Whoaaa rame bener di path soal postingan seorang anak abg (asumsi saya anak abg, soalnya pasti belum pernah ngerasain yg namanya hamil) dia mengeluh karena ibu hamil katanya mau enaknya aja minta jatah kursi di kereta.. Akhirnya postingan path itu ramai berantai diposting oleh orang2 (termasuk saya) dan akhirnya menuai berbagai protes, namun ternyata di postingan dia, teman2nya komen bernada sama..mereka merasa terganggu dengan kehadiran ibu hamil yg mengurangi jatah kursi mereka, lagi asik2 duduk terkantuk2 tiba2 harus berdiri deeh gara2 ada seorang ibu hamil yg dengan malasnya minta jatah kursi...berangkatnya pagian dong bu, atau berangkat dari stasiun terjauh (kurang lebih begitu saran dari adik dinda) Saya terhenyak....betapa kurangnya ilmu merasa pada adik2 ini..tapi kemudian saya memutar kembali ingatan ketika saya masih muda, saya kebetulan bekerja di suatu bagian yang jam kerjanya tinggi, ketika ada seseorang yg hamil dan meminta keringanan jam kerja sering terdengar ada yg komentar "yah manja amat..kmrn si A aja hamil biasa aja" yang ngomong pasti nya sih yang belum hamil, atau laki2 yang istrinya belum hamil.. Ketika saya hamil, karena dulu seringnya mendengar komentar negatif, saya jadi bertekad, gak mau manja hamilnya..biar gak diomongin orang... 1. Niat : selalu datang pagi seperti biasa dengan segar Fakta : Ya Tuhaaaan tiap pagi itu yang namanya mual gak bisa ditahan, apalagi cium bau parfum dan sabun orang orang..kepala serasa ditonjok tiap bangun pagi.. Ketika hamil semakin besar, bangun pagi menjadi tantangan yang semakin besar, karena malamnya susah tidur. asam lambung naik..miring ke kanan sakit, ke kiri pegel, telentang sesek, tengkurep horror... Jadi datang pagi dengan segar itu hanya impian buat saya, datang pagi tepat waktu aja cukup. Mau pake segar, glowing dan senyum kanan kiri terus duduk anteng di stasiun terjauh?cuy barbie hamil aja belum tentu bisa. 2. Niat : Pengen kuat, kerja seperti biasa Fakta : saya masih nyetir sendiri sampai kehamilan 3 bulan, tau2 perdarahan...dr menyarankan bed rest dan setelah itu mengurangi kegiatan plus gak boleh nyetir lagi. Setelah selesai periode perdarahannya, saya berkegiatan biasa lagi, ternyata flek lagi.. Jadi memang gak boleh berkegiatan penuh. ketika hamil anak kedua, saya malah harus bedrest 9bln. Apakah saya harus mengorbankan anak yang saya kandung demi terlihat kuat?pada akhirnya orang harus memilih, dan saya bersyukur atas pilihan saya. 3. Niat : gak mau nyusahin orang Fakta : percayalah, buat saya yang gengsian, saya sekuat tenaga gak mau nyusahin orang..Tapi, ketika kaki bengkak, saya bermurah hati pada diri sendiri untuk minta tolong orang beliin makan siang ke kantin, yang jaraknya memang jauh. Ketika perut semakin besar, kram kalau naik tangga, saya dengan mengesampingkan rasa malu minta tolong petugas bank untuk melayani saya di bawah. Saya beruntung tidak perlu naik transportasi umum, tapi ketika mengantri di supermarket, saya berjuang melawan gengsi untuk kemudian permisi numpang duduk di kursi mbaknya. Ternyata sebesar apapun niat saya untuk gak dibilang manja, akhirnya saya jadi orang hamil yang manja. Tidak semua perempuan diberkahi dengan kehamilan yang lancar, kehamilan yang baik2 saja, kehamilan yang tanpa masalah. Ada beberapa orang seperti saya, yang memang diberi kenikmatan dengan kehamilan yang sedikit berbeda. Apakah lantas saya mencap kami lebih meregang nyawa dibanding yang lain?tidak..hanya mungkin kami menjadi terlihat lebih manja dibanding yang lain. syukur saya bertemu dengan orang2 baik yang bukan hanya bermurah hati memberikan kursinya, namun dengan senyumnya melayani saya bolak balik naik turun di bank. Dengan relanya mengambilkan kursi ketika rapat dan saya gak kebagian kursi. Empati mungkin hanya bisa dirasakan sebagian orang kalau mereka sudah pernah merasakan apa yg orang tersebut rasakan. Tapi herannya dari banyak orang yg membantu saya dengan senyum, sebagian besar laki2 muda yg belum menikah. Kok bisa ya mereka berempati? Jadi artinya empati itu bisa timbul dengan sendirinya, walaupun kita belum pernah ada di posisi orang tersebut. Gak mungkin dong untuk merasa sedih ketika melihat orang tua sahabat meninggal, butuh orang tua kita meninggal juga? Sepertinya yang dibutuhkan hanya sebuah hati yang bebas dari prasangka kalau seseorang pasti mengambil untung dari keadaannya. Sebuah hati yang mampu untuk merasa. Saya benar2 tulus mendoakan adik dinda pada saatnya nanti, apabila hamil, diberi kehamilan yang lancar, kehamilan tanpa masalah, tanpa sakit badan, tanpa bengkak kaki, tanpa morning sick dan tanpa kram2 perut, sehingga dik dinda bisa selalu datang lebih pagi di stasiun atau berangkat di stasiun terjauh demi mendapatkan kursi di kereta tanpa cibiran dan hinaan dari orang lain. Amiiin... Mayang Ibu yang sudah 2 kali diberi kenikmatan kehamilan "manja". Alhamdulillah...