Hoppp (mandek) cukkk ora Hope (ngarep). Mandekkkk cukkk mandekkkk...! Hoppp...!
Antah Berantah
h
Alisa U Zemlji Chuda

No title available
Keni
Mike Driver
will byers stan first human second

blake kathryn
Three Goblin Art
dirt enthusiast
hello vonnie

tannertan36
taylor price

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
Stranger Things
occasionally subtle
Show & Tell

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Singapore
seen from Australia
seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Türkiye
seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from Poland
seen from Greece
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@aappip
Hoppp (mandek) cukkk ora Hope (ngarep). Mandekkkk cukkk mandekkkk...! Hoppp...!
Antah Berantah
Saya tidak ingin memberikan beban (kepada orang lain) pada apa yang bisa saya kerjakan sendiri.
—Ust. Adi Hidayat
Perkataan Ust. Adi kepada Ust. Salim, ketika Ust. Salim hendak membantu menghapus papan tulis karena telah penuh dengan coretan. Sederhana, tapi prinsipil. Panutan.
Sederhana.
Dapet ucapan dari salah satu teman, isinya menohok haha... Terimakasih :')
Chris Hadfield’s “An Astronaut’s Advice”
Dreams come true.
George Lucas has suggested that midichlorians were based on the idea of the mitochondria. So, could the Jedi exist then? We examine the possibilities with science and tech in our NEW VIDEO: https://youtu.be/zNUPS919HKM
Director Rian Johnson and the cast of Star Wars: The Last Jedi bring a galaxy far, far away to Mexico City.
Darwis Tere Liye bilang tentang Acara Pernikahan
*kalau kita akan menikah (repost utk ke-3 atau ke-4 kalinya, silahkan di share, repots, copas jika bermanfaat) maka demikian, saran dr sy: … 1. tdk usah buat kartu undangan muahal2, sy tahu, ini urusan sekali seumur hidup, mau yg spesial, mewah, tp buat apa? sebagian besar kartu undangan itu berakhir di kotak sampah. kecuali kalau ditulis di kartu undangannya: ‘please, harga kartu undangan ini rp 20.000/buah, jd angpao hadiah pernikahannya minimal 10x dr itu. jadi buatlah yg elegan tp sederhana. berkelas tp murah meriah. well, tips detail soal ini, tanya sama pak tukang bikin undangan. di jakarta, di dekat tebet sana, ada pasar yg penuh ratusan loket bikin kartu undangan, tinggal pilih. … 2. tdk usah pakai musik2 yg aneh2. sy tahu, undangan nanti bengong kalau tdk ada hiburan. hanya saja, terserah, apakah mau lbh ramai dihadiri penghuni langit atau penghuni bumi? musik gamelan, boleh. tradisional boleh. nasyid yg simpel boleh (karena ada juga nasyid yg kencang2, mengganggu). lagu jazz juga boleh. tp jangan pernah dangdutan, organ tunggal dgn penyanyi2 seksi–ada juga jazz dgn penyanyi berpakaian tak sopan. musik arab? jelas tdk boleh kalau pakai penari perut. ngerti kan? arab tdk otomatis islami. … 3. tdk usah pakai foto pre-wedding segala. tdk usah deh. nanti sj, foto post-wedding. sebenarnya buat apa sih foto pre-wedding? sy coba buka kamus tebal, melongok buku2, website, tdk ada alasan kokoh kenapa foto pre-wed harus ada. buat kenangan? hehe, ini argumen lucu sekali–terserah deh kalau ada yg tdk ketawa dan tetap ngotot pre-wed. … 4. pawang hujan. aduh, celaka urusan. seperti tdk punya Tuhan. di hari pernikahan yg mengharap berkah, kita malah menugaskan orang komat-kamit baca mantera mengusir hujan–biar undangan bisa datang kinclong gitu. bagus betul. jika kita membenci hujan, maka kita membenci kitab suci–cek ayat2nya dlm kitab suci. ingatkan seluruh keluarga, jangan pernah pakai pawang hujan. ini juga termasuk berharap berkah dengan tanggal2 tertentu, takut menikah di tanggal lain karena nanti celaka, kramat, dsbgnya. … 5. menyebut2 kebanggaan, gelar, peristiwa dll dalam prosesi pernikahan. ada saja pernikahan yg menghabiskan 10 menit utk membacakan CV pengantin. sy pikir tdk perlu, karena itu tdk ada relevansinya dgn akan selanggeng apa pernikahan kita. … 6. tentu sj, jangan bermewah2. sy tahu, pernikahan itu milik keluarga. ada keinginan orang tua, ada ambisi orang tua. tp berusahalah utk di-rem. karena eh karena, yg paling penting dr sebuah pernikahan adalah pengharapan. apa itu pengharapan? doa. doa2 yg dipanjatkan. ketika doa itu berpilin ke atas, menyatu, maka semoga berbuah keluarga yg baik2, keturunan yg baik2. … 7. terakhir, bukankah kita sepakat bahwa pernikahan itu adalah eh adalah ritual suci? penuh khidmat? maka pastikan, jangan sampai ya, amit2, gara2 resepsi kita jadi meninggalkan shalat, diburu2, dijama’ qashar pula. nah, silahkan. mau dituruti atau tdk sarannya. bebas. namanya juga saran.
