Dari apa yang baru-baru ini saya baca, ketidakmampuan seseorang untuk memaafkan orang lain berasal dari rasa takut bercampur marah. Rasa takut bahwa orang yang melukainya tidak akan mendapat balasan yang setimpal atau rasa takut bahwa pengampunan Allah akan mencegahnya dari hukuman di dunia maupun akhirat.
Dia merasa bahwa dia yang paling tahu cara yang tepat untuk melakukan pembalasan. Dia menuntut keadilan, namun takaran adilnya tidak akan pernah sama dengan takaran adilnya Allah. Keraguan seperti ini tidak datang dari seseorang yang beriman kepada Allah.
Poin utama berdamai dengan kecamuk dalam diri adalah pemahaman dan keyakinan bahwa Allah Maha Adil, sedangkan adil versi Allah tidak sama dengan adil versi saya. Besar balasan, waktu yang tepat, dan bagaimana bentuknya tidak pernah jadi kuasa saya. Bukan urusan saya apa yang akan Allah lakukan kepada mereka.
Rasa gengsi tercipta sebagai bentuk defensif dari rasa bersalah yang terlalu larut. Meski begitu, mulailah perdamaian ini dengan berani menyalahkan diri sendiri secukupnya secara sukarela. Sekalipun orang-orang mengakui bahwa ini bukan sepenuhnya salahmu, kamu perlu mengakui bahwa dirimu sendiri punya andil yang besar untuk mengizinkan dirimu sendiri dilukai. Entah melalui pintu harap, bergantung, percaya, bercerita, maupun cinta.
Titik belum berdamai itu ketika kita merasa bahwa dunia ini tidak adil. Tapi.. that's life, iya kan? Semua manusia sama-sama merasa bahwa dunia tidak pernah adil, namun itulah letak Maha Adilnya Allah.
"Maka damaikanlah diriku dengan ketentuan-Mu."
"Dia yang jahat, mengapa saya yang menanggung trauma berkepanjangan?"
"Tidak adakah rasa bersalah dalam dirinya?"
Cara pandang seperti itu ternyata sempit sekali. Kau jadi luput tentang bagaimana kau memandang hubungan antara Allah dan diri sendiri. Lupakan mereka, sekarang kau harus melihat bagaimana perlakuanmu kepada Allah. Itu satu-satunya jalan damai.
Jadi, ini mungkin adil dan setimpal. Kau dibeginikan karena sudah jahat kepada Allah dan dirimu sendiri. Mengatur diri sendiri sambil merasa bahwa pengaturan diri sendiri adalah yang terbaik. Tidak memandang Allah sebagai Yang Maha Bijaksana atas segala keputusan.
Hanya karena Allah menjadikan mereka media untuk mengujimu, tidak serta merta kau harus menilainya jahat. Tentang mereka merasa bersalah atau tidak, itu sudah menjadi bagian mereka dan tidak perlu kau menuntutnya. Sebab pada akhirnya kau tahu, rasa bersalah sepanjang hidup mereka pun tidak akan pernah cukup dan tidak akan pernah setimpal untuk menebus lukamu. Menjadikan mereka hidup menanggung perasaan tersebut tidak akan pernah bisa jadi solusi.
Kau memaafkan, hingga terbebas dari benalu kebencian dan hasrat membalas dendam. Dalam waktu yang semakin menipis, kupikir kau lebih membutuhkan langkah dengan hati yang ringan untuk melanjutkan perjalanan. Berhentilah membawa emosi lama ke dalam pengalaman baru. Pemulihan yang sulit, pelik, dan hanya dimengerti oleh dirimu itu akan terasa nikmat jika kau mau bersama Allah.
Aku harap kau mampu bersyukur, berkat badai ini kau memperoleh hikmah mahal yang bahkan tidak orang lain dapatkan. Kau kehilangan orang-orang yang tidak memberikan manfaat untuk kehidupan akhiratmu, kau memiliki rambu-rambu yang semakin jelas, pengamanan hati yang semakin ketat, serta kewaspadaan diri yang terus meningkat.
Ternyata di dunia ini, setiap manusia memiliki sisi tertentu yang tidak bisa kita sepenuh itu pada mereka, dalam hal apapun. Bergantung, berharap, percaya, bercerita, maupun mencinta.
Sebuah kutipan dari @zarry-hendrik ini menandai titik perdamaianku pada mereka.
"Terima kasih sudah bersedia waktumu dipinjam Tuhan untuk membentuk aku, sehingga aku menyadari bahwa tanpa Tuhan aku bukanlah apa-apa."
— Lost and Found Journey: yang dari kehilangan, menemukan permata yang lebih berharga. Memang harus kehilangan dulu agar kebijaksanaan bisa memiliki tempat.