(Un)Faithful Chapter#5
Chapter #5
Dean terpaku di tempat ia berdiri. Ia berharap bahwa ia tidak mencuri lihat ke layar ponsel milik Rhein. Ia menyesalinya. Hatinya sakit. Sakit.
“Ma… jangan salah paham… ini tidak seperti yang Mama pikirkan” Rhein mencoba untuk menenangkan Dean
Dean tersenyum.
“Aku tidak salah paham. Dan kamu juga tidak perlu menjelaskan apa-apa ke aku. Aku rasa, keputusanku untuk mengajukan gugatan cerai terhadap kamu adalah langkah tepat.”
“Tidak. Itu bukan langkah tepat! Tolong, Ma… kasih Papa kesempatan untuk menjelaskan. Papa tidak ada hubungan apa-apa dengan…”
“Stop! Don’t you dare say that name! don’t! Never! Ever! Ever! You dare to say that fucking name!”
…
“Maaf, Ma… tolong berikan Papa kesempatan”
“Aku mau siap-siap ke kantor. Anak-anak juga mau berangkat sekolah. Sebentar lagi mereka selesai mandi. Aku sedang tidak mau membahas apapun dengan kamu sekarang.”
Dean meninggalkan Rhein yang masih tertegun di tempat ia berdiri. Rhein tidak mencegah Dean pergi meninggalkannya menuju ke lantai atas. Rhein terdiam. Ia memandangi layar ponselnya.
1 Panggilan Tidak Terjawab
Eve Darling
Rhein mengumpat dalam hati. Ia mengumpat karena ia harus mendapatkan panggilan telepon dari Eve disaat yang tidak tepat. Disaat ia sedang mencoba meyakinkan Dean bahwa ia sungguh-sungguh dengan semua ucapannya.
---
16 tahun yang lalu, tepatnya saat Dean duduk di bangku SMA kelas 3, Ia melakukan satu hal yang cukup nekat bersama dengan Marie. Dean memutuskan untuk datang ke Semarang untuk menemui Rhein.
Setelah kejadian email balasan dari Rhein saat Dean masih SMP dulu, Dean memilih untuk tidak menghiraukan keberadaan Rhein dan fokus dengan sekolah. Dean lulus SMP dan berhasil masuk SMA ternama di Jakarta dengan beasiswa. Tidak ada hal lain yang Dean pikirkan selain belajar, belajar dan belajar. Dean harus mempertahankan beasiswa yang ia dapatkan karena biaya sekolah di tempat ia menimba ilmu saat itu tidaklah murah.
Sampai satu ketika, Dean memimpikan Rhein. Tiba-tiba ia merasakan rindu yang teramat sangat kepada Rhein. Tanpa diduga, Rhein juga mencoba menghubungi Dean melalui surel pada saat itu. Dean merasa ini seperti pertanda… pertanda bahwa Rhein juga merindukannya… bahwa Rhein juga merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan sekarang.
Dean mencoba untuk meyakinkan Marie untuk pergi bersamanya ke Semarang. Marie menolak mentah-mentah pada awalnya, tetapi akhirnya ia menyetujui untuk pergi menemani Dean ke Semarang. Marie mengkhawatirkan Dean apabila ia pergi sendiri, akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
Tidak susah mencari Rhein di kampusnya. Karena Rhein termasuk salah satu mahasiswa yang aktif di Lembaga Kemahasiswaan atau LK. Begitu tiba di kampusnya Rhein saat itu, Dean dan Marie langsung menuju ke ruang LK dan mencari Rhein di sana. Teman-teman Rhein yang ada di ruang tersebut mengatakan bahwa Rhein berada di kantin fakultas Bahasa, tidak jauh dari ruang LK. Dean dan Marie bergegas ke sana dan mendapati sosok Rhein sedang duduk bercengkrama dengan seorang perempuan. Tidak hanya bercengkrama, tetapi juga merangkul, menggenggam tangan dan….kecupan….
