Sudah lama tidak bercerita.
Hari ini tanggal 12 februari 2022.
Aku lupa menceritakan kelanjutan tentang 2020ku.
Sekitar tanggal 26 Juni 2020
Aku memutuskan untuk ke Bengkulu tanpa ada yang tau selain teman dekatku. Aku menjenguk kekasihku yang sudah sebulan lebih tidak ku jumpai karna dia harus berobat tumor paru-parunya di kota Bengkulu, sedangkan aku di Jakarta. Beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk menjenguk, banyak teman yang datang melihatnya memberi kabar bahwa kondisinya semakin lemah. Aku takut. Sangat takut.
Aku takut kalau aku tidak bisa bertemu dia lagi. Aku takut dia kesepian. Aku takut.
Dengan yakin, aku datang tanpa beritahu dia.
Saat aku masuk rumahnya dan melihat langsung keadaannya, disanalah rasa “ikhlas” muncul.
Ikhlas jika Allah memisahkan kami jika itu yang terbaik. Tapi aku ingin bersama dengannya dan ikut berikan yang terbaik untuk kesehatannya.
Singkat cerita, yang awalnya dia mengambil penyembuhan alternatif, akhirnya dia bersikeras untuk mengambil pengobatan medis. Dan sampailah ia di rujuk ke rumah sakit Dharmais Jakarta.
Sekitar tanggal 2 Juli 2020,
Dia dibawa ke Jakarta setelah 4 hari di rawat untuk memberikan ia energi untuk bisa bergerak dan kuat saat dalam perjalanan.
4 hari setelah dia sampai jakarta dan bisa masuk ICU, aku tetap ada berusaha untuk terus beri semangat.
Hari dimana ia masuk ICU, disitulah aku tau bahwa dia sudah kanker paru stadium 4.
Aku menangis tanpa henti. Di belakangnya. Tidak pernah ku tampakkan air mataku di depannya.
Setiap hari aku terus datang menemaninya di rumah sakit. Dan aku pun terus bekerja, melakukan tanggung jawabku sebagai karyawan.
Cape? Sangat. Tapi yang aku tau, aku mau memberikan yang terbaik untuknya.
Semakin hari keadaannya memburuk, dan sampai akhirnya tanggal 17 Juli 2020 dia menghembuskan nafas terakhirnya tepat saat aku sampai di rumah sakit.
Aku melihat, tubuh seorang pria yang ku cintai, yang menjadikanku prioritasnya selama ini, terbujur kaku di hari Jumat. Ya, dia pernah berkata jika dia dipanggil sama Allah, dia berharao untuk pergi di hari Jumat.
Sayangku, Allah tau kamu anak yang baik, kuat, dan Allah mengabulkan permintaan terakhir kamu.
Sayangku, Nikmatul Akbar.
Maafkan aku masih banyak kurangnya saat berada di samping kamu.
Nama kamu masih ada dalam doaku.
Walaupun doaku yang awalnya “jadikanlah ia jodohku ya Allah” menjadi “tempatkanlah ia di surgamu ya Allah”.
Sampai kapanpun, kamu ada bagian tersendiri di hatiku.
Semoga bahagia di surga Allah sayang ❤️