diurutin juga mak?” Tanya bang Badar. “Udah.. Udah lumayan nambah gede burungnya si Basun.”
“Udah pernah beginian juga sama emak?” “Cuma emak kocokin sama spong aja.”
“Ah enak banget ya mak Basun dapet mulu dari emak. Badar jadi iri.” “Huuush.. Gak boleh gitu sama adik kamu. Dulu kan kamu juga udah sering emak gituin. Sampe ini burung bisa segede ini. Sekarang kan kamu juga udah punya bini.”
Dari percakapan itu aku baru tahu ternyata ibu juga melakukan hal sama terhadap aku dan Bang badar. Entah kenapa aku tidak menyadarinya dulu.
“Kalau punya Badar sama Basun gedean mana mak awalnya?” Tanya bang Badar “Gedean punya kamu dikit. Punya kamu mirip deh gedenya sama punya bapak kamu. Kalo punya basun mungkin perlu lamaan lagi ngurutnya.” Sambil mereka mengobrol, tangan ibu tidak berhenti memainkan penis bang badar. Kocokan tangan ibuku kembali membuat penis bang badar mulai ereksi.
“Kamu kenapa sih pergi dari rumah dar?” “Abis kesel mak. Bini badar gak pernah mau kalo diajak begituan. Alasannya lagi capek lah. Lagi mens lah. Badar kan jadi kesel.”
“Hussh.. Kamu ini hal begitu aja sampe berantem. Bini kamu kan kerja, wajarlah kalau dia capek. Makanya kamu ajaknya baik-baik.” “Ya tapi Badar kan butuh begituan mak. Masa tiap malem badar coli-in burung sendiri, padahal udah punya bini.”
“Ya makanya kamu juga jangan keseringan minta jatahnya. Bini kamu butuh istirahat. Emang kamu udah berapa lama gak dikasih jatah?” “Udah 2 minggu mak.”
“Huh dasar kamu… Baru juga dua minggu udah kayak orang kesetanan. Ya udah sini emak keluarin yang banyak.” Ucap ibuku sambil terus mengocok penis bang badar. “Mak… Bosen mak dikocokin mulu.. Badar boleh gak masukin ke punya emak. Udah pengen banget nih..”
“Hust kamu! Kan dari dulu emak udah bilang gak boleh mikir mau kayak gitu. Ini emakmu loh dar. Masa kamu mau entot juga. Kayak binatang aja.” “Tapi kan mak… Badar udah pernah ngisepin memek emak, netek sama emak, tanggung mak..”
“Dar… Emak tau emak salah. Emak dosa udah beginian sama kalian. Tapi emak gak mau makin dosa lagi. Emak awalnya cuma pengen biar burung kalian tuh pada gede, biar bisa muasin istri kalian nanti. ” “Emang emang gak pengen apah mak? Kan udah lama bapak gak pulang.”
“Ya nafsu sih ada dar. Apalagi liat burung kamu sama Basun terus. Tapi emang gak mau kalo sampe begituan sama kalian. Mending yang lain aja ya dar. Yang penting peju kamu keluar.” Bang badar hanya terdiam.
“Emak sayang sama kalian. Emak pengen bikin kalian seneng. Tapi tolong ya dar, jangan pernah mikir mau begituan sama emak.” Lanjut ibuku sambil mengusap lembut wajah bang Badar. “I..iya deh mak. Maapin Badar ya mak..”
“Gapapa dar.. Emak maklum. Apalagi kamu udah kawin, udah tau enaknya begituan. Pasti pengen terus kan.” “Iya mak.. Emak tau aja.”
“Ya udah sekarang mau diapain nih si otong. Udah keras lagi nih.” Ucap ibuku sambil meremas penis bang Badar. “Digesek-gesekin pake pantat emak aja deh mak. Tapi Badar sambil tiduran, emak yang duduk.”
“Ya udah.. emak ambil minyak goreng dulu ya. Biar licin” Lalu ibu bangun dan berjalan ke luar kamar.
Aku langsung bersembunyi dibalik pintu kamarku yang berada disisi lain kamar ibu. Saat ibu sudah kembali kekamarnya. Aku kembali ke tempat pengintipan semula. Ibu lalu menurunkan kain yang melilitnya perutnya. Kain itu jatuh kelantai dan menampakan bagian kemaluan ibu yang tidak memakai celana dalam. Ibu kemudian menuangkan minyak goreng yang tadi diambilnya ke perut dan penis abangku.
Ibu kemudian naik ke perut abangku dan menduduki penis abangku hingga penisnya menyentuh perut bang badar. Ibuku kemudian melakukan gerakan maju mundur hingga penis bang Badar tergesek-gesek dengan pantat dan kemaluan ibuku.
“Aaaah.. Mak.. Enak maaak..” “Enak kan dar..” Jawab ibuku sambil memelintir puting dada abangku.
Aku bisa melihat bibir vagina ibuku agak terbuka karena tergesek-gesek batang zakar abangku yang besar itu. Cairan pelumas pun mulai keluar dari vagina ibuku. Gerakan pantat ibu yang maju mundur diatas tubuh abangku yang berminyak itu turut membuat nafsuku naik. Tak tahan, akhirnya kuturunkan celanaku dan kukocok penisku sendiri.
Ibu lalu menurunkan badannya dan menyedot-nyedot puting abangku. Abangku dibuat merem-melek karenanya. Sambil tetap memainkan pinggulnya, ibuku menjilat, mengulum dan menggigit-gigit kecil puting didada abangku yang dipenuhi bulu itu.
Abangku lalu memegang kedua belah bongkah pantat ibuku lalu ikut memaju mundurkannya dengan cepat.Meski hanya digesek-gesek dengan batang zakar abangku, sepertinya ibuku juga merasakan kenikmatan darinya. Abang ibuku terlihat sangat mashyuk dengan persentuhan kelamin mereka. Aku pun juga jadi mempercepat kocokan penisku.
“Mak.. Badar udah mau keluar maak..” rintih abangku. “Keluarin aja dar.. Emak juga udah mau keluar nihh..”
Crooot… Croot.. Croot… Akhirnya air mani bang Badar keluar dan muncrat diperutnya sendiri. Ibuku terus melanjutkan gesekannya.
“Mak belum keluar nih dar.. Emak lanjutin yaa..” “Iya mak…”
Emak terus melanjutkan menggesekan vagina dan pantatnya diatas penis abangku yang sudah mulai layu itu. Abangku kemudian menggerakann tangannya meremas-remas payudara ibuku dan memelintir-melintir putingnya.
“Ah enak dar.. Enak dar..”
Abangku lalu melepaskan satu tangannya dari payudara ibuku dan meremas-remas pantat ibuku. Kemudian dia memasukan satu jarinya ke lubang anus ibuku lalu memaju-mundurkannya. Sepertinya ibu sangat sensitif dengan rangsangan di area anusnya. Mata ibu langsung agak terpejam hingga hanya bagian putihnnya saja yang terlihat. Abangku memasukan lagi satu jarinya ke anus ibu dan mempercepat kocokannya.
“Aaaaah.. Haaaaah.. Aaaah…” Desah ibuku.
Badannya mengejang-ngejang sambil pantatnya naik turun. Badannya langsung lemas dan jatuh menimpa tubuh abangku. Ibuku memeluk tubuh abangku yang tinggi besar itu sambil masih bergetar-getar keenakan.
“Kamu hebat dar.. Emak enak banget keluarnya tadi.” “Hehehe iya mak.. Kerasa cairan emak juga anget banget keluarnya tadi netes di perut badar.”
“Emak tidur dulu ya dar. Capek banget.” “Eh jangan dulu dong mak. Badar masih pengen keluar sekali lagi nih. Abis tadi emak gosok-gosok terus sih..” Ucap bang badar sambil memainkan penisnya yang kembali ereksi.
Sepertinya bang Badar masih belum puas. Baguslah. Aku juga masih belum selesai mengocok-ngocok penisku. Belum sampai puncak.
“Duh tapi pinggang emak udah pegel banget ini dar.” “Ya udah mak. Dijepit pake ketek emak aja ya sekarang.” Ucap bang badar sambil berdiri diatas ranjang dan berusaha membangunkan tubuh ibuku. Ibuku akhinya mengambil posisi duduk bersimpuh didepan tubuh bang badar.
Bang badar lalu menyelipkan penisnya di ketiak ibuku lalu memaju mundurkannya. Ketiak ibuku yang terlihat agak hitam itu ditumbuhi bulu bulu halus tetapi tidak terlalu lebat. Posisiku dipunggungi ibuku sehingga aku bisa melihat penis bang badar yang muncul lalu tenggelam di ketiak ibu. Ibuku pun tan tinggal diam, dia meremas-remas kantong zakar abangku.
Aku yang melihatnya jadi kebawa nafsu. Kepercepat kocokan dipenisku. Saat hampir ejakulasi, kuremas ujung kepala penisku dengan telapak tanganku, dan.. “Cruut.. Cruut..
Saat air maniku keluar tidak muncrat karena tertutup telapak tanganku, hanya sedikit berceceran saja dilantai.
Abangku pun sepertinya sudah hampir sampai. Dia memajukan penisnya dengan cepat diketiak ibuku lalu.. “Crooot.. Crooot..”
Air mani abangku muncrat di kasur dan ketiak ibuku. Membuat bulu ketiak ibuku terlihat sangat lengket. Abangku lalu langsung terduduk seolah kakinya tidak mampu menopang beban tubuhnya. Sepertinya dia sangat lemas karena 3 kali ejakulasi tadi.
“Udah puas dar?” “Udah mak.. Badar ampe lemes gini.” Ucap abangku sambil membaringkan tubuhnya
“Ya udah kita tidur dulu aja ya. Ntar siangan emak mau nganter makan siang ke ladang buat basun.” Ucap ibuku sambil ikut berbaring.
Akupun langsung menaikan celanaku dan pelan-pelan berjalan keluar rumah. Bahaya nanti jika aku tidak ada diladang, bisa ketahuan aku mengintip mereka. Perasaanku jadi campur aduk. Kesal, marah, iri tapi juga bernafsu karena melihat perbuatan ibu dan abangku tadi. Sungguh beruntung abangku.. Aku juga akan minta yang seperti itu pada ibu….Setelah mengintip pergumulan antara abang dan ibuku barusan, pikiranku rasanya melayang-layang. Antara marah,benci kesal tapi juga bernafsu melihat aktifitas mereka itu. Mau bekerja di ladang rasanya pun malas hingga akhirnya aku putuskan untuk tidur-tiduran saja di sawung dekat ladang kami.
Sekitar jam 1 siang, ibuku seperti biasa datang membawa makanan untukku. Aku berpura-pura cuek saja sambil tetap tidur-tiduran di sawung membelakangi ibuku.
“Makan siang dulu sun.. nih emak bawain pepes teri kesukaan kamu.” “Enggak mak. Basun gak laper.” “Tumben kamu sun jam segini belum laper, biasanya langsung abis makanan yang emak bawa.”
Aku hanya diam tak menjawab. “Basun marah ya?” tanya ibuku lembut. “Enggak.” Jawabku singkat.
Ibuku lalu berjalan mendekat dan duduk disampingku yang sedang berbaring. “Basun tadi liat emak sama abang badar ya?”
Deg.. Aku sangat kaget dengan perkataan ibu tadi. Apa tadi aku ketahuan? “Eng… Liat apaan mak?” Jawabku pura-pura tidak tahu. “Jujur aja sun… Emak tau kok tadi kamu liatin emak sama bang badar lagi didalam kamar. Peju kamu masih berceceran didepan pintu.”
“Ehh….” Aku bingung harus menjawab apa. Sial. Tadi aku memang lupa mengelap spermaku yang muncrat dilantai saat onani tadi. “Basun marah ya sama emak?” Tanya ibuku sambil membelai kepalaku.
Aku lalu mengambil posisi duduk sambil menghadapa ibuku. “I… Iya mak, tadi basun liat emak sama bang Badar lagi diatas kasur. Emak kok gituan juga sama bang Badar sih?” “Maafin emak ya sun..”
“Emak udah sering ya begituan sama bang Badar?” Tanyaku agak geram. “Suun… Maap ya emak gak pernah cerita sama kamu.” “Ya udah makanya sekarang ceritain ke basun mak semuanya. Basun pengen tau” Ibuku hanya terdiam.
“Mak..!” “Iya sun… Bang badar juga dulu burungnya emak urutin kayak kamu.” Jawab ibuku tanpa berani melihat kewajahku.