Ya… Dean melihat Rhein mengecup bibir perempuan tersebut dan memberikan tatapan penuh cinta. Dean terpaku. Ia tidak mampu melangkahkan kakinya atau memanggil namanya. Ia hanya melihat Rhein dan perempuan itu dari jauh. Dean melangkah mundur…perlahan…pelan…mundur….dan…lari! Ia berlari. Berlari tanpa ia tahu kemana. Hanya berlari….Dean hanya mampu untuk berlari dan menjauh dari tempat ia menyaksikan Rhein mengecup bibir perempuan lain.
“DEANNNNN!!!!!!”
Teriakan Marie itu adalah hal terakhir yang Dean dengar sebelum ia tidak sadarkan diri karena ditabrak oleh sebuah truk pasir. Dean yang terus berlari tanpa arah tidak menyadari kalau dirinya mengarah ke jalan raya. Pada saat itulah sebuah truk pasir melintas dan Dean yang secara tiba-tiba muncul sambil berlari tidak dapat menghentikan laju truk. Truk yang saat itu sedang tidak ada muatan dan berjalan cukup kencang, menghantam Dean dan membuatnya terpental beberapa meter dari tempat truk itu berada.
Marie membawa Dean ke rumah sakit terdekat dibantu oleh seseorang yang melintas dengan mobil pribadinya. Belakangan diketahui nama dari seorang yang baik hati tersebut ialah Timmo. Dean mendapatkan pertolongan pertama setibanya di IGD RS Elisabeth, Semarang. Marie berhadapan dengan dokter jaga dan menjelaskan peristiwa yang menimpa Dean. Menurut dokter jaga tersebut, Dean cukup beruntung karena laju dari truk pasir tersebut tidak terlalu kencang. Dean mengalami cedera ringan dibagian kepala dan mengalami patah tulang dibagian lengan. Tidak terlalu serius, tetapi Dean tetap butuh perawatan intensif di rumah sakit terkait cedera pada kepalanya.
Selama Dean dirawat di rumah sakit, Timmo beberapa kali berkunjung untuk menengok keadaanya. Sebenarnya, Timmo tidak ada kewajiban untuk mendatangi Dean di Rumah Sakit. Bukan Timmo yang menabrak Dean. Ia hanya kebetulan saja ada di tempat kejadian, sedang membawa mobil, dan ia membantu Marie untuk membawa Dean ke Rumah Sakit dengan segera agar bisa mendapatkan pertolongan secepatnya. Sejak itu, sesekali Timmo akan mampir ke Rumah Sakit untuk melihat perkembangan Dean. Sesekali juga Timmo menemani dan mengajak Marie ngobrol untuk menghilangkan penat yang dirasakan Marie dan mengusir sepi. Ketika keadaan Dean sudah cukup baik, Marie memperkenalkan Timmo kepadanya Dean. Keduanya langsung akrab dan Marie melihat Dean bisa sedikit teralihkan dari kejadian menyakitkan yang ia alami sebelum kecelakaan.
Timmo, mahasiswa tahun kedua di Universitas Jakarta. Keluarga Timmo tinggal di Magelang dan saat kejadian kecelakaan itu, Timmo kebetulan sedang ada di Semarang untuk bertemu dengan salah seorang kerabat keluarga nya di sana. Sebenarnya Timmo harus kembali ke Magelang lalu ke Jakarta ketika kecelakaan itu terjadi. Tetapi ia memutuskan untuk berada di Semarang hingga Dean pulih dan boleh pulang dari Rumah Sakit.
Setelah kejadian itu, Dean seperti berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan lagi memikirkan Rhein dan mencarinya. Buat Dean, Rhein adalah masa lalu. Ia harus terus berjalan ke depan dan tidak lagi menyimpan rasa untuk Rhein. Rhein tidak mengetahui kalau Dean sempat mencarinya ke Kampus dan melihanya bersama dengan perempuan lain. Saat Dean masih di rumah sakit, Rhein menghubungi Dean dan yang menerima telepon dari Rhein adalah Marie.
“Hi Rie… Apa kabar…?”
“Ada apa Rhein…?”
“Oh.. Eh, Rie… Dee ada? Boleh bicara?”
“Rhein… gue minta tolong dengan sangat dan masih dengan sopan ke lo… please, stay away from Dee. Please, jangan lo telepon atau cari Dee lagi. Dia sudah move on, dia sedang menyembuhkan luka hatinya dan dia sedang menata hati dan pikirannya untuk masa depan dia. Please Rhein… just, get lost!”