oke banget
Totally agree!!. Cita - cita dan impian banget punya usaha entah undangan, suvenir, atau WO, yang membantu pasangan - pasangan dengan budget terbatas untuk bikin acara yang sederhana tapi berkelas dan berkesan.
Ga bosen mbaca ini terus..m
Traveling Itu Untuk Mikir!
Ini tentang traveling.
Kau mendatangi tempat-tempat indah mempesona, tetapi jarang mendatangi rumah-Nya..
Kau juga memuji keindahan alam, tapi sedikitpun tidak memuji Sang Pencipta-nya..
Lalu kau pun bernyanyi bahagia di alam bebas, tapi tak pernah berzikir mengingat-Nya..
Syahdan, kau sering berkelana kemana-mana, tapi pulang tidak menambah keimanan kepada-Nya..
Bagaimana bisa?
Padahal di setiap keindahan yang kita lihat dan di setiap kesempurnaan yang kita kagumi, tak akan lepas dari kuasa Allah. Di manapun kaki berpijak, semua pesona adalah milik-Nya. Di setiap decap kagum, harusnya ditujukan untuk Allah, bukan? Sebab Dialah:
“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (QS. 67: 3-4)
Lalu, apakah kesempurnaan ciptaan-Nya itu hanya sekadar untuk dinikmati? Diambil fotonya? Atau sekadar untuk berbahagia? Tidak. Ada hikmah di balik setiap penciptaan. Allah menjamin ini:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah.” (QS. 38: 27)
Well, hikmah itu untuk apa dan untuk siapa? Traveler seharusnya tahu bahwa:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. 3: 190-191)
O zaman (jadi), traveling itu bukan sekadar melepas penat, mencari kebahagiaan, atau mengabadikan momen luar biasa. Sederhananya, traveling itu untuk menjadikan kita manusia yang berpikir. Mengingat Allah dalam segala kondisi sambil memikirkan tentang indahnya alam–sebab hikmah berserakan di situ. Lalu kita memohon agar Allah melindungi dari akhir yang memilukan.
Itu esensi dari traveling. Jadi, mari berpetualang! Yuk!
İstanbul, 29 Nov 2014.
Foto: pagi hari di ujung Jawa Timur.
Traveling itu untuk memompa energi agar semakin dekat dengan-Nya. Ini bukan klise, tapi jelas pesan ini tersurat di al-Quran bahwa kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku, agar saling mengenal satu dengan lainnya. Sehingga kita makin merunduk, toleran, dan mengakui kebesaran-Nya.
