Oh iya, yang diminta kan 'work life balance', bukan 'work appreciation balance'. Sudah terpenuhi kan 'life balance' nya? 'Appreciation balance' nya mah..ya gitu deh :)
- self reminder

roma★
Fai_Ryy
I'd rather be in outer space 🛸
Interview Vampire Daily

ellievsbear

Game Changer & Make Some Noise

Andulka
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
occasionally subtle
d e v o n
🩵 avery cochrane 🩵
almost home

❣ Chile in a Photography ❣

shark vs the universe
ojovivo
YOU ARE THE REASON
🪼
hello vonnie
Game of Thrones Daily
Color Me Curious
seen from United States
seen from United States
seen from Albania
seen from Türkiye

seen from France

seen from Ukraine

seen from Vietnam
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Italy

seen from United States
seen from India

seen from France

seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
@sekotakcokelat
Oh iya, yang diminta kan 'work life balance', bukan 'work appreciation balance'. Sudah terpenuhi kan 'life balance' nya? 'Appreciation balance' nya mah..ya gitu deh :)
- self reminder
LIKA-LIKU PEMILU
Ada dua kali pemilu yang saya cukup inget peran saya di dalamnya selain nyoblos. 2014, waktu masih kerja di ahensi, dan 2024, waktu udah kerja di tempat lain yang 'mengharuskan pekerjanya bijak berpolitik'.
2014 sebagai anak ahensi, pekerjaan saya sebenernya nggak berhubungan sama politik. Nggak megang klien di bidang itu. Tapi karena satu dan lain hal, nyaris kami semua sekantor diminta terjun. Nggak eksplisit diminta mendukung paslon tertentu sih, tapi ya.... paham aja lah ya 😌.
Kenapa saya ingat dan peduli, karena di pilpres 2014 itu cukup memberikan pengaruh secara langsung untuk kehidupan saya. Gara-gara harus nontonin debat capres dan membuat report insightnya, saya jadi harus pulang melewati tengah malam! Naik taksi sih dan bisa direimburse... tapi horornya itu loh 😭 Horor selain jurig.
Pilpres 2014 juga yang membuka mata saya bahwa agenda setting itu juga ternyata berlaku untuk media sosial. Kirain untuk media massa resmi aja ada begituan.
10 tahun kemudian, alias tahun ini, pilpresnya rame lagi. Ada 3 paslon dan untungnya udah bisa nonton debat sambil leyeh-leyeh di rumah.
Tapi, di tahun ini, justru tingkat gereget mengarah ke muak semakin bertambah. Kayak..yaampuuunnnnn segitunya banget sih pengen berkuasa ('lagi')! Mau 'kritik' terbuka di socmed, tapi sieun 'ditegur' heu.
Saya lupa 2014 ada nyoblos lagi selain capres nggak, tapi di tahun ini ada 5 kertas suara. 2019 udah banyak juga sih kalo nggak salah.
Nggak penting sih seberapa banyak atau 'perwakilan' apa aja yang harus dipilih, melainkan informasinya.
2024, selain capres, kita diminta memilih perwakilan untuk di DPR RI, DPRD Prov, DPRD Kota/Kab, dan DPD. Meski media kampanyenya bikin sampah visual di mana-mana, itu nggak informatif! Ada siih..web bikinan sukarelawan (?) yang memuat data caleg-caleg berbagai tingkat tadi untuk se-Indonesia Raya. Tapi untuk di kota tempat saya tinggal....
...nggak ada info apa-apa tentang calegnya. Selain nama partai sama nomor urutnya.
Sehingga malam sebelum pencoblosan, saya gugling sendiri beberapa nama caleg yang 'kayaknya pernah denger'. Ada nama caleg yang dikenal tapi track recordnya nggak bagus, atau track record bagus tapi ngasih 'serangan tumblr', skip.