“Lho Rie… maksud kamu apa? Kenapa? Kenapa jadi kamu yang ngatur? Aku mau bicara sama Dean, tolong biarkan aku bicara sama dia”
“Rhein! Gue masih berusaha sopan ya sama lo… tapi kalau lo ngelunjak, I’ll tell you something here! Lo urusin aja cewek lo yang sekarang, kalau lo planning buat merit ya go ahead and get lost dari hidup nya Dean! You know why??? Karena Dean sudah melihat dengan mata kepala nya dia sendiri lo mesra-mesraan sama perempuan lain dan lo lakuin itu secara terang-terangan di kampus lo!”
“Hah…? Kampus…? Kok…..”
“Kenapa!? Kaget!?? Well… bangke mau disembunyiin kayak gimana juga bakal tetep kecium kok bau nya, Rhein. Sama kayak kebohongan lo ke Dean yang lo coba sembunyiin, but somehow akhirnya Dean tahu dan membuat dia hancur! So please, gue masih minta dengan sopan ke lo, please get lost!”
“Tapi Rie…”
Marie tidak membiarkan Rhein untuk bicara lebih lanjut dan segera menutup telepon nya.
“Rie… Siapa yang telepon, Rie…?” Kekesalan yang memuncak didiri Marie harus ia kendalikan karena ia tahu Dean sangat membutuhkan dirinya saat ini
“Rhein. Tadi Rhein yang telepon, Dee…” Marie menjawabnya dengan datar
“Oh…. Terus? Lo ngomong apa?” Dean mencoba untuk menahan air matanya dan mencoba untuk tidak menangis
“I told him to get lost. That’s it.”
“Then…? Rhein ada komen apa?”
“Dee… please… just forget about him ya… lo dah janji sama gue kalau lo akan lupain dia, so please…. Gak penting juga dia komen apa kan?”
“I know… emang udah ngak penting juga…”
Dan saat itu adalah saat terakhir Dean membicarakan tentang Rhein. Dean mulai fokus pada ujian akhir kelulusan SMA dan mencari kampus yang ia inginkan. Pasca kecelakaan, Timmo menjadi teman baru bagi Dean. Mereka lalu bertukar surel dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Timmo sempat menawarkan untuk kembali ke Jakarta bersama-sama, tetapi ditolak oleh Dean dan Marie. Mereka merasa bahwa bantuan dan perhatian Timmo sudah cukup dan mereka tidak ingin membebani Timmo lebih. Perpisahan di Rumah Sakit bukan akhir dari hubungan Dean dan Timmo. Justru itu adalah awal bagi Dean.
Hari berlalu. Bulan berganti. Tahun berganti. Dean yang pelan-pelan melupakan Rhein dan fokus ke pendidikannya bisa melalui hari-hari dengan baik. Dean berhasil masuk Universitas Jakarta, ia menjadi satu almamater dengan Timmo. Dean mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan Timmo jurusan Sastra Inggris tahun ketiga. Keduanya menjadi semakin akrab dan mereka bersahabat dekat. Timmo dan Marie selalu ada untuk Dean dalam keadaan apapun.
Hingga suatu hari, Dean mendengar kabar dari Mama nya kalau Rhein akan bertunangan. Kabar itu didapatkan oleh Mama Dean dari salah satu kerabatnya di Semarang. Undangan pesta tunangan Rhein dan Eve, nama calon tunangannya Rhein, sudah disebar oleh Mamanya Rhein, Tante Nannet. Kabar itu membuat Dean bergeming. Setelah waktu berlalu cukup lama, tahun pun sudah berganti dan Dean mencoba untuk tidak lagi memikirkan Rhein seolah runtuh dalam sekejap. Kabar berita itu mampu membuat Dean teringat kembali akan perasaan yang ia miliki untuk Rhein. Cinta untuk Rhein.
Tidak lama dari Dean mendapatkan kabar pertunangan Rhein, Dean mendapati sebuah permintaan pertemanan pada halaman media sosial miliknya. Dean baru saja mendaftarkan profil dirinya pada sebuah jejaring media sosial yang sedang marak kala itu, yaitu Facebook. Pertemanan yang ada pada halaman facebook miliknya kebanyakan adalah teman-teman dari SMP dan SMA. Beberapa orang dari teman kampus dan kenalan baru yang didapatkan setelah mendaftarkan diri berdasarkan dari kesukaan musik, hobi, dan lainnya.
