Pembelajaran agama Islam untuk anak
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh,
Cuma mau share tentang pendapat gw tentang cara mengajarkan agama Islam yang baik menurut gw. Bagi yang setuju monggo silahkan yang tidak ya ini hanya opini bukan sebuah paksaan untuk mengikuti. Selamat menyimak.
Pikirkan kembali tentang ancaman-ancaman yang hanya membuat anak merasa takut.
Fenomena ini sering terjadi di masyarakat kita dari gw kecil sampe sekarang. Dimana orang tua, guru agama, guru di sekolah dan semua yang berkewajiban mensyi’arkan ajaran agama Islam. Dimana setiap pengajarannya terdapat konsekuensi yang tidak bisa dijelaskan secara detil kepada anak karena kemampuan berpikir yang masih terbatas.
Bukankah agama Islam adalah agama yang baik. Agama yang datang untuk mencapai kedamaian, bukan adat Islam ketika penyelesaian masalah harus dengan kekerasan.
Sering orang mengancam orang lain dan mengatur tentang agama sedangkan dia sendiri melakukan dosa. Tidakkah dia sadar yang dia lakukan sudah keluar dari ajaran yang baik. Begitukah cara Islam yang dia pelajari? Masih pantaskan untuk diteladani?
“Sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha penyayang”
Jika Tuhan yang kita sembah maha pengasih dan maha penyayang apakah kita sebagai umatnya tidak merasa berdosa ketika tidak bisa menjadi pengasih dan penyayang kepada sesama?
“Kita bukan Tuhan!” apakah seperti itu jawabannya?
kita memang bukan Tuhan, tapi tidakkah kita memujanya? Tidakkah kita malu menginjak rumahnya ketika kita sendiri salah mengamalkan ajarannya? Tidakkah kita malu ketika kita mengajarkan ajaran yang sudah salah kepada orang lain? Tidakkah ibarat kita menabung dosa karna mengajarkan ajaran yang salah?
Memang, tidak diketahui pasti apakah ajaran yang ada sekarang itu benar? Tidak lagi ada Nabi dan Wali seperti jaman dahulu sebagai tauladan bagi umatnya.
Anak adalah generasi penerus bangsa, penerus keturunan kita kelak, dan dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak sholeh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim 3084)
Maukah kita sebagai orang tua, tidak berkesan di hati anaknya? Maukah kita menjadi orang tua yang hanya ditakuti oleh anak? Bahkan anak enggan mendoakan orang tuanya.
Ingatlah ada yang menyebutkan bahwa
"Telah dikabarkan kepada kami bahwa seorang anak akan tergantung di leher ayahnya pada hari kiamat nanti. Lalu dia berkata: 'Wahai Rabbku, ambillah hakku dari orang yang menzhalimiku ini!' Sang ayah berkata: 'Bagaimana aku menzhalimimu, sedangkan aku telah memberimu makan dan pakaian?' Sang anak berkata: 'Benar, engkau telah memberiku makan dan pakaian, tetapi engkau melihatku melakukan maksiat dan engkau tidak melarangku.'" (Dikutip dari Majalah Az-Zahur, Sya'ban 1420 H)
Oke langsung ke pokok pendapat..
Menurut pandangan Animator (karna gw animator)
Alur cerita dalam sebuah film animasi untuk anak tidak boleh melebihi 5 unsur cerita:
1. Tokoh sebaiknya menggunakan hal-hal positif sebagai nama yang bisa membantu anak belajar seperti nama binatang, nama planet, atau sejenisnya.
2. Penceritaan tokoh antagonis tidak boleh mengandung unsur kekerasan, tidak memakai ancaman yang spesifik, sebaiknya tokoh antagonis merupakan tokoh yang licik (pandai). Sehingga tokoh antagonis-pun memiliki sisi positif. Mengapa demikian? Anak akan menjadi kreatif untuk licik kepada orang tuanya saat dia membutuhkan perhatian. Anak akan lebih aktif untuk mencari tau hal-hal baru atau mendapatkan sesuatu.
3. Alur cerita untuk anak tidak boleh melebihi 5 alur penting diantaranya perkenalan, konflik, klimak, antiklimak, pesan moral.
