Day 2
“Write something that someone told you about yourself and you never forgot”
“Mbak, mbok rajin sholat, inget sholatnya dikencengin.”
dan ini dikatakan oleh murid dance saya yang notabene lima sampai sembilan tahun lebih muda daripada saya.
BLARR! Langsung kayak palu Thor nancep di kepala saya. Iya juga ya, mereka yang lebih muda aja bisa ngingetin saya akan hal seperti itu, lalu saya (yang adalah coach mereka) seharusnya yang jadi contoh untuk mereka. Sumpah, itu nancep banget sampe sekarang. Parahnya, itu mereka tulis dalam kartu ucapan ulang tahun mereka untuk saya, tergantung manis di paperbag berisi kaos warna kesukaan sebagai kadonya.
Sering malu gak sih? Diingetin soal begituan sama orang yang lebih muda? Ga perlu soal tingkat religi sih, dalam hal apapun deh. Kadang saya malu, karena posisi saya sebagai yang ‘senior’ atau bahkan saya seorang ‘pendidik’ mereka. Kadang kita ga sadar bahkan, karena mungkin kebiasaan tertentu udah menjadi ‘habit’ tersendiri dan kita merasa oke oke aja ngelakuinnya (tapi emang saya waktu itu parah banget, bener-bener ga pernah sholat sementara murid-murid dance saya itu rajin-rajin BANGET!).
Sekarang harus jaga diri dan kebiasaan sih. Pingin banget kan ya, jadi pengaruh baik untuk orang sekitar tanpa perlu lupa sama jati diri? As long as, kritik mereka sesuai sama prinsip kita dan bersifat membangun kita untuk lebih baik, ya kenapa nggak.
Jadi, kesimpulan hematnya adalah kita ga bisa nyalahin generasi sekarang kebanyakan makan micin atau apalah yang lainnya. Kita juga turut ikut andil yang bikin mereka jadi kayak gitu kok. Karena mereka belajar dari lingkungan dan siapa role model mereka.
Kalau pengin mereka jadi generasi baik, ya makanya ayok jadi baik dari diri sendiri dulu. Lakukan hal sekecil apapun mulai dari kita. Gak susah kok, cuma perlu niat dan konsistensi. Reminder juga nih buat diri saya sendiri.
(dipikir sambil ngopi)
*nulisnya telat 11 menit, yah memang konsistensi itu kerja keras. Maafkan saya










