Perawat
Sejujurnya, sejak kecil aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang perawat. Hingga akhirnya kegagalan SNMPTN dan SBMPTN membawaku ke jurusan yang kupikir setidaknya aku bisa lebih dekat dengan cita-citaku menjadi seorang Dokter! Dangkal ya? Sekali!
Cerita berlanjut ketika aku memutuskan masuk salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Bandung. Tentu inginku menjadi Sarjana, tapi entah bagaimana ceritanya setibanya di calon kampus itu aku disuguhkan kenyataan yang jika dipikir sekarang sungguh tak masuk akal "Mohon maaf, jumlah kursi untuk sarjana sudah habis. Tetapi masih tersedia 5 bangku terakhir untuk Diploma jadi bagaimana? Hm kupikir tak ada pilihan sama sekali! Disinilah aku sekarang, lulus dari Diploma Keperawatan dengan gelar belakang A.Md.Kep (Ahli Madya Keperawatan).
Hampir 3 tahun lamanya masa studi yang harus ditempuh, sebelum menjadi mahasiswi khayalanku sudah kemana-kemana! Ah aku tidak sabar menyandang status baru mahasiswi yang berangkat kuliah, bertemu dengan teman baru di lingkungan yang baru, terlebih aku harus belajar mandiri sebagai anak rantau.
Ekspektasiku terlalu tinggi! Aku pikir kompetensi di PTS akan lebih sengit mengingat selama di bangku MAN (Madrasah Aliyah Negeri) sejak duduk di kelas X aku telah didoktrin mencontek selama ujian itu sama dengan mencuri, calon koruptor! Begitu kata guruku. Percaya atau tidak, sampai lulus aku tidak mau curang bahkan sekedar menanyakan jawaban kepada teman sebangku atau sekedar membuka buku pada saat ujian berlangsung tidak pernah aku lakukan!
Hingga tibalah saat ujian pertama di bangku yang katanya Perguruan Tinggi aku dikecewakan oleh sebuah kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi! Menyaksikan beberapa orang-orang curang pada saat ujian berlangsung dari membuka buku sampai mengcopy ulang materi dengan size yang handy! Cukup membuat frustasi! Tidak Adil!
Sejak saat itu, aku tidak pernah bersungguh-sungguh untuk mengerjakan apapun yang bersangkutan dengan tugas dan materi. Masa bodo! Yang penting lulus! IPK nomer sekian bukan prioritas.
Masuk ke dunia Praktek Keperawatan Klinik, pikiranku sedikit terbuka. Ternyata menjadi perawat tidak sekedar dekat dengan dokter! Lebih dari itu, pasien prioritasnya! Merawat manusia yang punya perasaan dengan karakter yang beragam tantangannya.
Dipuji, direndahkan, dicaci dan dimaki habis-habisan sampai dikerjai senior ruangan sudah menjadi makanan sehari-hari yang mau tidak mau harus kutelan demi nilai yang cukup sebagai syarat lulus studi.
Disamping itu, ucapan Terimakasih tulus sebagai respon pasien atau keluarga terhadap tindakan yang aku lakukan sungguh jadi obat paling mujarab untuk segala lelah.
Hingga kini kutemukan alasan untuk menjawab pertanyaan mengapa perawat? Selain takdir dan nasib, menjadi seorang perawat artinya mendedikasikan hidup untuk bermanfaat! berguna bagi manusia, nusa bangsa dan agama.
Aamiin.











