You're the reason why I'm taking xanax.
🪼
No title available

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always

Origami Around
No title available
YOU ARE THE REASON
almost home
Fai_Ryy

oozey mess

★

titsay

No title available
KIROKAZE
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
One Nice Bug Per Day
Mike Driver
No title available

shark vs the universe
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Argentina
seen from Sri Lanka
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Ireland

seen from United States

seen from Ireland
seen from United States

seen from Saudi Arabia
@saulrajasinaga
You're the reason why I'm taking xanax.
Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta, untuk menjadi apa yang kau impikan, tapi ku tak bisa menjadi dirinya.
Dewa 19 - Selimut Hati
Suatu hari di kuburan
Sebagai penjaga kuburan, aku sudah biasa melihat orang-orang bersedih, tapi belum pernah kulihat kesedihan seperti yang baru kusaksikan sore tadi. Perempuan itu muncul begitu saja di pintu gerbang, Matahari sudah mulai redup ketika dia melangkah melewati jalan kecil di antara makam. Langkahnya pelan seakan tak mau sembarangan menginjak makam orang. Kemudian dia berhenti di depan sebuah makam, tak jauh dari makam tempat aku merebahkan diri untuk sekadar melepas penat. Terpisah oleh pepohonan membuat dia tidak dapat melihatku, tapi aku bisa menatapnya melalui celah-celah daun. Tak mau mengganggu, aku memutuskan untuk diam saja. Cukup lama dia berdiri tanpa suara, membiarkan angin kering bulan kemarau meniupi rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai tanpa pengikat. Tak enak bila nanti ketahuan mengintip, aku kembali berbaring. Kupasang telingaku tajam-tajam. Sunyi. Semenit, dua menit. Penasaran, aku akhirnya kembali mengintip. Perempuan itu kini bersimpuh di depan makam tempatnya tadi berdiri mematung. Jemarinya tampak sibuk menaburkan bunga-bunga. Aku berdiri menyaksikan dari balik dedaunan tanpa suara. Setelah selesai dia lalu beranjak mendekati batu nisan, untuk pertama kalinya aku bisa melihat mukanya dengan jelas. Mukanya pucat, entah lupa makan atau kurang istirahat. Dia kembali bersimpuh di depan batu nisan, kemudian mengusapnya pelan. Lalu kudengar dia berbisik dengan suara serak. "Dia menikahi orang lain, Yah. Seharusnya dulu tak kubawa dia ke makammu, agar kini tak perlu kujelaskan mengapa sekarang aku datang sendiri." Lalu dia menangis.
Ikhlas itu begini: Kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tau bahwa semua yang bersayap akan selalu terbang.
Saul Raja Sinaga
Kadang kita jatuh cinta pada waktu yang salah, lalu menjadi orang yang salah.
Saul Raja Sinaga
Maya
Sebenarnya apa yang kini tengah kita lakukan? Aku mulai kepayahan menghirup semua yang hitam dan kau kini melayang dalam pangkuan mimpi-mimpi. Katakan padaku, cinta seperti apa yang tetap hidup setelah berkali-kali luluh lantak? Setelah jatuh berderai terinjak-injak dalam pekatnya malam, lalu kembali utuh ketika pagi menjelang. Aku takut kelak kau akan terbangun dari dekapan semu dan mengiris perasaanku dengan caci maki. Aku tak seperti yang kau kira, sementara kau tepat seperti yang selalu kuinginkan. Aku bersalah. Maaf.
Melewati badai
Rasanya belum pernah seumur hidup saya dihantam sekeras ini. Sakit.
I'm sorry for giving you false hopes, I really do. And for what it's worth, I give myself too.
Saul Raja Sinaga
Gundik