“Awalnya bapak kamu yang nyuruh. Abangmu kan baru disunat pas umur 18 tahun. Kata bapak, burungnya bang badar kecil. Ya mungkin emang keturunan bapakmu. Makanya emak disuruh urutin tuh burungnya badar pake minyak bulus.” “Terus mak?”
“Ya awalnya emak Cuma ngurutin burungnya aja. Tapi si Badar kadang suka gak tahan, akhinya minta dikocokin sampe pejunya keluar. Emak pernah protes sama bapakmu, soalnya risih masa ngocokin barangnya anak sendiri. Tapi kata bapakmu suruh lanjutin aja. Kasian lelaki kalau burungnya kecil, begitu kata bapakmu.”
“Apalagi si Badar itu gak tahu kenapa, pejunya kentel banget. Udah keluar berapa kalipun tetep kentel. Jadi si Badar suka bilang bijinya sakit kalau gak dikeluarin pejunya. Jadi ya dalam sehari, emak bisa ngocokin burung abangmu berkali-kali.” Lanjut ibuku.
“Kok basun bisa gak tahu mak?” “Ya kamu dulu kan masih kecil. Biasanya juga emak netein kamu dulu sampe tidur baru ngurutin burungnya bang Badar. Kadang badar yang masuk ke kamar emak sama bapak buat minta diurutin.”
“Nah kok sekarang bisa sampe kayak gitu? Sampe kayak orang mau ngewe tadi basun liat.” “Awalnya abangmu iri karena emak selalu netein kamu. Akhirnya badar minta juga ditetein. Jadi misalnya kamu dan kakakmu lagi sekolah, emak suka netein badar.”
“Ih bang badar, padahal dulu sering ngatain basun kalo netek sama emak. Ih dia netek juga.” “Ya maklum lah sun. Badar itu kan anak kesayangan bapakmu. Kemauannya gak bisa ditolak. Malah dulu bapakmu sama badar sering netek bareng sama emak dikamar emak.” “Hah? Bapak netek juga?” Ucapku kaget. “Ya iya sun. Bapakmu kalau lagi begituan sama emak ya suka juga netek. Nah kalau malem badar suka masuk kamar emak terus netek bareng2 sama bapakmu. Malah….” Kata-kata ibuku terhenti.
“Malah apa mak?” “Badar suka liatin kalau emak sama bapak lagi begituan dikamar.” “Hah? Kok bisa mak?” “Ya emak juga awalnya gak mau, risih sun.. Malu… Tapi bapakmu itu loh… Kalao abis netek suka kebablasan pengen ngewe, padahal abang masih diatas kasur. Jadi ya abangmu sering liat kalau emak lagi dinaikin bapak, kadang malah masih sambil netek liatinnya.”
“Kok bapak bolehin sih mak?” “Tau tuh bapakmu. Katanya gak apa-apa, biar badar sekalian belajar kalau udah kawin nanti katanya.” “Terus Mak?” “Ya abis bapakmu pergi keluar pulau, abangmu mulai minta yang aneh-aneh lah. Ya sama kayak kamu. Minta diisepin lah burungnya, dijepit pake tetek, nyiumin memek emak…”
“Tapi tadi basun liat, bang badar gesek-gesekin burungnya ke memek emak.. Kok basun gak pernah digituin mak.” Protes ku. “Maap sun.. Emak sebenernya gak mau digituin. Itu dulu awalnya sebelum abangmu kawin, dia pernah minta pengen ngewe sama emak. Katanya biar sekalian latihan, biar gak kaku sama istrinya nanti. Tapi emak gak mau. Akhirnya ya karena abanmu minta terus, Cuma emak gesek-gesekin aja burungnya badar ke memek emak.”
“Sering ya bang badar di gituin?” “Ya sampe dia kawin… Kadang kalau lagi main kerumah ya badar suka minta juga.”
“Tapi kok… Tadi… Emak keliatannya menikmati banget. Sampe mendesah-desah juga.” “Maklumin emak ya sun. Emak kan juga punya nafsu. Bapakmu udah lama gak pulang-pulang. Tiap hari ngurutin burung kamu. Ya tadi emak khilaf juga keenakan. Apalagi burung abangmu itu tebel banget.”
“Ya udah mak. Sini emak biar basun puasin lagi.” Ujarku semangat. “Hah?” Ibuku kaget
“Iya mak. Basun pengen juga digesek-gesek kayak bang badar tadi.” “Duh sun… Nanti aja yaa.. Emak udah capek banget tadi sama abangmu.” Mohon ibuku
“Tuh kan emak pilih kasih.. Emak emang gak sayang basun.” Ucapku sambil memalingkan muka. “Bukan gitu sun… Ya udah kamu makan nasi dulu nih. Emak biar istirahat sebentar, masih capek tadi jalan dari rumah kesini.” “Jadi boleh mak?” “Iya udah.. kamu makan dulu gih.” Ucap ibuku malu-malu.
Aku langsung memeluk ibuku yang mengenakan daster hitam berlengan pendek. Kutarik bagian leher daster itu kebawah sampai payudara ibuku terlihat. Dan seperti biasa, ibuku tidak pernah memakai BH.
“Basun netek aja deh mak. Lagi males makan nasi.” Ucapku lalu lanjut mengulum pentil susu ibuku yang sudah mulai menegang. Ibuku hanya pasrah lalu bersender ke dinding gubuk-gubukan disawah kami. Aku sangat haus karena hari ini sangat panas, kesedot sekuat mungkin pentil ibuku itu. Sebenernya masih tercium aroma keringat serta bau peju abangku yang begitu kuat. Bau keringat seorang laki-laki yang sangat apek karena tidak pernah memakai deodorant, serta bau pejunya yang mirip seperti bau bayclin. Apalagi membayangkan payudara ini juga habis disedot oleh abangku, sebenernya membuatku agak jijik. Tapi nafsuku sudah kadung tinggi sekali karena mengintip mereka tadi.
“Pelan-pelan sun.. Susu emak masih banyak kok.”
Aku kini menyedot pentil yang satunya. Sambil jari telunjuk dan jempolku memelintir-melintir pentil susu yang barusan kuhisap tadi. Melihat keringat yang jatuh dari leher ibuku membuatku ingin menjilatnya. Akhirnya kujilat leher ibuku sampai turun ke celah diantara kedua payudaranya. Tanpa sadar, posisi ibuku kini sudah berbaring dan aku ada diatasnya berlutut, menahan tubuhku agar tidak menindih ibuku. Posisi daster ibuku kini sudah turun hingga sepinggang. Aku lalu melepaskan kaosku dan menurunkan celanaku. Burungku yang sudah tegak langsung mengacung karena aku memang tidak memakai celana dalam.
“Mak… Langsung ya mak..” Ucapku sambil mengelus-elus batang zakarku yang bagian ujungnya sudah mulai basah oleh cairan precum ku sendiri. “Ati-ati ya sun.. Inget digesek-gesekin aja. Jangan dimasukin. Emak marah kalau kamu nakal.” “Iya mak..”
Aku lalu menarik daster emak ke bawah. Emak mengangkat pinggulnya agar aku lebih mudah melepasnya. Aku lalu menarik celana dalam ibuku hingga turun sepaha. Belahan vagina ibuku yang sudah gundul karena aku cukuri itu terlihat sudah basah. Aku lalu mengarahkan ujung kepala penisku ke area tesebut.
Brrrr….. Badanku merinding keenakan saat ujung kepala penisku menyentuh belahan vagina ibuku. Apalagi karena bibir vaginanya yang sudah agak menjulur keluar itu terasa menggelitik penisku. Kugesek penisku mulai dari ujung belahan paling bawah sampai paling atas lalu keperut ibuku. Kulihat wajah ibuku, dia hanya diam sambil menoleh-noleh kearah samping.
Kuarahkan kembali penisku ke belahan vaginanya, lalu mulai kugesek naik turun dengan perlahan.
“Sleess… Sleeess…”
Kepala penisku mulai terasa agak licin, selain dari precum ku sendiri, vagina ibuku juga mulai banyak keluar cairan. Gesekan kepala penisku pun jadi lebih mudah bergerak, Kumulai mempercepat tempo gesekanku. Naik turun, naik turun. Ibuku hanya melihat vaginanya yang kugesek dengan tatapan kosong dan khawatir.
Gesekan ku pun semakin cepat. Tanpa sadar aku mungkin jadi agak menekan kepala penisku. Ditambah lagi dengan vagina ibuku yang juga sudah agak melar, kini gesekan-gesekan kepala penisku jadi membelah dan membuka bibir vagina ibuku. Kalau ada setan lewat, mungkin aku bisa hilang akal dan langsung menusukan penisku ke vagina ibu. Vaginanya sudah sangat basah, penisku yang sedang sangat keras ini pasti dengan mudah bisa masuk. Tapi kucoba sekuat mungkin menahan nafsuku, aku tidak mau membuat ibu marah dan sedih jika aku melanggar janjiku. Aku terus memaju mundurkan pinggul ku agar penisku bisa menggesek vagina ibu.
Karena pegal, kuturunkan tubuhku kearah ibu tadi kutahan dengan tanganku hingga tidak menindihnya. Tapi diposisi ini jadi agak susah menggesekan penisku, akhirnya aku menggunakan satu tanganku untuk membantu mengarahkan penisku menggesek vagina ibu. Wajah ibuku tepat dibawah wajahku. Kami saling bertatapan dalam. Beberapa tetes keringat dari keningku jatuh ke wajah ibu. Nafas ibuku mulai cepat dan ngos-ngosan. Mulutnya terbuka untuk membantu bernafas.
Aku lalu mengumpulkan ludahku sebanyak yang aku bisa lalu mengeluarkannya kearah mulut ibuku. Tetesan air liurku jatuh dan masuk ke mulut ibu. Terus kukeluarkan liurku. Ibuku menerimanya dengan pasrah kemudian menutup mulutnya dan menelan semua air liurku yang ku berikan tadi. Ahh… Melihat ibuku melakukan hal tersebut dalam jarak sedekat ini rasanya begitu menggoda. Tanganku pegal juga harus menahan beban tubuhku, apalagi tanganku yang satunya lagi juga harus mengarahkan penisku sehingga aku hanya menahan tubuhku diatas ibu dengan satu tangan.
“Mak… Tangan basun pegel mak. Ganti posisi ya.” Ucapku sambil bangun mengambil posisi duduk. “Mau gimana sun?” Jawab ibuku juga sambil mengambil posisi duduk.
“Sambil nungging aja deh mak.” Ucapku sambil berdiri “Gimana caranya sun?” “Udah emak sini dlu deket basun.”
Ibuku lalu berjalan kearahku. “Emak sini nungging didepan basun. Basun gosokin memek emak dari belakang. “Ih kamu aneh-aneh aja deh. Ya udah.”
Ibuku lalu menungging dengan bertumpu pada kedua kaku dan tangannya didepanku. “Pantatnya agak dinaekin dikitmak. Burung basun gak nyampe nih.”
Ibuku lalu mengangkat sedikit pinggulnya. Akhirnya posisinya sudah pas, aku bia melihat vagina ibu yang sedang menungging. Aku lalu mengarahkan penisku kesana. Kumajukan badanku sampai penisku bersentuhan dengan bibir vaginanya. Tanganku memegang bokong ibuku lalu mulai melakukan gerakan menggesek. Posisi kami seperti orang yang “doggy style”
Aku lebih menikmati diposisi seperti ini. Rasanya lebih nikmat. Kupercepat gerakan pinggulku maju mundur. Penisku terus bergerak menggeseka dan makin meperlebar bukaan bibir vagina ibuku. Yang aku tak sangka, ibuku juga memaju-mundurkan pinggulnya. Perlahan-lahan memang, tapi gerakannya terasa. Karena gerakannya itu, penisku jadi menekan lebih dalam hingga hampir saja masuk ke vagina ibuku.
Lalu tiba-tiba ibuku menurunkan pinggulnya. Dan…. Jleeeb…
Kepala peniku amblas, masuk tenggelam di vagina ibuku. Aku terdiam. Sangat kaget. Pikiranku tiba-tiba terasa melayang, merasakan kepala penisku seperti dipijat-pijat oleh organ kewanitaan ibuku. Rasanya kepala penisku seperti dijepit-jepit sesuatu yang empuk, kenyal dan basah.
Ibuku menghentikan gerakan pinggulnya yang tadi maju mundur. Lalu menoleh kearahku. “Duh.. Maap sun.. Pinggang emak tadi pegel jadi gak sengaja mundur.” Ucap ibuku sambil berusaha untuk memajukan pinggulnya.
