Aku tidak berencana untuk jatuh cinta kepadamu ketika pertama kali kita bertemu. Pertemuan kita terasa biasa dan baik-baik saja. Tak ada hal istimewa ataupun majas hiperbola pada bait-bait canda tawa. Ungkapan manis bahkan tak pernah terpikirkan ketika berbicara. Benar-benar apa adanya. Kita seperti orang yang tak saling kenal tetapi dengan tujuan yang sama. Hanya sekadar menyapa dan tersenyum kalaupun hari itu sedang bahagia, kalaupun tidak kita pun akan terdiam dalam waktu yang cukup lama.
Jatuh hati denganmu tidak pernah ada pada daftar isi di buku yang berjudul "Aku". Tapi, tiba-tiba Allah menambahkannya. Menjadi sub-bab baru yang menjadi bahasan utama pada tengah buku. Aku masih menaruh pembatas buku pada sub-bab itu.
Ketahuilah, aku sudah tidak ingin beranjak darimu. Berhenti padamu justru menjadi epilog yang aku harapkan nantinya. Mencari seseorang lain tidak semudah sebelum aku menemukanmu. Garis waktu ini, adalah rangkaian yang paling aku bahagiakan. Aku mulai merencanakan lagi kehidupanku denganmu nantinya. Berharap baik-baik saja, berjalan dengan semestinya. Menata ulang masa depan yang menurutku sungguh membahagiakan. Aku dan Kita.
"Tidak perlu terlalu merencanakan hidupmu. Seperlunya saja. Jadilah orang baik, maka otomatis hidupmu akan bahagia."
Sesungguhnya aku takut dengan perkataan tersebut. Aku adalah seseorang yang perencana, menjadi ciut ketika rencana tidak berjalan dengan semestinya. Tapi, memang Allah yang akhirnya mempunyai semuanya. Termasuk jalan ceritaku. Entah bagaimana Allah membuatku terdiam. Rencana hidup yang aku tata, runtuh tak tersisa. Kepercayaan diriku melebur, hati ini terpukul.
Sub-bab baru itu akhirnya habis. Yang semula jatuh padamu, akhirnya patah karenamu. Aku dan kita, perlahan memudar. Melanjutkan alur cerita ini tanpamu, melangkahkan kaki tanpa kehadiranmu.
Rangkaian cerita ini harus berlanjut. Perasaanku masih belum larut.
Aku berlanjut pada sub-bab selanjutnya. Walaupun aku masih merasakan asing dengan sub-bab ini, tapi apapun harus kulakukan. Apapun harus aku jalani. Sesekali masih beranjak ke halaman sebelumnya karena halaman itu penuh dengan takdir yang bahagia. Masih ingin membaca dan menempati sub-bab yang isinya penuh canda tawa. Kamu yang selalu bersanding dengan namaku pada sub-bab sebelumnya, sekarang terasa hampa dan benar-benar tidak ada.
"Life must go on" Kata orang bijak. Tak perlu menyesali pilihan yang sudah dijalani. Apalagi mengutuk hal yang bukan kuasa manusia. Tapi, tetap saja sedih dan kecewa tidak bisa bersembunyi begitu saja. Ia selalu muncul terkadang ketika terulang momen denganmu. Momen ketika semuanya terasa indah dan baik-baik saja. Momen ketika mencintaimu adalah prioritas yang tidak bisa aku ganti.
Aku masih berjalan. Walaupun belum begitu tegap. Masih mencari dan menerka jalan yang akan aku tempuh. Karena sudah kubilang, jalan ini sangat gelap, kamu adalah temaram dulunya, tapi akhirnya pergi dan meninggalkan. Lalu, jalan ini seperti semula. Gelap gulita dan tak ada siapa-siapa. Sendiri dan terasing. Sampai pada suatu jalan panjang. Aku bertemu dengan ...
Seseorang yang tidak asing dalam hidupku. Seseorang yang 2 tahun lalu pernah ada dan sempat hilang begitu saja. Seseorang yang dulu tidak pernah aku prioritaskan. Sosok yang dahulu pernah aku ceritakan hal-hal konyol dan momen penting. Dia adalah orang yang menerimaku kembali. Menghadirkan waktu dan bahu untuk aku berkeluh kesah ketika waktu itu hidupku penuh dengan kesia-siaan. Dia yang menggenggam erat tanganku ketika aku tertatih dalam berjalan. Dia yang bersedia mengorbankan segalanya untuk menemuiku. Dan dia yang menyelamatkanku dari jurang keputus-asa-an.
Dia yang membantuku membereskan serpihan hati yang sempat hancur tak karuan. Menyusunnya dan mengembalikanku untuk memberiku pilihan. Meninggalkan atau Menetap. Lalu, bagaimana bisa aku menyia-nyiakan seseorang yang selalu tulus kepadaku dari 2 tahun yang lalu? Mengapa aku harus melepaskannya untuk kedua kalinya? Yang bahkan dulu seseorang yang tidak aku prioritaskan, tidak aku hiraukan kehadirannya, yang sempat aku patahkan hatinya sekarang dia menerimaku kembali apa adanya, bagaimana bisa aku meninggalkan orang itu?
Sesungguhnya aku menyesal. Mengapa aku tidak bersamanya sedari dulu. Bersanding dengannya dari 2 tahun lalu. Dan bisa dengannya lebih awal dari yang aku duga.
Tapi, aku percaya skenario Allah memang terbaik. Mematahkan hatiku melaluimu, lalu biarkan dia yang menyusun dan memperbaikinya. Memberikanku pelajaran darimu, lalu biarkan aku bertemu dengannya. Singgah sebentar di hatimu, lalu menetap selamanya dihatinya.
Terimakasih. Silahkan pergi dan hati-hati. Jangan sampai ada hati yang terluka sepertiku lagi.















