Summer
“Seok, nanti sore sibuk gak?”
Pertanyaan Byungchan menyadarkan Wooseok dari fokusnya kepada bubur ayam yang menjadi menu sarapannya pagi ini.
“Gimana, Chan?”
“Yee..makanya klo makan jangan sambil ngelamun. Sore ini kosong gak, Seok?”
“Sore tuh maksudnya jam berapa, Chan? Soalnya definisi kita tentang waktu kan beda ya”
Wooseok ingat beberapa waktu lalu, Byungchan mengajaknya untuk belanja bulanan di hari Sabtu. Janjinya pagi, supaya tidak macet. Di otak Wooseok, pagi itu jam 9 atau paling siang ya jam 10. Tapi, Byungchan dengan segala persepsinya tentang waktu baru menjemput Wooseok jam 11 siang karena menurutnya, “Batas pagi klo weekend tu jam 12 tau, Seok.”. Saat itu, Wooseok hanya bisa menghela nafas atas kelakuan sahabatnya.
“Jam pulang kantor gitu, Seok. Gak sibuk kan? Gak ada janji kan? Bisalah ya temenin gw sebentar hehe”, jawab Byungchan sambil nyengir
“Ogah ah, nyengir lo artinya ga pernah enak buat gw”
“Yang ini gak, Seok, beneran! Temenin gw nonton basket sebentar.”
Wooseok menatap Byungchan dengan tajam sambil melahap sate ususnya. Menunggu penjelasan lebih lanjut tentang ‘nonton basket’ ini. Pasalnya, sepanjang berteman dengan Byungchan selama nyaris 2 tahun sejak masuk ke tempat kerjanya, nongkrong dalam kamus Choi Byungchan gak jauh dari keluar masuk mall, nonton, kafe atau paling banter ke salon. Belum pernah temannya ini mengajak Wooseok untuk melakukan sesuatu yang sangat ‘fisik’ seperti nonton basket.
Byungchan yang sepertinya menangkap sinyal bingung Wooseok pun melanjutkan, “Seminggu ini lagi ada home tournament di Quarter, Seok. Antar perusahaan yang kerja disini. Hari ini, Aperture tanding lawan Enigma hehee”
Quarter adalah kompleks perkantoran di Pusat Jakarta. Isinya ada 5 gedung yang diisi oleh 8 perusahaan. Bidangnya beda. Aperture, kantor Wooseok dan Byungchan, bergerak di bidang infrastruktur. Sementara, Enigma bergerak di bidang perfilman. Dalam rangka meningkatkan pertemanan antar pengisi Quarter, pengelola kompleks sering mengadakan kegiatan bareng, salah satunya adalah Home Tournament yang dilaksanakan setahun dua kali di Bulan Agustus dan Desember. Tema kali ini adalah basket, sepertinya. Well, Wooseok gak terlalu peduli. Dia juga jarang nonton apapun pertandingannya. Selama ini, dia lebih memilih untuk datang ke kantor, bekerja, kadang sampai lembur, lalu pulang ke kosannya, atau klo lagi gak capek, dia akan nongkrong dulu dengan Byungchan dan beberapa teman lainnya. Bukannya ga pernah ada yang ngajak, dia hanya males aja. Kantor sudah menyita waktunya seharian, gausahlah ditambah dengan meminta waktu me-timenya yang tersisa.
“Seok, woy, yaelah, malah bengong lagi”, ujar Byungchan sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan muka Wooseok
“Eh, sorry, Chan, haha gw kaget soalnya ini pertamakalinya lo ngajak gw ke hal-hal beginian. Tumben deh...kenapa sih? Ada yang pengen lo liat ya?”
Muka Byungchan mendadak merah. Gotcha.
“APA SIH, KIM WOOSEOK? POKOKNYA NANTI TEMENIN. GA ADA PENOLAKAN!”
Jam 11.30 WIB
“Seok, jangan lupa, ya, nanti pas pulang kantor. Kita udah nyiapin pom-pom loh.”
Kedatangan Byungchan yang tiba-tiba ke mejanya membuat Wooseok langsung kehilangan fokus menghitung kebutuhan debit air untuk desain reservoir yang dia buat. Wooseok hanya memandang sinis kepada Byungchan tanpa menjawab apapun, sementara Byungchan sibuk bergoyang-goyang dengan pom-pom di kedua tangannya.
