Dan Disinilah Arsitek Seharusnya
Yogyakarta, Ahad 14 September 2014.
Dihari itu, sinar matahari Jogja tak terlalu bersahabat. Terik. Panas. Tapi menghangatkan. Dihari itu, jalanan jogja tak sepi dari padatnya kendaraan, baik yang berasal dari Jogja itu sendiri maupun dari lain daerah. Dihari itu, polusi dapat dengan mudah kita temui disepanjang Jalan Kaliurang maupun daerah Jogja dan sekitarnya. Dihari itu, anak-anak riang bermain tanpa perlu memikirkan setumpuk tugas yang bahkan sering tidak mereka pahami dari guru-guru mereka. Mereka sibuk bermain -yang entah apa- permainan mereka. Yang pasti. Dihari itu, semangat kami para Blusukers tengah membara dan bergelora. Karena hari itu, adalah hari dimana para Blusukers bisa berkunjung ke Desa Mitra; Puton, Imogiri Bantul. Meski cuaca tidak terlalu bersahabat di hari itu. Dan meskipun kami letih setelah seharian bepergian dan menelusuri kota orang di hari yang lalu. Namun semua itu tak menyurutkan semangat kami untuk belajar dan berkunjung ke kampung orang.
Ini bukan tentang tuntutan. Ini bukan tentang kerjaan. Ini bukan tentang gengsi. Ini bukan tentang mencari ketenaran. Ini kami yang merasa perlu berada di antara mereka. Tidak hanya berkutat dibalik laptop. Atau sibuk mengkritik karya orang, Tapi justru kami butuh mereka. Agar tidak sia-sia ilmu kami. Karena disinilah arsitek seharusnya.
Desa itu istimewa. Tanpa mereka pinta, desa itu sudah disuguhkan karya Tuhan yang sungguh luar biasa. Tepat di bantaran sungai Opak Bantul. Desa itu tampak kemilau dan tenang saat kita mengunjunginya. Pepohonan dan semilir angin yang sejuk bukanlah hal langka di desa itu. Epik! Kita terpesona. Bukan hanya sesaat. Mata kita bahagia bisa di suguhkan pemandangan yang begitu menenangkan di Desa itu. Tidak sia-sia kita menerobos panasnya matahari demi mengunjungi desa cantik di selatan kota jogja ini.
Hari itu, kami bertemu beberapa pemuda hebat disana. Mas Topik, Pak Pencus dan Mas Delta. Mereka orang yang sederhana, tapi luar biasa. Mereka pemikir-pemikir hebat yang lahir dari sebuah desa yang sederhana. Desa itu, memiliki potensi yang luar biasa. Namun sayang, mereka belum bisa memoles dan memamerkan kecantikan mereka pada dunia luar. Sayang. Dan mereka itu-pemuda-pemuda yang saya bicarakan tadi- berpikir bahwa sudah saatnya desa mereka unjuk gigi pada dunia luar. Bahwa desa itu memiliki kemilau yang tidak biasa.
Diskusi asyik mengalir asyik tanpa kita sadari. Pemikiran-pemikiran itu yang membuat kita betah berada disana. Ditambah suasana dan sepoi angin yang memanjakan kita. Hingga akhirnya, kita putuskan dan bulatkan tekad kita. Bahwa tenaga dan pikiran kita akan kita abdikan disana. Karena bukan mereka sebenarnya yang membutuhkan kita. Tapi kita yang butuh mereka. karena seharusnya disinilah arsitek berada :)
Fly, Yogyakarta











