Dua pekan lalu, saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Pekan Baru selama 5 hari. Saya sekedar menjadi pelancar kegiatan pelatihan siswa-siswi SMP perwakilan provinsi yang menempati urutan ke dalam hal pendapatan per kapita seIndonesia
Saya tiba di Pekan Baru hari Selasa sore, melapor ke hotel (mbak resepsionisnya cantik :P) dan dengan sangat kikuk berkenalan dengan pihak yang menjadi panitia di sana. Tapi karena saya pernah melakoni peran serupa dulu, saya punya sedikit modal. Apalagi, saya hanya meneruskan pekerjaan teman yang kebetulan bapaknya mendadak masuk unit intensif.
Namanya juga tidak punya perencanaan yang matang, saya dengan asal saja memilih untuk tidur sekamar dengan pengajar Fisika yang ternyata cukup nyambung dengan saya obrolannya soal bagaimana politik kiri, libertarianisme, fisika kuantum(?), big data geofisika, blockchain dan entah kategori khayalan apalagi waktu itu. Saya cukup senang karena ini berarti mengurangi beban saya, nggak enak kan kalau sekamar kikuk hehe.
Hikmah dari pilihan asal ini adalah kemudian saya jadi menguasai satu kamar sendirian karena si pengajar fisika pulang digantikan pengajar biologi yang kebetulan perempuan. Puas juga rasanya hati karena ini hotelnya bagus.
Saya pikir cukup puja pujinya.
Karena pekerjaan saya tidak terlalu berat, hanya menjadi jembatan antara panitia dengan pengajar, bahkan saya tidak perlu susah payah mencetak dan memperbanyak soal, saya jadi cenderung santai. Pikiran saya jadi kemana-mana mencari tahu apa saja tempat yang patut didatangi sesuai minat saya.
Di lobi hotel, saya mendapatkan hiburan kecil. Ada beberapa buku tentang sejarah Riau, tempat-tempat wisata menarik yang sayangnya sepanjang saya menginap di sana sama sekali tidak ada orang yang menyentuh. Malah saya tergoda untuk mencurinya. Karena untuk apa buku itu dipajang begitu saja tanpa paling tidak dilirik oleh tamu yang datang?
Sejarah Perjuangan Riau volume 2 yang sayangnya hanya fotokopian berwarna.
Hari pertama, pengarahan oleh panitia. Jenis acara yang pada awalnya saya terus terang saja tidak menganggapnya perlu karena jelas memakan waktu belajar siswa/i. Tapi bukan pada tempatnya saya menolak. Dan memang benar, dalam pengarahan itu kepentingan para siswa hanya secuil saja dibahas, tentang perkenalan pengajar dan ruangan belajar. Selebihnya membicarakan pakaian adat yang akan dikenakan oleh perwakilan kontingen sebagai ciri khas Melayu. Aha! Melayu! Ini kata yang menarik untuk saya ulik selama di kota yang lumayan panas tersebut.
Hari pertama kegiatan, saya ikut melihat seperti apa sekolah menengah pertama di kota tersebut. Saya pikir kualitas sekolahnya jika dinilai dari kelengkapan laboratoriumnya. Ada sistem pembuangan gas hasil reaksi kimia, yang kalau saya tidak salah ingat, tidak ada di sekolah saya di Kebon Jeruk sana itu. Areal sekolahnya luas dan memiliki beberapa tingkat.
Di sini saya sempat mengobrol dengan seorang guru yang memegang kunci laboratorium. Yang kami bahas tentang sistem zonasi. Dari dia saya tahu bahwa jarak antara rumah siswa dengan sekolah diukur seakurat mungkin dengan Google Maps. Dan meski seorang siswa memiliki nilai yang tinggi tetapi rumahnya jauh dari sekolah maka otomatis terdepak oleh siswa yang nilainya biasa saja. Aneh juga tapi saya memaklumkan ke diri sendiri bahwa pemerintah seringkali belum matang dalam perencanaan kemudian mengimplementasikannya ke daerah-daerah dan menghasilkan banyak masalah di lapangan. Saya sebut terdepaknya siswa bernilai bagus karena perkara jarak sebab bukankah di setiap daerah khususnya kota besar ada yang namanya sekolah favorit? Siswa dan orangtuanya seringkali ingin masuk ke sekolah bergengsi tersebut demi membuka peluang lebih lebar untuk bisa masuk ke pendidikan jenjang berikutnya yang tentu saja juga favorit.