"Saya nggak butuh uang, mbak."
Suara itu datang entah dari mana, mengusir kantuk yang tadi memaksaku merebahkan diri di atas rerumputan. Rasanya baru beberapa detik mataku kupejamkan. Dengan sedikit malas-malasan aku bangkit dari tidurku, mencoba mencari si pemilik suara.
2 orang perempuan duduk bersebelahan di bangku semen, beberapa meter di samping kiriku.
Dengan mata masih separuh terpicing, aku menatap mereka dari balik semak belukar tempatku melepas lelah, setelah hampir sepanjang hari menjelajah tepian danau untuk mengabadikan suasananya dengan kameraku. Fotografi memang sudah menjadi hobiku semenjak masih di bangku sekolah, aku jatuh cinta dengan konsep menghentikan waktu melalui lensa.
"Halah! Perempuan seperti kamu ini apa sih yang diincar kalau bukan uang?"
Suara perempuan berbaju merah terasa begitu menusuk telinga, tajam, aku bisa mencium bau kebencian dalam kalimat itu. Tak ada jawaban dari perempuan di sebelahnya, tapi dari bahunya yang bergerak naik turun, aku tau kalau dia sedang menangis. Sungguh aku tidak bermaksud mencuri dengar, tapi jika aku berdiri sekarang, mereka akan menyadari keberadaanku, dan aku tak mau mengganggu atau malah terlibat lebih dalam.
"Saya harap setelah ini kamu tidak pernah mengganggu keluarga saya lagi."
Si perempuan berbaju merah akhirnya bersuara setelah cukup lama mereka duduk tanpa berkata-kata. Dia berdiri dari duduknya dan mengulurkan sebuah amplop.
"Saya mencintai suami, mbak." Suara perempuan satunya terdengar serak.
"Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan dongeng kamu!" Si perempuan berbaju merah melemparkan amplop ke atas kursi, lalu dengan langkah cepat ia beranjak pergi.
Buru-buru kurebahkan tubuhku agar tak terlihat olehnya. Syukurlah semak-semak yang memisahkan aku dan mereka cukup rimbun untuk menyembunyikan tubuh kerempengku. Kupasang telingaku baik-baik untuk mendengarkan langkah perempuan yang satunya. Sekali lagi, aku tak mau terjebak dalam suasana canggung, jika ketahuan mendengarkan percakapan mereka. Semenit, 5 menit, tak ada suara. Apa dia pergi ke arah lain? Demikian aku membatin lalu kembali duduk.
Ternyata dia masih ada di sana.
Handphone di saku celanaku bergetar.
Sms dari Tegar, teman sekamarku. Rupanya dia mulai khawatir karena aku tadi menyelinap pergi saat dia masih tidur. Kubalas sms darinya, lalu mulai berkemas untuk pulang. Kumasukkan kamera dan botol airku ke dalam tas. Sinar matahari sore dan hembusan angin dingin adalah pertanda bahwa sebentar lagi hari akan beranjak malam. Aku harus pulang. Setelah beres, aku lalu berdiri sambil bersenandung kecil.
Perempuan di kursi beton itu menolehkan kepalanya. Menatapku.
Aku lupa.
Tegar dan sms keparat!
Dia menatapku selama beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajah. Bagaimana ini? Dia pasti tau kalau aku tadi menguping. Haduh, Tegar sialan. Sms sialan. Aku benar-benar lupa.
Setelah berdiri bak orang linglung beberapa saat, aku akhirnya memutuskan untuk pergi saja. Bukan urusanku. Demikian aku berpikir sambil melangkah.
Bukan urusanku.
Bukan urusanku.
Aku melihat ke belakang. Dia masih di sana.
Bukan urusanku.
Bukan urusanku.
Entah apa yang terjadi, aku juga tidak tau, yang aku tau beberapa saat kemudian aku sudah berdiri di sampingnya. Dia mentapku dengan mata basah. Ternyata sedari tadi dia masih menangis. Tak ada lagi waktu untuk kabur. Aku lalu duduk di sampingnya.
