Pulang Pergi Singapura Sehari, Kaki Minta Pensiun [Minggu, 12 Jul 26]
🌙 Jam 3 Pagi yang Tidak Diminta
HP Mamah bunyi jam 3 pagi. Uti telepon, Mama memang minta dibangunin. Ya sudah, otomatis saya juga ikut melek — padahal rencananya masih mau curi-curi tidur sampai alarm asli bunyi.
Daripada rebahan lagi cuma buat galau, saya putuskan langsung gerak. Masak ayam yang sudah dibumbuin dari kemarin, sambil beres-beres piring dan dapur, buang sampah. Ninggalin rumah dengan sampah numpuk itu rasanya kayak dosa kecil yang bakal nagih pas pulang nanti — dan benar saja, kepikiran terus di jalan.
Mama sibuk packing dan mikirin logistik. Begitu semua siap, baru deh bocah-bocah diangkat ke mobil. Ario masih di fase setengah sadar, sementara Maris malah tidur lagi begitu duduk di jok.
⛴️ Berkejaran dengan Jadwal Kapal
Rencana awal gas ke pelabuhan jam setengah lima pagi, tujuan Harbourfront, kapal jam 6. Sampai pelabuhan sekitar jam 5, langsung check in, terus sempatkan solat subuh dulu sebelum masuk.
Ternyata penumpang sudah ramai banget. Sempat deg-degan juga, takut ketinggalan kapal padahal sudah dateng lumayan pagi. Untungnya kebagian juga.
Di perjalanan, saya yang sudah beberapa kali ke Singapura otomatis nggak seheboh waktu pertama kali dulu. Sekarang lebih ke arah menikmati liburannya aja — sambil diam-diam ngitung budget, karena harga tiket makin gila. Dulu PP masih 350 ribuan, sekarang bisa tembus 800 ribu lebih. Mahal ya, Allah.
🏙️ VivoCity dan Sarapan yang Ekspektasinya Meleset
Sampai di sana, ternyata pelabuhannya sudah pindah ke terminal baru, jadi jalan kaki ke VivoCity sedikit lebih jauh dari biasanya. Kami sarapan di rooftop dengan bekal nasi ayam dari rumah.
Bekal itu ternyata ludes juga — padahal ekspektasinya bisa nyampe makan siang. Ya begitulah, rencana di kepala sama kenyataan di lapangan memang suka nggak akur.
Itinerary hari itu sebenarnya sudah dibantu ChatGPT, lengkap dengan target-target tempat. Tapi ada beberapa yang akhirnya meleset juga — sampai sekarang pun Gardens by the Bay masih belum ke sampaian. Yah, nasib. Namanya juga bawa anak kecil, ekspektasi tinggi cuma bikin capek sendiri.
🎈 Bocah Seneng, Dompet Menjerit
Anak-anak sih seneng banget, meski sempat tantrum juga karena sebenarnya ini bukan trip yang didesain buat anak — lebih ke trip ala orang dewasa yang ngejar spot foto. Wahana, mainan, apa pun jadi harus dipikir dua kali karena harganya lumayan.
Belum lagi pas naik MRT, kartu kami ternyata sudah expired, padahal saldonya masih sekitar 23 dolar Singapura. Alhasil harus beli kartu baru, 5 dolar per kartu, beli 4 biji jadi 20 dolar sendiri. Kurs sekarang 14 ribuan, jadi kalau dihitung-hitung lumayan bikin nyureng. Air mineral sebotol aja bisa 60 ribuan rupiah — gila emang.
Ke anak-anak sih cuma bisa bilang sabar. Yang penting mereka tetap dapat pengalamannya, meski nggak main maksimal. Untungnya rejeki dikit, nemu playground gratis di Jewel yang lumayan nolong suasana hati.
🎒 Bawaan Berat, Badan Lebih Berat
Barang bawaan super berat, ditambah kadang si adek yang kecapean minta gendong. Perjalanan yang benar-benar menguras tenaga. Tas isi dua botol air besar aja sudah bikin bahu protes, belum lagi baju ganti yang numpuk di ransel.
Dari VivoCity kami lanjut ke Sentosa Island, foto-foto di depan globe Universal Studios. Ke sananya naik Sentosa Express, 4 dolar per orang, sudah pulang pergi. Sempat kehujanan deras juga, untungnya nggak lama.