Tapi kutahan pantat ibuku dengan kedua tanganku. “Ehhh.. Biarin bentaran mak. Kan gak sengaja udah masuk. Basun pengen ngerasain bentaran.” “Duh sun… Kan kamu janji tadi gak masukin.”
“Kan tadi emak yang gak sengaja mundur sendiri. Udah terlanjur mak, Cuma ujungnya aja kok bentaran” “Ya udah, bentaran aja ya sun. Kamu juga jangan gerak-gerak, ntar masuk lagi.”
Ibuku akhirnya diam saja dalam posisi tersebut. Kenikmatan ini begitu hebat, Meski hanya kepala penisku saja yang masuk. Tapi akhirnya aku berhasil menyetubuhi ibuku sendiri. Sesuatu yang selalu aku nantikan ketika aku menyusu. Sesuatu yang selalu menjadi bayanganku ketika onani. Vagina ibuku rasanya mengempot-empot dan memijat kepala penisku. Sekuat tenaga aku berusaha agak tidak bergerak.
Hanya saja…. Dalam suasana hening diantara kami, ibuku kembali memaju-mundurkan pinggulnya perlahan.
“Sleeb… Sleeeb…”
Perlahan tapi pasti, batang zakarku makin tenggelam makin dalam ke vagina ibuku. Hingga tanpa sadar, kini setengah batang zakarku sudah masuk ke vaginanya. Kulihat ibu hanya memandangi kebawah tanpa berani menoleh kearahku. Ah… mungin ibu juga menginginkannya. Aku lalu mau memajukan pinggulku agar semua batang penisku bisa masuk, tapi tiba-tiba..
“Pluug..” Penisku mengondol keluar dari vagina ibu. Ibu mengangkat pinggulnya tiba-tiba hingga penisku keluar. Bercampur antara kaget dan keenakan, aku hanya terdiam.
“Udah ya sun.. Jangan keterusan..” “Eh.. enggg.. Iya mak..” Ucapku sambil garuk-garuk kepala.
Ah tanggung sekali. Padahal aku hampir saja bisa melampiaskan nafsu untuk menyetubuhi ibuku yang kupendam selama ini. Kepala penisku rasanya sudah nyut-nyutan menahan birahi yang hampir tuntas tadi.
Tanpa berkata apa-apa, ibu mengambil dasternya lalu mengenakannya.
“Emak pulang dulu ya sun.” Ucap ibuku singkat sambil langsung berjalan pergi meninggalkanku. “Eh.. Mak.. Mak…” Kupanggil ibuku tapi dia tidak menoleh dan terus berjalan. Waduh. Kenapa ini? Apa emak marah? Tapi kan karena dia sendiri penisku jadi masuk ke vaginanya tadi. Bagaimana aku harus menghadapi saat bertemu emak nanti dirumah? Lalu… bagaimana dengan penisku yang sudah ereksi ini? Sudah tanggung sekali, Masa aku kocok biar keluar sendiri?Setelah kejadian di ladang tersebut, beberapa hari ini ibu terasa seperti sedang menjaga jarak denganku. Kami hanya berbicara seadanya saja dan ibu biasanya tidak mau menatap wajahku saat berbicara. Bahkan kini ibu menolak untuk aku cumbui dan minta untuk menyusu. Alasannya dia sedanag capek atau apalah. Mungkin ibu marah denganku tapi aku tidak punya cukup keberanian juga untuk menanyakannya pada ibu.
Aku awalnya berpikiran bahwa ketika ibu sedang menghindariku seperti ini, dia tetap akan bercumbu dengan badar. Tapi sepertinya tidak. Pernah siang hari aku sengaja diam-diam pulang kerumah untuk mencoba mengintip lagi apa yang dilakukan ibu dan bang Badar. Tapi ternyata nasib abangku juga sama, ibu juga menolak saat bang badar mau menggerayanginya.
Ada lagi hal yang aneh. Akhir-akhir ini ibu entah kenapa jadi sering membeli mentimun. Dan pernah suatu pagi, saat ibu sudah bangun dari tidunya, aku menemukan sebuah mentimun dengan ukuran yang cukup besar di ranjang tempat ibu tidur. Saat aku pegang, mentimun itu sudah agak layu, mengkerut serta agak basah oleh sejenis lendir. Lendir yang wanginya sangat khas bagiku. Ini.. ini aroma yang sama seperti yang sering kucium dari vagina ibuku. Aroma kewanitaan yang sangat khas dan menggairahkan. Lalu kenapa mentimun ini bisa beraroma seperti itu? Apa ibu menggunakan mentimun ini untuk bermasturbasi?
****** Siang itu aku dan bang Badar pergi berladang bersama. Saat istirahat, kami duduk didalam gubuk sambil menunggu ibu membawakan makan siang.
“Sun… “ Tegur bang Badar sambil menghela asap rokok yang disedotnya. “Iya bang?”
“Burung lu masih suka diurutin gak sama emak?” Ucap Abangkun tiba-tiba. Kata-katanya membuatku kaget dan tidak bisa menjawab. “Eh.. Apaan bang?”
“Udah gak usah pura-pura sun. Gue tau semuanya kok. Emak udah cerita. Lu juga udah tau kan gue suka digituin juga sama emak?” “Enggg.. Iyaa bang.” Jawabku ragu.
“Maap ya sun gue gak pernah ngasih tau lu. Karena emak yang larang. Tapi ya sekarang kan kita udah sama-sama tahu. Jadi ya sekarang kita terbuka aja.” “Iya bang.”
“Eh tapi akhir-akhir ini emak selalu ngindar sama gue kalo mau gue gerayangin. Minta netek aja juga gak boleh sama emak. Lu digituin juga gak sun?” “I..Iya bang, sama.. Emak gak mau diapa2in beberapa hari ini.”
“Kenapa ya? Lu tau gak?” “Gak tahu bang.”
Aku tidak bisa bilang mungkin penyebab ini semua karena kejadian diladang itu. Penisku tidak sengaja sudah masuk ke kemaluan ibuku.
“Padahal gue kemari biar ada pelampiasan nafsu, bini gue males-malesan sun kalau diajak begituan. Eh sekarang emak malah begitu juga.” “Bang badar gak niat pulang?”
“Ntar dah. Gue masih berantem sama bini gue. Eh iya sun…” kata kata abangku terhenti. “Apaan bang?”
“Engg.. Lu udah pernah ngapain aja sun sama emak?” Pertanyaan bang Badar membuat jantungku terasa dipukul.
“Jujur aja sun sama gue.” Lanjut abangku. “Yaa.. gitu gitu aja bang.”
“Gitu aja gimana?” “Ya dikocokin. Disedot.. Digesek-gesekin aja.” “Sama lah ya sama gue. Elu gak pengen gituan apa sun sama emak?” “Eh.. Maksud abang?”
“Ya begituaan” Jawab abangku sambil menunjukan kode dengan menjepit jempol diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan abangku tersebut. Meski belum tuntas, tapi secara fisik aku sudah menyetubuhi ibu saat itu. Penisku sudah masuk ke liang senggama ibu. Dan jelas, hal ini tidak ada yang boleh mengetahuinya.
“Pengen gak sun?” Tanya abangku kembali. “Eh…. eng iya bang pengen.” “Gua juga pengen banget sun. Dari dulu malah. Gua udah sering banget liat emak sama bapak begituan didepan mata gue sendiri waktu dulu gue dipijitin burungnya. Eh sampe sekarang gak kesampean-kesampean. Paling banter Cuma gesek-gesek burung gue aja di memeknya emak.” “Eng.. Iya bang.”
“Padahal mah ya sun, kalau dipikir-pikir, apa bedanya sih. Kita udah macem-macem sampe kayak gini sama emak. Tinggal kurang masukin burung kita ke anunya emak, tapi emak tetep aja gak mau.” “Mungkin emak risih maa.. Kita kan anaknya sendiri. Masa kita masukin burung kita ke lobang tempat kita lahir dulu.”
“Ya iya sih sun.. Tapi apa bedanya kan sekarang? Kita udah ngelewatin batas hubungan antara ibu dan anak sejauh ini. Dan gue yakin, emak juga sebenernya pengen begituan sama kita.” “Hah? Pengen gimana maksud bang Badar?”
“Ya iyalah sun. Kalo lu lagi main sama emak, pasti emak juga nikmatin juga kan sampe emak puas. Dan gue yakin emak pasti pengen ngerasain burung yang masuk ke lobangnya. Kan bapak udah lama banget pergi gak pulang-pulang. Apalagi emak tuh nafsunya sebenernya gede banget sun. Dulu kalau sama bapak, mereka bisa begituan sampe berkali-kali dalam semalem.”
“Bener bang?” “Iya sun.. Gue kan liat sendiri. Sampe bapak tuh kadang kecapean ngimbangin emak. Dulu malah bapak pernah nyuruh gue buat begituan sama emak saking bapak udah capeknya, eh tapi emak gak mau.
Aku hanya bisa terbengong mendengar cerita itu semua.
“Sun.. Elu mau gak bantuin gue?” Tanya bang Badar memecah lamunanku. “Bantuin apaan bang?” “Bantuin gue biar bisa begituan sama emak?” “Ah gila lu bang! Kan emak sendiri bilang udah gak mau kalau sampe bersetubuh sama kita. Lu mau ngapain emang?” Jawabku geram.
“Ya kita paksa aja. Badan kita kan gede-gede, masa gak bisa ngadepain emak yang Cuma sendiri. “Bener sinting lu bang! Masa emak sendiri mau elu perkosa.” Bentakku dengan keras. Kutendang pacul yang ada didepanku sampai pegangan kayunya hampir mengenaik bang Badar. Lalu aku bangun dan pergi meninggalkan bang Badar.
“Awas lu bang kalau sampe berani macem-macem sama emak. Mending lu pulang sanah ke bini lu” Ucapku sambil menengokan kepala ke arah bang Badar. Bang badar hanya terdiam dan aku terus berjalan meninggalkan ladang.
Kalau boleh jujur, sebenarnya ide untuk memaksa ibu agar mau berhubungan intim denganku sudah sering terlintas dikepalaku. Hanya saja, ketika mendengarkan ide tadi keluar dari mulut bang Badar, rasanya aku jadi begitu marah. Aku tidak mau ibu diperlakukan seperti itu oleh bang Badar. Aku mau ibu hanya menjadi milikku seorang.
******* Sore harinya setelah berjalan-jalan tanpa tujuan, aku kembali ke rumah. Dirumah hanya ketemui Ibu yang sedang menampi berash. Ku tanyakan pada ibu apakah Bang badar sudah pulang. Kata ibu tadi bang Badar sudah pulang kerumah, tapi dia pergi lagi, katanya mau menginap dirumah kawan masa kecilnya dulu. Baguslah. Aku memang sangat tidak ingin bertemu dengan bang Badar sekarang. Aku langsung masuk kerumah untuk mandi, semoga juga emosiku terhadap bang Badar bisa ikut reda setelah diguyur air dingin nanti.
Saat keluar dari kamar mandi, kulihat ibuku sedang mencuci baju. Tempat mencuci kami memang tepat berada didepan kamar mandi. Aku langsung terhenyak melihat ibu yang hanya mengenakan kain batik yang dililitkan menutupi dari dada sampai ke lututnya. Apalagi kondisi ku yang juga hanya mengenakan handuk menutupi bawah perut sampai ke lutut. Birahiku langsung naik. Penis ku langsung menjadi tegak hingga berjendol sangat jelas dibalik handuk yang aku kenakan.
Posisi ibu memunggungiku. Aku lalu berjalan mendekatinya. Ketika tepat berada dibelakangnya, aku hanya berdiri. Memperhatikan pundak dan belahan payudara ibuku yang sedang berjongkok.
“Udah selesai mandi sun? Tanya ibu. Sepertinya dia menyadarai keberadaanku. “Eh iya mak.. Mak lagi nyuci? Mau basun bantuin gak? “Gak usah sun, kamu kan baru mandi, nanti kotor lagi. Ya udah kamu masuk sanah, tuh emak udah masakin ikan asin sama sayur asem buat makan siang.”
“Basun mau disini dulu mak, nemenin emak nyuci. Aku lalu membungkukan badanku dan menyentuh pundak ibuk dengan kedua belah tanganku. Lalu aku melakukan gerakan memijat-mijat dengan lembut. Lebih tepat mengusap-ngusap mungkin.
