Dunia itu luas, dan tidak punya titik pusat yang paling paripurna personanya.
Seluruhnya Tuhan ciptakan secukupnya, saling berdampingan, mengitari banyak hal, sekaligus berjalan seiringan. Matahari berporos tidak pada satu ruang, tapi menyaksikan seluruh bising semesta. Bintang itu jumlahnya banyak, tidak tertakar, seperti sabar yang Tuhan ciptakan dalam relung manusia. Awan silih berganti, mendung menjadi cerah, bergulir menampilkan biru dan jingganya. Agar manusia mengerti bahwa biru yang sesekali tidak dapat diterka ketetapannya, meletakkan pesona senja di ufuk cakrawala.
Begitupun sebentuk emosi yang beragam eksistensinya. Tidak selamanya marah mendekap api di dalam dada. Tidak selamanya sedih menjatuhkan hujan di pelupuk mata. Dan tidak selamanya senyum mampu melipurkan sepasang tengadah. Namun kiranya, Tuhan menyisakan kertas agar kita bisa menorehkan aksara lantas melupa yang sebenarnya sebatas fatamorgana.
















