Kangen banget banget banget
Alisa U Zemlji Chuda

Origami Around

Product Placement

Discoholic 🪩
Jules of Nature
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

roma★

JVL
trying on a metaphor
we're not kids anymore.
No title available
Peter Solarz
RMH

⁂
Xuebing Du
will byers stan first human second

Kiana Khansmith
cherry valley forever

Kaledo Art
One Nice Bug Per Day
seen from Germany

seen from Pakistan
seen from United States
seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Singapore

seen from Australia

seen from Singapore
@senjadansastra
Kangen banget banget banget
If this world won’t kill you, but nostalgia will…
Muncul lagi kangennya, semoga perjalanan pulangmu diberikan kelancaran dan keselamatan…
Selalu muncul kekangenan yang tak berkesudahan ini…
Senja di ufuk barat selalu mengingatkanku padamu… Di pantai itu sambil meminum degan dan gorengan bahkan sampai kopi… Kangen berat…
Kangennya muncul terus…
Udah kangen lagi…
Monolog Batin
Aku tak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa kabur.
Langit tetap biru, laut masih tenang, tapi ada sesuatu dalam dadaku yang bergejolak. Tak kasat mata, tapi cukup kuat untuk membuatku meragukan segalanya… termasuk isi hatiku sendiri.
Aku berjalan, terus berjalan, seolah ada sesuatu yang kucari. Tapi anehnya, aku tak pernah benar-benar tahu apa itu. Apa yang kucari? Kebebasan? Jawaban? Atau hanya tempat di mana aku bisa berhenti berpura-pura kuat?
Orang-orang bilang aku berubah. Aku tersenyum, pura-pura tak paham, padahal aku tahu, akulah yang perlahan menjauh dari diriku sendiri.
Kadang aku bertanya: Apakah wajar merindukan versi dirimu yang dulu? Yang tak takut gagal, yang mencintai tanpa syarat, yang percaya bahwa dunia tak selalu gelap?
Kesepian ini bukan tentang tak ada orang di sekitarku. Ini tentang tak mengenali suara sendiri di dalam kepala. Tentang lagu yang tak selesai, tentang rindu yang tak punya alamat.
Pancarona, katanya. Perubahan. Ketidakpastian. Indah dan menyakitkan dalam satu tarikan napas.
Tapi aku lelah.
Aku lelah bertarung dengan pikiranku sendiri. Aku ingin diam. Aku ingin percaya lagi.
Suara kecil di dalam diriku mulai bicara. Lembut. Tegas. “Jangan kau meragu.” “Sudah waktunya pulang.”
Pulang… Bukan ke tempat. Tapi ke rasa yang pernah membuatku utuh.
Kangen banget banget…
Tertaut rindu yang mendalam… nyelekit
Selalu merindu… Tak pernah habis…
Selalu kangen…kangen selalu..
There is nothing left that directly connects us anymore... All the evidences are gone... Just the memories that left...
Dan pada akhirnya kita berubah bukan karena takut kehilangan, tapi karena kita dicintai…
Tak kusangka, tahun ini keheningan tak kunjung reda, menjelma bayang yang tak lelah menatap. Ia duduk di sampingku, mendengarkan dunia berlalu tanpa suara.
Aku hanya diam di sudut waktu, menyimpan hari-hari yang tak lagi berwarna. Setiap detik berlalu tanpa bentuk, seperti debu yang mengendap di dada.
Dalam kesunyian ini, aku… bukan siapa-siapa, hanya gema dari diri yang pernah percaya pada cahaya.
Aku lelah… dan akan terlelap. Bukan karena gelap, tapi karena terang tak lagi memanggilku pulang.
Perih yang terasa Sakit yang tak sirna Harapan akankah ada Berputar arah…
Perih yang terasa Sakit yang tak sirna Harapan akankah ada Berubah…
It’s more and more like 2022, where i am alone, struggling, crying without anyone knows… God, please help me…