Permintaan pertemanan itu adalah dari–Rhein. Rhein Azel Fahrezi. Foto yang digunakan untuk halaman profilnya bukan foto wajah, tetapi gambar musisi KoRn, grup band favorit Rhein. Dean sempat tertegun beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima permintaan pertemanan itu atau tidak. Tidak lama, suara peringatan pesan masuk di halaman facebook berbunyi. Ada pesan baru. Dari Rhein.
“Hai Dee… Ini Mas… Kamu online?”
Dean menatap lurus pada layar laptop di depannya dan tidak mampu untuk mengetik balasan atas pesan yang masuk tersebut.
“Dee… kalau kamu online, jawab ya… Mas mau bicara…”
Dean masih tertegun… entah ia mau menjawab apa… entah apa ia perlu menjawabnya atau tidak… Rhein sudah mau tunangan, apalagi yang mau Dean harapkan…? Hal itu yang ada dalam pikiran Dean. Lama. Dean tertegun lama. Ia tidak bergeming. Ia hanya menatap kosong ke layar. Berpikir. Dan akhirnya….
“Hi… Apa kabar Mas…”
Dean mengirimkan balasannya.
“Kabar Mas baik. Kamu gimana…? Kuliah di mana sekarang…? Ambil jurusan apa…?”
“Aku masuk Universitas Jakarta ambil jurusan Ilkom”
“Ilkom? Mas pikir kamu mau ambil sastra atau Hubungan Internasional, Dee… katanya mau jadi diplomat?”
“Pindah haluan, Mas… sepertinya Ilkom lebih menarik…”
“Good then… Kamu belum jawab lho, gimana kabar kamu…?
“Aku baik……”
“Dee… Mas boleh tanya…?”
“Kenapa, Mas…?”
“Waktu kamu ke kampus nya Mas, kenapa kamu gak panggil Mas…? Kenapa kamu langsung pulang”
….. Dean Kembali terdiam. Ia tidak yakin kalau ia harus menjawab pertanyaan dari Rhein. Ia sudah bersusah payah berusaha untuk melupakan Rhein. Ia sudah memiliki hari-hari yang ‘sempurna’ bersama dengan Timmo, Marie dan teman-teman kampusnya. Kenapa Rhein harus tiba-tiba muncul lagi….?
“Kayaknya Marie waktu itu sudah sempat menjelaskan ke Mas ya… Aku sudah bisa lihat Mas sudah cukup kok. Waktu itu aku kangen, aku langsung berangkat ke Semarang tanpa mikir panjang…”
“Kamu melihat apa, Dee…?”
“Aku melihat Mas dengan perempuan. Mesra. Jadi aku memutuskan untuk tidak menghampiri dan pergi saja. Oh ya… aku dengar Mas mau tunangan ya…? Selamat ya, Mas…”
Dean langsung melempar pernyataan telak untuk Rhein. Dean berusaha membentengi diri dan tidak ingin jatuh dalam rasa sayang kepada Rhein lagi.
“Kamu dengar dari mana berita itu…?”
“Aku dengar dari Mama… baru saja… itu sebabnya aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu di media sosial seperti ini. Begitu mendengar kabar kalau Mas mau tunangan, aku mendoakan yang terbaik untuk Mas dan….. maaf, aku enggak tahu nama pacarnya Mas siapa… 😊”
“Eve… Namanya Eve…”
“Ah ok… Eve…😊”
“Dee… Mas minta maaf… Mas sayang sama kamu, Dee..”
“Lho, enggak usah minta maaf lah Mas… Kenapa harus minta maaf?”
“Karena Mas sudah nyakitin kamu… Mas tidak jujur sama kamu…”
“Enggak apa-apa, Mas… yang lalu sudah biar berlalu… Sekali lagi selamat ya Mas atas pertunangannya… aku sign out dulu… bye Mas…”
Dean mengakhiri percakapan tanpa menunggu balasan dari Rhein. Permintaan pertemanan dari Rhein juga belum diterima oleh Dean. Ia tidak yakin untuk tetap berkomunikasi dengan Rhein apabila sudah jelas Rhein akan segera bertunangan dengan orang lain.
