Dua garis merah yang setiap kali melihatnya ada kebahagiaan tiada tara :)
Alisa U Zemlji Chuda
Mike Driver

Janaina Medeiros
trying on a metaphor
he wasn't even looking at me and he found me

@theartofmadeline
NASA

blake kathryn
DEAR READER

titsay
dirt enthusiast
noise dept.
Three Goblin Art
No title available
Today's Document

JBB: An Artblog!
Cosmic Funnies

izzy's playlists!
YOU ARE THE REASON

if i look back, i am lost
seen from India
seen from South Korea

seen from Uruguay
seen from China
seen from Russia

seen from France
seen from Germany
seen from Poland
seen from Uruguay

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from Argentina
seen from United States

seen from Russia

seen from Australia
seen from Finland
@sintachoerunisa
Dua garis merah yang setiap kali melihatnya ada kebahagiaan tiada tara :)
jatuh kedalam masa sebelum peluh
menengok ruang yang sudah lama tidak dibasuh
ironi tentang sebuah ingin yang baru sampai pada kata paruh
mungkin karena kurang sungguh
atau mungkin menghilang direnggut si rapuh
Uh..
Mungkin ini arti dari sakit itu. Untuk tahu diri bahwa kita bukan apa-apa tanpa pertolonganNya
Semua sudah berputar sesuai semestinya. Tawa dan duka sudah mengambil peran sendirinya. Meski yang dirasa hanya repetisi melelahkan seakan menekan raga, tapi kita namanya manusia yang hanya sanggup sampai merencana.
Biar semua peliknya usaha cuma kita yang rasa, yang penting dapat proses bertumbuh untuk lebih mendewasa.
Apa yang selama ini dipikirkan, ternyata berkebalikan. Harusnya sadar bahwa ini bukan perlombaan atau ajang siapa yang lebih bertahan. Bukan tak bahagia apalagi ingin merusak kebahagiaan, hanya saja ternyata ekspektasiku berjalan kejauhan.
Ekspektasi
Lucu ya bagaimana cara ekspektasi bekerja. Ia menari diatas pikiran sebebasnya, menelusuri lorong pikiran seleluasanya. Sampai lupa bahwa nantinya ia akan bertemu dengan realita.
Beruntung kalau ia memang sejalan dengan realita. Bagaimana jika tidak?
Namanya juga ekspektasi, jangan terlalu mengandalkannya. Nanti yang repot siapa?
Sapa Tanya
Pada hembusan udara tak kasat mata, aku pernah bertanya "Untuk apa ini semua? Hal ini tidak membuatku baik-baik saja."
Lalu tanya pun meluap keluar dari isi kepala.
"Mengapa harus seperti ini?"
"Mengapa tidak seperti itu?" Batinku terus bersuara. Sampai lelah aku berdebat dengan isi kepala.
.......
Hingga aku sadar bahwa nyatanya tidak setiap tanya punya jawabannya. Terkadang ia akan diam. Karena ternyata, Sang Agung telah menuliskan apa yang terbaik dari semua yang telah aku rencanakan.
Pengantar Pesan
Kalau pun akan seperti ini ujungnya, aku tak akan menyalahkannya. Ini bukan salah siapa. Ini sudah bekerja sesuai semestinya.
Dengan ini aku sadar, tentang menyampaikan pesan tak harus dari nasihat atau teguran. Aku percaya pesan pun dapat disampaikan dari orang yang pergi dan datang. Sebab mereka yang datang tak semua menetap memberi kebahagiaan.
Jadi, ku katakan sekali lagi, ini bukan salahmu. Ini diluar kendalimu. Yang harus kamu tahu, mereka akan selalu menyisipkan pesan untuk ditinggalkan. Barangkali bisa diambil untuk jadi pelajaran.
Bungsu
Katanya perangainya manja. Sebab kebanyakan perhatian tertuju padanya. Katanya tidak bisa mandiri. Sebab rasa aman selalu dilindungi. Katanya sering gagap menyelesaikan permasalahan. Sebab kebanyakan urusan dibantu diselesaikan. Katanya tidak mampu berdiri sendiri. Sebab jejak saudara-saudaranya selalu membayangi.
Tetapi, bungsu juga harus kuat. Sebab nantinya pundak bungsu juga memikul beban berat. Bungsu juga harus siap. Sebab setiap permasalah harus dipecahkan dengan sigap. Bungsu juga harus jadi diri sendiri. Sebab bungsu pun harus memilih impian yang datang dari hati. Bungsu juga berhak. Sebab bungsu harus mencari apa yang menjadi hak.
Sabar...
Perihal sabar aku sudah dari dulu mempelajarinya. Dari mainan yang tidak sengaja dirusak kawan, dari antrian yang diserobot orang atau dari uang receh yang hilang. Katanya rumus sabar itu sebenarnya sederhana. Hanya saja aku masih suka gagap melakukannya.
Maka mari aku ceritakan hal yang lebih jauh lagi dari mainan yang dirusak, antrian yang diserobot atau uang receh yang hilang.
Karena setelah dewasa, ternyata sabar menjadi semakin banyak ragamnya. Menunggu yang tak tahu kapan datangnya, masih dimana perjalanannya, sudah dekat atau tidak.
Sabar jenis ini memang dikenal harus ekstra. Eh, tapi kan namanya juga sabar? Tidak ada ambang batasnya, kan?
Lihat kan. Diawal sudah bilang, aku sudah dari dulu mempelajarinya. Harusnya aku sudah mahir melakukannya.
Sabar...
Bila goyah lagi, ingatkan lagi ya, sabar...
Menghamba
Berbicara tentang hidup, sebenarnya apa tujuannya? Menjadi manusia kaya dengan banyak harta?
