Kabur
"Kalau kamu mau kabur, kabari ya!"
Kalimat itu terucap olehnya saat aku menceritakan bagaimana susahnya aku sebagai anak sulung yang kerap menjadi tumpuan beban domestik keluarga. Tidak menafikan pekerjaan menyetrika yang dilakukan oleh adikku sendiri, melainkan ada tanggung jawab tidak tertulis yang berada di pundak ini.
Ketika ibu dan bapakku berangkat kerja, makna "kabur" untukku adalah sejenak me-time dengan rutinitas rumah tangga. Meski identik dengan orang yang telah berumah tangga, titel aku sebagai anak yang masih tinggal di rumah orang tua sudah cukup mapan akan beban domestik.
Kabur setelah melakukan cuci baju, masak, dan beberes rumah adalah sejenak pergi ke kafe dengan menu dan suasana yang nyaman dipandang selewat di Instagram. Setelah itu, aku pergi ke sana sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan lepasku di sebuah perusahaan.
Aku pergi duluan ke sebuah tempat di tengah kota Bandung. Dari depan tampak tidak terlihat sebuah kafe. Namun, tempat itu seperti sebuah gedung besar dengan halaman luas dan pagar terbuka. Setelah memakirkan motor merah keluaran 2013-ku, aku berjalan menuju sebuah halaman besar dengan rumput hijau dan kolam yang tengah dikuras.
Aku melewati jembatan menuju tempat di mana kasir itu berada. Saat itu pukul 11.00 WIB, belum ada tanda-tanda pelayan berlalu lalang.
"Bentar lagi bukanya," kata salah satu pelayan tersebut.
Aku duduk sembari membuka pesan Whatsapp untuk memberi kabar kepadanya bahwa aku telah sampai di tempat "kabur". Setelah kasir dibuka, aku pun memesan latte dan roti bakar.
Setelah membayar sejumlah nominal, aku berbalik dan ia hadir tepat di hadapan.
"Sudah pesan?"
Aku duduk di bangku panjang sebelah timur. Masih dengan perasaan kikuk, aku tertegun dengan ponselku sendiri. Kemudian ia membuka laptopnya dan mengatakan bahwa dirinya masih belum tahu hendak menulis apa.
Seperti biasa, setelah makanan kami datang, aku meneguk setiap kopi dengan tenang. Seperti candu, aku mengajak kafein di setiap tegukannya dapat mencerahkan otakku.
Ia memesan sepiring nasi goreng dan es kopi susu khas kafe tersebut. Belum makan dari pagi, katanya. Wajar, seorang lelaki perantau yang telah berada di Kota Kembang 12 tahun ini masih saja terlambat makan dan lebih mengutamakan tulisannya. Pekerjaannya hanya menulis sepanjang hari jika informasi telah tersedia.
Aku lupa bicara apa sepanjang pertemuan ketiga, atau keempat itu. Aku lupa. Namun, ia masih menggenggam ponselnya untuk bermain gim favorit. Mobile legend.
Aku menyunting sebuah video untuk media sosial yang aku pegang. Ia asyik masyuk bermain mobile legend hingga waktu menunjukkan pukul 3 sore.
"Aku pulang, ya." ucapku.
Ia masih saja belum berkutat dengan laptopnya. Baru tiga paragraf ia menulis hasil pekerjaannya. Aku segera berdiri dan merapikan tasku untuk segera pulang ke rumah.
Ibu dan bapakku pasti akan segera pulang. Maka aku harus lebih dulu datang ke rumah.
"Aku sudah bayarkan parkirnya," ucapnya.
Mungkin itu adalah hal kecil pertama yang cukup buatku terkesan karena membayarkan parkir. Ya, hal dasar adalah hal-hal besar yang aku sukai.
Semakin sore, aku bergegas meninggalkannya.