Hari kedua, saya sarapan sendirian sebelum kemudian dipanggil oleh orang dinas yang mengajak duduk semeja bersama dua orang temannya. Di sini saya memberanikan diri bertanya Apa itu Melayu? . Jawabannya kurang memuaskan memang, namanya juga obrolan selewat, tapi cukup untuk membawa otak saya melayang karena diberitahu perbedaan antara Melayu Darat dengan Melayu Pulau. Melayu Darat seingat saya memiliki kedekatan bahasa dengan orang Minang sehingga jika mereka bertanya hendak kemana kepada temannya, mereka mengatakan “Nak kamano?“. Berbeda dengan Melayu Pulau dekat dengan Melayu Malaysia dan menjadi “Nak kemanè ?”
Saya kemudian bertanya ngalor ngidul soal makanan khas Pekan Baru yang sedikit mencocokkan rekomendasi guru pendamping laboratorium kemarin siang. Satu yang muncul terus adalah bolu kembojo. Dari obrolan di lab sebelumnya, saya jadi tahu ternyata bolu kembojo bentuknya mirip dengan bingka yang juga salah satu makanan khas kampung saya di Sulawesi sana. Ditambah lagi saya ingat sebelum berangkat, salah seorang teman menitipkan bolu yang kecil-kecil. Saya cuma mengiyakan sambil bertanya dalam hati.
Tanpa disangka, karena memang hari itu merupakan pengumuman sengketa di Mahkamah Konstitusi, bapak dan ibu di meja saya ikut membahasnya. Dan nyata sekali kekecewaan mereka atas kekalahan yang dideritanya di tingkat nasional. Pasangan 02 di Riau unggul 61%. Ini jadi menarik karena lagi-lagi di lab saya terseret pembahasan politik. Bukannya saya enggan tapi bersilat lidah soal ini perlu kehati-hatian lebih zaman sekarang. Salah sedikit dianggap musuh. Pendamping laboratorium juga menyatakan keheranannya soal bagaimana bisa pasangan 01 bisa menang secara keseluruhan. Tapi meskipun saya ingat bagaimana telaknya 01 di dua kantung suaranya, saya memilih untuk mengikuti pendapat lawan bicara saya.
Bolu Kembojo alias bingka.
Kembali ke meja sarapan, kekecewaan menyerempet hingga kemungkinan pemindahan ibukota ke Pekan Baru. Dalam hati saya udah ketawa kencang karena ini obrolan menarik kalau mau dihajar terus menerus. Seingat saya Palangka Raya yang masuk dalam wacana pemerintah, diusulkan atas dasar keamanannya dari ancaman letusan gunung berapi. Langsung saja saya sambar ketika itu dengan bertanya, apakah di Riau ini ada gunung berapi? Seingat saya jawabannya tidak ada dan malah jadi membicarakan bagaimana dulu ibukota republik sempat berada di Bukittinggi pada saat Agresi Militer Belanda yang memaksa Dwitunggal Soekarno Hatta menjalani tahanan rumah. Seru nih pikir saya. Karena jadi muncul Sumatra Timur, salah satu negara bagian Republik Indonesia Serikat. Tapi obrolan seru terputus ketika datang pesan soal kesediaan gubernur menghadiri pelepasan hari Jumat sore itu dan bukannya sabtu sebagaimana rencana di awal.
Hari Jumat itu saya ikut ke bandara menjemput pengajar biologi dan mengantar pengajar fisika pulang. Semata-mata karena saya ingin mengambil setiap kesempatan yang ada untuk melihat-lihat. Sebelum menjemput, supir hotel yang bersama saya menyempatkan diri untuk mengantarkan paket makanan ke sebuah panti asuhan. Saya senang juga melihat hotel punya program seperti ini karena baru kali itu mengetahuinya. Melihat dari buku laporan berisi cap, sepertinya sudah banyak panti yang dikelilingi oleh hotel untuk dibagikan paket makanan.
