Aku si pemuja jibeuh. Dahar hiji oge sebeuh. Ngambil box depan mesjid dari subuh. Supaya bisa dijualin ke teman yang lapar & rusuh. . . Jadi dari dulu aku bukan anak yang bekal uang jajannya banyak, pilihannya antara jajan yang "proper" atau nyiapin ongkos pulang. Makanya aku selalu bekal makan, supaya tidak jajan. Tapi sekolahku full day, jadi bekal satu porsi saja tidak cukup. Untuk menyiasati masalah perut, pagi hari aku sering membeli jibeuh yang dijual anak rohis depan mesjid sekolah (apa samping ya? bingung bedainnya). Beli satu atau dua biji saja sudah bikin "sebeuh" (bahasa sunda, yang artinya "kenyang"). Harganya dulu kalau tidak salah hanya Rp 1.500,-/pc. . Setelah berselancar di internet, ternyata jibeuh itu hanya istilah. Produknya bisa berupa roti, martabak, kue, dan sebagainya. Jibeuh yang biasa aku beli berwujud mirip "odading bantal" (roti manis khas tanah priangan, temannya "cakweh" / "cakue" tapi bentuknya seperti bantal). Isinya biasanya kacang hijau atau coklat. Kalau sekarang mungkin ada yg isi macha/mozarella gak ya? Wkwk. . Saking seringnya beli, terkadang sekalian aku bawa satu box untuk dijual ke teman jurusan pada saat ada kajian rohani pagi atau mata pelajaran olahraga. Lumayan buat nambah ongkos. Soalnya, kalau pulang kemalaman dan tidak kebagian kereta, aku mesti pulang naik angkot sampai 4 kali transit. Masa-masa perjuangan, sebelum kenal sama hedonisme berkedok Y.O.L.O ala-ala milenial. 😆 . Mari kita renungkan sudah jajan berapa rupiah gara-gara lihat godaan cashback selama setahun kemarin? 😌 . @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2004 #1dekade36 (at Stocklot eat.shop.play) https://www.instagram.com/p/B65D_DLAl_2/?igshid=1p76anhlakit3



