“Emak lagi capek sun.” Ucap ibuku sambil menepis tanganku dibahunya. “Ah emak.. Daridulu alesannya capek melulu. Basun udah gak tahan nih. Masa basun coli sendirian melulu.” Rengek ku. “Udah ah sun. Emak mau nyuci. Kamu makan sanah.” Jawab ibuku agak membentak.
Aku langsung kesal mendengar jawaban ibu yang ketus seperti itu. Langsung saja aku masuk kedalam rumah. Untuk berganti pakaian dan langsung tidur-tiduran di bale bambu diruang tengah karena aku yakin dikondisi seperti ini, ibu pasti tidak mengizinkanku untuk tidur bersamanya.
******* Tak terasa aku jadi tertidur pulas. Tengah malam aku terbangun karena ingin buang air kecil. Aku berjalan ke arah kamar mandi dibelakang rumah. Namun langkahku berhenti saat melewati kamar ibu karena mendengar suara berisik, seperti suara orang yang merintih-rintih. Akupun segera mengambil posisi dibalik pintu dan berusaha mengintip kedalam. Kamar ini memang terlihat gelap, tapi beruntunglah ada cahaya yang masuk dari lampu diluar sehingga aku tetap bisa melihat keseluruhan kondisi kamar.
Disana kulihat ibu sedang terbaring diranjangnya. Tapi sepertinya ibu belum tertidur. Tubuhnya tertutupi dengan kain batik yang tadi dipakainya saat mencuci, tapi kain itu sudah dilebarkannya hingga menjadi seperti selimut. Tubuh ibu telihat resah seperti sedang menahan sesuatu. Badannya bergerak ke kanan kiri dan kakinya bergerak naik turun tak karuan. Aku bisa melihat pundak dan wajah ibu mengkilat karena pantulan sinar lampu yang menyinari keringatnya.
Kemudian tangan kanan ibu seperti berusaha untuk menggapai sesuatu didalam plastik kresek hitam yang ada meja kecil disamping ranjang. Dan ternyata apa yang diambilnya? Mentimun! Mentimun yang hijau dan besar, ukurannya lebih besar dari penisku saat sedang ereksi. Lalu dengan perlahan, ibu menarik keatas kain batiknya. Ternyata ibu tidak memakai celana dalam. Aku bisa melihat vagina ibu yang berkilau karena sudah sangat basah.
Perlahan mentimun yang ada digenggaman ibu diarahkan ke liang vaginanya sendiri. Wajah ibu mengernyit, seperti menahan antara rasa sakit dan kenikmatan. Ibu mulai menekannya lebih kuat hingga kinu ujung mentimun tersubut sudah masuk kedalam vagina ibu. Perlahan, lambat tapi pasti kini setengah mentimun tersebut sudah amblas masuk. Kemudian ibu melakukan gerakan memutar dan memaju mundurkan mentimun tersebut. Aku bisa mendengar suara helaan nafas ibuku yang menjadi sangat berat disertai dengan sedikit rintihan keenakan. Ya Tuhan.. ternyata selama ini ibuku bermasturbasi dengan mentimun.. Kenapa aku baru menyadarinya..
******** Balas Dengan Quote Balas Dengan Quote 28 July 2014, 12:00 AM #335 kotaro13 kotaro13 is online now Semprot Baru UG - FR
Daftar Aug 2011 Posts 38 Thanks 0 Thanked 14 Times in 1 Post THREAD STARTER Lanjutan lagiii… Tanpa menyadari bahwa perbuatan memuaskan birahinya sedang dilihat oleh anaknya sendiri, ibuku terus “bermain-main” dengan mentimun tersebut. Gerakan ibuku sudah tidakm karuan hingga kain yang tadi menutupi badannya sudah jatuh ke lantai dan kini dirinya sudah telanjang tanpa tertutup apapun.
Sesekali ibu meremas-remas payudaranya sendiri, memelintir ujung puting susunya dengan jari, lalu menjilat dan menggigit puting susunya sendiri. Payudara ibu memang cukup besar hingga dia bisa menghisap putingnya sendiri seperti itu. Dan mentimun itu, kini hanya tinggal ujungnya saja yang belum masuk ke vagina ibu. Kelakuan ibu sangat liar, aku tidak menyangka ibu bisa melakukan hal seperti ini.
Melihat pemandangan tersebut, nafsuku langsung naik ke ubun-ubun. Awalnya aku sudah menurunkan celana kolorku dan berniat onani sambil melihat ibuku, tapi aku terpikirkan sesuatu yang lebih menarik. Perlahan aku merangkak mengendap-endap masuk kekamar ibu. Aku bersembunyi disamping ranjang. Sepertinya ibu sedang keenakan dan tidak menyadari keberadaanku. Aku bisa semakin jelas mendengar racaun ibu yang sedang menahan nikmat. Aku mencoba mengintip dengan sedikit berlutut. Kulihat mata ibu terpejam sambil menggigit bibirnya sendiri.
Ini saat yang tepat. Aku langsung berdiri dan kemudian dengan cepat langsung melompat keatas ibuku yang sedang berbaring dan menindih sambil memeluknya dengan erat. Bibirku langsung melumat bibir ibuku dan memain-mainkan lidahku didalam mulut ibu. Tanganku dengan ganas meremas payudara ibuku.
Ibuku yang tadi sedang memacu birahinya sendiri sepertinya baru menyadari kondisinya. Dia membuka matanya dan terbelalak ketika menatapku. Dia berusaha untuk melepaskan bibirku tapi aku semakin kuat melumat bibirnya. Kedua tanganku berusaha menahan tangan ibu yang mencoba mendorong tubuhku. Ibu bergerak berontak ke kanan dan kekiri. Tapi tenaga dan tubuhku yang lebih besar bisa menahannya.
“Hummpff.. Hummpf..” Ibuku mencoba berteriak tapi tertahan oleh mulutku yang menutupi mulutnya.
Aku menggesek-gesakan penisku yang sudah tegak ke perut ibu. Setelah beberapa saat sepertinya ibu agak lelah, perlawanannya jadi sedikit melemah. Langsung kepeluk erat tubuh ibuku, lalu tanganku menjamah daerah kemaluan ibuku lalu mengorek-ngorek lian vaginanya, berusaha mengeluarkan mentimun tadi yang masih bercokol disana.
Kulepaskan pagutan bibirku lalu dengan perlahan aku berbisik, “Kalau pengen jangan pakai beginian mak, kan ada punya basun.” “Sun… Lepasin emak sun..”
“Emak lagi sange kan? Pengen begituan kan? Basun juga pengen banget mak..” “Jangan sun.. Jangan… Ini emakmu…. Aaaaaaah…”
Aku memasukan jari-jariku lebih dalam kedalam liang vagina ibu. Kuubek-ubek sampai kini tanganku sudah basah dengan cairan lengket nan pekat yang keluar dari vagina ibu. “Pluup…”
Akhirnya mentimun itu berhasil aku congkel keluar dari vagina ibu, Mentimun itu sudah basah kuyup dengan cairan ibu dan jatuh kelantai. Tubuh ibuku menggelinjang, sepertinya karena mentimun tadi keluar, dia sudah mencapai puncak nikmatnya.
“Nah mentimunnya udah ma.. Sekarang giliran basun ya” “Sun.. Jangan sun! Jangan!” Teriak ibuku.
Aku langsung mencumbui bibir ibuku kembali agar dia berhenti berteriak dan kuarahkan batang zakarku ke liang peranakan ibu. Ibuku berusaha melawan dengan merapatkan kedua pahanya. Dengan kasar, kutarik paha ibuku agar terbuka lalu langsung kusodokkan penisku kesana. Vagina ibuku yang sudah sangat basah dan licin membuat penisku meleset dan tidak berhasil masuk. Akhirnya aku buka bibir vagina ibuku dengan tanganku dan coba kumasukan kembali penisku, dan…
“Bleesss…” Seluruh batang penisku langsung ambles masuk ke vagina ibu. Mungkin ini karena vagina ibu sudah sangat basah dan licin, ditambah sudah longgar terbuka karena dimasukkan mentimun tadi. Tubuh ibuku kembali menggelinjang. Sepertinya dia langsung mencapai orgasme karena batang zakarku yang tiba-tiba langsung masuk seluruhnya tadi.
“Gimana mak? Enak kan?” “Sun…Argh.. Sun.. Jangan sun.. Jangan perkosa emak.. Arghh..” Jawab ibuku dengan nafasnya yang masih memburu. “Basun bakal puasin emak.. Emak gak perlu pake mentimun lagi.”
Kemudian aku langsung menyedot puting payudara ibuku. Susu ibuku mengalir membasahi tenggorokanku yang kering. Ah sudah lama sekali aku tidak menyedot susu ibuku. Rasanya begitu gurih dan nikmat. Membuat birahuiku semakin naik.
“Mak.. Basun kangen banget netek sama emak.” Ucapku sambil langsung meneruskan menyedot payudara ibuku. Ibuku tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyeringai seperti sedang menahan kenikmatan. Kulihat matanya berkaca-kaca.
Dibawah, batang zakarku terus memompa vagina ibu. Ku maju mundurkan dengan cepat, sesekali rasanya kepala penisku terasa mentok dan menyentuh ujung rahim ibuku. Kupacu terus penisku dengan cepat, nafsuku sudah diujung. Aku ingin segara mencapai puncak kenikmatan didalam vagina ibu yang hangat ini.
Suasanya kamar menjadi begitu panas. Tubuh kami berdua sudah basah dengan keringat. Kujilati keringat yang menetes dari dagu ibuku dan terus ke bagian dadanya. Lalu kujilati juga ketiak ibuku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tercium bau sedikit masam, tapi ini malah semakin membuatku bernafsu.
Perlahan kurasakan ibu seperti menggoyang-goyangkan pinggulnya, membuat penisku didalam vagina jadi semakin nikmat. Ditambah dengan gerakan dinding vagina ibuku yang mengempot-empot penisku. Mungkin ini yang disebut-sebut orang empot ayam. Kupercepat ritme sodokan penisku. Kurasakan kantong zakarku berkedut-kedut. Kudorong penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang peranakan ibuku dan…
“Crot.. Crot.. Crot.. Crot..”
Air maniku tumpah sangat banyak, maklum sudah beberapa hari nafsuku tertahan. Karena sodokan penisku yang sangat dalam tadi, aku yakin air maniku sampai ke rahim ibuku. Aku masih memajukan penisku yang mulai agar loyo dengan perlahan agar air maniku tuntas keluar semua. Kurasakan air maniku yang baruan tadi membasahai penisku sendiri hingga terasa hangat.
“Aah.. Enak bener mak.. Basun puas banget.” “Sun.. Kamu kenapa ngencrit didalam memek emak sun? Emak bisa hamil sama kamu.” “Maap mak.. Basun udah gak tahan. Udah diujung.”
Aku berusaha menarik keluar penisku dari vagina ibu, lalu tiba-tiba saja ibu menahan pantatku. “Suun.. masih bisa disodok-sodokin lagi sebentar gak burungmu? Emak dikit lagi sampe sun.” “I..Iya mak.. Bisa..”
Kusodokan kembali penisku dan sekuat tenaga kugerakan maju mundur. Karena baru saja ejakulasi sangat banyak tadi, penisku jadi tidak bisa tegang sepenuhnya tapi masih bisa ereksi walau tidak terlalu keras. Kesodok terus vagina ibuku sambil mulutku menyedot payudara ibu dan memainkan putingnya yang satu lagi dengan jariku.
Ibuku lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat. Badannya bergetar dan.. “cur..cur..” Penisku terasa seperti disiram cairan hangat didalam vagina ibuku. Ibu memaju mundurkan pinggulnya agar penisku bisa masuk lebih dalam. “Aahhh.. emak udah sampe sun.. Enak sun..”
Perlahan ibu melepaskan pelukannya. Penisku yang sudah layu akhirnya dengan sendirinya mencelat keluar dari vagina ibu. Kulihat setelah penisku keluar, cairan spermaku juga ikut menetes keluar. Lumayan banyak hingga menetes dan berceceran diseprai kasur. Ibuku lalu mengambi kainnya yang tercecer tadi dan mengelap vaginanya. Ibu kemudian langsung berdiri dan menutupi tubunya dari dada sampai paha dengan kain tersebut.
“Kamu udah puas kan sun?” Udah sekarang kamu tidur sana diluar.Jangan diulangin ya sun” Ucap ibuku dengan muka agak kesal. “Kamu udah perkosa emak kamu sendiri. Emak bisa hamil, apa kata orang kalau tahu.” Lanjut ibuku sambil berlalu kearah kamar mandi.