Bukan, ternyata bukan itu. Tujuannya bukan hanya untuk dunia saja.
Adalah untuk menghamba pada yang mempunyai semesta. Sebab tujuan penciptaan kita sejatinya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Menjadi hamba yang disebut manusia, yang dibekali akal dan rasa istimewa. Kalau sudah begini sudahkah manusia mengenal penciptanya?
Ialah Allah sebagai Kholik untuk manusia dan alam raya. Ini penting supaya menjadi pengingat bahwa manusia bukan apa-apa tanpa penciptanya. Yang misinya tidak hanya untuk tinggal di bumi semata. Apalagi kalau bukan untuk menghamba dan beribadah kepada-Nya. Kita hidup di bumi-Nya, bukankah sudah seharusnya mengikuti aturannya?
Maka kalau hampir lupa untuk apa repot-repot bekerja, karena Allah adalah tujuannya. Semoga dengan ini tidak akan pernah lupa untuk selalu menjalani peran sebaik-baiknya sebagai seorang hamba.
(Catatan dari kajian Ustadz Abu Fauzana)
Kalau Sudah
Nun... sadarkah bahwa kita adalah pengingkar terbaik atas janji-janji yang telah diikrarkan? Merasa marah pada orang lain yang mengingkari janji, tapi nyatanya diri sendiri adalah pengingkar melebihi kelas teri. Target-target yang dituliskan, mimpi-mimpi yang dilangitkan nyatanya hanya bualan belaka tanpa pernah menjadi nyata.
Dan kalau sudah terlewat baru menyesal. Kalau sudah merasakan baru menyesal. Aku jadi mikir, mungkin ini tujuan cambuk itu. Untuk memacu! Membuat ingin yang lebih ingin, membuat gigih yang lebih gigih.
Ya namanya juga manusia. Lebih sering banyak lupanya ya, Nun. Mari kita belajar lagi saja.
Ramadhan Tetaplah Ramadhan
Mungkin memang harus seperti ini. Ramadhan tahun ini harus beribadah sendiri-sendiri. Mesjid-mesjid sepi, aktivitas terhenti karena pandemi.
Namun Ramadhan tetaplah Ramadhan. Tidak mempengaruhi esensi dan keberkahan. Yang bisa dilakukan kali ini adalah untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Untuk belajar sabar tanpa takar, untuk belajar ikhlas tanpa batas, untuk belajar syukur tanpa ukur.
Jadi, selamat Ramadhan. Semoga untaian do'amu dan do'aku sampai mengetuk pada pintu-pintu langit-Nya.
"Tapi, angan-anganku tak bisa dikejar, dia sudah terbang tinggi. Sementara, tubuhku masih duduk manis disini."
Menjadi Dewasa
Menjadi dewasa rupanya bukan hanya sebatas angka. Bukan tentang berapa lama hidup di dunia, bukan pula tentang berapa banyak kumpulan harta.
Adalah tentang bertutur kata dengan siapapun juga. Melembut walau dengan berbeda usia. Yang keluar bukan hanya sekedar kata, tetapi tentang kata yang tidak merendah sesama manusia. Karena katanya, ucapmu adalah bagaimana kamu sebenarnya.
Adalah tentang pemikiran bahwa bukan hanya kemampuan yang menjadi alasan. Merasa hebat tak ada tandingan, harus selalu menang, lalu sampai menyepelekan kemampuan kawan.
Adalah tentang menghargai sesama sandingan. Mengingat segala sesuatu pasti memiliki perbedaan, tanpa mengkotak-ngkotakkan beberapa teman, tanpa antipati terhadap masukan.
Adalah tentang memaafkan. Sebab manusia tempatnya kesalahan. Bukan yang meminta maaf atau memafkan duluan, karena sejatinya esensi maaf adalah perbuatan kemenangan untuk setiap penyesalan.
Dan adalah aku, kamu juga mereka yang selalu belajar menjadi dewasa.
Ada ribuan kata yang ingin diucapkan, ada berpenggal-penggal kalimat yang ingin dilontarkankan. Namun, aku lebih memilih diam. Biarkan saja mereka gaduh didalam. Tidak semuanya harus berbaris dikeluarkan bukan?
Bercerita
Hari ini mau bercerita. Tadi saat ngobrol ngalor ngidul sama teman, lalu dia tiba-tiba bahas topik yang cukup menarik.
Ternyata, banyak diantara kita yang terlalu dalam meluapkan kebahagian. Sampai-sampai orang lain bukannya ikut senang tapi malah kesannya kita itu pamer.
Misalnya, kuliah dengan beasiswa full, kerja dengan gaji gede atau udah bisa beli rumah sendiri. Bahagia dan bangga pastinya. Atau misalnya yang single datang ke pernikahan lalu ditanya sama pengantinnya "Kapan nikahnya nih? Cepetan! Jangan dilama-lamain!" Lalu kita hanya senyum aja bingung mau jawab apa.
Terus apalagi kalau udah nyangkut masalah fisik. Cerita sukses turunin berat badan didepan orang yang susah kurusin berat badan.
Mungkin mereka ga tahu, kalau kita pernah berjuang habis-habisan untuk kuliah beasiswa tapi gagal. Pernah ngelamar kerja disana, tapi ga lolos. Udah nabung tapi kepake buat kebutuhan mendadak keluarga. Pernah juga hampir mau menikah, tapi batal. Dan kita sudah coba segala cara tapi masih susah untuk kurusin berat badan.
Mungkin mereka hanya bercerita, mungkin mereka hanya bertanya. Bukannya ga boleh ya. Tapi jangan kelewatan aja. Kita tidak pernah tahu seberapa sensitifnya orang lain. Kita cukup kita yang bahagia. Karena kebahagian kita, belum tentu jadi kebahagian mereka.