"Maaf saya tidak bermaksud menguping."
Dia tidak menjawab. Hening.
"Sekali lagi maaf." Aku berdiri.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu mencintai orang yang sudah terikat?" Dia berkata tanpa menatapku.
Aku tertegun sejenak lalu duduk kembali.
Hening. Sungguh aku tak tau hendak berkata apa. Cinta dan segala problematikanya bukanlah keahlianku. Kisah cintaku tertinggal di masa remaja. Beranjak dewasa aku lebih mencintai kamera.
"Saya jatuh cinta pada orang yang bimbang." Dia menyeka air matanya dengan tisu.
"Bimbang?"
"Iya, orang yang tak tau ke mana hatinya hendak berlabuh."
"Maaf, tapi kalau dia sudah terikat, apa lagi yang bisa kamu harap?"
Dia menatapku dengan mata mungilnya yang masih basah.
"Entahlah." Dia menjawab.
Aku benar-benar tak tau hendak mengucapkan apa lagi, aku takut salah bicara.
"Aku mencintai dia." Suaranya begitu pelan, nyaris tak terdengar.
"Tapi dia sudah punya istri kan? Perempuan tadi? Aku gak kenal kamu, tapi merusak rumah tangga orang itu nggak baik. Kamu nggak mau di-cap sebagai perempuan nakal kan?" Kalimat itu begitu saja meluncur dari mulutku.
Dia menatapku, air mata kembali berhamburan membasahi pipinya.
"Maaf." Aku tiba-tiba merasa begitu bersalah.
"Nggak, kamu benar. Mungkin aku memang perempuan nakal." Dia terisak-isak.
"Aku nggak bermak.."
"Andai kita bisa menolak jatuh cinta." Dia memotong ucapanku.
"Kita memang nggak bisa menolak jatuh cinta, tapi kita bisa menolak untuk nggak merusak apa yang sudah dibangun orang lain. Kita gak tau perjuangan mereka untuk bisa sampai di situ." Aku sudah tidak tau lagi apa yang keluar dari mulutku. Aku ingin kabur pulang.
"Oh ya? Meski akhirnya menyakiti diri sendiri?"
"Lebih baik sakit sekarang daripada nanti. Lambat laun kamu akan semakin terluka oleh perasaanmu sendiri."
"Sudah terlambat." Dia berkata lirih.
"Aku yakin kamu bisa menemukan cinta yang lain." Demi Tuhan, aku benar-benar ingin pulang.
"Sudah terlambat." Dia mengulangi perkataannya, lalu mengulurkan sesuatu ke tanganku. Apa ini?
"Hidup memang tidak pernah adil." Setelah mengucapkan itu dia lalu melangkah pergi. Meninggalkanku dengan sebuah kantong kertas di tangan kanan.
Untuk beberapa saat aku duduk diam, berusaha mencerna semua yang baru saja terjadi. Lalu perhatianku beralih ke kantong kertas yang tadi ia berikan. Ringan. Kubuka perlahan dengan rasa penasaran yang kuat. Benda itu mirip termometer.
Test pack.
2 garis
Jadi dia sudah?
...
Tentang Perang dan Damai
Kau adalah sahabat terbaik bagi dirimu. Ketika tak ada yang mau memberimu peluk, jangan lupa kalau kau selalu bisa menggerakkan tangan dan memberikan pelukan untuk dirimu sendiri. Jangan benci dirimu untuk apa yang tak bisa kau kendalikan. Jangan benci dunia karena tak selalu berjalan seperti yang kau inginkan. Semua yang menyakiti biarlah hilang bersama suara detik-detik jarum jam. Kau akan baik-baik saja, jika mulai belajar untuk berterima kasih atas apa yang diberikan oleh Tuhan.
The point of no return
She: Are we okay? He: If you have to ask, no, we're not.
Saul Raja Sinaga
Jika bersamaku hanya akan membuat kau akhirnya mengkhianati Tuhanmu, bangkitlah dari sujudmu, dan pergilah selagi aku berlutut dengan mata tertutup.
Saul Raja Sinaga
Jika kelak kau kembali dan aku sudah tak ada, lihatlah langit, hitunglah bintang-bintang, semua tak akan sebanyak rasa sesal.
Saul Raja Sinaga
Jika reinkarnasi memang ada, aku ingin bertemu denganmu dalam situasi yang berbeda, dan akan kucintai kau dari awal.