Aku masih terbengong-bengong. Emak sepertinya masih marah padaku, tapi bukankah tadi dia juga menikmatinya dan malah menyuruhku meneruskan menyetubuhinya setelah aku ejakulasi?
Ah sudahlah.. Yang penting nafsuku sudah tuntas. Aku berhasil berhubungan badan selayaknya suami istri dengan ibuku sendiri sampai tuntas, bahkan keluar didalam vaginanya. Aku yakin setelah ini akan ada kembali jalan untuk menyetubuhi ibuku. Mungkin aku perlu membeli kondom agar ibuku tidak hamil, bisa gawat bila ibu hamil sedangan bapakku tidak ada. Aku kemudian kembali ke ruang tengah dan membaringkan tubuhku yang sudah lelah dibale bambu.
Pergumulan dengan ibu tadi sungguh dahsyat, penisku jadi sedikit kembali ereksi saat membayangkan apa yang baru saja terjadi. Tapi mataku sudah sangat berat. Lebih baik aku segera tidur, menyimpan tenagaku untuk kembali memacu birahi dengan ibuku sendiri di kemudian hari.dari pada nunggu kelamaan ..nih crita lancrotannya selamat menikmati..
Setelah kejadian di ladang tersebut, beberapa hari ini ibu terasa seperti sedang menjaga jarak denganku. Kami hanya berbicara seadanya saja dan ibu biasanya tidak mau menatap wajahku saat berbicara. Bahkan kini ibu menolak untuk aku cumbui dan minta untuk menyusu. Alasannya dia sedanag capek atau apalah. Mungkin ibu marah denganku tapi aku tidak punya cukup keberanian juga untuk menanyakannya pada ibu. Aku awalnya berpikiran bahwa ketika ibu sedang menghindariku seperti ini, dia tetap akan bercumbu dengan badar. Tapi sepertinya tidak. Pernah siang hari aku sengaja diam-diam pulang kerumah untuk mencoba mengintip lagi apa yang dilakukan ibu dan bang Badar. Tapi ternyata nasib abangku juga sama, ibu juga menolak saat bang badar mau menggerayanginya. Ada lagi hal yang aneh. Akhir-akhir ini ibu entah kenapa jadi sering membeli mentimun. Dan pernah suatu pagi, saat ibu sudah bangun dari tidunya, aku menemukan sebuah mentimun dengan ukuran yang cukup besar di ranjang tempat ibu tidur. Saat aku pegang, mentimun itu sudah agak layu, mengkerut serta agak basah oleh sejenis lendir. Lendir yang wanginya sangat khas bagiku. Ini.. ini aroma yang sama seperti yang sering kucium dari vagina ibuku. Aroma kewanitaan yang sangat khas dan menggairahkan. Lalu kenapa mentimun ini bisa beraroma seperti itu? Apa ibu menggunakan mentimun ini untuk bermasturbasi? ****** Siang itu aku dan bang Badar pergi berladang bersama. Saat istirahat, kami duduk didalam gubuk sambil menunggu ibu membawakan makan siang. “Sun… “ Tegur bang Badar sambil menghela asap rokok yang disedotnya. “Iya bang?” “Burung lu masih suka diurutin gak sama emak?” Ucap Abangkun tiba- tiba. Kata-katanya membuatku kaget dan tidak bisa menjawab. “Eh.. Apaan bang?” “Udah gak usah pura-pura sun. Gue tau semuanya kok. Emak udah cerita. Lu juga udah tau kan gue suka digituin juga sama emak?” “Enggg.. Iyaa bang.” Jawabku ragu. “Maap ya sun gue gak pernah ngasih tau lu. Karena emak yang larang. Tapi ya sekarang kan kita udah sama-sama tahu. Jadi ya sekarang kita terbuka aja.” “Iya bang.” “Eh tapi akhir-akhir ini emak selalu ngindar sama gue kalo mau gue gerayangin. Minta netek aja juga gak boleh sama emak. Lu digituin juga gak sun?” “I..Iya bang, sama.. Emak gak mau diapa2in beberapa hari ini.” “Kenapa ya? Lu tau gak?” “Gak tahu bang.” Aku tidak bisa bilang mungkin penyebab ini semua karena kejadian diladang itu. Penisku tidak sengaja sudah masuk ke kemaluan ibuku. “Padahal gue kemari biar ada pelampiasan nafsu, bini gue males- malesan sun kalau diajak begituan. Eh sekarang emak malah begitu juga.” “Bang badar gak niat pulang?” “Ntar dah. Gue masih berantem sama bini gue. Eh iya sun…” kata kata abangku terhenti. “Apaan bang?” “Engg.. Lu udah pernah ngapain aja sun sama emak?” Pertanyaan bang Badar membuat jantungku terasa dipukul. “Jujur aja sun sama gue.” Lanjut abangku. “Yaa.. gitu gitu aja bang.” “Gitu aja gimana?” “Ya dikocokin. Disedot.. Digesek- gesekin aja.” “Sama lah ya sama gue. Elu gak pengen gituan apa sun sama emak?” “Eh.. Maksud abang?” “Ya begituaan” Jawab abangku sambil menunjukan kode dengan menjepit jempol diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan abangku tersebut. Meski belum tuntas, tapi secara fisik aku sudah menyetubuhi ibu saat itu. Penisku sudah masuk ke liang senggama ibu. Dan jelas, hal ini tidak ada yang boleh mengetahuinya. “Pengen gak sun?” Tanya abangku kembali. “Eh…. eng iya bang pengen.” “Gua juga pengen banget sun. Dari dulu malah. Gua udah sering banget liat emak sama bapak begituan didepan mata gue sendiri waktu dulu gue dipijitin burungnya. Eh sampe sekarang gak kesampean-kesampean. Paling banter Cuma gesek-gesek burung gue aja di memeknya emak.” “Eng.. Iya bang.” “Padahal mah ya sun, kalau dipikir- pikir, apa bedanya sih. Kita udah macem-macem sampe kayak gini sama emak. Tinggal kurang masukin burung kita ke anunya emak, tapi emak tetep aja gak mau.” “Mungkin emak risih maa.. Kita kan anaknya sendiri. Masa kita masukin burung kita ke lobang tempat kita lahir dulu.” “Ya iya sih sun.. Tapi apa bedanya kan sekarang? Kita udah ngelewatin batas hubungan antara ibu dan anak sejauh ini. Dan gue yakin, emak juga sebenernya pengen begituan sama kita.” “Hah? Pengen gimana maksud bang Badar?” “Ya iyalah sun. Kalo lu lagi main sama emak, pasti emak juga nikmatin juga kan sampe emak puas. Dan gue yakin emak pasti pengen ngerasain burung yang masuk ke lobangnya. Kan bapak udah lama banget pergi gak pulang-pulang. Apalagi emak tuh nafsunya sebenernya gede banget sun. Dulu kalau sama bapak, mereka bisa begituan sampe berkali-kali dalam semalem.” “Bener bang?” “Iya sun.. Gue kan liat sendiri. Sampe bapak tuh kadang kecapean ngimbangin emak. Dulu malah bapak pernah nyuruh gue buat begituan sama emak saking bapak udah capeknya, eh tapi emak gak mau. Aku hanya bisa terbengong mendengar cerita itu semua. “Sun.. Elu mau gak bantuin gue?” Tanya bang Badar memecah lamunanku. “Bantuin apaan bang?” “Bantuin gue biar bisa begituan sama emak?” “Ah gila lu bang! Kan emak sendiri bilang udah gak mau kalau sampe bersetubuh sama kita. Lu mau ngapain emang?” Jawabku geram. “Ya kita paksa aja. Badan kita kan gede-gede, masa gak bisa ngadepain emak yang Cuma sendiri. “Bener sinting lu bang! Masa emak sendiri mau elu perkosa.” Bentakku dengan keras. Kutendang pacul yang ada didepanku sampai pegangan kayunya hampir mengenaik bang Badar. Lalu aku bangun dan pergi meninggalkan bang Badar. “Awas lu bang kalau sampe berani macem-macem sama emak. Mending lu pulang sanah ke bini lu” Ucapku sambil menengokan kepala ke arah bang Badar. Bang badar hanya terdiam dan aku terus berjalan meninggalkan ladang. Kalau boleh jujur, sebenarnya ide untuk memaksa ibu agar mau berhubungan intim denganku sudah sering terlintas dikepalaku. Hanya saja, ketika mendengarkan ide tadi keluar dari mulut bang Badar, rasanya aku jadi begitu marah. Aku tidak mau ibu diperlakukan seperti itu oleh bang Badar. Aku mau ibu hanya menjadi milikku seorang. ******* Sore harinya setelah berjalan-jalan tanpa tujuan, aku kembali ke rumah. Dirumah hanya ketemui Ibu yang sedang menampi berash. Ku tanyakan pada ibu apakah Bang badar sudah pulang. Kata ibu tadi bang Badar sudah pulang kerumah, tapi dia pergi lagi, katanya mau menginap dirumah kawan masa kecilnya dulu. Baguslah. Aku memang sangat tidak ingin bertemu dengan bang Badar sekarang. Aku langsung masuk kerumah untuk mandi, semoga juga emosiku terhadap bang Badar bisa ikut reda setelah diguyur air dingin nanti. Saat keluar dari kamar mandi, kulihat ibuku sedang mencuci baju. Tempat mencuci kami memang tepat berada didepan kamar mandi. Aku langsung terhenyak melihat ibu yang hanya mengenakan kain batik yang dililitkan menutupi dari dada sampai ke lututnya. Apalagi kondisi ku yang juga hanya mengenakan handuk menutupi bawah perut sampai ke lutut. Birahiku langsung naik. Penis ku langsung menjadi tegak hingga berjendol sangat jelas dibalik handuk yang aku kenakan. Posisi ibu memunggungiku. Aku lalu berjalan mendekatinya. Ketika tepat berada dibelakangnya, aku hanya berdiri. Memperhatikan pundak dan belahan payudara ibuku yang sedang berjongkok. “Udah selesai mandi sun? Tanya ibu. Sepertinya dia menyadarai keberadaanku. “Eh iya mak.. Mak lagi nyuci? Mau basun bantuin gak? “Gak usah sun, kamu kan baru mandi, nanti kotor lagi. Ya udah kamu masuk sanah, tuh emak udah masakin ikan asin sama sayur asem buat makan siang.” “Basun mau disini dulu mak, nemenin emak nyuci. Aku lalu membungkukan badanku dan menyentuh pundak ibuk dengan kedua belah tanganku. Lalu aku melakukan gerakan memijat-mijat dengan lembut. Lebih tepat mengusap-ngusap mungkin. “Emak lagi capek sun.” Ucap ibuku sambil menepis tanganku dibahunya. “Ah emak.. Daridulu alesannya capek melulu. Basun udah gak tahan nih. Masa basun coli sendirian melulu.” Rengek ku. “Udah ah sun. Emak mau nyuci. Kamu makan sanah.” Jawab ibuku agak membentak. Aku langsung kesal mendengar jawaban ibu yang ketus seperti itu. Langsung saja aku masuk kedalam rumah. Untuk berganti pakaian dan langsung tidur-tiduran di bale bambu diruang tengah karena aku yakin dikondisi seperti ini, ibu pasti tidak mengizinkanku untuk tidur bersamanya. ******* Tak terasa aku jadi tertidur pulas. Tengah malam aku terbangun karena ingin buang air kecil. Aku berjalan ke arah kamar mandi dibelakang rumah. Namun langkahku berhenti saat melewati kamar ibu karena mendengar suara berisik, seperti suara orang yang merintih-rintih. Akupun segera mengambil posisi dibalik pintu dan berusaha mengintip kedalam. Kamar ini memang terlihat gelap, tapi beruntunglah ada cahaya yang masuk dari lampu diluar sehingga aku tetap bisa melihat keseluruhan kondisi kamar. Disana kulihat ibu sedang terbaring diranjangnya. Tapi sepertinya ibu belum tertidur. Tubuhnya tertutupi dengan kain batik yang tadi dipakainya saat mencuci, tapi kain itu sudah dilebarkannya hingga menjadi seperti selimut. Tubuh ibu telihat resah seperti sedang menahan sesuatu. Badannya bergerak ke kanan kiri dan kakinya bergerak naik turun tak karuan. Aku bisa melihat pundak dan wajah ibu mengkilat karena pantulan sinar lampu yang menyinari keringatnya. Kemudian tangan kanan ibu seperti berusaha untuk menggapai sesuatu didalam plastik kresek hitam yang ada meja