Hasil gugling ini lumayan mengejutkan karena emang saya ambilnya dari hasil pencarian berupa 'berita'. Ada yang ternyata pernah berkasus karena dianggap nyerobot lahan tambang, ada yang berkasus karena menggunakan lahan ilegal, bahkan ada yang keluar hasilnya sebagai 'mantan napi korupsi'. Mantan napi. Korupsi. Terus bisa nyaleg lagi? Yakin udah tobat tuh nggak akan korupsi lagi? Nggak korupsi tapi kolusi atau nepotisme, pret!
Saya yakin, hasil pemilu tahun ini nggak 'penuh kecurangan' seperti 5 tahun sebelumnya. Kan kerja kerasnya udah lama banget, ngelibatin banyak pihak lagi. Masa gagal 😌 Masa curang, selisihnya jauh kok 😌.
Supaya nggak nyinyir-nyinyir amat, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan lesson learned yang didapat dari proses 'pesta demokrasi' ini.
1. Kalo pengen sesuatu, usaha terus. Pantang mundur. Gimana caranya sampai dapet pokoknya. Tapi ya kalo masih waras, harusnya pakai cara-cara yang halal, nggak melanggar hukum (atau maksa bikin hukum baru), dan nggak melanggar etika. Dan kalo masih waras juga, yaudah sih legowo aja kalo nggak dapet yang diinginkan. Siapa tau diganti sama yang lebih baik. Atau lagi dijauhkan dari keburukan.
2. Kalo udah dikasih satu tanggung jawab, kerjain dengan baik. Sampai masa tanggung jawabnya selesai. Dinyinyirin? Biarin. Nggak diapresiasi? Nggak papa. Yang penting tetep di koridornya, tidak melanggar hukum dan kalo bisa tidak melanggae etika juga. Mencari win win solution. Pada akhirnya, suatu saat akan ada yang sukarela menceritakan kinerja kita.
3. Tetep jadi orang baik, tetep memegang integritas, dan tetep (berusaha) positive thinking.
Sekian.
Bahwa menjadi terkenal itu tak penting. Yang lebih penting itu adalah memberikan manfaat. Jika nanti jadi terkenal, maka itu bonusnya saja.
-Kado Terbaik (J.S. Khairen, 2023)
Sahabat yang peduli, keluarga yang mengerti, cinta yang sejati. Itu semua adalah kado terbaik yang boleh jadi tak dapat diukur dengan uang, dengan kalkulator manusia. Jika kau punya, hei, jadilah juga kado terbaik untuk mereka.
-Kado Terbaik (J.S. Khairen, 2023)
Banyak kebetulan menyenangkan yang bisa berkumpul di kehidupanmu. Cara mengundangnya adalah dengan niatkan, jalankan, doakan, dan beri senyuman.
-Kado Terbaik (J.S. Khairen, 2023)
Cerita Putri Pena: Kembali
Halo! Aku kembali. Ya, aku tidak ke mana-mana sesungguhnya. Hanya saja maksudku, mungkin aku akan kembali sering menulis dan berbagi cerita. Melakukan kesenangan lama. Mendengarkan nyanyian alam yang kusuka.
Mengapa aku memutuskan kembali menulis? Kurasa, aku memang membutuhkannya. Bagiku, aku tidak peduli siapa saja yang akan membaca tulisanku atau bagaimana mereka akan menanggapinya. Yang penting, aku sudah mengungkapkannya.
Berbeda halnya jika aku bercerita secara langsung. Kalau hal itu terjadi, artinya aku ingin didengarkan. Dengan sungguh-sungguh. Meski kadang kejadian yang kuceritakan memerlukan kritik dan saran, aku tidak terlalu ingin mendengarkan itu. Aku hanya ingin kau, siapapun yang kupilih sebagai tempat bercerita, duduk bersamaku, mendengarkanku, mendukungku saat itu.
Jadi, apa yang sedang terjadi?
Kadang aku merasa semua sempurna, sekaligus sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. .
Kapan-kapan akan kuceritakan ya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di Negeri Utara saat ini. Semoga kau bersedia mendengarkan.
Suaranya tulus. Diingat itu... diingat dengan tulus itu begitu sederhana. Tapi hal-hal sederhana itu yang rasanya justru jauh dari sederhana. -Heartbreak Motel by Ika Natassa