Jam 13.45 WIB
Wooseok, kali ini sedang menyelesaikan tahap akhir desain reservoir, kembali harus menghentikan pekerjaannya untuk sementara karena Yang Mulia Choi Byungchan datang ke mejanya untuk ngajak patungan beli es kopi susu.
"Wooseok, mau sekalian beli 2 gak kopinya? Nanti kita bawa pas nonton basket.”
“He eh”
Jam 15.30 WIB
Desain dan hitungannya sudah selesai, Wooseok sekarang sedang menyusun presentasi untuk projectnya. Telinganya ditutupi oleh headset yang tersambung ke spotify dan memutar lagu The 1975. Dia sangat fokus untuk mengerjakan, sampai dia merasa ada seseorang yang menyentuh bahunya dan membuyarkan semua fokusnya.
“Byungchan, sumpah ya, klo sekali lagi lo ganggu gw gara-gara basket, gw gajadi nemenin lo nanti sore!”
“Kak, maaf, kakak dipanggil Pak Kyungsoo.”, bukan Byungchan, tapi Eunsang, juniornya, yang memberitahu klo dia dipanggil oleh supervisornya.
“Yeee makanya lu klo pake headset jangan kegedean volumenya”, itu baru Byungchan.
Jam 16.45 WIB
“Seok! AYO!!!”
“Hah? Apaan sih? Ini masih jam 5 kurang, Chan. Maennya baru jam 5, belom ditambah ngaretnya. Kita jalan dari sini ke lapangan basket juga ga sampe 10 menit ih.”
“Sekarang atau pertemanan kita putus.”
Wooseok melongo sambil tangannya aktif membereskan meja. Kenapa dah ini anak segininya?
“Chan, lo kesambet apa gitu sampe segininya. Lo dan olahraga tu kayak ga nyambung banget, Chan. Home Tournament sebelumnya juga lo ga gini-gini banget deh perasaan.”
“Ga ada apa-apa, Wooseok sayang. Gw cuma ingin mendukung tempat kerja gw yang sudah menyokong gaya hidup gw selama ini. Nih, lo pegang pom-pom aja deh, daripada kebanyakan nanya.”
Wooseok, masih dengan sejuta pertanyaan di kepalanya, hanya mengangguk dan mengikuti Byungchan keluar dari gedung kantor mereka menuju rooftop tempat lapangan basket berada. Sesampainya disana, Wooseok, Byungchan dan teman-teman dari Aperture langsung mencari tempat duduk. Pemain tim mereka dan Enigma sedang bersiap-siap di pinggir lapangan. Wooseok menoleh ke sekeliling dan baru menyadari kalau cukup banyak yang menonton pertandingan ini. Bukan hanya dari Aperture dan Enigma, tapi juga dari beberapa perusahaan lainnya yang berkantor di Quarter. Rame begini, mungkin sebenernya seru kali ya, begitu pikirnya.
“Kak Wooseok! Wah tumben banget bisa ketemu kakak disini hehe aku boleh ikut duduk disini ga, kak?”
Itu Jungmo, juniornya dari jaman kuliah di ITB sampai sekarang bekerja di Aperture, namun berbeda bagian. Lucunya walau satu kantor, mereka jarang banget ketemu karena keduanya memang tipe yang lebih suka duduk di mejanya sampai jam pulang.
“Jungmoooo! Lucu banget ketemu disini. Aku nemenin Byungchan nih. Sini-sini duduk sini aja.”
“Sama kak, aku juga tadi ditarik sama temen-temen buat dukung Bang Seungyoun. Padahal ya aku juga ga ngerti-ngerti banget soal basket.”
Ya, Wooseok cukup paham soal basket soalnya mantannya waktu kuliah adalah pemain basket.
“Aku pikir ga serame ini loh, Mo.”