Dari Sentosa balik lagi ke VivoCity, lanjut naik MRT ke Jewel. Jalannya lumayan jauh karena dari terminal 3 ke Jewel jaraknya nggak deket-deket amat — untung ada eskalator yang nolong.
🕌 Design Keren, Tapi Ada yang Kurang
Sampai di Jewel, desainnya memang keren banget, kayak dunia buatan yang unreal. Salut sama arsiteknya. Di bawah air terjunnya ada deretan food court yang kayak akuarium raksasa.
Tapi sebagai muslim, agak sedih juga nemu kenyataan kalau mall sesebesar itu ternyata nggak punya mushola. Ya begitulah rasanya jadi minoritas — hal kecil yang ternyata nggak sekecil itu buat kami.
Pengunjungnya juga ramai banget, jadi agak susah kalau mau foto yang proper. Di playground, anak-anak lumayan bisa recharge energi setelah sempat drama pengen naik wahana panjat-panjat. Begitu tahu harganya 20 dolar per orang, ya sudah, ketawa aja sambil jalan.
🦁 Merlion dan Kaki yang Sudah Menyerah
Dari Jewel, kami naik MRT lagi ke Raffles buat ke Merlion. Rasanya nggak lengkap kalau ke Singapura tapi nggak mampir ke ikon yang satu ini — apalagi kali ini kami memang lagi nemenin adiknya suami, Om Aa, yang baru pertama kali ke sana.
Di Merlion pengunjungnya membludak juga. Kaki sudah pegal parah, perut lapar, dan entah kenapa sempat ada sedikit tensi sama Mamah. Wajar sih, capek fisik biasanya nular ke emosi juga.
Akhirnya kami putuskan makan di 7-Eleven aja, lumayan murah, sekitar 4 dolar. Macaroni pastanya ternyata enak, dan bonusnya bisa nge-charge HP sekalian.
🌃 Perjalanan Pulang yang Bikin Sekarat
Dari situ kami putuskan langsung pulang. Kaki sudah benar-benar lemah, anak-anak juga sudah di titik limit. Jalan lagi ke VivoCity, sempat nyasar-nyasar bingung, nanya orang pun sama-sama bingung, sampai akhirnya nemu juga jalannya.
Pulang sesuai jadwal jam 21.40 waktu Singapura. Nunggu di pelabuhan lumayan lama, lebih dari sejam, ditambah dingin. Sudah pakai AC, pakai kipas juga tetap kerasa — apalagi nggak bawa jaket, jadi terpaksa selimutan pakai kaos cadangan.
Di kapal, si adek yang saya pangku ternyata sudah ngantuk berat, langsung tidur nggak lama setelah duduk. Badannya lumayan berat, kursinya pun keras. Harusnya memang duduk di bawah yang kursinya empuk dan ber-AC, tapi kami kebagian di atas — pengap, meski masih ada angin sedikit.
Badan, bokong, dada terasa sesak, kepala pusing, jantung berdebar-debar gara-gara sok gaya minum kopi malam-malam. Campur aduk rasanya, harus bertahan di tengah kantuk yang menyerang. Rasanya udah kayak sekarat beneran. Untungnya akhirnya sampai juga di pelabuhan, sambil tetap gendong Maris.
Di pelabuhan, giliran Ario yang kebelet pipis — lengkap sudah drama hari itu. Harus nyari toilet dulu sebelum sempat lewat gate. Di gate pun masih harus isi surat kedatangan.
Badan yang sudah nggak karuan langsung saya hantam dengan minum tolak angin. Lumayan mendingan. Sebelum pulang, sempat mampir beli cumi dan nasi uduk — begitu dimakan di rumah, rasanya nikmat banget, langsung lega dan bisa tidur nyenyak.
Begitulah perjalanan panjang yang seru sekaligus melelahkan ini.
Jalan-jalan itu jangan kebanyakan ekspektasi. Harus siap dealing sama keadaan-keadaan yang nggak sesuai rencana — justru di situ letak serunya.
Semoga rejeki terus lancar dan banyak, berkah, biar bisa jalan-jalan lagi ke tempat-tempat baru yang seru.