“Bro, itu riba. Dosanya yang paling ringan seperti berzina dengan orangtua sendiri.”
“Lho, yang penting kan niatnya, bro! Niat gue kan buat nafkahin keluarga.”
Pernah nggak lo ngalamin sendiri situasi kayak percakapan diatas?
Kita berdalil dengan hadits populer yang diriwayatkan Bukhari no. 1, “Sesungguhnya, amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuatu yang diniatkannya.” Kita berdalil untuk ‘membenarkan’ sesuatu yang kita lakukan, padahal termasuk larangan dalam syariat. Pertanyaannya adalah…
“Apa bisa NIAT BAIK merubah yang hakikatnya KEBURUKAN menjadi KEBAIKAN?”
Ok. Sekarang kita tanya ke diri kita, apa atau siapa tolak ukur kebaikan itu?
Akal kita? Atau hawa nafsu kita?
Kalo segala hal itu tergantung niatnya, apakah menjadi halal perbuatan seorang wanita yang terpaksa menjadi pezina demi membiayai kehidupan anaknya?
Apakah menjadi halal niat seorang pembunuh bayaran yang merenggut nyawa manusia demi menafkahi keluarganya?
Apakah menjadi halal niat seorang koruptor yang korupsi demi membahagiakan anak istrinya?
Jika setiap orang berdalil seperti itu, bisa hancur agama kita..
Bisa hancur dunia ini..
Penjelasan dari hadits “Setiap amalan tergantung pada niatnya” adalah jika amalan tersebut dilakukan semata-mata mengharap ridho Allah, maka sah amalannya. Lalu, akankah sampai ridho Allah jika dengan mengerjakan sesuatu yang dimurkaiNya?
Apapun di dunia ini hukum asalnya adalah mubah (diperbolehkan), sampai ada dalil yang mengharamkannya. Dan untuk hal yang berkaitan dengan ibadah, hukum asalnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Maka itu tolak ukur KEBAIKAN adalah al-Qur'an dan hadits (sunnah). Bukan akal, logika, atau hawa nafsu kita. So, baiknya niat nggak bisa ngerubah yang baik jadi buruk.
Wallahu a’lam bishawab. – Read on Path.