4. Dimana ada tokoh antagonis selalu ada tokoh protagonis yang muncul sebagai pahlawan yang membawa perilaku baik dan penyelamat. Penceritaan tokoh ini tidak boleh menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
5. Budayakan pesan moral, dimana tokoh antagonis yang menjadi konflik berubah menjadi tokoh protagonis. Seperti bertaubat, ingat bahwa yang ia lakukan tidak pernah baik.
Jelas diatas bahwa animasi untuk anak saja tidak boleh menyertakan unsur ancaman dan kekerasan. Dimana tokoh protagonis selalu menjadi seorang yang bijak yang berdoa kepada Tuhan agar dia diselamatkan dari tokoh antagonis.
Menurut Psikologi
Ancaman, Paksaan atau koersi adalah praktik memaksa pihak lain untuk berperilaku secara spontan (baik melalui tindakan atau tidak bertindak) dengan menggunakan ancaman, imbalan, atau intimidasi atau bentuk lain dari tekanan atau kekuatan. Dalam hukum, pemaksaan dikodifikasikan sebagai kejahatan paksaan. Tindakan tersebut digunakan sebagai pengaruh, memaksa korban untuk bertindak dengan cara yang diinginkan. Paksaan mungkin mengakibatkan penderitaan sebenarnya, rasa sakit fisik/cedera, atau kerusakan psikologis dalam rangka meningkatkan kredibilitas ancaman. Ancaman kerusakan lebih lanjut dapat menyebabkan kerja sama atau kepatuhan dari orang yang dipaksa.
Adakah yang mau masuk neraka?
Memang, neraka adalah kekuatan utama saat kita mengajarkan agama kepada anak. Namun tidak adakah alternatif lain selain menakuti anak untuk masuk neraka?
Ingat! Setiap perkataan orang tua adalah doa untuk anaknya.
"Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua." [HR. Al Hakim].
Mengapa kita tidak mencoba untuk memberikan tindakan yang motivatif terhadap anak, seperti memberikan hadiah jika anak mau melakukan hal-hal baik. Beberapa anak mungkin akan ketagihan dengan hal ini, dan semakin bersemangat untuk meraih apa yang mereka inginkan. Dan pada saat kegiatan ini tidak efektif lagi, itu pada saat anak mulai menginjak usia remaja.
Kesalahan, Kenakalan, dan Kegagalan adalah pengalaman berharga
Gw sendiri mengakui, pengalaman dari hal-hal terburuk itu lebih berharga daripada kita tidak pernah sekalipun mencobanya.
Nantinya saat menjadi orang tua, semua pasti akan khawatir ketika anak nakal. Salahkah anak nakal? Salahkah anak gagal? Salahkah anak berbuat salah? Tidak!
Biarkan anak belajar dari apa yang telah dia alami. Berikan nasehat positif, berikan penjelasan yang masuk akal, berikan sesuatu yang tidak dapat diberikan apa yang dia perbuat. Hal ini yang dilakukan kedua ortu gw disaat gw selalu gagal, selalu salah, dan selalu nakal. Meskipun masih ada rasa marah, namun itu mengajarkan gw untuk sadar. Untuk tidak mengulangi hal yang sama. Untuk menjadi anak yang lebih baik dari yang telah terjadi.
Nah yang disini mau gw tekankan adalah rasa marah orang tua saat anak kelak berbuat hal yang sama. Tidak ada manusia yang sempurna. Kesalahan adalah pembelajaran terbaik dalam hidup. Ketika orang gagal, mungkin dia akan merasakan penyesalan. Dia akan mengulanginya untuk 2-3 kali sampai dia merasa benar-benar terpuruk. Disaat itulah dia akan bangkit untuk memperbaiki hidup. Adakah orang yang mau hidupnya terpuruk?
Jangan takut untuk melepasnya, anak hanya butuh orang tua dibelakangnya, memberikan kepercayaan lebih dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Bukankah selama ini orang tua sudah memberikan yang terbaik, mengajarkan yang baik. Jika dia nakal itu biarkan saja, selama kita mengajarkan hal yang benar suatu hari dia akan mengerti.