❤❤❤
Apa yang dibutuhkan Anak dari seorang Bapak? Ini sambunhan postingan sebelumnya yang mana hal tersebut baru saya temukan jawabannya belakangan, saat Dayna menginjak 1 tahun . Anak butuh kehadiran Bapak. Hadir sebenar-benarnya hadir, bukan hanya badan di depan Anak tapi pikiran masih di Kantor. Selain itu Anak juga butuh partisipasi Bapak dalam kehidupan sehari-harinya, seperti bermain bersama, membacakan buku, gendong-gendongan, dll. Hal yang cukup penting juga adalah, Bapak sangat berperan dalam proses pembelajaran Anak. Saya mengajarkan beberapa hal kepada Dayna yang sangat cepat Ia tiru (walaupun ada juga hal hal tak berfaedah 😂, seperti mangap. Wk) . Dan insyaAllah ke depan Saya pribadi berusaha semakin mengintensifkan keterlibatan dalam proses tumbuh Dayna. Sekali lagi ini bukan hanya perkara bisa memenuhi kebutuhan anak, finansial dan mengenal Tuhan. We will go to the next level together, insyaAllah. Mohon do'anya :) . #OtwTokyo #TheMadrians (at Soekarno–Hatta International Airport)
Dan bagaimana kalau bapaknya kerjanya luar kota mulu? 😢😢😢
Tak Mudah Ternyata Menjadi Bapak
Saya termasuk orang yang suka mengkonstruksi pemikiran sendiri dan tidak mudah percaya saja pada pemikiran orang lain. Termasuk dalam ide dan pemikiran mengelola keluarga. Di awal saya sangat meyakini saya mampu dan bisa menjadi Bapak dengan mudah, karena skala manajerialnya saya kira kecil, hanya 1 Ibu dan (beberapa) Anak.
Ternyata…. Hal itu tak semudah dan sesederhana yang saya kira. Ini bukan hanya tentang perkara manajerial dengan mengatur input, proses dan output agar sesuai alur. Ini juga bukan hanya tentang memenuhi segala kebutuhan finansial yang dibutuhkan keluarga dan semua beres. Dannnn, ini bukan hanya perkara sekadar keluarga mengenal AllahSWT dan beres. Sekali lagi, hal ini ternyata sangat tidak sederhana
Setelah 1 tahun umur Dayna sejauh ini, alhamdulillah saya pun terus belajar dan berproses dalam mengelola keluarga. Ini juga merupakan sebuah perjalanan yang membutuhkan konsistensi untuk terus berpegang pada value dan prinsip. Dan, proses yang dijalani harus tumbuh ke arah positif dan tak boleh statis. Harus tetap mau belajar, belajar dan terus belajar
“Karena Selama Hidup Kita Belajar” (Termasuk menjadi Bapak dan Pemimpin Keluarga)
Yang harus selalu menjadi pegangan adalah bahwa jika mampu mengelola keluarga, maka akan mampu mengelola sesuatu yang lebih besar lagi. Daan pasca 1 tahun usia Dayna ini barulah saya bisa memahami ternyata inilah maksud dari “keluarga adalah pilar pembangunan sebuah peradaban”.
Keluarga yang islami, progresif, dan menginspirasi dalam upaya-upaya menciptakan perubahan.
#Dayna1Tahun #MyFamily m
10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story
Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.
Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.
Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.
Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.
Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.
Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.
Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.
1. Just Start and Grow
Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.
Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.
Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.
So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.
2. The Cofounders: Perfect Triangle
Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.
Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.
Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.
Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.
Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.
3. Shameless in Learning
Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.
Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.
“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.
4. Learning Fast By Going to One Source
Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.
Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.
Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.
Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.
Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.
5. Go With Mission
Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.
Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.
Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.
6. To Scale, Do The Unscalable
Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.
Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.
Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.
Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang scalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.
7. Recruit The Best Talent
Di dunia startup, tim adalah koentji.
Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.
Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.
Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.
8. Disruption Always Get Rejection
Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.
Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.
Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.
Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.
Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.
9. Bigger Size = Bigger Problems
Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.
Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.
Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.
Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.
Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.
10. Be A Cockroach
Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.
Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.
Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.
Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.
“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.
So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun.
Jadilah kecoa.
Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.
Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:
The Airbnb Story - Startup Founder Biography
Brian Chesky - Launching Airbnb and the Challenges of Scale
Joe Gebbia - How Airbnb Design for Trust
Nathan Blecharczyk - The real story about how Airbnb was founded
Semoga menginspirasi.
Salam kreatif!
Bagus banget. #noted
Ibu. Aku pulang. I miss you so much. :)
-Hanya anak kecil yg rindu dengan ibunya-
Bukber
Ketika saya pindah ke Jakarta pada medio 2000-an, saya baru menyadari ada semacam bidah hasanah yang dilakukan Kelas Menengah Muslim di wilayah urban ketika Ramadan tiba. Pada hari-hari pertama Ramadan, mereka akan berusaha sekali untuk sahur dan berbuka di rumah. Teman-teman asrama dan kos saya yang tinggalnya masih di wilayah Jabodetabek pasti menghilang untuk pulang ke rumah di hari-hari awal Ramadan. Tak jarang, sebagai perantauan saya diajak serta mencicipi kehangatan keluarga mereka.
