perempuan & expiration label
once, on a brunch time at office’s pantry, aku bikin segelas teh. nggak lama salah satu temen kantor, cowok, turun ke pantry juga. dia bisa dibilang nggak terlalu deket sama aku, dan emang punya kepribadian rada rese. out of nothing, dia tiba-tiba nyeletuk,
“fin, buruan nikah lu. jangan pilih-pilih. udah hampir expired gitu.”
aku jelas kaget, dong. ni orang kenapa coba? apa cuma becanda? apa serius? apa cuma cari bahan obrolan? reaksiku saat itu cuma mengernyit bingung. dia ambil air minum, trus duduk di salah satu kursi meja makan, kemudian meneruskan,
“ya, bukan kenapa-napa. cewek seumuran lu kalo belum nikah tuh di kampung gue udah perawan tua namanya. makanya nggak usah terlalu pilih-pilih, jadinya nggak laku.”
sambil masih ngaduk teh, aku merem, tarik nafas, hembuskan. emang namanya manusia mah ada-ada aja kelakuannya. kupikir di lingkunganku nggak ada makhluk begini, sampai kemudian si tengil satu ini muncul.
i mean, kenapa dia bisa berkesimpulan seperti itu? apa yang dia lihat, terlebih, apa sih yang dia tahu tentang aku sampai merasa berhak ngomong begitu?
saat itu aku terlihat nggak deket sama siapa-siapa, padahal sebenarnya aku punya pacar tapi memang nggak ada di instagram atau social media manapun dan aku lebih tertutup soal relationship alias nggak cerita-cerita sembarangan.
aku terlihat nggak tertarik pada siapapun, nggak deket sama cowok manapun di kantor. ya emang. mungkin karena itu aku terlihat picky atau pilih-pilih menurut istilah dia.
saat dia ngomong itu, aku sudah berusia 27 tahun. usia yang lagi-lagi menurut dia udah ketuaan untuk perempuan kalau belum nikah, berumah tangga, punya anak.
apakah aku marah saat itu? jujur iya. tapi aku marah bukan karena ‘aku’ yang dia bilang pilih-pilih, udah ketuaan, atau lainnya. tapi lebih kepada kata ‘expired’ yang dia ucapkan. betapa sedihnya para perempuan yang bagi laki-laki macam dia tuh ada semacam label ‘EXPIRED DATE: DD-MM-YY’ di jidat. lebih sedih lagi, para perempuan itu sendiri masih ada yang menganggap kaumnya memang punya expired date.
aku jadi berpikir: apa bagi mereka, perempuan hanya dilihat dari fungsi reproduksinya saja? apa jika benar ‘expired’ dan tidak bisa memiliki keturunan maka dia jadi cacat dan tidak layak? apa lantas dia jadi hina jika hingga tua memilih untuk hidup sendiri? bukannya tubuhnya otoritasnya? bukannya semua orang punya hak yang sama untuk mengatur pilihannya atas tubuhnya sendiri?
apa yang membuat manusia-manusia macam teman kerjaku itu tak bisa berpikir bahwa perempuan, bahkan yang hingga tua memilih tidak menikah dan punya anakpun, bisa dan berhak bahagia dengan cara yang mereka pilih sendiri, apapun itu?
sebenarnya tidak heran. kita hidup di tengah lautan laki-laki (dan perempuan juga!) yang tanpa rasa bersalah bisa menganalogikan perempuan sebagai permen yang dikerumuni semut, atau majalah di rak yang terbuka plastiknya sebagai contoh untuk dilihat-lihat orang. tentu saja mereka bisa lebih buruk dari pada itu. permen, majalah, lalu benda fungsi yang punya expired date. entah apa lagi nanti. objektifikasi seperti ini sudah terlalu berakar.
but, i’ll just put it here: us as a woman, a human being, doesn’t have an expired date. even if we died and decomposed, our thoughts, our impact to our own tiny world are stay still in this universe. us as a woman, is waaaaay more meaningful than just our reproductive organs. we can still give birth to thousands amazing works that inspire others, and be happy with ourselves.
di siang itu juga. mungkin di tegukan ketiga tehku, aku mendoakan yang terbaik untuk siapapun yang nantinya akan menjadi istri teman kerjaku itu. some people sure can be such a brainless and heartless a-hole and you have to deal with them for the rest of your life.