“Mungkin karena pada mau liat Bang Seungwoo kali ya, Kak. Dia kan mantan atlit basket tuh. Jadi mungkin pada mau liat dia main hehee”
Seungwoo. Ah, kayaknya Wooseok tau sekarang alasan sebenarnya Byungchan semangat banget mau nonton pertandingan basket. Iya, Han Seungwoo. Supervisor bagian Strategic yang baru banget balik dari S2 dan dulunya mantan atlit basket. Sebulan yang lalu, Byungchan cerita kalau dia baru rapat sama anak marketing dan pertamakalinya liat Han Seungwoo. Sejak saat itu, Byungchan selalu sangat bersemangat untuk mengunjungi lantai 7, lantainya Strategic. Padahal sebelumnya dia males banget soalnya kebanyakan staf bagian Strategic tu bapak-bapak atau ibu-ibu gitu.
Cih, Byungchan, padahal bilang aja mau lihat Seungwoo, Gausah sok-sokan mau berbakti sama kantor..
“BANG SEUNGWOOOOOO!!!!!!!”
Teriakan yang sangat kencang dari sebelahnya menyadarkan Wooseok dari bengong. Itu suara Byungchan dan sebagian besar anak Aperture yang meneriakkan nama Han Seungwoo karena yang bersangkutan baru saja memasuki lapangan, menuju bench. Ada beberapa wajah yang familiar untuk Wooseok. Cho Seungyoun dari bagian Jalan dan Jembatan di lantai 6, Kim Kookheon dan Kang Minhee, rekan kerjanya dari lantai 5, Lee Hangyul dari bagian finansial dan Kapten Han Seungwoo yang paling fenomenal diantara semuanya. Terutama untuk Byungchan yang sekarang matanya sama sekali gak lepas dari seluruh gerakan pemanasan yang Seungwoo lakukan.
“Seok, Bang Seungwoo keren ya.”
Bucin.
Pertandingan dimulai pukul 17.30 WIB. Tuh ngaret kan, bisik Wooseok ke sebelahnya ketika wasit meniup peluitnya dan hanya dibalas oleh cibiran Byungchan. Bola pada Kang Minhee dan dilanjutkan dengan pass kepada Kim Kookheon yang mencoba untuk melakukan jump shoot, namun langsung ditepis oleh centre Enigma yang bernama Namjoon. Kedudukan berbalik. Enigma mencoba menyerang lewat 1-2 pass dan ketika bola telah sampai di tangan Kim Taehyung, forward Enigma, dia melanjutkan dengan tembakan three points yang masuk dengan sempurna. Poin pertama menjadi milik Enigma. Aperture mencoba menyerang kembali. Kali ini lewat Cho Seungyoun yang cukup gesit melewati defense Enigma dan memasukkan lay-up. Kesempatan offense berikutnya dipegang oleh point guard Enigma, Min Yoongi. Walaupun badannya kecil, tapi geraknya sangat gesit dan mampu mengecoh sebagian besar pemain Aperture, sampai Seungwoo harus melakukan foul untuk menghentikan laju Yoongi. Sayangnya, foul harus dibayar dengan 2 lemparan free throw yang semuanya berhasil masuk.
Pertandingan berjalan dengan sangat seru walaupun agak berat sebelah. Aperture berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan quarter pertama diakhiri dengan 12-4 untuk keunggulan Enigma.
“Chan hahaa gausah ditekuk gitu mukanya. Mau pulang aja?”, ucap Wooseok sambil menyeruput es kopinya.
“Gak mau. Masih mau liat Bang Seungwoo.”
“Yaelah bucin amat lo. Yaudah jangan ditekuk gitu mukanya, masih quarter pertama ini. Nanti pas Bang Seungwoo nengok kayak gini, liat muka lo ditekuk, dia malah makin ga semangat”, ucapan Wooseok menghadiahkan satu getokan di kepalanya
“Tapi Enigma ini jago banget ga sih, Seok? Dari tadi kita susah banget ngerebut bola mereka.”
“Mereka juara bertahan, Kak Byungchan, jadi ya gitu, wajar aja hehe.”, Yunseong, anak jalan dan jembatan yang duduk disebelah Byungchan, ikut menjawab dan membuat Byungchan makin cemberut aja.
