27. Baca Buku
Karena sepi interaksi juga, saat ini aku mulai melihat lagi buku-buku yang aku beli, tapi belum aku baca. Juga buku yang sudah aku baca, tapi aku lupa lagi isinya (yang totalnya 95% dari bukuku :’)).
Aku saat ini punya cara yang sepertinya dapat membuatku lebih sering membaca dan mengingat apa yang aku baca. Yakni dengan menggunakan penanda buku. Iya, kau tau yang kayak stiker itu.
Dengan penanda buku itu, aku juga jadi punya alasan lain membaca yakni untuk mencari poin menarik yang bisa aku tandai. Dan akhirnya aku juga bisa lebih mudah mereview buku itu suatu saat nanti karena aku sudah punya tanda poin-poin pentingnya.
Tahun ini aku setidaknya aku ingin membaca 12 buku. Entah apakah ada gerakan 1 tahun setiap bulan membaca 12 buku. Bagi yang ingin memulai kurasa itu adalah angka yang pas. Tapi aku harap aku bisa membaca lebih, sih.
28. Istirahat
Saat ini aku bingung mau menulis apa lagi. Masih ada 3 cerita yang harus aku tulis. Sepertinya mode deadlinerku ada batasnya juga. Bicara tentang bingung, kalau aku sedang bingung, apa ya biasanya yang aku lakukan? Kayak ketika ngestuck apa sih yang sebaiknya dilakukan?
Walaupun terasa seperti sedikit lari dari masalah, istirahat dan mengambil jeda sering kali menjadi solusinya. Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat istirahat. Pertama adalah menulis. Hmm, saat ini aku sedang menulis, skip ke poin dua. Kedua adalah tidur. Ya memang tidur sering kali bisa memberikan jawaban, tapi kalau dalam keadaan deadline itu bukanlah jawaban. Ketiga, lakuin kerjaan lain. Ya, kurasa ini bisa menjadi jawaban.
Kurasa inti dari istirahat adalah berhenti sejenak dari hal yang kamu lakukan saat ini. Tapi ada juga hal yang sebaiknya tidak kamu lakukan saat istirahat, yakni scroll reels, tiktok, youtube short, twitter. Rasanya itu bukanlah istirahat, karena bukannya mengisi energi, tapi malah menghabiskan energi. Dan sekalinya tenggalam di sana, akan sangat sulit untuk keluar (apalagi untuk orang dengan kontrol diri rendah).
29. Tentang Ekspektasi
Beberapa waktu belakangan ini juga aku mulai untuk mengurangi ekspektasi pada orang lain dan mulai memberi lebih banyak ekspektasi (optimis tapi tetap realistis) pada diri sendiri. Sebenarnya dari lama aku sudah mencoba untuk melakukannya. Tapi memang masih ada beberapa ekspektasi yang kurasa selama masih berinteraksi dengan manusia pasti akan selalu ada. Dari sana aku jadi semakin yakin momen di mana kita sendiri juga momen yang penting, karena di sana kita bisa lebih mengandalkan diri kita sendiri.
Aku baru saja memikirkannya, salah satu cara mengatasi ekspektasi adalah dengan kecewa. Iya, agak aneh memang, tapi kurasa itu benar, deh. Sering kali ekspektasi itu ada karena ya kita masih berharap. Kita masih gak terima dikecewakan oleh seseorang dan masih berharap kepadanya. Kita tidak mau menerima rasa kecewa itu. Berharap orang yang jahat akan berubah menjadi baik. Berharap dia yang pergi akan kembali. Berharap yang tidak peduli akan peduli.
Sekarang aku ingin mencoba menerima rasa kecewa di masa lalu dan rasa kecewa yang mungkin terjadi di masa depan. Hal yang terjadi ga akan selalu sesuai dengan keinginan kita. Namun, masih ada banyak kesempatan-kesempatan lain di luar sana yang bisa kita lewatkan jika kita tidak menerima perasaan kecewa itu.