Di perjalanan lagi-lagi saya terseret pembicaraan pendukung 02. Saya entah kena kutukan macam apa sampai bisa begini. Tidak banyak yang baru karena memang nadanya seirama dengan para pemilih lain. Padahal bapak supir ini keturunan Jawa yang transmigrasi ke Pekan Baru, sempat pindah ke Jawa untuk sekolah kemudian kembali lagi ke Pekan Baru tapi dia enggan memilih kandidat yang lebih identik dengan Jawa. Lucu ya?
Gedung Lembaga Adat Melayu.
Sore itu agak kurang berjalan lancar karena semestinya saya ikut masuk ke dalam ruangan pelepasan di lantai 1 hotel, tapi dasar nafsu menggebu-gebu saya sudah telanjur nekat mendatangi sebuah kedai kopi yang cuma berjarak 550 meter dari hotel dengan berjalan kaki tentunya. Saya tidak menyangka akan ikut disuruh masuk, karena kami ini siapa? Jelas bukan pihak yang berkepentingan.
Sambil setengah berlari saya kembali ke hotel begitu dijapri oleh ibu panitia. Runyam. Mana kedainya ternyata sudah mau tutup pas saya sampai. Asem!.
Sampai di hotel, ruangan sudah penuh dan acara sudah berjalan. Apa boleh buat, saya bersabar saja duduk menunggu di dekat pintu masuk ruangan. Menanti acara selesai untuk meminta maaf karena saya merasa tidak enak membaca pesan di percakapan. Sampai hari gelap, baru ibu panitia keluar dan ternyata kami hanya diminta ikut duduk untuk memenuhi sofa yang lowong. Tidak fatal. Huft. Sekalian saja saya curcol dengan bilang kalau saya baru mendatangi Kim Teng dan langsung dibilang mestinya datang ke sana pagi. Saya hanya iya iya saja. Bersyukur ibu-ibu ini tidak marah dengan kealpaan saya.
Malam harinya karena saya ingin melihat-lihat kota yang kalau menurut saya sih sudah mulai tenang dari jam 8 malam, saya nekat ke jembatan Sungai Siak yang terdekat dengan hotel. Saya lupa kalau saya takut ketinggian. Dengan kondisi jembatan yang penerangannya kurang, saya sambil gemetaran berjalan di antara sisi terluar jembatan dan sisi dalam, tentunya berpegangan dan sesekali berhenti ketika jembatan kencang goyangannya. Sampai di ujung, saya ketawa-ketawa saja karena tidak ada apa-apa yang bisa dilihat, hanya pemukiman warga yang sepi. Melintasi jembatan sekali lagi ternyata mudah saja, mungkin karena sudah berhasil sekali.
Dari mulut jembatan saya lalu mencoba melewati jalan di bawah jembatan untuk mencari tahu tempat bernama Rumah Singgah Kadi yang dari Google Maps sepertinya boleh juga untuk didatangi. Saya berhasil sampai dan jaraknya tidak terlalu jauh dari kedai yang dati sore saya datangi.
Informasi tentang pengangkatan status sebagai cagar budaya
Niat saya jelas untuk besok paginya: mendatangi Rumah Singgah, Titik Nol, Kim Teng.
Semuanya berhasil saya kunjungi keesokan harinya. Saya melihat Rumah Singgah Kadi yang merupakan semacam tempat peristirahatan raja di era kerajaan Siak atau Melayu, saya tidak ingat pasti. Membaca kisah Rumah Singgah ini, saya mendapat kesan penduduk sekitar atau orang-orang Melayu Riau kurang menghargai warisan budaya sejarahnya. Diceritakan bahwa yang mengusulkan pengangkatan status Rumah Singgah Kadi sebagai cagar budaya justru orang-orang dari Sumatra Barat. Di sini saya perlu menelusuri ke belakang bagaimana bisa demikian karena informasi yang diberikan pada papan informasi hanya secuil dan itu pun sudah lapuk sehingga ada yang sulit dibaca. Ketika mendatangi Titik Nol, lagi-lagi kesan meminggirkan warisan budaya begitu kuat terasa. Titik Nol Pekan Baru tidak semenarik Titik Nol Bandung dengan cerita soal Daendels saat mencanangkannya. Titik Nol Pekan Baru hanya berupa patok batas yang biasa kita lihat di pinggir jalan lintas propinsi, yang bersisi tiga dengan dibubuhi nama kota dan jarak. Hanya warna kuning yang mencolok yang jadi penanda khas. Tidak ada cerita. Bahkan sampah berserakan begitu saja di sekitarnya. Di dekat sana memang ada pelabuhan atau bekas pelabuhan saya tidak tahu karena tidak melihat ada kesibukan seperti yang pernah saya saksikan di Sungai Batanghari tahun lalu di mana perahu pengangkut karet lalu lalang yang baunya busuk bukan main.
