[Antara Keinginan dan Kebutuhan] Keinginan atau kebutuhan? Tak jarang kita dipertemukan dengan dua hal tersebut di satu case yang sama. Hingga kadang bertanya-tanya, "Sebenarnya ini keinginan atau kebutuhan sih?". Dan ketika berhasrat, biasanya memang didominasi oleh keinginan. Saat Ramadhan seperti ini misalnya. Rawan sekali 'kalap' dalam bertindak. Contoh sederhanya saja kalap membeli makanan. Lihat es cendol pengin, liat puding dibeli, lanjut beli nasi pecel lele, eh gorengan juga diambil, ditutup dengan beli mangga setengah kilo. Bahkan kolak pun dibeli, dengan alasan untuk cemilan sehabis tarawih. Wow! Banyak juga ya. Lantas ketika adzan berkumandang, mulailah disantap satu per satu. Nyam.. nyam.. rasanya nikmat sekali setelah seharian berpuasa. Sampai akhirnya tiba di satu titik dimana perut rasanya mulai penuh dan tak sanggung menampung. Padahal baru diisi es cendol dan gorengan. Alhasil bimbang antara takut mubadzir jika tidak dimakan, namun juga takut kekenyangan jika terus dilanjutkan. Bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Mubadzir juga gak boleh. Duh, bimbang deh. Itulah akibat dari laper mata, hanya mengikuti keinginan belaka. Maka puasa ini menurutku memang matrikulasi untuk memanage keinginan dan lebih jeli memutuskan mana yang memang kebutuhan. Nantinya itulah yang akan diprioritaskan. Sesederhana menghadapi berbuka saja masih sering khilaf. Duh, memang manusia. Dan kita termasuknya. Yuk jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memanage keinginan dan bijak memenuhi kebutuhan. #30DaysRamadhanWriting #30drw1440 #30drw02 #ramadhanmenginspirasi https://www.instagram.com/p/BxKhNC8nhOz/?igshid=1jtgeppa8hppy













