[Tentang Memuliakan Tamu Part 2] Hari ke #270 Melakukan banyak hal dalam sekali waktu, mungkin skill yang sangat dibutuhkan seorang perempuan ketika sudah menikah. Terlebih ketika ada tamu yang datang ke rumah. Sementara kami hanya punya waktu beberapa untuk menyiapkan tempat dan makanannya. Seperti malam ini, ketika kami kedatangan tamunya Mas. Beberapa jam sebelum tamunya Mas datang, kami baru tahu jika kontrakan kami menjadi tempat liqo-nya Mas malam ini. Aku sedikit kelimpungan ketika memikirkan banyak jamuan yang harus digoreng atau direbus. Pun kebingungan mana yang harus didahulukan. Plus sedikit khawatir jika mereka tidak jadi datang. Seakan mengetahui kekhawatirkanku tersebut, di tengah menyiapkan jamuan, Mas kembali mengatakan jika memuliakan tamu itu hal yang wajib dilakukan. Dan Allah akan mencatat setiap perbuatan yang kita lakukan, termasuk memuliakan tamu dengan menyiapkan jamjan. Sekalipun tamu-tamu tersebut tidak jadi datang. Mas juga bercerita tentang nabi Ibrahim yang memiliki julukan "abu dhaifan" atau "bapaknya para tamu". Julukan tersebut disematkan kepada Beliau karena tabiatnya yang suka menjamu tamu. Bahkan sunah memuliakan tamu berasal dari kebiasaan Beliau tersebut. Pernah suatu hari, ketika tengah malam, tiba-tiba ada seorang berbaju putih datang ke rumahnya. Melihat ada tamu yang datang, Beliau segera pergi ke halaman belakang. Menyembelih seekor sapi lalu mengolahnya menjadi makanan. Sendirian, tanpa bantuan siapapun. Padahal biasanya, untuk melakukan hal tersebut diperlukan bantuan banyak orang. Namun, nabi Ibrahim dapat melakukan hal tersebut sendirian. Selengkapnya di: http://www.riasrise.com/2018/09/tentang-memuliakan-tamu-part-2.html #jurnal365 #riasrise #270of365 #4DSLI(Seventin) https://www.instagram.com/p/BoPEPklgdh1/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1jovzp7djojsf