kecil disamping ranjang. Dan ternyata apa yang diambilnya? Mentimun! Mentimun yang hijau dan besar, ukurannya lebih besar dari penisku saat sedang ereksi. Lalu dengan perlahan, ibu menarik keatas kain batiknya. Ternyata ibu tidak memakai celana dalam. Aku bisa melihat vagina ibu yang berkilau karena sudah sangat basah. Perlahan mentimun yang ada digenggaman ibu diarahkan ke liang vaginanya sendiri. Wajah ibu mengernyit, seperti menahan antara rasa sakit dan kenikmatan. Ibu mulai menekannya lebih kuat hingga kinu ujung mentimun tersubut sudah masuk kedalam vagina ibu. Perlahan, lambat tapi pasti kini setengah mentimun tersebut sudah amblas masuk. Kemudian ibu melakukan gerakan memutar dan memaju mundurkan mentimun tersebut. Aku bisa mendengar suara helaan nafas ibuku yang menjadi sangat berat disertai dengan sedikit rintihan keenakan. Ya Tuhan.. ternyata selama ini ibuku bermasturbasi dengan mentimun.. Kenapa aku baru menyadarinya.. Tanpa menyadari bahwa perbuatan memuaskan birahinya sedang dilihat oleh anaknya sendiri, ibuku terus “bermain-main” dengan mentimun tersebut. Gerakan ibuku sudah tidakm karuan hingga kain yang tadi menutupi badannya sudah jatuh ke lantai dan kini dirinya sudah telanjang tanpa tertutup apapun. Sesekali ibu meremas-remas payudaranya sendiri, memelintir ujung puting susunya dengan jari, lalu menjilat dan menggigit puting susunya sendiri. Payudara ibu memang cukup besar hingga dia bisa menghisap putingnya sendiri seperti itu. Dan mentimun itu, kini hanya tinggal ujungnya saja yang belum masuk ke vagina ibu. Kelakuan ibu sangat liar, aku tidak menyangka ibu bisa melakukan hal seperti ini. Melihat pemandangan tersebut, nafsuku langsung naik ke ubun- ubun. Awalnya aku sudah menurunkan celana kolorku dan berniat onani sambil melihat ibuku, tapi aku terpikirkan sesuatu yang lebih menarik. Perlahan aku merangkak mengendap-endap masuk kekamar ibu. Aku bersembunyi disamping ranjang. Sepertinya ibu sedang keenakan dan tidak menyadari keberadaanku. Aku bisa semakin jelas mendengar racaun ibu yang sedang menahan nikmat. Aku mencoba mengintip dengan sedikit berlutut. Kulihat mata ibu terpejam sambil menggigit bibirnya sendiri. Ini saat yang tepat. Aku langsung berdiri dan kemudian dengan cepat langsung melompat keatas ibuku yang sedang berbaring dan menindih sambil memeluknya dengan erat. Bibirku langsung melumat bibir ibuku dan memain- mainkan lidahku didalam mulut ibu. Tanganku dengan ganas meremas payudara ibuku. Ibuku yang tadi sedang memacu birahinya sendiri sepertinya baru menyadari kondisinya. Dia membuka matanya dan terbelalak ketika menatapku. Dia berusaha untuk melepaskan bibirku tapi aku semakin kuat melumat bibirnya. Kedua tanganku berusaha menahan tangan ibu yang mencoba mendorong tubuhku. Ibu bergerak berontak ke kanan dan kekiri. Tapi tenaga dan tubuhku yang lebih besar bisa menahannya. “Hummpff.. Hummpf..” Ibuku mencoba berteriak tapi tertahan oleh mulutku yang menutupi mulutnya. Aku menggesek-gesakan penisku yang sudah tegak ke perut ibu. Setelah beberapa saat sepertinya ibu agak lelah, perlawanannya jadi sedikit melemah. Langsung kepeluk erat tubuh ibuku, lalu tanganku menjamah daerah kemaluan ibuku lalu mengorek-ngorek lian vaginanya, berusaha mengeluarkan mentimun tadi yang masih bercokol disana. Kulepaskan pagutan bibirku lalu dengan perlahan aku berbisik, “Kalau pengen jangan pakai beginian mak, kan ada punya basun.” “Sun… Lepasin emak sun..” “Emak lagi sange kan? Pengen begituan kan? Basun juga pengen banget mak..” “Jangan sun.. Jangan… Ini emakmu…. Aaaaaaah…” Aku memasukan jari-jariku lebih dalam kedalam liang vagina ibu. Kuubek-ubek sampai kini tanganku sudah basah dengan cairan lengket nan pekat yang keluar dari vagina ibu. “Pluup…” Akhirnya mentimun itu berhasil aku congkel keluar dari vagina ibu, Mentimun itu sudah basah kuyup dengan cairan ibu dan jatuh kelantai. Tubuh ibuku menggelinjang, sepertinya karena mentimun tadi keluar, dia sudah mencapai puncak nikmatnya. “Nah mentimunnya udah ma.. Sekarang giliran basun ya” “Sun.. Jangan sun! Jangan!” Teriak ibuku. Aku langsung mencumbui bibir ibuku kembali agar dia berhenti berteriak dan kuarahkan batang zakarku ke liang peranakan ibu. Ibuku berusaha melawan dengan merapatkan kedua pahanya. Dengan kasar, kutarik paha ibuku agar terbuka lalu langsung kusodokkan penisku kesana. Vagina ibuku yang sudah sangat basah dan licin membuat penisku meleset dan tidak berhasil masuk. Akhirnya aku buka bibir vagina ibuku dengan tanganku dan coba kumasukan kembali penisku, dan… “Bleesss…” Seluruh batang penisku langsung ambles masuk ke vagina ibu. Mungkin ini karena vagina ibu sudah sangat basah dan licin, ditambah sudah longgar terbuka karena dimasukkan mentimun tadi. Tubuh ibuku kembali menggelinjang. Sepertinya dia langsung mencapai orgasme karena batang zakarku yang tiba-tiba langsung masuk seluruhnya tadi. “Gimana mak? Enak kan?” “Sun…Argh.. Sun.. Jangan sun.. Jangan perkosa emak.. Arghh..” Jawab ibuku dengan nafasnya yang masih memburu. “Basun bakal puasin emak.. Emak gak perlu pake mentimun lagi.” Kemudian aku langsung menyedot puting payudara ibuku. Susu ibuku mengalir membasahi tenggorokanku yang kering. Ah sudah lama sekali aku tidak menyedot susu ibuku. Rasanya begitu gurih dan nikmat. Membuat birahuiku semakin naik. “Mak.. Basun kangen banget netek sama emak.” Ucapku sambil langsung meneruskan menyedot payudara ibuku. Ibuku tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyeringai seperti sedang menahan kenikmatan. Kulihat matanya berkaca-kaca. Dibawah, batang zakarku terus memompa vagina ibu. Ku maju mundurkan dengan cepat, sesekali rasanya kepala penisku terasa mentok dan menyentuh ujung rahim ibuku. Kupacu terus penisku dengan cepat, nafsuku sudah diujung. Aku ingin segara mencapai puncak kenikmatan didalam vagina ibu yang hangat ini. Suasanya kamar menjadi begitu panas. Tubuh kami berdua sudah basah dengan keringat. Kujilati keringat yang menetes dari dagu ibuku dan terus ke bagian dadanya. Lalu kujilati juga ketiak ibuku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tercium bau sedikit masam, tapi ini malah semakin membuatku bernafsu. Perlahan kurasakan ibu seperti menggoyang-goyangkan pinggulnya, membuat penisku didalam vagina jadi semakin nikmat. Ditambah dengan gerakan dinding vagina ibuku yang mengempot-empot penisku. Mungkin ini yang disebut-sebut orang empot ayam. Kupercepat ritme sodokan penisku. Kurasakan kantong zakarku berkedut-kedut. Kudorong penisku sedalam- dalamnya ke dalam liang peranakan ibuku dan… “Crot.. Crot.. Crot.. Crot..” Air maniku tumpah sangat banyak, maklum sudah beberapa hari nafsuku tertahan. Karena sodokan penisku yang sangat dalam tadi, aku yakin air maniku sampai ke rahim ibuku. Aku masih memajukan penisku yang mulai agar loyo dengan perlahan agar air maniku tuntas keluar semua. Kurasakan air maniku yang baruan tadi membasahai penisku sendiri hingga terasa hangat. “Aah.. Enak bener mak.. Basun puas banget.” “Sun.. Kamu kenapa ngencrit didalam memek emak sun? Emak bisa hamil sama kamu.” “Maap mak.. Basun udah gak tahan. Udah diujung.” Aku berusaha menarik keluar penisku dari vagina ibu, lalu tiba- tiba saja ibu menahan pantatku. “Suun.. masih bisa disodok- sodokin lagi sebentar gak burungmu? Emak dikit lagi sampe sun.” “I..Iya mak.. Bisa..” Kusodokan kembali penisku dan sekuat tenaga kugerakan maju mundur. Karena baru saja ejakulasi sangat banyak tadi, penisku jadi tidak bisa tegang sepenuhnya tapi masih bisa ereksi walau tidak terlalu keras. Kesodok terus vagina ibuku sambil mulutku menyedot payudara ibu dan memainkan putingnya yang satu lagi dengan jariku. Ibuku lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat. Badannya bergetar dan.. “cur..cur..” Penisku terasa seperti disiram cairan hangat didalam vagina ibuku. Ibu memaju mundurkan pinggulnya agar penisku bisa masuk lebih dalam. “Aahhh.. emak udah sampe sun.. Enak sun..” Perlahan ibu melepaskan pelukannya. Penisku yang sudah layu akhirnya dengan sendirinya mencelat keluar dari vagina ibu. Kulihat setelah penisku keluar, cairan spermaku juga ikut menetes keluar. Lumayan banyak hingga menetes dan berceceran diseprai kasur. Ibuku lalu mengambi kainnya yang tercecer tadi dan mengelap vaginanya. Ibu kemudian langsung berdiri dan menutupi tubunya dari dada sampai paha dengan kain tersebut. “Kamu udah puas kan sun?” Udah sekarang kamu tidur sana diluar.Jangan diulangin ya sun” Ucap ibuku dengan muka agak kesal. “Kamu udah perkosa emak kamu sendiri. Emak bisa hamil, apa kata orang kalau tahu.” Lanjut ibuku sambil berlalu kearah kamar mandi. Aku masih terbengong-bengong. Emak sepertinya masih marah padaku, tapi bukankah tadi dia juga menikmatinya dan malah menyuruhku meneruskan menyetubuhinya setelah aku ejakulasi? Ah sudahlah.. Yang penting nafsuku sudah tuntas. Aku berhasil berhubungan badan selayaknya suami istri dengan ibuku sendiri sampai tuntas, bahkan keluar didalam vaginanya. Aku yakin setelah ini akan ada kembali jalan untuk menyetubuhi ibuku. Mungkin aku perlu membeli kondom agar ibuku tidak hamil, bisa gawat bila ibu hamil sedangan bapakku tidak ada. Aku kemudian kembali ke ruang tengah dan membaringkan tubuhku yang sudah lelah dibale bambu. Pergumulan dengan ibu tadi sungguh dahsyat, penisku jadi sedikit kembali ereksi saat membayangkan apa yang baru saja terjadi. Tapi mataku sudah sangat berat. Lebih baik aku segera tidur, menyimpan tenagaku untuk kembali memacu birahi dengan ibuku sendiri di kemudian hari ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Side Story Emak: Anakku Badar
“Croot.. Croot.. Croot…”
Tanganku penuh, basah dan lengket dengan air mani anakku, Badar. Anak sulungku ini yang sudah berumur 18 tahun dan baru beberapa bulan lalu disunat, kini selalu mencari pelampiasan nafsu kelaki-lakiannya lewat sentuhan tangan ibunya.
Semua ini berawal dari ide bang Rojak, suamiku. Saat menemani Badar ke mantri sunat, suamiku bilang bahwa penis anakku sangat kecil, bahkan hanya kepalanya saja yang timbul saat sedang tidak ereksi. Mungkin itu juga karena badan si badar yang memang tambun sehingga pangkal penisnya tertutup lemak dan terlihat pendek. Mungkin juga memang keturunan dari suamiku yang memang berpenis kecil.