Sejujurnya, Wooseok sendiri sudah cukup hopeless dengan pertandingan ini. Pemain Aperture belum nyatu banget mainnya. Mereka juga sering ngelakuin kesalahan yang sebenernya bisa dihindari. Tapi, ya balik lagi, komunikasinya belum jalan. Ditambah lawan mereka Enigma, sang juara bertahan. Peluang tim mereka untuk menang rasanya makin tipis saja. Tapi, sebentar dulu deh, tunggu dulu quarter kedua ini. Yang lain juga masih ramai dan pesanan roti bakarnya baru datang. Mungkin nanti setelah quarter ini, Wooseok baru akan izin pulang duluan ke Byungchan dan teman-teman yang duduk dekat mereka. Lagian lucu juga ngeliatin Byungchan cemberut gara-gara Bang Seungwoo tersayangnya gagal ngalangin tim lawan buat masukin bola.
“Udah mau mulai lagi tuh, Kak, kayaknya ada pergantian pemain deh.”, Jungmo menimpali.
Wooseok menengok ke bench dan benar saja, Kang Minhee sedang duduk dan diurut kakinya. Mungkin terkilir sewaktu dia sedang menghalangi pemain Enigma untuk melakukan lay-up. Pemain yang seharusnya menggantikan Kang Minhee, menggunakan seragam nomor 11 dan sekarang sedang berdiri membelakangi suporter, melakukan pemanasan ringan, sambil mendengarkan arahan dari Seungwoo. Badannya kurus dan Wooseok berani bersumpah klo badan cowok ini gak kalah tinggi dibanding badan Minhee. Wooseok sepertinya belum pernah lihat cowok itu selama ini dan seragam tim Aperture yang tidak dilengkapi dengan nama pemain semakin menyusahkan Wooseok untuk mengenali pemain itu.
Quarter kedua dimulai dengan bola berada di tangan pemain Enigma, Jeon Jungkook, yang terus berlari melewati defense pemain Aperture. Wah ini kayaknya masuk ga sih, Wooseok menggumam dan di saat yang sama, pemain baru pengganti Minhee melakukan steal bola di tangan Jungkook dan direbut oleh Kookheon. Wow. Setengah berlari, Kookheon melakukan dribble dan melakukan long pass ke depan, yang ditangkap oleh si nomor sebelas, yang langsung melanjutkan dengan lay up. Dua poin pertama sukses diambil oleh Aperture. Sorak sorai pendukung bergema, sementara kepala Wooseok berisik. Ga, sebentar, itu tadi dia masih di belakang, tapi terus tiba-tiba udah di depan lagi. Wow cadas banget.
Ternyata kekagetan Wooseok terhadap kemampuan si pemain pengganti ga berhenti disitu saja. Sepanjang 10 menit quarter kedua, kepalanya tidak berhenti menggumam.
Larinya cepet banget wow!
Ih dia itu tinggi ya, cungkring, tapi gesit banget
Bentar-bentar, oke defensenya lumayan untuk ukuran kaki sepanjang itu
Gila. Gila. Dia siapa sih? Jago banget. Kenapa ga main dari quarter pertama sih?
Waktu Wooseok pikir udah ga mungkin ada kejutan lagi, pemain pengganti itu melakukan three points shoot yang dengan sempurna meluncur masuk ke dalam ring. Wooseok secara tidak sadar loncat, berteriak dan memeluk Byungchan kesenangan. Quarter kedua ditutup dengan poin 26-20, masih untuk Enigma, tapi kali ini, Wooseok merasa ada harapan. Dan penasaran yang semakin membuncah terhadap pemain pengganti itu. Si nomor sebelas.
“Yunseong, pemain yang baru masuk itu siapa si?”
“Aku juga gatau, Kak, tapi kayaknya dia anak Sekretariat deh. Aku sering liat dia bolak-balik lantai 8. Jago banget ya, Kak!”
Wooseok mengangguk dengan antusias. Jago banget, Seong.
Tidak puas dengan jawaban Yunseong, Wooseok berusaha bertanya ke teman yang lain, yang duduk di dekatnya, termasuk Byungchan dan Jungmo. Tapi, nihil, Wooseok tidak mendapatkan informasi baru tentang si nomor sebelas.