Rhein dan Dean sudah tidak mungkin bersama. Rhein akan segera bertunangan. Itu adalah hal yang terus diucapkan oleh Dean untuk dirinya sendiri. Hal yang selalu diingatkan oleh Timmo dan Marie setiap kali Dean terlihat goyah dan ingin menghubungi Rhein kembali.
Waktu berlalu dan berita tentang Rhein kembali terdengar oleh Dean. Kali ini Mama Dean memberitahu kepada Dean kalau Rhein tidak jadi tunangan. Dean terkejut mendengar kabar itu. Dalam hati ia senang, tetapi ia juga bertanya-tanya kenapa mereka membatalkan pertunangan itu. Setelah mendengar kabar itu, Dean mencoba untuk online di facebook. Ia berharap Rhein akan kembali menghubunginya. Saat itu, permintaan pertemanan dari Rhein yang belum juga diterima oleh Dean akhirnya ia terima. Mereka sudah berteman satu sama lain di facebook sekarang.
Dean menunggu. Dean berharap akan ada pesan masuk dari Rhein. Dan….
“Hi Dee… lagi online…?”
Rhein! Rhein mengiriminya pesan!
“Hi Mas… Iya… barusan aja online…”
“Apa kabar, Dee…?”
“Baik Mas… Mas gimana kabar…?”
“Mas baik…. Dee lagi di mana sekarang? Di rumah?”
“Dee lagi di kampus… baru selesai kelas…”
“Oh, kamu lagi di kampus… di mana nya…?”
“Di perpustakaan, Mas… abis cari bahan buat tugas…”
“Mas bisa ketemu kamu sebentar…?”
”…..? Maksudnya Mas….?”
“Mas ada di kampus kamu… Mas lagi menuju ke perpustakaan…. Bisa kita ketemu sebentar….?”
Pesan yang tampil di layar laptop Dean membuatnya terkejut. Dean bingung harus menjawab apa. Ia tidak tahu apakah ia siap untuk bertemu dengan Rhein setelah kejadian terakhir di Semarang tahun lalu.
“Hmm… Mas mau ketemu sama Dee buat apa?”
“Mas mau bicara… bisa ketemu… Mas sudah di depan perpustakaan kampus kamu. Mas tunggu di taman depan perpustakaan ya, Dee… kalau Mas boleh ketemu sama kamu, Mas tunggu di sini…”
“Ok.”
Dean memasukan laptop ke dalam tas dan ia bergegas keluar dari perpustakaan. Dean melangkahkan kakinya menuju ke taman perpustakaan. Ia akan bertemu dengan Rhein. Entah apa yang ingin Rhein sampaikan kepadanya, yang Dean tahu, ia saat itu merasa senang! Ia senang karena akan bertemu Rhein. Tetapi ia juga bingung, takut dan merasa langkah yang ia ambil tidak tepat.
Setibanya di taman, Dean melihat sosok Rhein sedang duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Dean menghampirinya.
“Mas Rhein…”
“Dee… Hai….”
“Hai…” ---- “Aku pikir Mas bercanda waktu bilang ada di kampus ku… Ada apa, Mas? Mau ngomong apa?”
“Dee… Mas enggak jadi tunangan…”
….
“Mas enggak bisa tunangan sama Eve karena Mas tahu kalau Mas sayangnya sama Dee… dari dulu, cuma Dee yang Mas sayang… Mas salah karena Mas tidak jujur sama Dee.. Mas mau minta maaf secara langsung sama Dee dan berharap Mas akan dikasih kesempatan lagi sama kamu…”
Pernyataan Rhein membuat Dean terkejut. Dean ingin sekali menjawab Rhein dengan lantang bahwa ia juga menyayanginya. Bahwa Dean juga mencintai Rhein. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Rasa sakit. Rasa terkhianati.
“Dee…” panggilan Rhein membuyarkan lamunan Dean.
“Eh, iya Mas… Emmh…”
“Kalau Dee masih marah sama Mas, Mas bisa mengerti. Paling tidak, Mas sudah datang dan minta maaf langsung ke Dee.”