Ketika hari-hari pertama Ramadan telah berlalu, kegiatan akan berganti dengan maraknya jadwal buka bersama yang biasa disingkat dengan bukber. Hal ini biasanya dilakukan pada saat akhir pekan. Tajuknya macam-macam. Bisa buka bersama dengan teman-teman SMP, SMA, satu organisasi atau angkatan ketika kuliah, atau rekan-rekan kerja (yang sebenarnya setiap hari juga bertemu). Momen bukber dianggap sebagai reuni kecil-kecilan yang mesti dilakukan ketika Ramadan datang.
Lalu, nanti ketika Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir, kesibukan mulai berganti. Ada yang mulai mendaftar masjid-masjid yang asyik untuk iktikaf. Sebagian lagi mulai mengepak barang-barang untuk dibawa mudik. Sebagian yang lain mulai kebingungan mencari pembantu pengganti (ada juga yang menjadikan momen ini untuk melatih anak-anak mereka mandiri dengan mencuci piring atau malah baju mereka sendiri, menyapu, dan kegiatan-kegiatan beberes rumah lainnya) karena si mbak akan mudik ke kampung halamannya.
Hal-hal ini tak pernah saya jumpai di kampung saya sana. Setiap berbuka dan sahur, ya di rumah masing-masing. Tidak ada itu Sahur on the road, atau bukber di mall (yaiyalah, Alfamart dan Indomaret saja baru ada beberapa tahun ini), apalagi mencari hotel yang affordable ketika lebaran sehingga tak perlu repot-repot merapihkan rumah.
Nah, karena Ramadan sudah memasuki fase kedua, merujuk pembagian psiko-sosio-antropolokhis (pliss jangan di-google) masyarakat muslim urban asal-asalan di atas, saya ingin berbagi keresahan (ceilah, udah macam stand up comedian aja lu tong pakek keresahan segala) terkait bukber. Ada dua poin utama yang ingin saya sampaikan. Dua poin ini saya simpulkan dari pengamatan saya selama satu dasawarsa terakhir (cakeeeep…)
1. Antara Ngobrol dan Maghriban
Dilema! Terutama jika bukber yang sedang kamu hadiri adalah bukber teman-teman angkatan ketika kuliah dan si dia, seseorang yang begitu menarik hatimu juga ada di sana. Durasi kegiatan ini maksimal dua sampai tiga jam, salat Maghrib dengan segala antriannya tentu melatakkanmu pada posisi dilematis.
Akan tetapi bukankah di situ justru ujiannya. Ujian itu memang merayap pelan-pelan pada titik terlemah diri kita. Jika kita tak sanggup menghadapinya berarti kita tak bisa menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika kita bisa melewatinya, pertanda kita sudah naik kelas.
Akan tetapi sebaik apapun kita mengatur diri, kita perlu mempersiapkan atmosfer lingkungan yang mendukung niat kita untuk naik kelas tadi. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah usahakan tempat berbuka memiliki area salat yang memadai. Paling nyaman memang di rumah sih, tetapi jika tidak kamu lebih baik sudah stand by di dalam area salat ketika Maghrib menjelang dengan bekal sebotol Aqua (percayalah ini bukan product placement). Dengan begitu kamu bisa menghindari antrian yang panjang dan waktu berbincang bisa optimal bukan? Tentu saja metode ini hanya akan sukses jika tempat berbukamu memang menyediakan layanan booking meja. Jika tidak memang mesti ada yang berkorban untuk “menunggu meja” (jika anggota bukber laki-laki dan perempuan, tentu ada perempuan yang memang sedang tidak salat. Ini keuntungan lain bukber lintas gender selain… isi sendiri).
2. Ramadan Bulan Berbagi kan?
Kegiatan bukber bukan kegiatan murah. Kecuali jika bukber yang dimaksud literally hanya untuk berbuka: cukup seteguk air dan tiga butir kurma lalu bubar untuk Maghrib dan tak kembali berkumpul lagi. Kenyataannya kan tidak. Menu yang dipilih biasanya lengkap dan seringkali di atas budget makan sehari-hari. Jika kegiatan bukber selama Ramadan dilakukan cukup banyak, tentu dana yang dibutuhkan tak bisa dibilang sedikit. Di sini ironi itu terjadi. Ramadan yang seharusnya membuat kita belajar bagaimana kehidupan saudara-saudara kita yang belum sejahtera, sehingga diharapkan makin tumbuh semangat kita untuk terus berbagi, yang terjadi malah sebaliknya. Jika sudah begini, tentu kita perlu melakukan muhasabah terkait bagaimana kita menjalani Ramadan kita.