Quarter ketiga dan keempat tidak jauh berbeda dengan quarter kedua. Permainan lebih berimbang. Setiap Enigma berhasil memasukkan point, tidak lama kemudian Aperture membalas. Begitu juga ketika Aperture berhasil menggagalkan peluang lawannya, Enigma langsung membalas. Kedua pendukung juga semakin semangat mengeluarkan suara-suara untuk membangkitkan semangat timnya. Termasuk Wooseok. Dia harus mengakui bahwa sepanjang quarter pertama dan kedua, dia hanya duduk kaku di bangku suporter, minim teriak dan hanya tepuk tangan secukupnya ketika timnya berhasil melakukan sesuatu. Tapi, di quarter ketiga dan keempat, Wooseok jauh lebih antusias, tepuk tangan dengan keras, loncat dan paling ketara adalah, Wooseok teriak, sebagai bukti bahwa dia sangat menikmati pertandingan ini. Tanpa sadar, jantungnya berdegup lebih cepat karena excitement yang sudah lama tidak dia rasakan lagi. Tangannya pun mulai terasa sakit karena terlalu keras tepuk tangan.
“AYO MAS! MAS NOMOR SEBELAS! SEMANGAT MAS!!!!!”
Iya, itu teriakan dari Wooseok yang sama yang punya niat untuk pulang duluan setelah quarter kedua.
Mas nomor sebelas yang diteriaki lagi-lagi berhasil menggagalkan passing lawan dan mengubahnya menjadi poin untuk Aperture lewat jump shootnya Seungwoo. Otomatis Byungchan, Wooseok dan Jungmo langsung berpelukan.
“Seok, Bang Seungwoo keren bangeeeet!”
“Iya, Chan! Mas nomor sebeelas juga jago banget gak sih!!!!”
“Kak, nomor sebelas banget bilangnya? Hahaa!”
“Ya abis kita tuh ga ada yang tau namanya loh, Mo. Jadi yaudah nomor sebelas aja sesuai sama nomor bajunya dia.”
“Tapi, iya, Seok. Jago banget tuh si nomor sebelas. Ini kayaknya gara-gara dia masuk deh, jadinya permainan kita jadi bagus gini.”
Wooseok mengangguk dengan sangat keras. Iya, pemain nomor sebelas itu mainnya memang bagus. Badannya emang ga sebesar Seungwoo, kemampuan playmakernya juga ga sebagus Kookheon, tapi dia cepat dan gesit. He knows his best position to shoot, he knows when and where to run. Basically, dia keren dan Wooseok merasa harus berterimakasih sama Byungchan yang udah menyeret dia ke pertandingan ini karena kalau gak, mungkin sekarang dia lagi tidur-tiduran di kamar kosannya sambil nonton netflix. But, instead, now he’s having the time of his life and he’s too happy he could cry. Semuanya juga karena mas yang datang di quarter kedua dan membuat pertandingan jadi jauh lebih menarik untuk ditonton.
Pukul 19.30 WIB, pertandingan berakhir dengan kemenangan untuk Enigma. Tapi, seluruh pendukung Aperture tetap bangga dengan permainan timnya karena pada akhirnya timnya hanya kalah 4 points dibanding sang juara.
“Seong, jadi maennya udahan nih kalau kalah gini? Gak main lagi?”, Byungchan bertanya kepada Yunseong diantara tepuk tangan meriah yang diberikan kepada pemain kedua tim yang sedang berpelukan di lapangan.
“Seharusnya sih kita masih main lagi, Kak. Lawannya tu yang kalah di pertandingan sebelumnya.”
Wooseok yang dari tadi hanya mendengarkan obrolan mereka karena matanya masih fokus melihat pemain favoritnya ikut bertanya, “Kalau main lagi, mainnya kapan, Seong?”
“Besok kak, jam seginian lagi sih kayaknya. Nanti juga ada pengumumannya kak”
“Oh. Chan..”, Wooseok menoleh ke Byungchan yang juga sedang memperhatikan Seungwoo,
“Mau nonton lagi gak besok?”
AAAAAAAAAAAAAAA! oh my god it’s done? IT IS REALLY DONE??? Bolehkah aku menangis jelek karena akhirnya aku beneran nulis, aku beneran bikin AU, aku beneran nulis AU berdasarkan cerita waktu Agustus kmrn dengan masbasket sebagai muse aku. HUHUHUHUHU mari menangisi ini bersama.
Disclaimer: I read a lot weishin AUs on twitter, tapi ini ceritanya based on my experiences dan gatau kenapa aku nyoba nulisnya pake weishin huhuh