Saat itu, tiba-tiba Rhein meraih tangan Dean dan berucap…
“Dee… Kamu mau jadi pacar Mas…? Apa kita bisa mulai lagi dari awal, Dee…?”
Dean tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam dan menatap tangannya yang digenggam erat oleh Rhein.
“Dee…?”
“Emmh… Mas… Dee gak yakin untuk memulai hubungan lagi sama Mas. Aku enggak mau cuma jadi re-bound nya Mas aja dari gagal tunangan. Dan aku rasa Mas masih perlu waktu deh buat nenangin pikiran.”
“Dee… Mas enggak jadi tunangan sama Eve karena Mas sadar kalau orang yang Mas sayang itu adalah kamu, Dee…”
“Kalau memang Mas sayang sama Dee, kenapa bisa ada Eve…?”
“Mas juga enggak tahu Dee… Mas enggak punya jawaban untuk itu….”
“Lalu… nanti kalau aku jadi pacar nya Mas Rhein, Dee ada di Jakarta dan Mas di Semarang, apa Mas yakin sanggup bisa LDR*…? Yakin bisa untuk setia sama Dee?”
“Itu sebabnya Mas ke sini sekarang, Dee… karena Mas mau sama kamu, Mas sayang sama kamu dan Mas maunya kamu sama Mas…”
Dean kembali terdiam. Rhein masih menggenggam tangan Dean erat.
“Jujur… Dee enggak yakin. Tapi yang perlu Mas tahu, Dean sayang sama Mas Rhein. Dan Dean juga senang sekali karena Mas datang ke sini untuk ketemu sama Dee… tapi…”
“Kamu enggak percaya sama Mas, Dee…?”
“Dee cuma enggak yakin kalau Mas Rhein sanggup untuk LDR.”
“Mas bisa! Kasih Mas kesempatan lagi, Dee…”
“Mas juga tahu kan kalau orang tua kita sedang tidak baik hubungannya…? Apa ini langkah tepat Mas…? Apa dengan kita berpacaran akan baik-baik saja?”
“Mas enggak memikirkan itu… Mas sayang sama kamu dan Mas cuma mikirin kamu aja, Dee… Mas enggak mikirin urusan orang tua kita.”
“Kasih aku waktu ya Mas…”
Kali ini, gantian Rhein yang terdiam dan tidak bergeming. Rhein pikir ia akan dengan mudah memenangkan kembali hati Dean. Siapa sangka, Dean meminta waktu untuk memberikan Rhein jawaban. Hari itu, Dean menemani Rhein dan mereka berbicara banyak. Rhein masih berusaha untuk meyakinkan Dean kalau dia sungguh-sungguh dan berharap Dean akan memberikan ia kesempatan kedua. Dean menjanjikan bahwa ia akan memberikan jawabannya sebelum Rhein kembali ke Semarang.
Pada malam harinya, Dean bercerita ke Timmo dan Marie. Mereka bertemu di rumah Dean. Kedua sahabat Dean tidak ada yang menyetujui hubungan Dean dan Rhein. Keduanya menganggap bahwa Dean lebih baik tanpa Rhein. Sedangkan Dean sendiri merasa gundah karena rasa cinta yang ia miliki untuk Rhein masih ada dan tidak berkurang sama sekali.
“But I love him….” Dean berucap
“That’s not LOVE, Dee…! Please… jangan didramatisir deh! Gue tuh tahu ya, lo tuh emang gampang banget goyah kalau urusannya udah berhubungan sama Rhein. But please, kali ini Dee… Rhein bisa mengacuhkan lo dan milih buat tunangan sama orang lain lho! Terus lo masih mau bilang kalau lo cinta sama dia?” Marie mencoba untuk menyadarkan Dean dari cinta butanya
“Tapi Rii….”
“Enggak ada tapi! Pokoknya gue enggak setuju lo balikan sama Rhein. Period!”