Kim Teng yang belum ramai, untuk bisa seperti ini usahakan datang sebelum jam 06.30.
Untuk kopi, saya salah pesan! Saya sudah mulai berusaha menghindari minum kopi dengan gula atau sesedikit mungkin jika kebetulan kopinya robusta. Tapi pagi itu karena namanya juga baru sekali, bang. Salah pesanlah awak. Dicampurkannya gula ke dalam kopi itu. Akhirnya nggak kuaduk itu kopi sampai habis dan terlihat gulanya mengendap di dasar. Roti bakar selai sarikayanya memang endeus baaatttt.. Apalagi waktu itu masih sepi. Meski memang kalau kau terbiasa dengan sejuknya Bandung, ngga akan tahan berlama-lama di sana: PANAS.
Lega sudah hati ini bisa melihat tempat bernilai sejarah, minum kopi yang pahitnya pas. Hari terakhir berjalan lancar. Saya juga membeli selai dari sebuah toko kecil di jalan Senapelan yang plang tokonya mengingatkan kepada toko Sidodadi di Otista yang bungkusnya khas sekali dengan iklan keluarga berencananya. Saya membeli selai sarikaya berukuran gelas air mineral yang pas sampai di Jakarta ternyata penyok dan isinya kemana-mana 😦 dan sarikaya dengan pandan yang kemasannya mirip selai pindekas Negro di Setiabudi Supermarket yang tanpa label di kemasannya itu.
Sabtu malam, karena sudah penghabisan, saya mencoba berjalan lebih jauh ke sebuah ruang terbuka hijau yang kalau di Bandung saya pikir akan disebut taman. Malam yang panasnya bukan main itu, di RTH sedang ada sebuah syukuran kelompok teater yang dibuka dengan pembacaan puisi. Saya datang di tengah-tengah jadinya ngga ngerti ini orang kenapa teriak-teriak sambil diceletuki oleh penonton yang kemungkinan besar masih temannya juga. Seingat saya, kelompok seni peran ini usianya sudah tujuh tahun. Ini menarik bagi saya karena di Bandung, saya merasa kesulitan mendapatkan informasi tentang adanya acara teater. Yang paling berkesan hanya satu kali ketika menonton pementasan Burung Kondornya Rendra di Unpad Dipati Ukur.
Minggu pagi, saya menyempatkan mampir ke Kim Teng untuk pesan kopi o kosong sesuai saran dari seorang teman. Abangnya langsung ngerti. Kopi pahit ya bang? Iya betul, jawab saya. Wah itu kopi nikmat kaliiii…Pahitnya pas kalo untuk saya.
Perpustakaan keliling. Bukunya lumayan, tapi ngga ada yang menghampiri untuk membaca.
Pulang ke Jawa, saya jadi punya pertanyaan bagaimana relasi orang Bugis sampai berkelana ke Siak hingga mendapatkan gelar Yang Dipertuan Muda dan ada beberapa tokohnya dimakamkan di Pulau Penyengat.
Sedikit cerita soal ini saya sempat dapatkan dari adik kelas saya yang kebetulan satu mobil saat pulang ke Bandung!
Menemui Jejak Bugis di Bumi Lancang Kuning Dua pekan lalu, saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Pekan Baru selama 5 hari. Saya sekedar menjadi pelancar kegiatan pelatihan siswa-siswi SMP perwakilan provinsi yang menempati urutan ke dalam hal pendapatan per kapita seIndonesia…