Bukankah Rasulullah sendiri bersabda, “barang siapa yang melakukan puasa dengan imanan wa ihtisaban, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Sementara ulama-ulama terdahulu mengartikan ihtisaban sebagai mengharapkan pahala, kita tak boleh pula lupa bahwa kata ihtisaban berakar dari hasiba (berhitung) yang tentu erat dengan muhasabah. Semoga kita termasuk orang-orang yang terus meng-hisab diri kita di bulan Ramadan, sehingga perilaku kita adalah memang berasal dari perhitungan-perhitungan terbaik yang telah pikirkan.
Catatan saja, di bulan Ramadan biasanya banyak kegiatan-kegiatan pengumpulan donasi yang bisa kamu ikuti. Salah satunya adalah Wakaf Ramadhan yang salah satu pengggasnya adalah pesohor Tumblr (untuk diperhatikan: meskipun ia pesohor tetapi levelnya di dunia per-tumblr-an Tanah Air masih berada di Kelas Keempat. Ia sampai saat ini belum bisa menerima kenyataan pahit itu.) yang sedang merasa hidupnya lagi sucks-sucks-nya, @isnidalimunthe .
Eits.. tunggu dulu. Poin utamanya memang sudah klaar, tetapi ada satu lagi poin bonus buat kalian yang sudah sabar membaca hingga di titik ini.
3. Unintentional Bukber
Tak semua bukber direncanakan. Ada pula yang terjadi tanpa diduga-duga. Beberapa kali saya pernah merasakan bukber tipe ini. Kadang di KRL, pernah juga di angkot. Jalanan Jakarta yang hiruk-pikuk membuat kita terkadang gagal memprediksi waktu tiba di rumah. Kadang-kadang, mau tak mau, kita sudah mendengar azan Maghrib ketika di perjalanan. Agar suasana tak terlampau melankolik karena gagal berbuka di rumah, bawalah minuman atau panganan kecil untuk beberapa orang. Orang-orang yang kamu tawari pasti akan senang menerima minuman atau makanan pembatal puasa yang kamu sodorkan. Pahala dapat, kebahagiaan pun juga.
Catatan penting: Tingginya angka kriminalitas di wilayah Jabodetabek kadang membuat perbuatan baik dicurigai. Kamu tak perlu baper jika minuman yang kamu berikan tak ada yang menerima. Cukup tersenyum. Yang penting niatnya sudah tersampaikan. Hal yang tak kalah penting kedua adalah peraturan tak boleh makan dan minum di kereta tentu layak dan harus dipatuhi, akan tetapi membatalkan puasa di awal waktu tentu menjadi prioritas.
Kredit Desain @anugrahilham-blog
Syukaaaaa walaupun di sela-sela tulisannya gw diledekin, bikin KZL 😑😂. Alhamdulillah gw jarang banget ikut bukber kecuali yang disambung sama sholat berjamaah sambung taraweh karena sayang yah booooo pahalanya kalau disia-siakan hanya karena bukber yang mungkin bisa dilakukan di lain kesempatan :) #knowyourpriority #duniahanyasementara
BerSEMANGAT!!
Harusnya ya gini kalau buber, jadi jelas dan bermanfaat. 😁
Terlalu banyak laki-laki yang mengajari perempuan bagaimana cara berpakaian; padahal mereka seharusnya terlebih dahulu mengajari sesama tentang bagaimana mengenakan pakaian ketakwaan.
(via herricahyadi)
Saya laki-laki, tapi saya tidak suka mengoreksi cara berpakaian orang lain, terlebih mengomentari lawan jenis. Seolah; 1) Saya paling tahu tentang hidup mereka, 2) Mereka harus menyesuaikan selera saya. Kecuali untuk satu hal; pakaian takwa.
(via herricahyadi)
Kok saya setuju ya sama pendapat mas her, 😆
Mohon untuk warga jakarta, pamer jari yang udah ada tintanya aja yah. Jangan pamer jari yang udah ada cincinnya. Jaga perasaan mereka yang masih polos jari manisnya :) Sekian dan terimakasih !
#semarak #pilgub #DKI
Spend your life with those who count you as a blessing, instead of a trial.
#ntms :)