“Udah… udah… Rii, Dee..udah." Timmo mencoba untuk menengahi Marie dan Dean
"Rii, kita berdua juga enggak berhak nge-judge Dean gini sih. Dee, sekarang gini aja… do what you think is right for you. Kalau memang lo masih cinta, ya sudah… kalau lo mau terima permintaan Rhein buat lo jadi pacarnya, ya sudah… kita masih akan tetap jadi sahabat lo kok. Dan apapun itu keadaannya, lo bisa ngadu ke gue ataupun Marie. Okay..?” Timmo memberikan jalan tengah untuk Marie dan Dean
“Thanks, Tim… Rii…? Please… don’t be so hard to me…”
“Lo batu sih! Sebel gue! Ya terserah lo lah, Dee… when you play with fire, it will burn you somehow. Just be careful with your heart aja, Dee… but yes, bener yang Timmo bilang, we are always here for you…”
“Thank you guys…”
Dean memantapkan hatinya untuk menerima Rhein. Keesokan harinya, ia langsung memberitahukan kepada Rhein bahwa ia memutuskan untuk menerima permintaan Rhein dan berpacaran. Dean memang tidak pernah bisa menahan lama-lama perasaan yang ia rasakan terutama ke Rhein. Dean terlalu mencintai Rhein dan tidak ingin kehilangan sosok lelaki ini. Hari itu, pada tahun pertama Dean kuliah adalah awal mereka berdua resmi berpacaran. Bukan hanya sekedar mengagumi atau mengatakan ‘sayang’ tanpa resmi dalam sebuah hubungan. Kali ini mereka resmi berpacaran.
Satu hal yang tidak Dean tanyakan kepada Rhein saat itu, apa alasan yang sebenar-benarnya hingga Rhein dan Eve tidak jadi bertunangan…? Apakah memang benar hanya karena Rhein menyadari bahwa orang yang ia sayangi dan cintai adalah Dean dan bukan Eve…? Hanya karena itu…? Dean sudah memiliki perasaan bahwa ia hanya akan dijadikan pelarian cinta oleh Rhein, tetapi perasaan itu ia tepis dan lebih memilih untuk mempercayai perkataan Rhein.
Hubungan LDR Dean dan Rhein saat itu tidak berjalan lancar sebagaimana yang dijanjikan oleh Rhein. Komunikasi mereka hanya bertahan tiga bulan awal pacaran setelah itu Rhein susah dihubungi oleh Dean. Dean yang saat itu juga kuliah sambil bekerja disalah satu event organizer membuatnya jadi super sibuk. Ketika Dean punya waktu untuk meghubungi Rhein, Rhein tidak mengangkat telepon darinya. Ketika Rhein yang punya waktu, Dean hanya bisa berbicara tidak sampai 5 menit dengannya. Pada akhirnya, Rhein menghilang. Nomornya tidak bisa ditelepon dan halaman media sosialnya pun sepi. Tidak ada unggahan. Tidak pernah online di kolom percakapan. Rhein menghilang. Lagi.
Menghilangnya Rhein kali ini membuat Dean kembali goyah. Hari-harinya kembali berantakan. Marie dan Timmo yang sudah memprediksi hal ini akan terjadi hanya bisa memberikan dukungan dan menghiburnya. Tidak mudah bagi Dean untuk bangkit kembali. Ia masih terus bertanya-tanya kenapa Rhein menghilang lagi kali ini.
“Sudah Dee… forget it. Mungkin memang lebih baik begini. Masih pacaran, belom sampe jenjang serius. Baru beberapa bulan, belom sampe tahunan. Sudah, lupakan!” Marie mencoba memberikan penghiburan ke Dean
“Iya Dee.. just moving on. Kerjaan lo juga lagi banyak. Lo harus ngurus beberapa pameran kan dalam waktu dekat ini. Belom lagi lo mau ambil semester pendek dan pastinya lo bakal lebih sibuk lagi. Sudah. Biarkan Rhein berlalu. Belum jodoh, Dee… anggap saja gitu. Oke…?” Timmo juga ikut menenangkan Dean.
Walau Dean tidak tahu kenapa Rhein tiba-tiba menghilang dari dirinya, tidak ada kabar dan tidak ada penjelasan apapun, Dean memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa Rhein.