Setelah menceritakan hal tersebut padaku, bang Rojak minta agar aku melakukan terapi pengurutan yang pernah aku lakukan pada bang Rojak dulu kepada Badar. Ya dulu, setelah beberapa bulan menikah, aku sering menguruti batang kelelakian bang Rojak dengan minyak bulus. Ibuku lah yang mengajarinya. Dan hasilnya lumayan, setelah diurut rutin hampir setahunan, penis bang Rojak menjadi lebih panjang dan tebal. Saat ereksi pun sangat tegang, sampai terlihat urat-urat hitam kebiruan disepanjang batang zakarnya.
Awalnya aku menolak. Bagaimana mungkin aku menguruti penis anakku sendiri yang sudah mulai beranjak dewasa. Malu. Ditambah lagi, saat proses pengurutan biasanya akan diserta dengan ejakulasi. Aku harus mengonani anakku sendiri?
Tapi bang Rojak terus memaksaku melakukannya dengan alasan masa depan Badar sebagai seorang lelaki. Ya penis yang kecil memang menjadi seperti semacam cela bagi seorang lelaki. Teringat di malam-malam pertamaku dengan bang Rojak, aku jarang mencapai puncak kenikmatan saat dicumbuinya. Bang Rojak pun sampai merasa rendah diri. Untungnya aku mendapatkan solusinya saat menceritakan masalah ini ke ibuku dan mendapatkan saran untuk menguruti penis bang Rojak dengan minyak bulus. Akupun akhirnya jatuh iba memikirkan masa depan Badar dan bersedia melakukannya.
Masih teringat sore itu, sehabis dari berladang, bang Rojak memanggil badar ke kamar kami dan menjelaskan apa yang akan aku lakukan kepadanya. Sesaat aku melihat ekspresi terkejut dari Badar dan selanjutanya dia hanya menunduk malu, meletakan kedua tangannya dibagian kemaluannya dan tidak berani menatapku.
“Udah dar.. Buka buruan celananya, biar bisa diurutin emak kamu.” Suara Bang Rojak memecah keheningan diantara kami. “eh.. ehm.. Ba..Badar malu pak.” “Kamu kok sama orang tua sendiri malu. Ya udah bu itu kamu aja yang bukain celananya.”
Aku memandang suamiku dengan tatapan ragu, Bang Rojak hanya mengangguk. Akhirnya aku dekati badar yang masih berdiri disisi ranjang kamar tidurku. Lalu aku berlutut dihadapannya dilanjutkan dengan membuka ikatan tali celana kolor anakku itu.
“Emak buka celanamu ya dar.” Ucapku sambil mendangak ke atas memandang wajah anakku itu.
Badar hanya terdiam. Perlahan kepeloroti celananya kebawah. Badar tidak memakai celana dalam, sama seperti kebiasaan suamiku. Yang membuat aku terkejut, penis badar sudah dalam keadaan setengah tegang. Anakku ini mungkin malu sekaligus tidak sabar dengan apa yang akan ibunya lakukan terhadap batang kelaki-lakiannya. Penis anakku ini memang kecil, saat setengah tegang saja ukurannya tidak berbeda jauh dengan panjang telunjuk tanganku. Bentuk jahitan sunatnya masih rapih dan kepala penisnya masih sangat mulus berwarna kemerahan. Bulu-bulu kemaluannya sudah mulai tumbuh, tapi masih belum terlalu hitam dan lebat. Benar-benar penis yang belum tersentuh.
Aku menuangkan minyak bulus yang sudah kusiapkan tadi ke kedua tanganku, kemudian dengan perlahan aku mulai menyentuh penis badar dipangkalnya. Tubuh badar agak sedikit bergetar saat aku menyentuh penisnya untuk pertama kali setelah selama ini. Aku mulai mengurutnya mulai dari pangkal hingga ke ujung penisnya dengan gerakan naik turun. Dan dengan segera penis anakku menjadi sangat tegang. Badar hanya berdiri kaku sambil melihat penisnya yang sedang diurut. Sedangkan Bang Rojak duduk dibangku sambil merokok, sesekali dia melihat ke arah kami.
“Heeeeh… Heeeeh…” Terdengar suara nafas Badar melenguh. “Gimana enakkan dar diurutin sama emak? Ntar burung kamu bisa segede bapak.” Ucap bang Rojak sambil menurunkan kain sarungnya. Menunjukkan batang zakarnya yang hitam dan hampir tegang itu dan kemudian tangannya bergerak mengocok penisnya sendiri.
“Ih bapak.. Ngapain sih?” ucapku risih dengan kelakuan bang Rojak memamerkan penisnya. “Biar si Badar tau bu.”, jawab bang badar sambil menghisap rokoknya.
Aku lanjut menguruti penis badar. Penisnya sudah sangat keras, walaupun secara ukuran hanya bertambah sedikit saja dari keadaan sebelum diurut tadi. Kepala penisnya menjadi semakin merah terkena minyak bulus.
“Maak… Mak udah..” Ucap Badar. “Udah mau keluar ya dar? Udah keluarin aja. Diurutinnya emang harus sampai pejuh kamu keluar. Ucap bang Rojak.
Aku sempat menghentikan urutanku dan memandang Ban Rojak dengan ragu. Bang Rojak mengangguk, memberi tanda untuk tetap melanjutkan pengurutan ini. Akhirnya kulanjutkan lagi urutanku. Semenit kemudian, tubuh badar bergetar-getar dan kurasakan batang zakarnya yang sedang kugenggam ini berkedut-kedut.
“Croot.. Crooot.. Crooot… Crooot…”
Air mani badar memuncrat dengan sangat keras. Air maninya encer, berwarna bening tapi jumlahnya banyak. Pancrutan yang pertama mengenai baju dasternya dibagian dada. Pancrutan kedua muncrat mengenai daguku. Dan yang berikutnya muncart kembali jatuh didadaku. Banyak sekali air maninya yang membasahi dasterku. Anak muda yang masih jarang “memainkan” penisnya memang pancrutan air maninya masih sangat kuat sekali. Aku tetap mengurut penisnya hingga sisa air maninya keluar menetes-netes kelantai.Air maninya pun menjadi bercampur dengan minyak bulus dan membasahi batang zakarnya karena urutanku. Terus kuurut hingga penisnya mulai terasa melembek digenggamanku, lalu kulepaskan. Ku elap air maninya didagu dan dadaku dengan tangan lalu aku berdiri.
“Jangan di elap dulu dar burungmu biar minyaknya nyerap.” “I..Iya mak.” Ucap badar sambil memakai celananya kembali.
“Ya udah kamu keluar sana dar. Sekarang giliran bapak yang diurut sama emak.” Ucap bang Rojak yang ternyata sudah telanjang bulat dengan penisnya yang sudah sangat tegang. Seperti dia sudah tidak sabar ingin bersetubuh denganku. Badar akhirnya berjalan keluar dari kamar kami. Dan bang Rojak langsung memeluk tubuhku dan meremas-remas buah dadaku.
“Duh bu.. jadi pengen ya gara-gara liat kamu ngurutin Badar. “Bentar ya pak, ibu cuci tangan dulu ini, lengket.
Bang Rojak lalu melepaskan pelukannya. Aku berjalan menuju kamar mandi. Saat mau mencuci tanganku, aku lihat sisa-sisa mani badar yang ada ditangaku. Baunya sangat tajam seperti bau pandan walaupun maninya encer, dan entah apa yang merasukiku, aku menjilati sisa-sisa air mani tersebut dari sela-sela tanganku. Aku ingin tahu rasa air mani dari anakku, air mani anak muda yang baru-baru keluar. Kujilati setiap jariku hingga semuanya bersih. Rasanya agak asin sedikit, tapi yang paling kusuka adalah aromanya yang sangat kuat. Akhirnya aku mencuci tanganku dan kembali kekamar untuk melayani nafsu birahi bang Rojak.
*********************************
Sudah 2 minggu “ritual” memijit batang zakar anakku ini kulakukan setiap hari. Tiap pagi sebelum suami dan anakku itu pergi ke ladang dan setiap sore setelah mereka pulang aku harus mengurutnya. Agar si badar tidak lemas karena selalu mengeluarkan air mani tiap hari, aku memberinya telur ayam kampung yang dicampur dengan madu dan sedikit merica. Menu yang sama yang disantap suamiku hingga dia selalu meminta jatah untuk bersetubuh setiap hari.
Sore itu aku sedang menyusui anak ketigaku, Basun. Meski sudah masuk kelas 4 SD, anakku ini memang masih menetek denganku. Ini memang salahku telat menyapihnya, saat umur 1 tahun sebenarnya ku sudah mau berhenti menyusuinya, tapi Basun selalu menangis dan membuatku tidak tega hingga aku terus menyusuinya. Pernah saat Basun mau masuk SD, bang Rojak menyuruhku untuk berhenti menyusui Basun, disuruh paksakan saja. Tapi Basun malah jadi demam tinggi dan tidak mau makan, akhirnya aku kembali menyusuinya dan bang Rojak pun membiarkannya hingga sekarang.
Aku menyusui Basun sambil duduk dibangku dan basun duduk dipahaku. Ku keluarkan sebelah payudaraku dari bagian leher daster dan Basun langsung menghisapnypinya. Karena lelah sedari pagi membenahi rumah, aku jadi sedikit mengantuk dan sedikit tertidur, membiarkan basun untuk tetap menyusu.
Saat aku sedikit terbangun karena si basun melepaskan mulutnya dari puting payudaraku dan turun dari pangkuanku, aku sedikit kaget karena melihat badar ada dibalik pintu sambil melihat kearahku.
“Eh udah pulang dar? Bapakmu mana?” “Bapak tadi katanya mau ke ngopi ke kedai dulu mak abis dari ladang.”
Aku baru sadar sebelah payudaraku masih terbuka sehabis menyusui Basun tadi. Buru-buru aku memasukkan payudaraku kembali kedalam daster dan mengancingkan kembali dasterku sambil agak malu.”
“Mak.. badar mau juga dong netek kayak basun..” Ucap badar malu-malu “Eh apaan dar?” Jawabku kaget seperti tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
“Badar juga mau netek mak. Masa basun doang.” “Ih kamu dar.. Kamu kan udah gede. Udah 18 tahun, udah disunat, masa masih mau netek sama emak. Malu ah” “Ah emak pilih kasih. Masa Basun masih ditetein, Badar gak boleh. Badar kan pengen ngerasain mak. Dirumah juga jarang ada susu.
Aku jatuh iba juga jadinya. Tapi aku masih tidak bisa membayangkan badar yang sudah beranjak dewasa akan menyusu kembali padaku.
“Boleh ya mak?” rujuk Badar. “Ya udah sekali aja tapi ya dar. Jangan bilang-bilang bapak sama adik-adikmu.” “Iya mak.” Jawab badar sambil mendekat kearahku. “Dikamar emak aja dar biar gak keliatan orang.”
Aku pun berdiri dan berjalan kedalam kamarku diikuti badar dari belakang. Aku duduk dipinggiran ranjangku sambil menatap badar yang masih berdiri. Kulihat ada tonjolan didaerah selangkangannya. Anak ini pasti ereksi karena kegirangan diperbolehkan menyusu padaku.
“Udah boleh nyusu mak?” “Bentar ya dar.” Ucapku sambil perlahan membuka kancing dasterku lalu menurunkan bagian lehernya hingga kini payudara kananku terbuka.
Aku melihat kearah badar, dia memandangi payudaraku dengan tajam. Mungkin baru kali ini dia bisa melihat payudara wanita dari jarak sedekat ini. Walaupun aku tahu, sebenarnya badar sering mengintipku ketika aku mandi.
“Buruan nih dar. Jangan lama-lama ntar bapakmu keburu pulang.” Badar lalu duduk disampingku. Dia terlihat bingung apa yang harus dilakukan. Mungkin malu. Kemudian dia menyentuh payudaraku dengan tangannya kemudian sedikit meremasnya.
“Huus dar.. Jangan dimainin gitu. Buruan kalau mau netek” “I..Iya mak..”
Badar lalu menundukan kepalanya ke arah dadaku lalu mendekatkan mulutnya ke arah puting susuku.Pertama dia menjilat putingku dengan lidahnya, lalu memasukannya kemulutnya dan mulai menghisapnya dengan kuat. Putingku sampai terasa agak nyeri karena hisapannya itu.
“Pelan-pelan aja dar ngisepnya. Keluarkan susu emak?” “I.iya mak. Keluar susunya. Enak banget mak. Gurih.” Jawab badar singkat lalu kembali mengemut putingku.