TIPS AGAR ANAK MENAATI PERATURAN
(sumber: http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi2.htm)
Hal-hal yang perlu diterapkan dalam usaha mendisiplinkan anak :
Mulailah dari hal-hal yang kecil dulu, kemudian secara bertahap ke tingkat selanjutnya.
Awal dari disiplin adalah komunikasi yang baik dan sederhana.
Konsisten pada aturan disiplin yang telah dibuat.
Konsisten antara ayah-ibu supaya tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Buatlah kesepakatan tentang peraturan yang harus dijalankan di rumah.
Terapkan pemberian reward dan punishment (hukuman).
Pemberian perintah dan aturan yang disertai dengan penjelasan mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
Mendampingi anak mengerjakan apa yang diperintahkan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, misalnya pada saat anak disuruh membereskan mainannya.
Teknik disiplin yang digunakan, sebaiknya memakai dialog yang penuh kasih sayang dan kehangatan.
Bahasa yang digunakan sebaiknya yang sederhana saja, apalagi si anak masih tergolong balita. Gunakan juga bahasa anak ( berdasarkan pada pola pikir animisme anak ) . Dengan demikian si anak akan lebih bisa menerimanya.
Aturan disiplin dibuat sedemikian rupa sehingga bahaya dari luar / sisi negatifnya bisa diminimalkan.
Perhatikan usia anak. Aturan disiplin akan berbeda-beda pada tiap tingkatan tahap perkembangan. Bila masih kecil (baru 1-2 tahun), kesabaran sangatlah mutlak karena mereka cenderung egosentris. Jadi, maklumlah.
Hormati perasaan anak dan hargai juga waktunya.
Berikan pilihan / alternatif.
Kerahasiaan aturan disiplin supaya tidak menjatuhkan harga diri si anak.
Peringatkan lebih awal tentang apa-apa yang harus dilakukannya supaya ia bisa bersiap-siap untuk aturan tersebut.
Berikan perintah dengan tegas dan lebih spesifik.
Tekankan pada hal-hal positif.
Ketidaksetujuan baiknya ditujukan pada perilaku si anak, bukan si anak itu sendiri.
Berikan contoh / teladan yang baik karena anak-anak bisa meniru perilaku orang tuanya. Dengan demikian, oang tua bukan hanya sebagai penegak aturan tetapi juga pelaksana aturan.
Hal-hal yang harus dihindari dalam usaha mendisiplinkan anak :
Terlalu sering memberi ancaman (lebih-lebih pada anak yang pandai) karena ia malah akan balik menantang.
Mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi.
Aturan disiplin yang memaksa, otoriter, keras dan sangat ketat.
Selalu mengatakan, “Aku ingin …” ( bagi orang tua ).
Orang tua itu sendiri tidak disiplin, sehingga si anak pun menirunya.
Aturan-aturan yang penting saat memberikan reward kepada anak :
Hadiah diberikan dengan tujuan tertentu, sebagai dorongan pada anak untuk tetap mempertahankan tingkah laku atau prestasinya yang baik.
Bila tujuannya ingin mengubah tingkah laku anak sebaiknya jangan memberikan hadiah barang, kecuali untuk pertama kali dalam jangka waktu yang panjang, misalnya saat anak masuk sekolah, belikan tas atau buku.
Bila anak sudah terlanjur menyukai hadiah barang, ubahlah dengan sikap yang sabar, ulet, dan konsisten. Perubahan ke hadiah non-barang pun harus dilakukan secara bertahap dan jangan memaksa.
Kekompakan antara ayah dan ibu dalam memberikan reward.
Bila akan memberikan hadiah non-barang, lakukan dengan sungguh-sungguh, dalma arti ungkapan kasih sayang, seperti pelukan atau ciuman diberi dengan tulus.
Konsisten dalam memberi hadiah non-barang.
Hadiah non-barang harus proporsional, efisien, dan tepat waktu.
Adakan evaluasi seusai hadiah diberikan, apakah ada penguatan perilaku pada anak.
Reward jangan diberikan secara berlebih-lebihan.
Reward baiknya berujung pada reinforcement positif.