Tahun kembali berganti dan kali ini membutuhkan waktu hingga dua tahun lamanya untuk Rhein kembali muncul secara tiba-tiba. Kabar tentang Rhein yang pertama kali didengar oleh Dean berasal dari mama Dean. Mama Dean mengatakan kalau Rhein baru saja kembali dari Amerika. Dean ingin bertanya lebih lanjut, tetapi ia mengurungkan niatnya. Tetapi Mama Dean seperti mengetahui kalau anaknya ingin informasi yang lebih. Hubungan pacarana antara Dean dan Rhein memang tidak diketahui oleh kedua orang tua Dean, tetapi Mama Dean seperti mengetahui apa yang anaknya harapkan dan…
“Tante Nannet sempat kena tipu bisnis, Dee… tidak terduga juga. Selama ini kan Tante Nannet sangat teliti ya dalam berbisnis. Karena Tante Nannet kena tipu itu, jadi Rhein yang membantu mamanya melunasi beberapa hutang di bank. Rhein pergi bekerja di kapal pesiar sudah dua tahun ini dan baru saja kembali. Tetapi sepertinya ia kembali ke Indonesia enggak sendiri. Kalau tidak salah, Rhein kembali ke Indonesia bersama dengan Eve, calon tunangannya dulu. Sepertinya mereka bertunangan beberapa waktu lalu karena dengar-dengan orang tua Eve ikut membantu Tante Nannet untuk menyelesaikan masalah penipuannya itu….”
Bagai petir di siang bolong, kabar yang Dean dengar sangat menyakitkan untuknya. Ternyata, Rhein meninggalkan Dean untuk kembali dengan Eve….
---
Kejadian Rhein dan Eve memang sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Memang, pada akhirnya Rhein menikah dengan Dean, bukan dengan Eve. Tetapi luka yang Dean rasakan seperti tidak pernah kering dan selalu ada yang membuat luka itu terbuka kembali. Seperti kejadian pagi ini, saat ia sedang bersama dengan Rhein dan harus mendapati ponsel Rhein berdering dan menampilkan nama ‘Eve Darling’ pada layer ponselnya.
Hati Dean kalut. Berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan kembali menyeruak dalam pikirannya;
‘apakah selama ini Rhein bersama dengan Eve?’
‘apakah hubungan Rhein dan Eve memang tidak akan pernah bisa berakhir?’
‘mungkinkah yang Rhein cintai sebenarnya adalah Eve, bukan aku…?’
Pertanyaan-pertanyaan seperti hilir mudik dalam kepala Dean. Ia tidak bisa tenang sama sekali.
“Ma… Please, kasih papa kesempatan untuk menjelaskan” Rhein menunggu Dean di depan pintu kamar dan mencegahnya keluar
“Kamu enggak perlu repot menjelaskan karena aku juga enggak mau dengar penjelasan kamu. Surat panggilan dari pengadilan sudah ada, kamu cek saja surel kamu. Kita ketemu di pengadilan and please find another place for you to stay.”
“Ma… tolong… Papa enggak ada hubungan apa-apa dengan Eve. Beberapa waktu lalu dia memang menghubungi papa lagi, dia sepertinya sedang ada masalah jadi papa mencoba untuk membantunya. Tidak lebih dari itu, Ma… tolong dengarkan penjelasan papa dulu…”
“As I said, aku enggak perlu penjelasan dari kamu. Just… leave…” kali ini Dean merendahkan suaranya dan hanya menunduk. Dean tidak sanggup untuk menatap Rhein karena rasanya terlalu sakit.
“Aku akan melanjutkan gugatan. Tidak akan aku cabut. Aku akan memberikan kebebasan yang kamu mau. Kamu bisa dengan leluasa menemui Eve atau perempuan lain di luar sana.” Pungkas Dean dan ia meninggalkan Rhein yang berdiri mematung di depan kamar.
“Tidak. Papa tidak akan pergi. Kali ini, papa akan melakukan apa saja untuk membuat mama percaya kalau papa sungguh-sungguh dan tidak akan menyakiti mama lagi.”
“Whatever…”
Dean menghampiri Brie dan Xelo lalu ketiganya pergi meninggalkan rumah. Rhein hanya tertegun di depan pintu kamar tanpa bisa berkata apa-apa. Bahkan ia tidak memperhatikan kalau Dean dan kedua anaknya sudah pergi meninggalkan rumah.
---