Hisapan mulut badar di payudaraku berbeda seperti hisapan basun. Hisapan badar ini terasa sangat kuat, penuh nafsu, sama seperti hisapan mulut bang Rojak saat kami berhubungan intim. Bang Rojak juga suka netek padaku saat kami sedang behubungan. Yah maklum, badar sudah beranjak dewasa dan diumurnya yang sekarang ini pasti gairahnya sedang menggebu-gebu.
Badar kembali melepaskan mulutnya dari putingku. “Udahan dar?” “Belum mak.. Punggung badar pegel nunduk gini.” “Perut kamu sih buncit gitu, jadi pegel kalau nunduk. Ya udah sini, kamu tiduran aja, kepala kamu tiduran dipaha emak.”
Badar lalu berbaring dan meletakan kepalanya di paha ku. Dengan begini dia jadi lebih mudah menggapai payudaraku dengan mulutnya. Aku hanya perlu menundukan badanku sedikit. Badar sudah kembali menghisapi payudaraku.
“Aduh.. Jangan kena gigi dar. Pentil emak sakit.” Ucapku karena putingku terasa digigit oleh Badar. Badar terus melanjutkan hisapannya. Kulihat tonjolan dicelananya menjadi semakin jelas. Pasti dia sangat bernafsu sekarang. Bernafsu pada ibunya sendiri yang kini payudaranya kembali dia hisap seperti saat bayi dulu.
Badar menyusu lumayan lama, sudah hampir 15 menit. Jujur karena hisapan-hisapannya dipayudaraku, libido juga jadi ikut sedikit naik. Mengingatkanku pada hisapan-hisapan bang Rojak disaat kami bercinta.
“kreeek…”
Tanpa kusadari pintu kamar kami terbuka. Kulihat bang Rojak masuk kamar dan memergoki aku yang sedang menyusui Badar. Badar kaget dan buru-buru bangun. Akupun panik dan cepat-cepat memasukan kembali payudaraku kedalam daster.
“Loh bu, kok Badar netek sama kamu?” “Eh ini pak.. anu… tadi Badar yang minta. Pengen katanya liat Basun netek sama ibu.”
“Eyalah.. kamu ini dar.. Udah gede juga, masa mau ikut-ikutan netek juga kayak Basun.” Badar hanya terdiam. Sepertinya dia takut dimarahi. “Bapak jadi ikutan kepengen netek nih. Panas banget tadi di ladang.”
Bang Rojak langsung merubuhkan badannya menindihku dan mendorongku ke arah kasur. Dari mulutnyanya tercium aroma tuak. Pasti tadi bang Rojak ke kedai minum Tuak dan sekarang sedang mabuk. Dengan buasnya dia menciumi leheku lalu menarik bagian leher dasterku dan mengeluarkan kedua payudaraku. Payudaraku diremas-remasnya dengan kasar dan penuh nafsu. Saking kerasnya remasan tangannya, payudaraku sampai memuncratkan susu sedikit. Kemudian jilatan lidahnya mulai turun dari leher ke payudaraku. Dijilatinya putingku dengan cepat, seperti anjing yang sedang menjilat minumannya. Aku hanya bisa pasrah menerima itu semua. Lagipula aku juga menginginkannya.
Jilatannya kini berubah menjadi hisapan-hisapan yang kuat. Kurasakan susuku keluar dengan deras dimulut bang Rojak. Tangan bang Rojak juga mulai bergerilya menjamahi pahaku yang masih tertutup daster. Saat bang Rojak ingin menarik dasterku turun, aku berusaha menghentikannya karena teringat masih ada Badar didalam kamar ini.
“Entar dulu bang.. Masih ada badar itu..” ucapku sambil berusaha menahan tangan bang Rojak dipahaku.
Kulihat Badar hanya bengong memandangi kearah kami. Mungkin dia kaget melihat orangtuanya didepan matanya sendiri ingin bersetubuh. Atau juga dia jadi ikut bernafsu melihat apa yang dilakukan bapaknya terhadap ibunya.
“Udah biarin bu.. Biar badar sekalian belajar caranya ngentot. Dia kan udah gede ini” “Ih malu pak. Masa diliatin anak sendiri sih.” Tentang ku “Kamu masa sama anak sendiri malu. Udah dar kamu duduk dibangku itu aja sambil liatin emak sama bapak.”
Badar menurut dan berjalan kearah kursi yan ada diseberang ranjang kami. Dari kursi tersebut dia bisa memandang kami yang sedang diatas ranjang. “Tapi pak…” “Udah ah kamu ini bu.” Paksa bang Rojak.
Dia lalu membuka baju dan celananya. Penisnya langsung mengacung tegak, tanda siap bertembur, mengubek-ubek lubang kemaluanku. Bang Rojak lalu menarik keatas paksa dasterku hingga terdengar sepeti suara kain robek, Kini bagian pangkal pahaku sudah terbuka, hanya tertutupi celana dalam lusuh berwarna krem.
Kembali bang Rojak dengan kasarnya menurunkan celana dalamku hingga kepaha. Sepertinya bang Rojak sudah sangat bernafsu dan ingin main cepat saja. Langung diarahkan batang zakarnya yang tebal itu kebibir vaginaku dan ditekannya dengan keras. “Aduh pak.. Pelan-pelan toh..”
Walaupun libidoku juga sudah naik, tapi vaginaku masih belum telalu basah. Jadi terasa ngilu saat penis bang Rojak dengan cepat berusaha menerobosnya, meski kini baru kepala penisnya saja yang masuk. Ditambah lagi aku tidak bisa berhenti melihat ke arah Badar yang sedang melihat aktifitas bercinta kami. Nafsuku mulai naik tapi aku juga merasa tidak nyaman.
Bang Rojak kemudian mengangkat kaki dan mengangkangannya. Posisiku jadi seperti kodok yang sedang terbalik dengan kaki yang terbuka lebar. Dimajukan kembali badang bang Rojak hingga batang zakarnya kini menancap lebih dalam, sudah setengahnya. Dan bang Rojak mulai melakukan gerakan maju mundurkan penisnya dengan cepat.
Aku hanya bisa pasrah. Bang Rojak memang menjadi sangat binal jika sedang bernafsu berhubungan badan, apalagi sedang dalam keadaan mabuk seperti ini. Genjotannya makin cepat, kini seluruh batang penisnya sudah masuk ke liang peranakanku. Saat menggenjot penisnya maju, bang Rojak melakukannya dengan sangat kasar dan cepat hingga ujung kepala penisnya terasa mengenai dinding rahimku.
Aku sudah tidak peduli lagi pada badar yang terus memandangi kami. Aku mulai menikmati setiap tusukan penis bang Rojak di Vaginaku. Aku pun sudah mulai merintih keenakan..”ahh.. aaah..”
Bang Rojak menundukan badannya dan kembali menetek padaku sambil tetap menjaga tempo genjotannya penisnya dibawah. Lidahnya kemudian beralih dari payudaraku ke bagian belakang kupingku dan mulai menjilat-jilatinya. Aaah.. Bang Rojak memang paling tahu titik sensitifku.
Setelah hampir 10 menit, kurasakan tubuhku mulai hangat. Mungkin bercampur antara keenakan memacu birahi dengan suamiku dan perasaan aneh karena sedang dilihat anakku dalam kondisi kami sedang berhubungan badan. Dan…
“Heeeeeeeeeh… Aaah..”
Aku mencapai orgasme. Vaginaku jadi mulai banjir oleh cairan kewanitaanku. Badangku terasa lemas, tulang-tulang terasa dilolosi semua. Bang Rojak mempecepat genjotannya sambil tangannya berada dipinggangku dan berusaha memaju-mundurkan pinggulku. Tak lama pun, tubuh bang Rojak menggelinjang.
“Crrooot.. crooot..”
Cairan spermanya yang hangat terasa memuncrat membanjiri dinding rahimku. Terus digenjot batang zakarnya hingga tetesan-tetesan spremanya habis semua keluar didalam tubuhku. Lalu bang Rojak menarik penisnya yang mulai layu keluar dari vaginaku. Spermanya sangat banyak didalam vaginaku, hingga ikut mengalir keluar saat bang Rojak menarik penisnya. Aku berusaha menutupinya dengan tanganku agar spermanya tidak jatuh ke kasur.
Aku berusaha menutupi kembali dasterku yang terbuka, celana dalamku langsung kunaikan dari paha. Biarlah basah oleh sprema Bang Rojak, habis ini aku mau langsung mandi. Bang Rojak juga sudah memakai celananya. Saat aku sudah berdiri dari kasur, bang Rojak menarik tanganku.
“Itu sekalian urutin kontolnya Badar dulu bu. Nanti baru sekalian mandi” “Aduh pak, ntar aja deh.” “Nanti tangan kamu kotor lagi. Udah sekalian aja. Badar, sini kamu. Biar sekalian diurut sama emak kamu.”
Badar pun berjalan kearah kami. Kupikir biarlah sekalian, biar tidak kotor lagi tanganku nanti. Kuambil minyak bulus yang biasa aku gunakan diatas meja. Badar sudah berdiri dihadapanku. Aku lalu langsung mengambil posisi jongkok.
“Buka celanamu dar”
Badar lalu membuka ikatan tali celananya dan celananya langsung jatuh kelantai. Aku terbelalak dengan apa yang kulihat. Penis badar sudah sangat ereksi dengan kepala penisnya yang sudah sangat basah oleh cairan precum. Dia pasti sudah sangat bernafsu melihat pergumulan aku dengan bang Rojak barusan. Buru-buru kutuangkan minyak bulus ke kedua tanganku dan mulai menyentuh batang zakar anakku ini mulai dari pangkalnya. Kuurut naik, kemudian turun lalu naik lagi dan berlanjut. Penisnya ini rasanya udah sangat keras dan kencang.
Saat aku menyentuh bagian bawah kepala penisnya, dimana terdapat urat yang menghubungkan batang dengan kepala penis dan jahitan-jahitan bekas sunatnya…
“Crooot.. Croot.. Crooot…”
Lahar panas dari batang zakar badar memuncrat kuat kearah mukaku, aku yang kaget menutup mataku membiarkan pancrutan-pancrutan berikutnya mengenai mukaku juga. Wajahku terasa hangat terkena sprema anakku. Bahkan aku agak sulit membuka mata kananku karena perih terkena dan tertutup sprema badar. Cepat sekali badar keluarnya. Mungkin dia sudah sangat bernafsu melihat adegan ranjangku dengan bang Rojak.
“Aduh kamu dar.. Kena muka emak nih.” “Duh maap mak.. Badar gak bisa tahan.”
Aku berusaha mengelap airmaninya dari mukaku dengan bagian lengan dasterku.
“Hahaha nakal kamu dar, masa muka emak kamu disemprotin pejuh gitu.” Ujar bang Rojak yang sedari tadi melihati kamu dari atas kasur. “Maap pak.. Badar gak sengaja. Udah ketahan abis nafsu liat emak sama bapak tadi.” “Hahaha.. Makanya gedeen dulu itu kontol kamu, biar ntar emak kamu ajarin caranya begituan. Kalau kontol kamu kecil begitu, kasian emakmu gak bakal berasa, memek emakmu kan udah melar kena kontol bapak tiap hari”
Aku kaget dengan apa yang barusan suamiku katakan.
“Hussh.. Apaan sih pak. Eling. Ngaco aja kalau ngomong. Udah ah ibu mau mandi.”
Aku sekilas memandang kearah badar. Dia terbengong seperti memikirkan sesuatu. Pasti gara-gara ucapan bang Rojak tadi. Pikirannya jadi kemana-mana tentang ingin juga melakukan persetubuhan badan denganku. Ah suamiku memang suka ngawur. Tapi juju, dihatiku jadi semacam ada perasaan aneh, seperti perasaan harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi. Dimulai dari menguruti batang zakar badar tiap hari, menetekinya, lalu dilihatin badar saat berhubungan intim, dan mungkin selanjutnya… Ah.. buru-buru kuhapus pikiran anehku itu. Apa yang kulakuan ini sangat tabu dan tidak bermoral. Mana boleh ibu dan anak melakukan hal yang seperti ini. Ini semua gara-gara Bang Rojak.
Aku berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan bang Rojak dan Badar didalam kamar. Aku mendengar mereka berbicara sesuatu tapi aku tidak terlalu jelas karena aku sekarang sedang sibuk membersihkan sperma badar dari wajahku lalu menjilatinya dengan sangat lahap. Ah aroma dan rasa sperma anak muda memang begitu nikmat. Aku sungguh tidak tahan…
Nikmat..











