Di Jakarta.
Setelah kurang dari seminggu hidup sebagai Jakartans (sebuatan untuk orang jakarta) entah benar atau salah. Hidup di Kota paling di idam-idamkan oleh kebanyakan kawula muda setelah lulus dari universitas memang memberikan dampak yang cukup baik bagi saya. melihat dari segi budaya kerja yang cepat dinamis dan lebih terkesan cepat tentu saja membuat ambisi saya sedikit lebih tinggi, tidak bermaksud tergesah-gesah.
Di Jakarta setiap orang hidup dengan dirinya sendiri. Memang saya kali yang salah, pernah suatu ketika saya menegur orang di depan bagunan gedung pada waktu pagi hari karena saya kira ia sendiri saja. Tiba-tiba ketika saya sapa “ Mas, Lagi nunggu temen ya?” sambil senyum.
bukanya di balas senyum balik, bahkan pasang wajah datar aja tidak. Ia melihat saya sambil memasang wajah curiga lalu seketika meninggalkan saya.
“ No one cares about you, They care about themselves.”
Moto ini benar-benar kuat di mindset orang-orang DKI.
Akhirnya saya mengerti bahwa budaya sosial sudah mulai hilang. setiap orang akan selalu mencurigai setiap orang. Banyak juga orang-orang yang bilang ke saya untuk tidak terlalu akrab sama orang. Menurut saya hal ini cukup bermanfaat ketika kita hidup di kota besar seperti ini.
Jakarta Keras Bung!
Lain Sisi ~
Setidaknya kita bisa lebih mudah mendapatkan informasi, kebutuhan skill lebih terjangkau di banding di luar Jakarta. Hal ini yang membuat saya untuk terus berkembang. Syukur Alhamdulillah saya bisa bertemu dengan teman-teman hebat dari Univ terkemuka di Indonesia. Sebut saja @rafiqah salah satu mahasiswa dari #UI yang cukup nikmat untuk diajak diskusi kecil, ada lagi Ihsan Mahasiswa #UNPAD yang telah menyeleseikan studinya sastra Prancis @red-meds “at least but not the last we had been meeting.”

