Aturan-aturan yang penting saat memberikan hukuman kepada anak :
Jangan berikan pada anak yang masih tergolong balita karena mereka belum mengerti alasan mengapa mereka dihukum, akibatnya mereka bisa menjadi frustasi.
Hukuman harus bersifat mendidik.
Informasikan terlebih dahulu akan adanya sanksi tertentu dari perilakunya yang tidak menyenangkan orang tuanya.
Adakan evaluasi seusai hukuman diberikan, apakah ada perubahan kesadaran dalam diri si anak.
Jangan lakukan hukuman di bawah pengaruh emosi yang tak terkontrol.
Berikan hukuman dengan tegas. Bila anak merengek jangan langsung lemah hati dan nyerah.
Perhatikan korelasi antara hukuman dengan perilaku.
Hukuman badan hanyalah dipandang sebagai jalan terakhir.
Beberapa fakta mengapa hadiah barang bisa menjadi tidak efektif :
Anak menjadi materialistis.
Anak bersikap baik bukan karena kesadaran diri, tetapi karena keinginan untuk mendapatkan barang tersebut.
Beberapa fakta mengapa hukuman badan bisa menjadi tidak efektif :
Anak bisa menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut.
Anak cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukan perbuatan yang diharapkan kepadanya.
Anak cenderung melampiaskan kekesalannya pada hukuman tersebut dengan memukul anak lain.
Menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, di mana rasa marah, sakit hati dan jengkel akan dipendam selamanya oleh si anak.
Akan terbentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness)
Anak tidak akan belajar apapun dari hukuman badan.
Baik reward maupun hukuman, janganlah asal-asal diberikan, melainkan harus mapu membangun / mengukuhkan konsep diri di individu. Waktu diberikannya reward atau hukuman pun harus langsung pada saat perilaku yang diinginkan / tidak diinginkan itu terjadi. Jangan menundanya terlalu lama.
Cerita tentang anak yang shaleh yang tidak mau masuk surga
(sumber: http://www.mentariindonesia.sch.id/artikel/174-anak-shaleh-tidak-mau-masuk-surga-ketika-orang-tua-di-neraka)
Anak-anak itu kemudian berhenti di pintu syurga. Mereka bertanya: “Manakah ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami? Dan masuk syurga tanpa ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami sungguh tidak patut bagi kami.”
Malaikat berkata: “Sesungguhnya ayah-ayah kalian dan ibu-ibu kalian itu tidak seperti kamu, karena mereka telah durhaka terhadap Tuhan mereka, dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka dan syaitan-syaitan mereka, dan mereka harus masuk neraka.”
Maka tatkala anak-anak itu mendengar ucapan ini, mereka menjerit-jerit keras sekali, dan menangis banyak-banyak. Dan pada sat itulah Allah Yang Maha Tinggi, Maha Tahu, lagi Maha Teliti pengetahuan-Nya, berfirman: “Wahai Jibril, jeritan apakah ini?”
Jawab Jibril, Alaihis Salaam: “Ini jeritan anak-anak orang Islam. Mereka berkata: ‘Kami tak butuh syurga. Dan kami tak dapat merasakan keenakan-keenakan syurga tanpa ayah-ayah dan ibu-ibu kami, dan kami mengharap dari Allah Ta’ala agar memaafkan mereka dan memberikan dosa-dosa mereka kepada kami, lalu memasukkan mereka bersama-sama kami ke dalam syurga. Dan kalau tidak, maka masukkanlah kami bersama mereka ke dalam neraka.”
Dan pada saat itu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril, Alaihis Salaam: “Pergilah dan ambillah ayah-ayah mereka da
Mendengar perkataan ini dari Allah Ta’ala, anak-anak itupun lalu bergembira dan bersukacita, dan mereka temuai ayah-ayah mereka dan ibu-ibu mereka masing-masing, mereka pimpin tangan mereka lalu masuk syurga bersama-sama mereka…”(Al Hadits).
Salam dari gw, semoga tulisan gw bermanfaat bagi yang ingin mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang baik.
Wassalamualaikum warohmatullah wabarakatuh.