"Pada akhirnya, bukan ganteng dan wangi yang jadi persoalannya, tapi bahwa dia peduli dan rasa pedulinya menggenapi." -Heartbreak Motel by Ika Natassa
Ada yang diberi rumah ratusan juta
Bahagianya tak terhingga
Seluruh dunia rasanya harus mengetahuinya
Ada yang cukup diberikan pujian
Disampaikan dengan senyuman
Disimpan dalam kenangan
Jalannya berbeda
Ceritanya tak perlu sama
Jalani saja
Semoga semua indah pada akhirnya
Kepada, Diriku di Masa Kini
Kamu hebat.
Kamu kuat.
Kamu keren.
Jangan pernah menyerah. Istirahat dulu aja kalau memang sudah lelah.
Bacotmu, Karmamu
"Enak ya di sana, ngurus rumah doang tapi golongannya tinggi."
'Menghadapi bacot jelema' tidak pernah menjadi salah satu kualifikasi yang disyaratkan untuk setiap posisi yang pernah saya tempati. Dari awal masuk deh, ternyata golongan jabatan saya kayaknya 'sempat diperdebatkan' karena 'ketinggian'. Entah saya doang atau juga teman-teman di business support lainnya.
Geser dikit posisinya ke sebelah, dibacotin lagi. Sering eksis lah, sering masuk tipi lah, sering dinas lah, dan bacot lain yang menganggap posisi baru ini banyak hura-huranya.
Sekarang agak naik dikit, masih ada lagi yang bacot. Balik kayak awal dulu, topiknya mempermasalahkan golongan yang 'ketinggian'. Duh kalo ketemu orangnya langsung, rasanya pengen deh noyor sambil meluruskan pemikiran korsletnya: Heh jelema, maneh pikir aing nu menta-menta hoyong didiyeu? Maneh pikir aing nu ngatur golongan? Maneh pikir aing cicing cicing wae teras ujug-ujug jiga kiyeu?!!!!
Sebenernya, bacotan-bacotan ini nggak perlu ditanggapin serius sih. Bisa dibecandain dan sekalian manas-manasin biar tambah kesel si pembacot. Tapi kalo lagi ga mood ngeladenin, paling sebatas "haha, ai maneh kunaon?"
Sayangnya, kadang kebacotan ini disampaikan kepada orang dekat saya dan berimbas kepadanya. Sok lah mau ngebacot segimana juga, insyaAllah udah lumayan kebal saya pakai jurus 'masuk telinga kanan keluar telinga kiri besok-besok juga lupa'. Tapi kalo sampe yang denger bukan saya langsung dan malah orang-orang dekat saya...dan itu berimbas sama emosi mereka... liat aja nanti kalo kita ketemu langsung :)
Saya sih nggak berharap bakal dibelain banget gimana, ya mungkin orang yang mau membelanya juga ada pertimbangan lain. Toh malah bikin cape hati dan rugi waktu juga kadang kalau berharap sama manusia.
Cuma yaa itu tadi, cik atuh lah ngomongnya langsung di depan saya aja. Siapa tau bisa balik saya ingetin baik-baik bahwa rezeki udah ada yang mengatur dan kita nggak pernah tau apa yang udah dilakukan seseorang sehingga dia bisa seperti yang terlihat sekarang. Atau masalah sebesar apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan di balik sinarnya yang kayaknya menyilaukan mata para pembacot.
Kalo diingetin masih nggak mempan, ya sekalian ditampar aja sih: tiati, apa yang kamu omongin/lakuin hari ini, suatu saat efeknya bisa lebih uwow daripada omongan/kelakuanmu.
Kelilipan cabe rawit itu sakit. Tapi, diomelin gara-gara kelilipan cabe rawit jauh, jauh lebih sakit.
Semesta, aku sudah lelah.
Tidak mengapa aku kalah.
Hanya saja, izinkan aku bertanya,
Bolehkah aku menyerah?
"Saya tidak tahu apa yang saya harapkan akan terjadi, tetapi mungkin yang terbaik adalah yang terjadi biarlah terjadi."
Ancika (Pidi Baiq: 2015)
Bila rindu ini
Masih milikmu
Ku hadirkan sebuah
Tanya untukmu
Harus brapa lama?
Harus brapa lama?
Aku menunggumu
Aku menunggu