Beberapa hari lalu, sambil masak aku dengar percakapan Mahira dan temannya dari ruang tengah.
👩 Mahira, mahira jelek! Hahaha...
🧑 Iiih, kamu mengejek aku, ya?
🧑 Iiih, jangan bilang gitu! Aku cantik, kan aku perempuan.
👩 Engga, aku yang cantik. Kamu jelek!
🧑 Tapi kata ayah dan ibuku, aku cantik.
🧑 E (inisial nama) jangan gitu... (lalu nangis kejer)
👩 Eeeh Mahira, maaf ya... (panik lalu menjauh ke ruang tamu)
Waduh, nangis juga nih anak. Tentu saja karena temannya masih disini, aku meminta Mahira untuk segera menyudahi tangisnya dan berbaikan.
🧕 Kak, udah ya, E cuma bercanda kok. Yuk baikan yuk!
🧑 Ngga mau! Mahira ngga mau lagi bercanda kayak gitu.
👩 Ibu Mahira, E pulang dulu ya.
🧕 Oh iyaaa, mainannya dibawa ya jangan ada yg ketinggalan.
👩 Tapi E takut, Mahiranya masih nangis.
🧕 Nah, makanya baikan yaaa. Main lagi gih.
Singkat cerita, si Kakak keburu pundung, ngga mau main bareng lagi. Temannya pamit pulang, lalu ngga lama kemudian muncul dari pintu belakang, memastikan Mahira masih nangis atau engga. Tapi ngga berani ngajak ngobrol Mahira, akhirnya ngobrol sama aku sampai azan Dzuhur dan pamit pulang beneran. Malamnya aku cerita ke Ayah Mahira, dan ayahnya bilang "Ngga apa-apa kak, cuma bercanda, bener kok kakak cantik, masa ayah sama ibu bohong."
Ya walaupun aku tau, kedepannya aku ngga bisa menjadikan "cuma bercanda" sebagai pembenaran. Pelan-pelan deh ya, jelasinnya.