Terjawab sudah.
Beberapa hari lalu, saya menyaksikan seorang ayah yang sedang jengkel, meneriaki anaknya yang baru berusia 13 tahun. Perkaranya sederhana, hanya karena si anak menunda perintah ayahnya sekitar 1-2 menit, sedangkan ayahnya tidak sabar menunggu. Normalnya, untuk masalah seperti itu tidak perlu sampai menyulut api emosi. Namun, saya berusaha beranggapan bahwa mungkin permasalahan kecil-kecil itu sudah menggunung, yang akhirnya meledak tak terbendung.
Dan saya paham betapa kerasnya sang ayah berjuang memenjarakan kemarahan. Iya lantunkan dzikir dengan nafas tersengal berkali-kali, "astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah...", Kemudian ia pergi ke lantai dua, meninggalkan anaknya yang tertegun, yang saya yakin sekali jantungnya berdegup hebat.
Adegan singkat hari itu mengingatkan saya akan pertanyaan pembuka resolusi 2018 yang sering sekali saya terima, padahal bulan Januari belum bergerak menuju Minggu ke 3, "Kamu kurang siap apa sih untuk nikah?"
Ini jawabannya.
Hari itu saya menyadari betapa terbatasnya jarak pandang kita terhadap sesuatu. Berapa banyak kita temukan pasangan orang buta? Yang secara logika, untuk memastikan benda yang dipegangnya saja harus meraba-raba. Lalu bagaimana mereka bisa berjuang tanpa saling memandang? Atau berapa banyak kita temukan seorang pemalas yang kelihatannya senang tidur-tiduran, kamarnya berantakan, tiba-tiba dikabari "jodohmu datang", dan seolah dia menjawab, "saya? Sekarang?".
Di sisi lain, banyak orang berkecukupan yang langkahnya belum tergerak ke pelaminan. Banyak orang tampan dan cantik rupawan, tapi masih menunggu kehadiran pasangan idaman. Banyak orang berhati permata dan berkahlak mulia harus mempertahankan kesabaran ketika jodohnya masih ditangguhkan.
Dan kejadian hari itu merupakan bukti bahwa skenario Allah untuk urusan jodoh tidak bisa dicocokkan dengan skema pikiran sederhana kita. Mungkin kita bisa menerka tentang kesiapan seseorang untuk merajut asa dalam biduk rumah tangga. Secara tidak sadar kita pastikan orang itu sudah matang berdasarkan ukuran kita. Baik akhlaknya. Santun perilakunya. Murah senyumnya. Dermawan tangannya. Lembut perangainya. Tak putus pula shalat dan tilawahnya. Dan ketika belum juga datang jodohnya, kita berkerut heran, "dia kurang siap apa?"
Padahal, lima bulan sebelum orang itu melihat keindahan dunia, Allah sudah tetapkan penggenap agamanya. Dengan rangkaian takdir yang jauh dari terkaan kita. Jika kita berpegang dan berkeyakinan dengan ketetapan-Nya itu, maka tugas kita hanya mewarnainya dengan kata "mungkin".
"Kamu kurang siap apa?"
Mungkin, menurut-Nya saya belum cukup sabar kalau nanti dihadiahi ujian seperti sang ayah tadi.
Mungkin, di mata-Nya saya masih prematur untuk bersahabat dengan baik-buruknya si dia.
Atau mungkin sebaliknya, dia yang belum cukup kuat untuk ikut menopang segala beban hidup saya.
Karena nyatanya, ini bukan hanya tentang kesiapan kita, tapi juga tentang kesiapan dia. Dan Allah sudah memetakan itu semua sampai ke bagian terdetail yang tak tembus logika.
Kembali ke cerita tadi, kenapa yang berwatak pemarah seperti itu sudah diamanahkan seorang anak yang spesial? Menurut kacamata kita, dia masih belum siap. Tapi amatilah bagaimana Allah menunjukkan kepada kita tentang kesanggupan dia berperang melawan amarahnya, yang mungkin bagi kita, bagi mereka yang kita anggap siap, tidak bisa setangguh itu.
Jadi, berhentilah menilai dari satu sisi.
"Dia kan udah mapan, kok nggak cari pasangan?", "Oh, dia nggak bisa rawat diri, mana ada yang mau". "Dia shalih loh, ke masjid terus.", "Dia kepinteran. Susah lah jodohnya.", "Dia kerjanya serabutan, mau dikasih makan apa keluarganya?". "Dia terlalu kaya. Terlalu perfect."
Please, stop it...
And have a strong belief in Allah...












