[Code Geass] MUTUALITY Short Story I (Indonesian-translation)
Code Geass Lelouch of the Rebellion Story Draft
Skenario baru di luar anime yang ditulis oleh Ohkouchi Ichiro dan terinspirasi dari ilustrasi CLAMP. Diambil dari versi berbahasa Inggris dalam scanlation artbook MUTUALITY chapter VII oleh BWYS, dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia oleh saya.
F i r s t S t o r y——Kururugi Suzaku
Zona buram, terperangkap di tengah konflik antara Britania, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan E.U.
Kami sudah bersembunyi di kota ini selama tiga hari, sejak kami kembali dari Dunia C.
"Sebuah skenario mutlak diperlukan."
Atau setidaknya begitulah kata Lelouch.
Menghancurkan dunia, menciptakan dunia.
Untuk membuat perang berakhir, kami memerlukan pemerintahan dunia berdasarkan Federasi Bangsa-Bangsa, sistem kepemimpinan pasca perang, dan penghapusan semua hal yang bisa menjadi penghalang, seperti Schneizel dan Damocles. Kami juga perlu membangun kembali sistem organisasi Britannia.
Semua masalah ini harus ditangani satu demi satu. Atau setidaknya, dua masalah dalam satu waktu...
Karena jemari yang terselip sekali saja bisa berakibat fatal, dan seketika itu juga, permainan akan tamat.
Aku memasuki café kecil itu; orang-orang yang berada di dalamnya hanyalah sang pemilik dan dua orang pengunjung.
Sebuah kipas angin perlahan berputar mengedarkan udara ruangan yang agak hangat.
Tak ada cahaya. Hanya ada cahaya samar dari luar yang masuk melalui celah-celah penyaring udara, menyinari partikel debu yang melayang di udara, dan menimbulkan kesan lesu di seluruh tempat ini.
"Apa kau tahu, Suzaku," Pengunjung yang duduk di meja kedai—C.C.—berbicara. "Apa arti dari nama kota ini?"
"Tidak. Tapi kau akan memberitahuku, 'kan?"
"Mm. Biar bagaimapun kita kawan sekarang."
C.C. menggigit kecil pizzanya dan tersenyum tipis.
"Artinya 'hadiah dari Tuhan' dalam bahasa Persia ... cocok 'kan, menurutmu? Tempat yang sempurna untuk memulai legenda."
Ada satu pengunjung lagi yang sedang duduk meja yang berada di bagian belakang—Lelouch, yang terpaku di hadapan papan catur.
Ada sang raja hitam di dalam telapak tangannya. Ia tengah memutar-mutarkan benda itu di antara jemarinya.
Kelihatannya hasil dari permainan itu tak bisa ditentukan dengan langkah berikutnya.
"Ah, Suzaku," kata Lelouch, masih terpaku pada papan caturnya.
Pion-pion catur itu tersebar di atas papan dalam susunan yang rumit; tidak terlihat jelas sisi mana sebenarnya yang sedang unggul sekarang.
Mungkin seperti itulah gambaran dunia. Kira-kira sejauh apa kami sebenarnya di dalam skenario Lelouch?
"Kita seperti kembali ke masa lalu, saat dimana yang kita pikirkan hanyalah bagaimana caranya menyamarkan keberadaan kita, menyembunyikan diri kita, dan mencari kebebasan ... tidak, mungkin kita memang begitu sebelum hari-hari itu tiba."
Lelouch berhenti memandang papan catur dan menengadah padaku.
Saat ia mengatakan itu, meski hanya sesaat, yang kulihat adalah pangeran keras kepala yang menjadi temanku menghabiskan waktu dalam gudang di lingkungan Kuil Kururugi.
Kami bertiga sering bermain bersama.
Kami memiliki saat-saat yang sangat membahagiakan.
Saat-saat yang begitu lembut.
Tapi kami tidak akan pernah bisa kembali.
Ada sebuah suara dari arah belakangku.
C.C., yang masih duduk di sisi meja kedai, baru saja mengetuk gelasnya yang bersegi.
Matanya terlihat seolah berkata—`Aku di sini, 'kan?`
Kami tidak hanya mengalami kekalahan.
Kami memiliki sesuatu yang tidak kami miliki saat itu.
"Lelouch, kau punya Geass sekarang. Kau punya pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas ketimbang yang kau miliki dulu ... hidup orang-orang bergantung padamu."
Aku menatap tepat ke mata Lelouch.
Di sana, aku melihat bayangan Kururugi Suzaku terpantul kembali ke arahku.
Akupun sama; banyak hidup yang juga bergantung padaku.
Keinginan untuk menolong, untuk menyelamatkan; aku berpegang pada perasaan itu sembari membunuh begitu banyak orang.
Aku telah mencuri begitu banyak nyawa untuk bisa sampai ke titik ini.
"Hidup itu ... terjadinya esok, eh?"
"Benar, Lelouch. Kita sudah mencuri hari esok dari banyak orang, dan itulah kenapa..."
Kelanjutan kalimatku terpotong dari pergerakan tubuh Lelouch—ia menyentuhkan telapak tangan kanannya pada siku kirinya.
Itu adalah kode yang kami buat saat kami masih kanak-kanak dulu. Artinya adalah, `Aku mengerti.`
Lelouch lalu memejamkan matanya perlahan.
Aku bertanya-tanya siapa kira-kira yang sedang ia pikirkan.
Nunnally, saat ia menghilang dalam cahaya FLEIJA?
Atau mungkin orangtuanya, yang terkubur dengan tangannya sendiri.
Shirley. Euphie. Atau mungkin kakak lelakinya...
"Ahh ... benar, Suzaku," Lelouch bergumam.
Ia memutar sang raja hitam dan meletakkannya di atas papan.
“Zero Requiem ... itulah nama bab terakhirnya.”