Saul Raja Sinaga
Dongeng
Ombak-ombak yang menghempas pantai perlahan semakin membesar. Burung-burung yang tadi berterbangan kini tak terlihat lagi menghiasi langit. Senja yang semakin tua menelan sisa sinar Matahari yang telah terbenam beberapa saat yang lalu. Ada sepasang sepatu berhak tinggi tengah dijilati ombak, tergolek di antara pasir, berwarna merah tua seakan memantulkan cahaya senja. Dari arah desa terlihat seorang lelaki berlari dengan wajah pucat. Keringat mengucur membasahi kemejanya, dengan suara parau ia berseru-seru memanggil sebuah nama. Tak ada sahutan, hanya ada suara ombak dan deru angin malam yang semakin keras bertiup seiring timbulnya pasang. Bulan sudah mengintip di balik awan, sinarnya berpendar menerangi laut, pantai, lelaki itu, dan sepasang sepatu berhak tinggi yang sebentar lagi hanyut terbawa ombak. Dengan tangan gemetar, lelaki itu kemudian memungut sepatu yang kini sudah basah kuyup. Lidahnya seketika kelu, sisa-sisa tenaga yang masih tersisa di tubuhnya lenyap dalam dua kali kedipan mata. Lalu ia jatuh, lututnya menyentuh pasir, matanya samar-samar terlihat mengeluarkan air. Dia kembali menyerukan sebuah nama. Teriakannya menggema di sepanjang pantai, terdengar begitu sedih memilukan hati. Lalu terdengar suara ledakan. Lelaki pucat itu kini terbaring di atas pasir. Ada lubang menganga tepat di keningnya. Kemudian sunyi. --- Perlahan kugerakkan kakiku mendekati tubuhnya, ada sedikit rasa takut terbersit di hatiku karena jika tidak hati-hati, tubuhku akan terbang dibawa angin malam yang semakin berhembus kencang. Dia tidak bergerak, ada cairan berbau amis keluar dari lubang di keningnya. Kulangkahkan kaki mencoba untuk melihat wajahnya. Bola matanya kosong menatapku tak berkedip. Tubuhnya tak bergerak, kupandangi dia beberapa saat, lalu akhirnya sadar kalau dia sudah mati. Hembusan angin membuatku tidak berani berlama-lama berada di sana. Dengan langkah satu-satu, aku kembali ke rimbunnya pohon kelapa, tempatku bernaung selama ini. "Siapa dia?" Demikian hatiku bertanya, rasa penasaran masih mengikutiku bahkan setelah aku meringkuk di bawah pohon kelapa yang terletak tak jauh dari pantai. Apa mungkin dia mengenal wanita pemilik sepatu itu? Wanita yang tadi sore mambangunkan tidurku karena suara isak tangisnya. Tapi kenapa lelaki itu harus mati? Bukankah wanita itu hanya pergi berenang? Tadi setelah puas menangis, wanita itu menerjunkan tubuhnya ke laut. Bukankah itu hal biasa? Aku pikir dia pasti ingin menghibur hati, banyak manusia yang datang ke sini untuk berenang. Tapi kenapa setelah terjun wanita itu tidak pernah muncul lagi? Dan kenapa lelaki itu malah memilih untuk melubangi kepalanya? Seharusnya kan dia bisa menyusulnya saja, mungkin wanita tadi keasikan berenang hingga lupa pulang. Ah entahlah, aku bingung. Jalan pikiran manusia terlalu rumit untuk dipahami oleh seekor semut seperti aku.
Menyudahi Perang
Setelah bertahun-tahun marah, akhirnya aku sadar bahwa kecewa tidak akan membawaku ke mana-mana. Hatiku membusuk Darahku menghitam Semua menggumpal di dada, hingga untuk bernafas saja kadang terasa begitu melelahkan. Ratusan hari telah lewat, sudah berkali-kali Matahari terbit dan tenggelam di atas kepala yang selama ini selalu kupenuhi dengan keluh kesah.
Hari ini aku masih melihatmu di antara kerumunan orang, dan tidak ada yang perlu kusesali.