184
"Ngga ada yang perlu disesali." Katanya menerawang jauh, seperti sedang memutar balik kilas-kilas usahanya.
Kalimat itu terekam jelas di kepala ketika aku kembali berada dipersimpangan : nyesel ngga ya kalau effortku segini banyaknya?
Usaha menyayangi untuk manusia-manusia yang memang aku mau menyayanginya. Mengisi tangki cintanya dengan cukup. Mungkin dengan pujian yang tiada habis, belaian yang tiada bosan, hadiah yang akan abadi, pelayanan yang memanjakan juga saling mendengarkan di segala suasana. Entah dalam bentuk bahasa cinta seperti apa, tentu aku ingin menunjukkan kapasitas maksimalku ketika bersamanya.
Engga ternyata. Aku hanya perlu menunjukkan semampu dan sebisa mungkin. Bahkan arah penyesalan itu lebih menuju ke, "kenapa aku kurang effort sih!".
Sebab apabila tidak mendapat satu sama atau lebih aku tidakpapa. Bahkan bisa jadi aku mendapat timbal balik ke minus. Iya, aku bisa menerima hal-hal yang diluar kendaliku dalam mengupayakan. Sebab aku bukan Sang Maha Pengatur, dan tugasku bukan berlarut dalam penyesalan itu.
Dan diujung setiap kehilangan aku selalu belajar satu hal : bagian rumpang dari kehilangan adalah menyesal tidak memberikan usaha lebih untuk menunjukkan cinta selama dia ada bersamaku.
—Lapisan satu












